Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Kalun Sakit


__ADS_3

Jangan lupa untuk like dan vote, happy reading👍🙏


.


.


.


Erik yang baru tiba di rumah Damar, langsung disambut teriakkan Riella dari halaman rumah Damar.


“Paapaa...” teriak Riella berlari menghampiri Erik yang baru menginjakkan kakinya di teras rumah Damar. Erik lalu memeluk dan menggendong anak gadisnya.


“Lala belum mandi? Pasti main terus ya?” Riella tersenyum sambil mengangguk saat mendengar pertanyaan Erik.


“Seru Pah, main sama Kakak Ghea, Lala dibonceng terus main sepedanya,” ucap Riella dengan nafas memburu, karena terlalu lelah.


“Stop dulu mainnya habis itu mandi ya!” pesan Erik lalu menurunkan Riella dari gendongannya. Dia lalu masuk ke rumah Damar, menghampiri Damar yang tengah bermain dengan anak ketiganya yang baru berusia satu tahun.


“Itu Om Erik datang,” ucap Damar pada anaknya yang belum paham, karena baru menginjak 1 tahun.


“Kemana saja kamu? Lama nggak kelihatan!” tanya Damar saat Erik mendudukkan tubuhnya di sofa.


“Sibuk kemarin, kerjaan menumpuk,” jawab Erik singkat.


“Yang! Bikinkan kopi buat Erik!” teriak Damar pada Sashi yang tengah berada di dapur. Sashi hanya menjawab singkat perintah suaminya.


“Enak ya... Masih ada yang dipanggil Sayang.” Damar hanya terkekeh saat mendengar ucapan Erik. Erik mengambil rokok di kantong jas miliknya, lalu menyalakan dan segera mengisapnya, Sashi yang baru mengantarkan kopi langsung mengambil anak ketiganya dari hadapan Erik karena tidak rela jika Galang menghirup asap rokok.


“Kak Erik sembarangan, di depannya ada anak kecil masih saja merokok, bagaimana jika Lala melihatmu seperti ini, pasti dia akan sangat marah,” gerutu Sashi saat meninggalkan mereka berdua.


“Biar saja marah, aku merindukan dia memarahiku,” ucap Erik menatap ke arah kedua anaknya. Dia menghentikan ucapannya, memainkan asap rokok dengan mulutnya.


“Aku lelah dengan sikap Mamaku Mar, dia memintaku untuk menikah lagi,” ucap Erik sambil mengangkat satu kakinya ke sofa.


“Menikahlah! aku akan merestuimu jika kamu menikah lagi,” ucap Damar, sambil menatap ke Erik. Erik hanya tersenyum tipis, sambil menatap kedua anaknya yang sedang bermain di halaman rumah Damar.


“Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, aku di sini menunggu adikmu menjemputku,” ucap Erik sambil mematikan rokoknya, “Umurku sudah 45 tahun, kalau takdirku sampai 50 tahun, berarti sebentar lagi aku akan bertemu dengan istriku,” lanjut Erik.

__ADS_1


“Bagaimana dengan anakmu, pasti mereka juga membutuhkan sosok pengganti Mamanya, kamu nggak merasa kasian dengan mereka?” tanya Damar pada sahabat sekaligus mantan adik iparnya.


“Kasihan? Cih,” desis Erik sambil menyalakan kembali rokok di jarinya.


“Cukup Rik! Apa kamu tidak ingat jika aku tidak menyukai asap rokok.” Erik tertawa keras, tapi masih enggan mematikan rokoknya.


“Besok malam, ajaklah mereka ke pesta ulangtahun perusahaan, mereka juga salah satu pewaris perusahaan, dan wajib hadir,” minta Damar pada Erik.


“Apa? Pewaris?”


“Iya, warisan Ella dari Ayah aku pindahkan ke atas nama mereka, aku tidak mau juga makan uang yang bukan milikku,” jelas Damar.


“Hahaha, bagaimana mereka akan menghabiskannya, jika hartaku sudah tidak akan habis dimakan 6 turunan,” canda Erik.


“Besok aku akan datang, membawa mereka, tapi jangan kamu kenalkan mereka ke publik, aku tidak mau mereka menjadi sasaran empuk untuk pesaing bisnis kita!” peringat Erik yang langsung mematikan rokoknya saat melihat Kalun berjalan ke arahnya.


“Ayo pulang Pa!” Ajak Kalun yang merasa tidak enak badan.


“Tunggu adikmu dulu, biar dia mandi sama susternya,” jawab Erik lalu menatap wajah Kalun yang terlihat pucat.


“Sepertinya sedang tidak enak badan, dari tadi dia hanya di kamar dengan Gheo,” ucap Damar menjelaskan kondisi Kalun.


“Sus..., segera bersihkan Riella!” teriak Erik saat mengetahui suster yang tengah asyik mengobrol dengan Sashi.


