
Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.
.
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
Malam ini Erik pulang terlambat, karena sebelum dia pulang ada pasien darurat yang membutuhkan pertolongan, sedangkan dokter Reyhan sedang ada keperluan yang memang tidak bisa ditinggalkan.
Saat dia pulang ke apartemen, terlihat Ella yang sudah tertidur nyenyak dengan memeluk guling besar disampingnya. Erik yang melihat itu segera membersihkan tubuhnya, berniat menggantikan posisi guling yang dipeluk istrinya.
Ella yang merasa terganggu dengan tingkah Erik, reflek mendorong Erik hingga menjauh darinya, Ella belum sadar jika Erik yang telah menganggu tidurnya, karena dia sangat mengantuk dan tidak kuat lagi membuka matanya.
“Yang... Tumben, baru juga jam 9 sudah nyenyak tidurmu,” ucap Erik di samping telinga Ella, sambil mencoba kembali memeluk Ella, tapi Ella yang tertidur tidak bisa mendengar ataupun menjawab pertanyaan Erik.
***
Keesokan harinya, Ella terbangun karena getar alarm yang ada di bawah bantal, dia sengaja hanya menggetarkan alarmnya, agar Erik tidak ikut terbangun, karena rencananya subuh ini dia akan menggunakan tes uji kehamilan yang kemaren dia beli di apotek. Namun, baru dia menyingkap selimutnya, Erik sudah melingkarkan tangannya di perut Ella.
“Mau kemana?” Tanya Erik sambil mencium pipi Ella, kakinya pun sudah berada di atas kaki istrinya.
“Ini masih terlalu pagi untuk aktivitas, temani Mas dulu,” lanjut Erik sambil melirik jam di dinding yang baru menunjukkan pukul setengah lima pagi.
“Mas kangen sama kamu,” ucap Erik sambil mengeratkan pelukannya, memberikan kecupan lembut di bibir Ella.
“Kamu kok gemukan Yang?” Tanya Erik yang baru menyadari jika bagian yang dia pegang ternyata lebih besar dari yang biasanya. Ella yang melihat itu, tiba-tiba tubuhnya terasa kaku sulit untuk di gerakkan.
“Emmm masak sih Yang, biasa saja deh perasaan,” jawab Ella yang sedikit gugup.
__ADS_1
“Gemuk juga nggak papa kok, Mas tambah suka malahan,” ucap Erik sambil mengeratkan lagi pelukkannya.
“Mas... Lepas dulu Lala kebelet pipis,” ucap Ella saat Erik mulai sedikit terlelap.
Erik yang setengah sadar segera mengendurkan pelukannya.
“Jangan lama-lama!” Peringat Erik dengan setengah suaranya.
Saat Ella hendak berdiri, perutnya yang semula baik-baik saja, tiba-tiba terasa kram rasanya seperti orang sedang haid tapi ini lebih ringan. Ella berjalan pelan ke dalam kamar mandi sambil menahan rasa kram di perutnya, dia tidak lupa mengunci pintu kamar mandi agar suaminya tidak bisa masuk ke dalam. Baru dia menarik laci ingin mengambil alat tes kehamilan pintu sudah di gedor-gedor oleh Erik.
“Kok di kunci sih Yang,” teriak Erik saat tidak bisa masuk ke dalam kamar mandi. Ella yang mendengar itu segera meletakkan kembali alat tes kehamilan itu. Dia pura-pura menyalakan kran air agar Erik tidak mencurigainya.
“Bentar Mas tunggu sebentar lagi,” teriak Ella dari kamar mandi, dia sudah panik karena takut Erik mengetahui kelakuannya. Sebenarnya tahu juga nggak papa kalau hasilnya positif, tapi kalau negatif kan kasian dia pasti akan kecewa.
Ella lalu membuka pintu kamar mandi, terlihat Erik didepannya sedang menatapnya.
“Ayo!” ajak Erik sambil menarik tangan Ella.
“Nggak papa Mas, biar Mas nggak nylonong masuk saja, kan malu,” jelas Ella.
“Kenapa harus malu? Mas sudah melihatnya saat Mas masih sadar 100%, jadi Mas sudah hapal dimana yang paling menjadi tempat favoritku,” ucap Erik sambil tersenyum nakal ke arah Ella, lalu merebahkan Ella di ranjangnya.
Duh Mas ingat umur dong, kenapa seperti abg begini sih? ke toilet saja dicariin . Batin Ella.
