Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Sudah update malam hari nih...


Jangan lupa untuk like dan vote ya.😘👍🙏


.


.


.


.


.


Keesokan harinya, Ella yang tengah memasak sarapan untuk Erik, segera menghentikan kegiatannya karena dering suara ponsel yang sejak tadi berdering.


“Yohan,” ucapnya lirih sambil menggeser tombol hijau.


“Kenapa Pak Yohan?” tanya Ella saat panggilan tersambung.


“Apa Ibu di kamar?”


“Iya, apa Mas Erik baik-baik saja?” tanya Ella yang khawatir karena tidak pernah Yohan meneleponnya sepagi ini.


“Iya Bu, saya akan segera ke sana, Ibu jangan pergi dulu, tunggu saya datang,” pesan Yohan sebelum menutup panggilannya. Ella hanya mengernyit saat mendengar pesan dari Yohan. Dia lalu kembali ke dapur untuk melanjutkan menggoreng udangnya crispynya. Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk Erik, Ella segera masuk ke kamar untuk mandi dan bersiap untuk mengunjungi suaminya, menemani suaminya sarapan adalah aktivitas barunya dua hari ini.


Saat Ella keluar dari kamar mandi terdengar suara bel pintu berbunyi, dia sudah bisa menebak jika yang tengah menekan bel itu pasti Yohan, jadi dia membiarkannya sebentar agar dia menyelesaikan mengenakan bajunya. Bel pintu pun terdengar semakin cepat, seperti orang yang tidak sabaran untuk bertemu, mau tidak mau Ella yang masih mengenakan handuk di rambutnya, dan baju daster ternyamannya, segera membuka pintu penginapannya itu.


Ella merasa bahagia saat melihat siapa yang berdiri di depannya itu, suaminya tersenyum ke arahnya, sambil menyerahkan bunga lily kesukaannya, Ella yang di beri bunga lily itu segera menerima dan membuangnya di kursi. Dia lebih memilih memeluk Erik dari pada harus memegang bunga lily kesukaannya itu.


“Apa bunganya tidak bagus?” Ella menggeleng sebagai jawaban.


“Kamu lebih penting dari bunga itu,” ucap Ella, “Kenapa nggak memberi kabar istrimu ini?” lanjutnya.


“Biar surprise saja.”


“Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi, kecuali...”


“Maut,” sahut Ella yang masih memeluk Erik.


“Sudahlah kasihan Yohan, dia masih jomblo, takutnya dia nanti memrawani anak orang jika melihat kita seperti ini,” ucap Erik sambil melirik ke arah Yohan yang berada di belakangnya. Ella lalu tersenyum ke arah Yohan yang sedang membenarkan kacamatanya itu. Lalu melepaskan pelukkannya, mengganti rangkulan di lengan Erik.

__ADS_1


“Gantilah bajumu!” bisik Erik yang melihat Ella hanya mengenakan daster tipisnya. Ella lalu berjalan ke arah kamar dan mengganti bajunya. Setelah selesai dia lalu mengajak Yohan untuk sarapan bersama. Yohan yang awalnya menolak akhirnya terpaksa harus sarapan lagi, karena paksaan dari Erik.


Yohan lalu menceritakan kronologi tentang pembebasan Erik pada Ella, tentang bagaimana dirinya bisa mendapatkan bukti yang bisa meringankan hukuman bosnya itu.


“Mas nggak mau menuntut balik?” tanya Ella pada suaminya yang tengah menikmati sarapan.


“Nggak usah, anggap saja ini pelajaran untuk kita.” Ella hanya manyun saat mendengar penuturan Erik. Dia merasa, yang paling di rugikan di sini adalah suaminya. Tapi suaminya dengan mudahnya memaafkan lelaki itu.


“Kamu segera pulanglah Yo..., sepertinya perutmu sudah kenyang,” ucap Erik mengusir Yohan karena sedikit merasa terganggu dengan kedatangannya. Yohan yang paham segera mengucapkan terimakasih dan berpamitan pada Ella.


“Kamu kembalilah ke Jakarta! Aku masih ingin berlibur di sini,” ucap Erik saat mengantarkan Yohan berjalan keluar dari penginapannya.


Setelah Yohan pergi Erik segera menyusul Ella yang tengah mencuci piring di dapur.


“Mau Mas bantuin?” tanya Erik sambil memeluk Ella dari belakang, Ella yang kaget dengan kedatangan Erik, langsung menjatuhkan piringnya di wastafel.


“Mas ih... ngagetin tau nggak! Mandilah dulu sana!” perintah Ella.


“Lalu?” tanya Erik sambil menatap wajah Ella dari arah samping. Ella tersenyum ke arah suaminya, dia tau apa yang di inginkan suaminya, tapi dia masih ingin bercengkrama dulu dengan Erik.


“Yah ...pillow talk! mungkin?” ucap Ella sambil tersenyum tanpa menatap suaminya.


“Benar Cuma itu?” tanya Erik sambil mencium leher jenjang Ella.


“Kangen mandi sama kamu!” ucap Erik dengan nada manjanya.


“Nggak lihat, rambutku masih basah?” Erik yang mendengar itu masih belum melepas pelukkannya. Dia malah asyik mengelus perut Ella dari belakang.


“Dulu Mas belum pernah memeriksanya, kamu juga nggak pernah usg? Kira-kira dia twin atau single ya?” tanya Erik yang penasaran dengan calon anaknya, “Tapi kalau twin pasti sudah lebih besar dari ini,” lanjut Erik.


