
...Selamat Membaca...
Suapan terakhir dari Ella, tak mampu masuk ke mulut Naura, sendok berbahan enamel itu menggantung tepat di bibirnya. Wanita cantik itu tertegun, ketika melihat suaminya kini berada di bibir pintu. Bukan hanya kaget dengan kedatangan Abhi yang tiba-tiba. Tapi dia juga cukup syok dengan kondisi sang suami yang tidak begitu normal seperti biasanya.
Ke dua orang yang semalam turut menunggunya, lekas mengikuti arah pandang Naura. Sepasang lansia itu hanya bisa ber-istighfar, saat melihat kondisi Abhi yang sekarang.
"Apaan kamu, Bhi?" selidik Erik tatapannya menghunus tajam ke arah sang menantu, ketika Abhi masuk ke kamar dengan kondisi basah kuyup. Di tangan pria itu, tidak ada koper yang biasa orang gunakan untuk menemaninya bepergian.
Abhi meringis, sambil mengacak rambutnya yang basah. Hingga percikan air itu tanpa disadari mengenai mertuanya. Erik yang menjadi korban pun hanya mengumpat dalam hati, dia tidak ingin menunjukan kesalnya di depan Ella.
"Waktu di Bandar Udara Kualanamu, pesawat Abhi delay, Pa ... karena cuaca buruk. Seharusnya Abhi sudah tiba pukul 8 pagi tadi. Tapi karena hujan semakin deras disertai angin kencang terpaksa menunggu hampir 4 jam. Dan setelah di Jakarta, ternyata hujan tak kalah lebatnya. Awalnya Abhi naik taksi, tapi karena jalanan macet terhalang banjir, jadi Abhi lari dan ketemu mas ojek. Jadilah Abhi langsung ke sini dengan ojek itu!"
Ketiga orang yang kini berada di sekitar ranjang, hanya menyimak apa yang saat ini Abhi jelaskan. Terlebih Naura, saat ini tatapannya tak terbaca.
"Sekarang ganti bajumu!" titah Erik ketika Abhi hendak mendekat ke arah Naura. Pria yang diperintah langsung menghentikan langkahnya. Ia tidak membawa pakaian saat ini, perubahan kepulangan yang mendadak dan jadwal cek in yang mepet membuatnya terburu-buru. Abhi pergi hanya dengan kain yang menempel di tubuhnya saat ini. Ranselnya pun hanya berisi ponsel dan dompet.
Erik yang berdiri tak jauh darinya, mampu membaca raut wajah Abhi, senyum mengejek muncul, disertai cengiran jahil. "Pasangan yang cocok!"
Ella buru-buru keluar kamar meminta perawat untuk membawakan handuk. "Bajunya sekalian, Yang! Biar kompakan," teriak Erik, ia paham Abhi datang dengan tangan kosong, bahkan oleh-oleh untuknya pun tidak bawa.
"Makasih ya, Pamer!" ucap Abhi.
"Ceh, manggil yang sopan, nggak bisa!"
__ADS_1
Abhi tidak menjawab, dia justru memainkan matanya ke arah Naura, untung saja Erik tidak melihatnya, jika melihat bisa jadi, dilempar ke Danau Toba.
Ella yang baru tiba, menyerahkan pakaian sementara untuk Abhi. Pria itu tersenyum ke arah Naura. "Aku ganti baju dulu, ya ... Sayang," pamitnya, melangkah menuju kamar mandi.
"Habiskan makan mu, sisa satu suap!" Perintah Erik, menunjuk ke arah piring yang ada di meja dekat bed. Lalu membawa istrinya keluar kamar. Sepertinya dua orang itu pun paham jika menantu dan anaknya, hendak memecahkan tabungan rindu yang sudah mereka simpan selama beberapa hari.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka, jantung Naura mendadak ingin melompat dari posisinya, debaran jantung yang begitu cepat, menciptakan keringat dingin yang keluar dari pori-pori telapak nya. Lama ia menunggu Abhi mendekat, tapi yang ia dapati hanya keheningan, tidak ada suara langkah yang bisa ia dengar.
