
Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.
.
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
Siang ini sepasang manusia itu masih berada di bawah selimut di ruang pribadi milik Erik. Ella yang tadinya ingin segera pulang dan beristirahat, justru dia terlelap di pelukan suaminya. Menikmati hembusan nafas suaminya yang tepat mengenai lehernya.
Perlahan mata Ella terbuka, menatap cahaya yang masuk melalui jendela kaca di samping ranjangnya. Dia menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap. Senyumnya tersungging saat menyadari bahwa dirinya tengah mengandung anak lelaki di sampingnya ini.
“Terimakasih Ayah ...” ujarnya sambil mencium pelan kening suaminya.
“Hmmmm,” sahut Erik yang masih memejamkan matanya karena merasa kelelahan.
Ella kaget saat Erik bisa menjawab ucapan terimakasihnya. Pelan-pelan dia menggoyangkan badan suaminya.
“Mas ..., pura-pura tidur ya?” ucap Ella sambil menggoyangkan tangannya di depan Erik.
“Mas ... Mas ... Aku punya sesuatu deh Mas,” ucapnya lagi mencoba membangunkan suaminya yang tengah tertidur itu.
“Mau dengar nggak?” goda Ella karena Erik tidak mau membuka matanya.
Erik yang merasa terganggu justru semakin mengeratkan pelukkannya di tubuh Ella, hingga Ella merasa kesulitan bernafas.
“Hemm ... Siapa suruh gangguin Mas, emangnya kenapa sih Yang? Mau nambah?” tanya Erik yang bergantian menggoda Ella.
“Nggak! Aku masih cap ...” ucapan Ella terhenti saat Erik sudah menyerbu bibirnya dengan kasar.
Setelah terlepas dari ciuman itu, Ella segera mengahapus bekas ciuman Erik, sambil menatap suaminya yang kembali memejamkan matanya.
“Kamu mimpi nyium bibir kuda ya? Sampai nyium aku seperti itu,” maki Ella yang masih bisa di dengar samar oleh Erik.
Ella lalu berjalan ke kamar mandi, berniat untuk membersihkan tubuhnya yang sudah bercampur dengan keringat suaminya, saat berada di dalam kamar mandi dia merencanakan moment yang pas untuk memberitahukan berita kehamilannya pada Erik, dia akan memberikan hadiah tespack itu saat hari ulang bulan pernikahan mereka. Atau kalau nggak nanti malam dia akan mengajak suaminya untuk dinner di tempat romantis, dia ingin kabar ini menjadi moment special untuk mereka berdua.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, Ella terlihat keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk mandinya. Dia menoleh suaminya yang masih terlelap di bawah selimut.
“Perasaan aku, kamu jadi doyan tidur deh Mas, setiap aku selesai mandi pasti aku lihat kamu sedang tidur,” gerutu Ella yang tidak bisa di dengar oleh suaminya.
“Mas... Bangun! Lihatlah matahari sudah mulai bewarna jingga, kamu nggak praktik hari ini?” Erik mulai membuka matanya saat mendengar jadwal praktiknya sudah akan di mulai. Erik lalu berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Ella yang sejak tadi menunggunya untuk bangun. Rasa sesak pun dapat Ella rasakan saat Erik mencampakkannya begitu saja.
Mungkin Ella terlalu egois jika dia langsung memutuskan untuk pulang ke apartemen, meskipun nanti Erik akan mencarinya, biarkanlah! toh dia tadi sudah mencampakkanya, bahkan menyapanya saja tidak.
Ella yang merasa jengkel, segera memesan taxi online untuk mengantarnya pulang ke apartemen, tanpa berpesan ataupun memberi note pada suaminya yang tengah berada di kamar mandi itu. Dia ingin memasak makanan yang lezat untuk dirinya sediri, tanpa menyisakan untuk suaminya.
Erik yang baru selesai mandi baru menyadari jika istrinya telah pergi dari ruanganya. Erik diam sejenak memikirkan kesalahannya pada Ella. Dia menyadari jika tadi sudah mencampakkannya, bahkan setelah selesai berjima’ pun dia meninggalkan istrinya tidur, yang sebenarnya Ella masih ingin mengobrol dengannya.
Dia lalu meraih ponselnya, menanyakan keberadaan Ella. Tapi nomor ponselnya pun mati, tapi Erik tidak ingin negatif thinking, bisa saja batreinya lowbat.
Dia lalu keluar ruangannya, menanyakan ke resepsionis yang berada di lantai bawah, mereka membenarkan bahwa istrinya sudah pulang dari duapuluh menit yang lalu.
Saat dia berjalan ke ruang praktik, dia berpapasan dengan Hanin yang akan pulang karena jam kerjanya sudah habis.
