Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Poligami


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa untuk tekan👍 dulu ya..


Follow juga yuk IG saya Rehuella1.🙏


.


.


.


.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ella berniat ingin menemani suaminya bekerja, dia melihat jam di tangannya sudah jam 10 pagi. Dia lalu beranjak ke ruang pribadi suaminya.


Suasana hatinya sedang baik, setelah melihat beberapa bayi mungil yang dia periksa, sudah menjadi resikonya jika baju yang dia kenakan sedikit berbau ompol, karena tadi ada bayi mengompol di bajunya, ketika dia sedang menenangkan bayi yang baru saja dia suntik.


Dia tidak marah dengan orang tua bayi itu, bukan salah mereka juga tidak memberinya diapers. Karena Ella juga sudah mewanti-wanti jangan terlalu sering mengunakannya saat anak masih bayi, karena kulit bayi sangat lembut dan sensitif.


Ella membuka pintu ruang pribadi milik suaminya itu, menatap suaminya yang mengenakan kacamata emas, bukan seperti Erik yang biasa dia lihat, Ella berjalan menuju kamar untuk mengganti baju, lalu kembali duduk di sofa yang ada di ruang kerja Erik.


Seperti itulah Erik jika sudah berada di depan laptop maupun file, dia tidak akan menyadari jika seseorang sedang masuk ruangannya.


Suara dering hp Erik mengharuskan dia untuk meninggalkan sejenak pekerjaanya, dia menatap sebentar layar ponselnya.


“Ya Ma,” ucapnya sambil melepas kacamata yang dia kenakan, lalu menatap ke arah sofa di mana istrinya berada, dia berdiri dan menghampiri Ella yang tengah memakan cake lezatnya.


“Nanti sore Mama ngadain acara syukuran, kamu bawa Lala kemari ya,” ucap Jihan dari seberang telepone.


“Syukuran apa Ma?” tanya Erik.


“Em... Itu kakak iparmu hamil lagi, program bayi tabungnya berhasil jadi Mama ngadain syukuran di sini,” jelas mama Jihan.


“Ow.. Ya nanti Erik dan Ella akan datang,” ucapnya singkat lalu mematikan ponselnya.


“Mama kenapa Yang?” tanya Ella yang duduk di samping Erik. Erik terdiam memikirkan dia harus mangatakannya atau tidak, dia takut jika mengatakannya Ella akan bersedih karena belum juga berhasil mendapatkan momongan.


“Kenapa? Kok melamun, apa ada masalah?” tanya Ella lagi yang membuyarkan lamunan Erik.

__ADS_1


“Em.. Itu, kita diminta datang kesana karena nanti sore mama ngadain acara syukuran,” jelas Erik.


“Syukuran?” tanya Ella penasaran.


“ Iya, kakak ipar hamil lagi, jadi mama buat acara syukuran,” jelas Erik yang langsung menoleh ke arah wajah Ella yang sudah berubah pias, Ella menghela nafas panjang, lalu berdiri berjalan mendekat ke arah jendela, melihat kemacatan kota dari lantai tertinggi rumah sakit Erik.


Pikirannya kacau iri, sedih, bingung jadi satu, Erik yang melihat itu langsung berjalan menghampiri istrinya, memeluk Ella dari belakang, ikut menikmati kemacetan kota Jakarta.


“Nggak usah datang nggak papa Yang, jangan dibuat pusing,” ucapnya lembut menenangkan Ella.


“Nggak bisa begitu dong, kita harus datang,” ucap Ella.


“Lalu kenapa kamu bersedih?” tanya Erik yang melihatbraut wajah Ella.


“Aku Cuma iri saja dengan kebahagiaan mereka, di saat mereka sudah punya anak mereka diberi lagi, sedangkan kita? Diberi 1 saja diambil lagi!” ucap Ella sambil berbalik memeluk Erik.


“Apa Mas poligami saja biar bisa secepatnya dapat anak?” lanjut Ella yang putus asa.


“Nggak boleh bicara begitu, semua sudah digariskan oleh Allah, kita tinggal menunggu saja dan berdoa, serta banyakin usahanya, dan apa tadi? Poligami? ” Erik tersenyum menunduk ke arah Ella.


“Mas akan poligami jika Allah mengizinkan,” ucap Erik, Ella langsung mencubit lengannya yang berotot itu.


“Nggak kamu hanya milikku,” ucap Ella sambil mengeratkan pelukkanya.


“Mas juga nggak mau, satu saja sudah nyusahin apalagi 2,” ucapnya sambil terkekeh, Ella reflek melepaskan pelukannya, dan kembali duduk di sofa.


“Ayo kita berangkat sekarang ke rumah mama,” ajak Erik, tapi dia justru merebahkan kepalanya di pangkuan Ella.


