Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Lipstick Hijau


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa untuk tekan like👍😊


.


.


.


Lima bulan kemudian.


Seperti keinginan Erik, bahwa setelah Kalun, mereka akan mempunyai bayi perempuan, Allah sangat menyayangi mereka, karena selalu memberi apa yang mereka inginkan. Perut Ella sudah terlihat membesar, karena usia kehamilannya sudah menginjak 7 bulan tepatnya 27 minggu. Kalun perkembangannya juga bagus di usia 9 bulan dia sudah bisa merangkak dengan cepat.


Ella mulai mengeluh rasa nyeri pada bagian perut bawahnya, mungkin karena jarak kehamilan yang terlalu dekat, Erik yang selalu stand by 24 jam di sampingnya selalu melakukan terapi agar rasa sakit itu tidak terlalu menyakitkan.


Keinginan Ella mulai awal kehamilan belum juga menurun, masih sering meminta ini itu, seperti saat ini, Ella meminta diantar Erik untuk membeli lipstick terbaru dari koleksi brand kesukaannya. Erik yang selalu menuruti keinginan Ella, membuat Ella semakin manja padanya, mungkin bisa mengalahkan Kalun, tapi beruntungnya Erik bisa paham hal itu.


“Habis ya Mbak... Padahal kan baru kemarin keluarnya?” tanya Ella pada penjaga counter alat kecantikan.


“Iya Bu... Maaf ya? Apa mau pre order dulu?” Ella cemberut saat terlambat mendapatkan barang terbaru dari koleksinya. Erik yang berdiri di belakangnya sambil menggendong Kalun, hanya bisa menahan senyumnya.


“Kita cari di tempat lain saja!” bisik Erik di telinga Ella.


“Papa nggak lihat, ini counter resminya, kalau kita cari di tempat lain belum tentu barangnya original,” ucap Ella dengan nada sedih.


“Ya sudah..., beli warna lain saja, hijau atau hitam mungkin bagus untuk bibirmu yang sexy ini,” perintah Erik sambil mengusap lembut bibir Ella dengan tangannya.


“Mbak yang warna hijau masih?” tanya Ella yang menuruti keinginan bodoh suaminya untuk membeli lipstick warna hijau.


“Silahkan Bu, kalau warna hijau stock kita masih banyak,” jelas penjaga counter wanita itu. Erik yang berada di belakang Ella hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


“Sabar ya Kalun...,” ucap Erik menghibur dirinya sendiri.


Setelah selesai pembelian lipstik bewarna hijau, Erik mengajak Ella untuk mengunjungi toko mainan yang ada di mall itu. Kalun yang di gendong Erik ala kanguru mulai senang saat melihat mainan di depannya yang tengah dinyalakan. Sedangkan Ella lebih antusias memilih mainan untuk anak gadisnya yang belum lahir.

__ADS_1


“Ma.., yang kita belikan Kalun bukan anak yang ada di perutmu!” tegur Erik saat melihat banyak mainan dan boneka di troli belanjaannya.


“Nggak papa, kan sekalian ke sininya,” jawab Ella sambil tersenyum ke arah Erik.


“Baiklah...” ucap Erik singkat lalu segera mengikuti langkah kaki Ella yang masih ingin berkeliling mencari mainan. Karena merasa lelah Erik menyerahkan Kalun pada baby sitter yang sejak tadi berdiri di belakangnya, menyuruh baby sitter itu untuk ditidurkan karena dia akan mendampingi istrinya berbelanja.


Ella masih asyik dengan kegitannya memilih lingrie bewarna hijau, karena dia ingin mencocokkan dengan warna lipstiknya yang baru saja dia beli. Sudah tiga tempat toko underwear dia datangi, dia belum bisa menemukan keinginannya. Erik yang sejak tadi merasa lelah hanya bisa meredam emosinya mengingat kata, Ella ini adalah keinginan anaknya.


Ella tersenyum sumringah saat mendapatkan barang yang dia cari, rencananya dia akan memakai untuk nanti malam, entah Erik suka atau tidak suka dia akan tetap memakainya, karena dia hanya ingin menselaraskan dengan warna lipsticknya. Setelah mendapatkan keinginanya Erik langsung mengajak Ella untuk pulang karena sudah terlalu lama dia berada di dalam mall itu.


***


Malam harinya.


Seperti keinginan Ella yang akan memakai lingrie dan lipstik bewarna hijau. Erik tertawa keras saat melihat penampilan Ella malam ini.