Setelah selesai mandi Erik segera membawa anaknya pulang ke rumah , karena hari juga sudah mulai gelap. Erik mengangkat tubuh Kalun saat tiba di rumah, dan menidurkan Kalun di kamarnya.


“Sus telepon dokter anak sepertinya Kalun memang sedang sakit,” perintah Erik ketika keluar kamar.


“Dan Lala tidur dengan suster dulu, kasihan nanti kamu tidurnya jadi terganggu,” lanjut Erik memberitahu Riella.


“Tapi Pa...!”


“Nurut ya..., untuk malam ini saja kita tidak tidur bertiga, tunggu Kak Kalun sembuh dulu.” Riella cemberut ketika mendengar ucapan Erik. Erik lalu menggendong Riella dan membawanya ke kamar.


“Papa akan menemanimu dulu, tidurlah!” ucap Erik sambil merebahkan tubuhnya di samping Riella, dia mengusap rambut hingga punggung Riella membiarkan gadis kecil itu tidur dengan nyenyak.


Setelah Riella tidur, Erik kembali ke kamarnya, untuk menemani Kalun di sana, mengganti kain yang menempel di dahi Kalun. Dia menatap anak lelakinya berpikir apa yang bisa membuat Kalun tiba-tiba demam seperti ini. Dia mengusap rambut Kalun yang sudah mulai tumbuh panjang.

__ADS_1


“Ma..., Ma..., tunggu Ma..., jangan pergi, Kalun kangen Mama,” ucap Kalun dengan mata yang terpejam. Erik yang mendengar suara rintihan Kalun hanya bisa mengusap lembut rambutnya, supaya anaknya bisa lebih tenang.


“Sayang..., ada Papa di sini,” ucap Erik menenangkan Kalun, sambil memegang tangan kecil milik Kalun. Namun, tiba-tiba Kalun kaget dan langsung duduk. Dia menangis memanggil-manggil mamanya. Hati Erik sakit saat mendengar suara tangisan Kalun, sepertinya anak-anaknya memang membutuhkan sosok mama pengganti.


“Apa Kalun mimpi Mama lagi?” tanya Erik yang sudah membawa Kalun ke dalam pelukkannya. Kalun menggeleng, menjawab dengan jujur ucapan Erik.


“Apa Kalun benar-benar ingin punya Mama, baru?” Kalun masih menggeleng lagi sebagai jawabnnya. Erik tersenyum ke arah Kalun. Mengusap punggung anaknya.


“Tidurlah, tadi dokter bilang Kalun harus banyak istirahat, sini biar Papa yang memeluk Kalun,” ucap Erik lalu merebahkan Kalun sambil memeluk tubuh kecil anaknya.


“Pa... Seperti apa Mama Ella? Apa dia sombong?” Erik terkekeh saat mendengar pertanyaan Kalun.


“Mama Ella baik, dia nggak sombong, dia sayang dengan Kalun dan adik, terus Papa paling takut kalau Mama marah, dia bisa tidak bicara selama berhari-hari, hanya diam tanpa kata,” ucap Erik menjelaskan sifat Ella ke Kalun.


“Apa mungkin Mama marah sama Kalun ya Pa..? Tadi Kalun lihat Mama, tapi Kalun panggil-panggil Mama nggak mau lihat ke arah Kalun.” Erik terkekeh mendengar ucapan Kalun.


Pantas saja dia mengigau memanggil mamanya, ternyata dia bermimpi. Batin Erik.


“Sudah tidur, besok kita datang ke makam Mama,” jelas Erik.


“Pa... Tadi siang Kalun lihat Mama, tapi dia tidak kenal Kalun Pa. Jadi Kalun sedih Pa...” jelas Kalun membuat Erik menatap anaknya.


“Memang Kalun lihat Mama di mana?” tanya Erik yang juga penasaran.


“Tadi Kalun lihat Mama di jalan, waktu nungguin suster dan adik beli es cream, terus waktu Kalun panggil Mama tidak menoleh ke arah Kalun,” jelas Kalun sambil memeluk erat leher Erik, “Apa Mama marah sama Kalun ya Pa? Tapi apa salah Kalun?” lanjut Kalun bertanya, sambil mengeluarkan cairan bening dari matanya.


“Kalun anak baik, nggak mungkin Mama marah sama Kalun, jika benar itu Mama Kalun pasti dia akan memeluk Kalun, tapi Mama sudah tidak ada di sini Sayang,” jelas Erik dengan nada lembut, Kalun diam tidak ingin melanjutkan bantahannya.


Kalun yang tidak pernah ingat wajah asli Ella hanya bisa diam, karena dia tidak begitu yakin, karena wajah orang itu seperti foto yang selalu Erik kenalkan jika itu adalah mamanya.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2