**


Erik mengemudikan mobilnya ke arah rumah mewah kedua orang tuanya, rumah yang sebulan ini tidak dia kunjungi, saat perjalanan Erik sesekali melihat wajah Ella yang terlihat lelah dan mengantuk itu, mobilnya berhenti di pekarangan rumah mewah milik keluarganya, terlihat ayah Yusuf sedang bermain dengan Zoya dan Zalina.


“Assalamu’alaikum Pa,” sapa Erik saat sudah berdiri di belakang lelaki yang rambutnya terlihat putih semua itu.


“Wa’alaikumsalam, Erik!” kaget Yusuf saat melihat Erik berdiri di belakangnya, lalu menoleh ke arah Ella yang berdiri di sisi kiri Erik.


“Bagaimana kabarmu La?” tanya Yusuf pada menantunya.

__ADS_1


“Alhamdulillah sehat Pa,” jawabnya singkat, lalu menghampiri kedua bocah yang belum menyadari kedatangannya itu.


“Zoya, Zalin,” panggil Ella, kedua bocah itu pun berlari menghampiri Ella, mereka berdua terlihat bahagia saat melihat tante cantiknya itu datang. Ella lalu membawa mereka masuk ke dalam rumah, bergabung dengan kakak ipar dan mama mertuanya yang sedang duduk santai di depan tv.


“Assalamu’alaikum Ma, Kak,” sapa Ella lalu mencium kedua pipi wanita tersebut.


“ Selamat ya Kak, sudah berapa bulan?” tanya Ella pada Mila, sambil duduk di samping wanita hamil itu.


“Jalan 3 bulan La, kamu nggak pengen program bayi tabung juga?” tanya Mila yang membuat ekspresi Ella berubah.


“ Mas Erik maunya pakai cara alami dulu Kak, lagian Ella baru saja kehilangan, jadi paling tidak nunggu 3 bulan dulu,” jelas Ella.


“Ow... Gitu ya, padahal aku dulu habis nikah langsung hamil lho, La” ucap Mila.


“Sudah... Sudah, ayo makan siang dulu,” ajak Jihan pada kedua menantunya itu, mama mertua Ella lebih paham apa yang Ella alami saat ini, kehilangan janinnya kemaren sangat membuat Ella merasa bersalah pada Erik.


“Ajak suami kalian! Mama tunggu di meja makan,” perintah Jihan Ella yang mendengar itu segera beranjak dari tempat duduknya, berniat memanggil suaminya yang sedang di depan teras dengan papa mertuanya.


“Yang... Makan siang dulu, sudah di tunggu mama! Papa juga, ayo Pa!” Ucap Ella kepada lelaki yang hampir sama wajahnya itu, Erik pun menurut dengan ajakkan istrinya, berjalan di samping Ella menuju meja makan, sambil sesekali Erik menggoda Ella, sampai di meja makan, Erik melihat kursi sudah terisi lengkap, mereka makan siang di selingi godaan Zoya dan Zalina pada Erik lantaran Erik meminta disuap istrinya.


“Susahkan punya suami Erik, semua harus dilayani, apa pakaian dalamnya juga masih memintamu menyiapkannya La?” tanya Jihan yang membuat Ella tersenyum menatap Erik yang mengunyah makanan.


“Nggak papa Ma, hanya dengan itu aku bisa memberitahu Mas Erik, jika aku sangat mencintainya,” Erik langsung menoleh ke arah Ella membErikan senyuman terbaiknya.


“Cie ...cie...cie, cinta ni ye,” ucap Zoya meledek Ella.


“Kak apa itu cinta?” tanya Zalina.


“Hush..! kamu masih kecil nggak boleh tau,” jelasnya pada sang adik yang berbeda 3 tahun itu.


Ella hanya menepuk keningnya, karena melupakan kedua gadis itu sedang ikut mendengarkannya, Erik justru menikmati pemandangan siang ini, kebersamaan yang tidak akan tergantikan oleh apapun, setelah selesai makan siang Erik segera kembali ke rumah sakit, meninggalkan Ella di rumah orang tuanya.


“Mas berangkat ya!”pamit Erik saat Ella mengantarkannya sampai depan rumah.


“ Iya, Mas hati-hati, jangan terlalu malam pulangnya,” pesan Ella.


“Iya Sayang, Assalamu’alaikum,” pamit Erik lalu mencium lama dahi Ella.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam,” balas Ella menatap kepergian suaminya, lalu kembali masuk ke dalam rumah bergabung dengan papa Yusuf dan mama Jihan, serta kedua cucu kesayangannya.


Terimakasih atas dukungannya, semoga kalian suka ya. Saya tunggu votes dan likenya.


__ADS_2