
...Selamat Membaca...
"Siap ya, berapa nomor sepatuku? Kalau benar door price nya tiket lamaran."
Di mata Naura, wajah Abhi yang sedang berpikir keras seperti ini tampak ganteng, cool dan membuatnya enggan untuk mengalihkan tatapannya. Berbeda dengan Abhi, mungkin bagi sebagian orang mudah untuk menjawab pertanyaan Naura. Sekarang, apa yang akan terjadi esok tergantung dari jawaban dua kata yang ia lontarkan.
Naura tersenyum menggoda, matanya yang bulat itu mengerjap berulangkali. “Ayo, jawab!” desaknya saat Abhi hanya terdiam.
“Sebenarnya sepele—tapi, kenapa bisa semenyebalkan ini, sih!” keluh Abhi.
“Hahaha .... enggak mau nyoba menjawab dulu, nih? Nggak sayang ... kalau door price nya hangus?” goda Naura.
Abhi menatap serius ke arah layar ponselnya. “Yah, kamu benar, Sayang—sepertinya aku memang perlu mengenalmu lebih dekat lagi. mengetahui apa yang kamu suka dan tidak kamu sukai.”
Naura tersenyum tipis, matanya tak lepas bertatapan dengan mata Abhi. “Aku butuh mengenalmu, lagi, Sayang. Bukan hanya sekedar Abhichandra Damanik. Aku perlu tahu berapa jumlah mantanmu? Bagaimana keluargamu. Kamu itu pribadi yang gimana! Karena kita tidak menikah hanya 1 atau 12 bulan, tapi aku ingin di sisa hidupku nanti ada kamu di sini. Setidaknya 6 bulan ke depan kita bisa saling mengenal.”
“Eh, Sayang. Tapi, kalau pacaran setelah menikah itu enak, loh?” Abhi terdiam, menanti respon Naura. “Tapi kamu juga ingat kan, kita tidak boleh mendekati zina?!” sebenarnya Naura tahu, Abhi hanya asal bicara, tapi ucapanya itu seperti mampu menggerakkan hatinya yang keras.
“Aku pasrah ….” Naura mengangkat kedua tangannya, hingga ponselnya terjatuh di atas paha. Tapi, tindakannya itu masih bisa dilihat Abhi. Dan Abhi dengan serius menanggapi ini.
Pria itu tidak menjawab, dia berteriak keras berbicara pada Widya. “Mamaaa … batalkan penerbangan, besok!”
“Jangan besok, Abhi Sayang … lusa!” minta Naura, dia sampai hilang fokus saat Abhi berteriak seperti itu.
“Iya, aku paham—maksud aku, aku minta mama untuk batalin penerbangannya besok. Gimana cocok, kan?”
“Emmm ….” Naura mengangguk.
__ADS_1
“Terus gimana acaranya, Sayang? Apa aku telepon calon mertua dulu ya buat tanya-tanya gimana enaknya. Atau aku ke rumahmu malam ini sekalian biar kita bisa ketemuan,” desak Abhi yang mulai tak sabaran.
Naura terbatuk bermaksud memperingati Abhi untuk tidak buru-buru. Tapi, pria itu tidak peka.
“Aku matikan ya—aku mau ganti baju habis itu kita bertemu di rumah.”
“Abhi!”
“Lembut dikit kenapa? Kita tidak sedang di depan hakim!”
“Ini juga untuk memperingatimu, Sayang! Jangan gegabah gitu! Emangnya kamu sudah memikirkan bagaimana nanti klienmu kalau mereka mengetahui jika kita pasangan suami-istri.”
Abhi tersenyum, “Setelah ini biarkan Nathan yang mengurusnya. Satu perkara besar tentang kasus harta gono-gini artis ternama itu yang akan kita hadapi bersama.” Abhi menarik nafas. “mereka keberatan kalau aku menyerahkannya pada Nathan.”
“Kalau begitu aku akan menyerahkannya pada senior lawyer yang ada di tempatku. Tapi, aku nggak janji, juga. Mengingat Sania Marfuah pengennya pakai aku.”
“Stop, aku nggak mau otakku tercemar!”
“Hey! Sadar dong aku hanya minta kamu bayangin! Jangan mesum!” suara Abhi naik satu oktaf.
“Ish, nyebelin kamu rupanya!” sungut Naura.
“Kamu juga lebih parah dari aku!”
“Kamu ngatain aku? Udah batalin saja lamarannya, sebel aku sama kamu!” maki Naura, ekpresi wajahnya tampak kesal.
“Ih, apaan pasal 378 kamu, ya!”
__ADS_1
“Biar saja, dari pada kamu pasal 369.”
“Pokoknya besok pagi jam 5 lebih lima belas menit aku ke rumah papa Erik! Titik!” tegas Abhi.
“Papa-papa. Kapan kamu jadi anaknya!”
“Bentar lagi, aku kan jadi anak mantunya!”
“Ge-er banget. Dah aku matiin!” ancam Naura.
“Ja—jangan aku kan masih kangen!” Abhi dengan cepat mendudukan tubuhnya. Terlihat khawatir jika Naura benar-benar mengakhiri panggilan. “Sayang ….” Panggilnya tapi masih dibalas kasar oleh Naura. “Jangan marah, ya?” ulangnya lagi.
Naura meringis mendengar suara lembut dari Abhi, ia luluh dengan suara manja dari Abhi. “baiklah, berhubung aku sayang sama kamu aku nggak akan marah. Kamu bisa datang ke rumah besok.”
“Gimana kakimu sudah sembuh?” tanya Abhi, mengalihkan pembicaraan. Obrolan mereka kembali ke awal, suara keduanya lembut, satu bertanya dan satu menjawab, saling mengenalkan diri, berbagi informasi tentang apa yang mereka sukai dan tidak mereka sukai. Termasuk nomor sepatu mereka masing-masing. Di saat Abhi hendak memberitahu size pakaian dalamnya, Naura langsung memperingatinya.
Hingga pukul 11 malam panggilan video itu akhirnya berakhir, sepertinya paket kuota Abhi habis. Terbukti, saat kembali menelepon Naura, penggilan video itu tak kunjung tersambung. Kemudian, jemarinya dengan lincah menyentuh layar, mengetikan pesan singkat, berpamitan pada Naura, dengan kata- kata romantis pada umumnya.
Naura tersenyum cerah di tengah matanya yang sayu karena ngantuk. Tapi, ia tidak bisa tidur sekarang. Perutnya kosong, ia lupa jika sedari siang belum memakan sesuatu untuk mengisi perutnya.
Naura pelan-pelan berjalan menuju lantai satu, terpaksa harus berpegangan pada sisi tangga untuk menopang tubuhnya. Naura tahu diri, terlalu sungkan untuk meminta bantuan pada pelayan, karena hari sudah terlalu larut.
Saat Naura tiba di lantai bawah, di depan ruang televisi masih terlihat para pria dewasa berbincang di sofa.
“Papa, kira—teleponan saja sudah kenyang?”
...Jangan lupa komentar dan like ya, vote dan gift....
__ADS_1