Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Budak Cinta Nana


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Malam ini, Abhi tengah menghadiri acara pesta salah satu putra orang berpengaruh di Siantar Timur, tempat di mana Abhi dilahirkan. Dia datang sendiri ke salah satu gedung pertemuan yang dijadikan tempat acara.


Abhi tampak gagah dengan kemeja putih yang dilapisi vest abu-abu. Jam merk ternama hadiah dari sang papa sudah melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Ia tidak pernah lupa untuk memakai jam tangan itu.


Ada sesuatu yang harus Abhi selesaikan di sini. Tidak lain adalah mencari tahu informasi tentang mempelai pria, yang tentunya berhubungan dengan kasus yang diberikan pak Bahtiar padanya. Dia harus waspada, karena lawan yang ia hadapi juga bukan orang biasa. Dia harus bermain cantik, untuk mencari bukti kegiatan mereka.


Abhi bisa menatap senyum Jordan yang begitu mekar, sama seperti saat ia berada di pelaminan beberapa hari yang lalu. Membayangkan hari itu, kesedihan tiba-tiba menghujani perasaannya saat ini. Sudah sehari dia menghubungi sang istri tapi nomor ponsel istrinya tidak aktiv. Dia masih bingung hendak menelepon siapa Nathan pun masih berada di luar kota. Sedangkan nomor mama mertuanya belum ia simpan di phonebook-nya. Mungkin nanti setelah pulang ke rumah ia akan meminta pada mama Ella.


Kaki Abhi melangkah ke arah pelaminan. Sikap iri-nya menjadi, saat matanya menangkap beberapa pasangan tengah mengucapkan salam pada kedua mempelai. Berandai-andai kalau saja Naura ada, pasti dia juga bisa merengkuh pinggang sang istri sama seperti mereka. Tangannya sekarang hampa, dingin juga tidak ada yang bisa ia peluk.


“Pengacara Abhi!” sapa sang mempelai pria ketika mendapati Abhi naik ke pelaminan mewah yang didesign warna gold bercampur putih. Abhi hanya tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan apa yang sudah ia curigai selama ini.


Jordan bukan pria sembarangan, meski usianya lebih muda dari Abhi, ia mampu mengendalikan bisnisnya dengan baik. Bisnis perkebunan sawit, dan showroom mobilnya mampu meledakan namanya di kota Siantar. Tapi sayangnya, Jordan masuk ke daftar orang yang melakukan tindakan kriminal yang saat ini tengah diselidiki olehnya.


“Selamat atas pernikahan, Anda.” Abhi menjabat tangan pria di depannya. Senyumnya cerah, seolah dia benar-benar datang untuk mereka berdua.


“Hahaha ... aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih dengan, Pak Abhi. Anda sudah rela jauh-jauh terbang ke kota ini. Padahal pasti Pak Abhi banyak kerjaan yang harus diselesaikan.” Abhi hanya mengulum senyum ke arah sang mempelai pria. Hal inilah yang mau tidak mau menjadi alasan ke dua Abhi untuk pulang dan tetap meninggalkan Naura di Jakarta. Terlalu riskan untuknya, karena mereka pasti tahu, seorang wanita menjadi kelemahan dari pria. Bisa saja mereka menculik Naura, atau lebih parahnya membunuh istrinya. Dan Abhi tidak ingin itu terjadi.


Tidak ada obrolan lagi antara Abhi dan Jordan, setelah menjabat tangan mempelai wanita Abhi lekas turun dari panggung pelaminan. Ia berjalan ke arah hidangan yang sudah disediakan pemilik acara. Menikmati satu persatu makanan sudah lama tidak ia makan.

__ADS_1


Abhi tidak mengenal banyak orang di sini, tapi sebagian orang yang hadir cukup mengenal siapa Abhi. Dia bukan pria kaleng-kaleng, mengetahui nama panjangnya saja, Abhi masuk dalam daftar pria berkuasa di Siantar Timur.


“Barang sudah aman?” tanya seorang pria yang juga ikut menjadi tamu kedua mempelai. Dan suara itu mampu menghentikan langkah Abhi.