“Kamu seperti ratu pantai selatan yang di ceritakan orang-orang Ma, semua serba hijau.” Ella menatap dirinya dalam pantulan cermin.


“Nggak cantik ya...?”


“Cantik..., apalagi kalau dilepas semua,” tutur Erik menggoda Ella. Ella mendekat ke arah Erik, saat mendengar ucapan suaminya yang membahas masalah ranjang.


“Kita foto dulu yuk sebelum aku lepas semuanya,” ajak Ella sambil meraih ponsel yang tadi dia letakkan di samping bantal.


Jepretan demi jepretan Ella ambil foto mereka bertiga, foto dengan Erik, dan foto dengan Kalun, hingga mendapatkan peringatan ‘memori penuh’ dia baru meletakkan ponselnya.


Erik hanya bisa menurut dengan ibu hamil itu, rasa berdosa yang sudah membuat istrinya hamil, tidak akan pernah berani mengatakan kata ‘tidak’ dengan permintaan Ella. Tapi dia bahagia dengan kehidupannya yang seperti ini, ya... Walaupun harus jadi bucinya Ella.


Setelah selesai dengan kegiatannya Erik membawa Ella ke dalam pelukkan.


“Ma..., nanti lahirannya cessar saja ya, aku nggak tega lihat kamu merasakan kesakitan seperti dulu,” ucap Erik yang memeluk tubuh tel*njang istrinya, tangannya terus mengusap perut Ella yang tengah bergerak itu.


“Tapi aku takut Pa..., lihat jarum sutikkan anastesinya saja sudah merinding,” tolak Ella.

__ADS_1


“Mas akan mendampingimu hingga terdengar tangisan Ella junior,” ucap Erik sambil mengeratkan pelukkannya.


“Hplnya hampir sama dengan hari ulangtahunmu Pa, bagaimana kalau kita ambil tepat hari ulangtahunmu saja?” tawar Ella sambil mengingat hari ulangtahun Erik. Erik tersenyum karena dia sebenarnya tidak pernah mengingat hari jadinya itu.


“Terserah kamu saja, berarti deal ya! Kamu akan melahirkan dengan proses cessar,” ucap Erik memastikan.


“Ya..., asal kamu bahagia saja,” ucap Ella di akhiri dengan tawa kecil.


“Kamu juga harus bahagia dong,” ucap Erik sambil menatap wajah Ella.


“Aku selalu bahagia, di mana dan kapanpun asal berada di sampingmu,” jelas Ella sambil meletakkan kepalanya di dada Erik.


“Tapi jika nanti terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, berjanjilah Papa akan menjaga mereka dengan baik, mendidik dengan kasih sayang yang besar,” pesan Ella pada suaminya.


“Nggak akan terjadi sesuatu yang buruk, percayalah Mas ini dokter terbaik di Jakarta,” ucapnya sambil mulai menggelitik Ella.


“Ampun... pa! Jangan ... Jangan lanjutkan! Geli Pa...” teriak Ella saat Erik mulai menciumi dan menggelitik pinggang Ella.


“Jangan berteriak nanti Kalun terbangun,” ucap Erik sambil melirik ke arah anaknya. Wajahnya sudah berada tepat di depan wajah Ella. Matanya bertemu dengan mata istrinya yang indah itu.


“Menikahlah lagi, jika aku tidak bisa menemani kalian, hehehe,” ucap Ella sambil tertawa karena rasa geli yang masih tertinggal.


“Baik Mas akan menikahi gadis perawan, jika kamu pergi, biar kamu cemburu dari atas sana ketika Mas sedang bercinta dengannya,” canda Erik sambil memeluk Ella. Ella semakin tertawa keras saat mendengar ucapan Erik.


“Papa tau nggak, Ayah dulu tidak ingin menikah karena apa?” Erik hanya menggeleng saat mendengar ucapan Ella, “Ayah tidak ingin cintanya untuk Bunda terbagi, cukup dia membagi dengan anak-anaknya saja,” lanjut Ella menjelaskan.


“Benarkah?” Ella mengangguk.


“Semua akan baik-baik saja, tenanglah kita akan membesarkan Kalun dan adiknya bersama, dengan cinta dari kedua orangtuanya, dan proses cessar tidak semengerikan yang kamu bayangkan,” ucap Erik sambil membawa Ella ke dalam pelukkannya, mengusap punggung Ella, meyakinkan pada Ella bahwa semua akan baik-baik saja.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih yang sudah mendukung karya saya, tinggal beberapa part lagi saya akan mengakhiri kisah mereka, tapi jangan buru-buru unfavorite ya.😊👍


__ADS_2