“Sore Dok.” Erik yang di sapa Hanin hanya menoleh lalu kembali fokus ke depan, bayangan Erik masih menyalahkan Hanin saat dia membelikan istrinya cilok yang tidak tau ntah dari mana asalnya.
***
Di sisi lain Ella sedang memasak kepeting lada hitam, sebenarnya itu menu kesukaan suaminya tapi ntahlah dia ingin menghabiskannya sendiri, tanpa menyisakan untuk Erik, karena rasa jengkelnya yang belum sembuh juga.
Dia menikmati kepiting lada hitam itu di depan tv, sambil melihat drama china terbaru yang di tayangkan di layar depannya itu. Setelah merasa kenyang, dia pun merebahkan tubuhnya di sofa dengan sisa sampah makanan yang masih di atas meja.
Erik yang pulang dari rumah sakit hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat kondisi rumah yang sangat berantakan. Dan Ella tidur dengan lelapnya di sofa dengan mulut yang masih belepotan saos lada hitam.
Erik yang melihat itu, tiba-tiba merasa jengkel, karena dia merasa Ella kurang menjaga kebersihan apartemennya.
“Yang ... Bangun!” panggil Erik yang sudah berada di dekat kursi Ella.
“Lihat bibirmu itu! Kenapa nggak dibersihkan dulu, apa sengaja meminta Mas untuk membersihkannya?” ucap Erik yang sudah menaikkan satunya ke sofa.
“Yang ... Aku lapar buatin makanan dong,” ucap Erik lagi setelah melihat mata Ella mulai terbuka.
“Buat sendiri sana, aku capek. Aku pengen tidur cepat malam ini,” ucap Ella yang berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1
“Yang ..., Mas juga capek. Lagian kamu ngapain sih? Dari tadi di rumah! Rumah juga masih kotor begini!”
Ella yang mendengar itu kembali berjalan ke arah Erik, menatap lembut ke arah suaminya.
“Apa? Mas bilang apa tadi!” tanya Ella memastikan ucapan suaminya, yang sebenarnya dia sudah sangat jelas mendengarnya.
Ella yang dari siang sudah kesal, sekarang makin dibuat kesal lagi oleh Erik, kesabarannya sudah habis saat tadi sore menunggu bangun tidur suaminya, hingga malam ini pukul 9 malam Erik baru pulang, hanya untuk menunggu suaminya itu memeluk dan memanjakannya.
Erik lebih memilih untuk diam dari pada menjawab ucapan istrinya. Mungkin lebih baik mengalah dari pada membuat istrinya ini lebih panjang mengoceh lagi.
“Iya, sudah nanti biar Mas yang bereskan! Sekarang kamu tidurlah,” ucap Erik sambil menunjuk ke arah kamar.
“Mas marah?!” tanya Ella dengan nada yang lebih tinggi.
“Nggak! Sudah Yang jangan ribut, Mas sudah capek tadi disana banyak pasien, sekarang di rumah kamu seperti ini, sudahlah lebih baik kamu tidur saja!” Ella yang hormonya tidak normalnya pun menangis keras di depan Erik, dengan air mata yang begitu derasnya.
Erik yang melihat itu, hanya bisa membuang nafasnya kasar sambil memejamkan matanya, hatinya sangat rapuh saat melihat Ella menangis di depannya. Dia lalu berjalan ke arah kamar lalu membanting pintunya dengan kasar, tanpa mempedulikan istrinya yang tengah menangis di sofa. membuat tangis Ella semakin keras, karena dia merasa di abaikan.
Setelah Ella lebih tenang, dia menghampiri Erik yang tengah berada di kamar, lalu dia mengambil plastik hitam yang ada di dalam tasnya, dan melemparkannya di depan wajah suaminya.
Erik yang tengah merebahkan diri di sofa pun kaget saat melihat banyaknya benda berceceran itu yang belum tau jelas apa yang dilemparkan istrinya di wajahnya tadi, tatapannya tajam ke arah Ella, karena merasa tidak dihargai. Dia ingin menghapus airmata istrinya yang masih menetes itu, tapi dia juga geram dengan sikap Ella yang beberapa hari ini terlalu malas untuk menjaga kebersihan. Bahkan untuk membersihkan ranjang pun harus dia yang melakukannya.
.
.
.
.
Votenya banyakin yuk biar saya bisa cepat juga ngetiknya!
Terimakasih ya, gara-gara vote readers rangking vote saya naik. Kaget juga kemaren lihat berada di bawah angka 200. Semoga bisa ke 100 besar atau bahkan bisa 20 besar. Amin....
Pokoknya terimakasih banyak buat semuanya, yang sudah mendukung karya saya yang receh ini.👍🙏
Rehuella.
__ADS_1