Ia mendongak mencoba mencari tubuh pria yang sudah membuat hatinya porak-poranda. Matanya kemudian menangkap Abhi, dengan pakaian rumah sakit motif salur, sama seperti dirinya saat ini. Astaga, kenapa dia bodoh, mau-maunya pakai baju itu. Sungutnya saat mendapati kepolosan Abhi. Padahal di lantai tertinggi dia bisa saja meminjam baju kakak iparnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Abhi melangkah pelan, mendekat ke arah Naura ketika matanya bertemu dengan mata istrinya. Tiba di depan Naura, Abhi membungkuk. "Kok aku bingung setelah bertemu denganmu," ucapnya sambil mengusap tengkuknya. "Bingung mau meluk model gimana?" ujarnya melanjutkan. Membuat wajah Naura yang tadi pucat, kini tiba-tiba merona karena godaan Abhi.
"Kau tidak rindu?" selidik Naura. Bibir cemberut membuat pria di depannya semakin gemas. Sedangkan, matanya pun kini sudah beralih menatap kain seprei warna biru khas rumah sakit.
"Aku kangen kamu, Bhi!" ucapnya sambil mencari wajah suaminya, lalu mempertemukan pandangan mereka berdua.
"Bukan hanya kamu! Aku juga." Tatapan Abhi makin dalam, semakin membuat Naura tenggelam dalam lautan kerinduan yang dilimpahkan oleh Abhi.
"Terus ... kalau sudah bertemu, kita mau ngapain?" Pertanyaan bodoh yang Naura lontarkan untuk Abhi, membuat pria itu terbahak.
"Ciuman boleh nggak." Senyum cerah terpampang di wajah Abhi.
Sedangkan Naura langsung menutup mulutnya rapat, ditambah lagi dengan tangan kanannya, seolah membuat benteng yang harus dilewati bibir suaminya. Abhi yang melihat tingkah istrinya, tubuhnya semakin terguncang karena berusaha meredam tawa.
__ADS_1
"Aku nggak sikat gigi hari ini!" kata Naura jujur, dan Abhi bisa mendengar dengan jelas, meski suaranya sudah diredam dengan tangan.
"Sudah kemasukan nasi, kan? Jadi pasti rasanya manis. Nasi kan mengandung gula!" Abhi berusaha merayu, ia ingin sekali meraup bibir pucat itu, menelusuri setiap bibir Naura dengan rakus. Kalau bisa, sampai istrinya itu kehabisan napas, karena belum ahli dalam berciuman.
Tangan Naura mendarat di lengan kekar Abhi, "diam!" serunya dengan tatapan mengancam.
Mendengar itu Abhi tidak membantah lagi, ia duduk di sisi ranjang, menghadap ke arah dinding. Tatapannya seolah tengah meratapi kesalahannya, yang sudah pergi meninggalkan Naura. Dia lalu menengok ke arah sang istri.
"Masih ingin menghabiskan waktu denganku?" tanya Abhi.
"Tidak ada yang berubah, hanya karena kamu tidak ada, di saat aku sakit." Tangan Naura melingkar di pinggang Abhi, kepalanya ia letakan di punggung suaminya, tidak ada aroma parfum seperti biasanya, ketika ia mencoba menghirup aroma suaminya. Lengan Naura yang tadi melingkar di pinggang Abhi, semakin melingkar erat. Seolah enggan untuk melepaskan.
"Sepertinya rumah itu tidak aman deh, kita tukar tambah saja, ya?!" tawa Abhi, mengingat lingkungan di sana memang tidak begitu bersih.
Naura menjauhkan kepalanya dari punggung Abhi, menatap wajah suaminya lamat-lamat. "Hanya demam berdarah, Sayang ...."
"Itu juga mematikan, Sayang!" kata Abhi tegas. "Bagaimana kalau yang kena anak-anak kita!" Sambungnya lagi.
"Aku sudah terlanjur menyukai rumah itu, Bhi! Tidak bisakah kita cari jalan lain selain tukar tambah?" Naura tampak kecewa dengan niat Abhi. "Tapi, kalau kamu maunya seperti itu ya sudah, terserah!" imbuhnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Kepalanya mendadak pusing ketika mendengar pembahasan Abhi.
...----------------...
Next gak? Atau mau stop, karena bosan? Sepi sekali komentarnya.
__ADS_1