Erik membawa Ella ke dalan pelukkannya, dan menarik selimut menutupi tubuh mereka, mereka berdua kembali tertidur. Hingga tidak di sadari jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Ella yang baru bangun langsung panik karena jam praktiknya jam 9 pagi, dia langsung bersiap untuk mandi lalu menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Karena Erik tidak kunjung bangun Ella akhirnya menuliskan note dan memesan taxi onlinenya. Dan meninggalkan Erik yang masih terlelap disana.
Sampai di rumah sakit dia langsung berjalan cepat ke arah ruang praktiknya sambil menyapa perawat yang dia kenal.
Saat tiba di depan ruangannya, terlihat sudah ada beberapa pasien anak yang tengah menunggu kedatangannya, dia merasa bersalah saat melihat banyak anak yang tengah menangis.
“Pagi Dok,” Sapa Hanin saat Ella masuk ke dalam ruangannya. Ella hanya tersenyum ke arah Hanin sambil meletakkan tas yang ada di tangannya.
__ADS_1
“Berapa pasien Nin?” Tanya Ella saat sudah duduk di kursinya sambil mengisi data hadirnya.
“Yang terdaftar baru 15 anak, tapi sepertinya masih ada lagi yang baru mendaftar,” jelas Hanin.
“Bisa nggak kita batasi 20 pasien saja, aku merasa sangat lelah hari ini,” ucap Ella pada Hanin.
“Pagi-pagi sudah lelah saja Dok, pasti semalam habis lembur ya sama Dokter Erik, eh hati-hati lhoh Dok, kalau hamil muda itu nggak boleh sering-sering, lalu gimana hasilnya Dok? Positif kan?” Ucap Hanin yang bertanya seperti kereta lewat nerocos tanpa henti.
“Nih masih disini,” ucap Ella sambil menunjukkan tes uji kehamilan yang masih tertinggal, dia kemaren juga beli dengan berbagai merk yang sekarang dia taruh di tas kerjanya.
“Kok bisa?” Tanya Hanin. Padahal Hanin sudah penasaran setengah mati dengan hasil tes atasanya itu.
“Sudah sana, sudah waktunya kerja!” Perintah Ella pada Hanin. Karena jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Ella pun memulai pekerjaanya pagi ini, di temani Hanin yang cerewet itu, tapi saat pergantian pasien ke 8 Erik tiba-tiba masuk keruangan Ella, membuat Ella bingung, karena suaminya tidak pernah menganggunya ketika dia bekerja. Hanin yang paham langsung keluar dari ruangan Ella.
“Kenapa?” Tanya Ella sambil mengerutkan keningnya, Erik tiba-tiba memeluk Ella, membuat Ella semakin bingung dengan tingkah suaminya.
“Kenapa kamu ninggalin Mas, Mas bingung tadi mencarimu,” Ucap Erik yang bertambah manja dengan Ella.
“Iya soalnya tadi keburu telat, kan kasian anak-anak yang sudah menunggu, Mas keluar dulu sana! Nanti aku ke ruangan Mas, Mas mau dipesanin apa buat makan siang?” Tanya Ella dengan lembut agar suaminya itu segera keluar dari ruangannya.
“Mas hanya ingin kamu,” ucap Erik sambil melepaskan pelukannya.
“Boleh.”
“Beneran boleh, emang kamu sudah selesai datang bulannya, Yang?” Tanya Erik yang sedikit bersemangat. Ella hanya tersenyum tipis ke arahnya karena bingung harus menjawab bagaimana.
Erik lalu berjalan meninggalkan ruangan Ella menuju ruang pribadinya. Dan Ella kembali melanjutkan pekerjaannya melayani pasiennya.
Saat sudah selesai Ella segera menuju kamar mandi, dia penasaran ingin secepatnya mengetahui hasil dari tes urinnya. Dia memasukkan alat tes itu kedalam wadah yang sudah terisi urin, jantungnya berdebar kencang saat garis merah satu mulai terlihat jelas, dia lalu meletakkan alat tes itu di meja wastefel, karena hanya satu garis yang terlihat. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, rasa kecewanya semakin tinggi saat mengingat satu garis merah yang terlihat disana. Dia menangis tanpa suara, merasa sedih dan merasa bersalah pada suaminya.
Lagi nggak nih? votenya yang kenceng dong biar saya juga kencang nulisnya.😁👍🙏
__ADS_1