“Sudah sana mandi Mas..., geli tau nggak sih,” ucap Ella yang masih asyik dengan kegiatannya.


“Baiklah aku menunggumu di kamar!” ucap Erik sambil mengecup singkat bibir Ella. Ella hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya itu, dia merindukan perlakuan Erik yang seperti ini, yang menggoda dan manja kepadanya.


Setelah menyelesaikan acara bersih-bersihnya, Ella segera menyiapkan baju untuk Erik yang masih asyik berendam di dalam kamar mandi, dia sengaja membiarkan suaminya itu berlama-lama di sana, lantaran di dalam tahanan dia tidak bisa membersihkan tubuhnya dengan benar.


Ella lalu menyerahkan baju gantinya setelah melihat Erik keluar dari kamar mandi.


“Aku nggak butuh ini,” ucap Erik menggoda Ella.


“Ini masih pagi Mas!” ucap Ella yang mengerti maksud Erik.

__ADS_1


“Istirahatlah dulu, banyak hal yang ingin aku tanyakan,” ucap Ella sambil menuntun Erik ke arah ranjang. Erik menuruti istrinya itu karena dia juga ingin merasakan empuknya tidur di ranjang. Dia membawa Ella ke arah dadanya yang belum mengenakan baju itu.


“Mau tanya apa?” tanya Erik yang sudah pada posisi ternyamannya.


“Bagaimana Mas tidur di sana? Pasti tidurmu di alas tikar ya? Beberapa hari setelah mengetahui Mas masuk tahanan, aku selalu tidak bisa tidur karena membayangkan hal itu, pasti Mas juga nggak bisa tidur dengan baik kan?” ucap Ella panjang lebar. Erik justru menciumi kening Ella yang tepat berada di depan mulutnya.


“Mas tidak bisa tidur jika mengingatmu yang tengah hamil, tapi Mas tidak bisa menemanimu,” jelas Erik, “Kalau hanya tidur tanpa alas sih masih mendingan sakitnya, tapi Mas merindukkanmu, dan itu tidak bisa di obati jika tidak bertemu denganmu,” lanjutnya panjang lebar.


“Lalu bagaimana teman-teman Mas di dalam sana? Apa Mas pernah diperlakukan tidak baik?” tanya Ella lagi.


“Hahaha..., kamu sih terlalu sering lihat sinetron jadinya terbawa deh... Mereka semua baik, sudah seperti keluarga.”


“Mereka tidak tau? Jika Mas seorang dokter?” tanya Ella.


“Nggak! Karena Mas nggak pernah mengumumkan hal itu.” Ella tertawa saat mendengar jawaban dari Erik.


“Stop! Gantian Mas yang bertanya padamu,” ucap Erik sambil membungkam mulut Ella dengan jarinya.


“Tanya apa?” ucap Ella.


“Bagaimana hidupmu selama Mas tinggal?”


“Seperti tak bisa menikmati hidup. Aku selalu kepikiran di mana suamiku, bagaimana keadaanmu, dan menyalahkanmu kenapa tidak berada di sampingku saat aku menginginkan sesuatu,” jelas Ella sambil menatap suaminya.


“Kamu memang menginginkan apa? jangan bilang kalau kamu menginginkan hubungan intim, dan kamu memilih melakukanya sendiri,” canda Erik sambil tersenyum nakal ke arah Ella. Ella yang mendengar itu hanya bisa memberikan gigitan kecil di dada putih suaminya itu.


“ Aku nggak segila itu Mas. Aku hanya ngidam makanan dan kamu tau siapa yang menuruti keinginanku?”


“Damar!” jawab Erik singkat.


Ella tersenyum dan mengangguk, dia lalu mencuri cium di pipi Erik. Erik yang melihat itu merasa senang karena sudah lama dia merindukan hal itu. Dia masih memeluk Ella erat, tanpa mempedulikan pergerakan lembut dari perut Ella.


“I Love You...” ucap Erik berbisik di telinga Ella. Ella menatap lembut ke arah suaminya, lalu mencium bibir Erik, bibir yang selalu menjadi candu untuknya itu.


“Apa kamu mau menghukumku?” tanya Erik saat terlepas dari ******* istrinya.


“Aku tidak menyebut ini sebagai hukuman, hukuman itu jika aku tidak mau melayanimu, tapi ini sebagai hadiah dariku atas kebebasanmu,” ucap Ella panjang lebar sambil menatap suaminya, Erik hanya tersenyum ke arah istrinya yang sudah duduk di pahanya itu. Mungkin karena efek dari hormon kehamilannya nafsu Ella bisa lebih tinggi dari Erik, atau bisa jadi karena dia sudah lama berpuasa, jadi dia sangat merindukan suaminya itu.


“Aku akan menerima hadiahmu dengan senang hati,” ucap Erik sambil melepas baju istrinya, dia bahagia karena bisa kembali menikmati tubuh yang sangat dirindukan itu. Matanya terlihat berbinar saat melihat perubahan pada tubuh Ella. Dia lalu mengusap perut yang sedikit terlihat membuncit. Dan dia kembali berbinar saat mendapat reaksi dari calon anaknya itu.


Pagi itu mereka melepas kerinduan yang sudah lama mereka tahan, bukan hanya satu ronde, tapi perlakuan Erik yang lembut membuat Ella semakin ingin lebih dan lebih, sampai melupakan jadwal makan siang yang sudah terlewatkan.

__ADS_1


Terimakasih jangan lupa untuk vote dan like🙏👍


__ADS_2