Pria itu berkumis tebal, bagian ujungnya bahkan bisa dipi*lin untuk mainannya sendiri. Tubuh pria yang berbicara itu sama kekarnya dengan Abhi, bedanya perut pria itu seperti orang hamil 5 bulan. Jika di buka bukan bayi yang keluar melainkan lemak yang jenuh karena sudah lama tinggal di dalam sana.


Sedangkan satunya, orang yang berdiri di samping pria tadi, bertubuh sixpack, hampir sebelas dua belas dengan Abhi. Tapi, menang di Abhi, dia cool dan terlihat sangar karena jambang yang tumbuh tipis mengitari tulang rahangnya.


“Nanti malam kemungkinan tiba di pelabuhan.” pria bertubuh sixpack menjawab.


“Oke. Di mana otak bos mu itu di malam pernikahannya, dia justru bercinta dengan barang-barang itu. Membiarkan istrinya kedinginan! Sendirian!” mata pria bertubuh tambun itu menatap lekat ke arah pelaminan, dia merasa iba dengan mempelai wanita.


“Mana mungkin dia yang bergerak sendiri, jelas pasti kita, Bang!" sanggahnya.


Mendengar pembicaraan mereka berdua, membenarkan kecurigaan Abhi selama ini. Merasa sudah cukup, dan tidak ada hal lagi yang bisa memberinya petunjuk, Abhi lekas melangkah keluar gedung. Hendak menelepon orang yang ada di Jakarta.


Namun, lagi, lagi, untuk ke empat kalinya dia menelepon sang istri, tetap saja tak mendapat obat untuk mengusir kerinduannya. Ia membuang napas kasar lewat mulut, melepas kancing vast abu yang ia kenakan saat ini. Berjalan ke arah mobil Toyota Avanza peninggalan papanya.


Tiba di rumah peninggalan sang papa, di depan rumah ada Widya yang menunggu kedatangannya di teras. Wanita itu tersenyum ke arahnya, saat dia turun dari mobil.


“Lemes banget kamu, Bang?” tanya Widya saat Abhi melangkah ke arah teras rumah.

__ADS_1


“Nana nggak bisa dihubungi, Ma. Padahal sebelum berangkat dia bilang nggak boleh jauh-jauh dari ponsel, buktinya dia sendiri yang ingkar,” gerutunya, mengadu dengan sang mama.


Widya yang mendengar pun hanya menggeleng dan memberikan senyuman jahil. “Jadi budak cinta Nana kamu sekarang, Bang dulu saja nggak mau nikah!" Widya tertawa lirih, begitupun dengan Abhi, membalas dengan cengiran. “Urusanmu, belum selesai, Bhi?”


Abhi seolah tengah memikirkan apa yang dimaksud mamanya. “Belum, Ma. Sebentar lagi, mungkin?! Mama ikut doain ya,” ucap Abhi sambil melangkah masuk ke rumah, tangannya dengan mesra memapah punggung sang mama.


“Sudah waktunya tidur, nggak baik lansia kena angin malam!" ajak Abhi, saat mereka berjalan memasuki rumah.


"Mama kan nungguin kamu, Bang!"


Abhi mengangguk, lalu mendudukan Widya ke meja makan. "Apa mama punya nomor mama Ella?” tanya Abhi setelah duduk di samping Widya.


“Kau mau mama menanyakan istrimu?” selidik Widya.


“Iya, masak Abhi mau tanya kondisi mama Ella. Nggak kan? Bisa-bisa papa mertua cemburu, Abhi khawatir soalnya kemarin mama Ella bilang kalau Nana demam, takutnya terjadi sesuatu sama Nana.”


“Ya, sudah telepon saja!” Widya memberikan ponsel yang ada di kantong pada Abhi. Pria itu tersenyum cerah ke arah Widya saat mengambil ponsel tersebut, dan setelah itu Abhi menjauh untuk menghubungi mertuanya.


Dua kali nada tunggu terdengar di ujung telepon, sampai telinganya mendengar bunyi berisik dari ujung panggilan. Dan Abhi berniat menyapa lebih dulu. “Hallo, assalamu’alaikum, Ma ....”


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentar ya guys.


__ADS_2