
Pagi ini rumah Erik tampak berbeda dari biasanya. Suara tawa, jeritan, lalu tangis silih berganti, menjadi paduan suara yang terdengar merdu melewati telinga, lalu menyirami perasaan dengan kebahagian. Siapa pun orang tua yang mendengar, pasti pernah memimpikan ini terjadi dalam hidupnya.
Pria yang masih terlihat bugar itu duduk di kursi taman, menjaga cucu-cucunya yang sedang bermain di hamparan rumput depan rumah. Dia pernah bermimpi, menyaksikan beberapa cucunya tumbuh dengan penuh kasih dan sayangnya, membelai satu persatu rambut mereka, berucap menirukan apa yang mereka bicarakan. Lalu tertawa bebarengan, saat cucunya itu mendengar cerita lucu tentang masa kecil orang tuanya.
Leya yang kini sudah masuk sekolah dasar, terlihat tengah mengayuh sepeda, mengelilingi rumput jepang yang tumbuh subur di halaman. Sedangkan Leo, Gwen, Queena, dan Baim tengah mainan ayunan, prosotan, dan mainan lainya, mereka saling pengertian, bergantian meski terjadi perdebatan kecil.
Setetes cairan bening itu meluncur bebas, luapan bahagia dari apa yang ia saksikan saat ini. Ya, ia bahagia, bersyukur bisa diberi umur panjang, bisa merasakan kehadiran mereka. Sampai detik berikutnya, terdengar suara dari bibir anak lelakinya.
"Mau Kalun ambilkan kopi, Pa?" Kalun mengambil duduk di bangku kosong yang ada di depan Erik. Pria itu tampak seperti dirinya saat masih muda. Hanya saja, level tampan Kalun lebih rendah darinya. Ia menahan senyuman, saat memperhatikan rambut Kalun yang masih tampak lembab.
"Kopi?" Erik menyunggingkan sudut bibirnya. "Bahkan mamamu tak pernah menawariku kopi!" imbuhnya menatap ke arah Leya yang sudah bergabung dengan yang lain.
Kini Kalun tergelak, kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Lalu menatap ke arah anak-anak yang sedang bermain. Melihat mereka tertawa lepas, ada rasa bahagia yang menggelitik hatinya saat ini.
Hening. Keduanya seolah tengah menyusun rangkaian cerita untuk masa depan mereka.
"Apa papa, bisa menitipkan mereka padamu?" Erik bertanya dengan suara serak. "Semoga mereka akan selalu rukun," katanya lagi tanpa menunggu jawaban Kalun, menatap dengan sorot penuh harap ke arah putranya.
__ADS_1
"Kalun usahakan," jawabnya singkat. Dia tengah menikmati pemandangan Gwen yang sedang bertarung dengan Baim. Mengeluarkan jurus-jurus dari adaptasi film kartun yang mereka saksikan semalam.
Merasa sudah puas menatap cucunya, Erik berdiri dan memasuki rumah, tanpa mengucapkan kata pamit pada Kalun. Ia menyusul istrinya yang kemungkinan tengah sibuk di dapur.
Terhitung, sudah enam hari Ella berada di rumah, pasca dirawat di rumah sakit. Berulangkali ia memperingati supaya wanita itu istirahat. Tapi, keinginannya itu ditolak oleh sang istri. Dengan alasan tubuhnya akan lemah jika terus berpangku tangan.
Tiba di dapur, ternyata sudah banyak para wanita yang membantunya. Erik bersandar di tembok, menekuk kedua tangannya di depan dada. Matanya fokus dengan kegiatan para wanita tersebut, membuka daun telinganya mencoba mencuri dengar apa yang tengah mereka bahas.
"Maura mana, kok nggak ikut?" tanyanya yang memutus tawa bahagia mereka.
"Biasa, Pa! Morning sickness, awal kehamilan." Aluna menjawab sambil menunjuk kamar Maura yang ada di lantai satu.
"Alby nemanin Maura lah, Pa? Kalau Ken, baru mandi." Kini Riella menjawab, sambil berjalan ke arah meja makan, meletakan hidangan yang sudah siap santap.
"Jangan capek-capek!" tegur Erik saat melihat Riella sedang mengusap pinggangnya.
"Nggak capek, cuma pegel saja!" Riella menjawab sambil menarik salah satu kursi yang ada di meja makan. Dia mengusap lembut perut buncitnya, saat makhluk hidup itu menendang keras.
__ADS_1
Riella cukup lama merasakan getaran dari calon anaknya, sampai suara kaki yang menuruni tangga mengalihkan tatapannya.
"Sudah mau berangkat, Na?"
"Hmm ... ada sidang keputusan klien Nana, Pa! Aku tidak bisa melewatkan begitu saja." Naura menjawab tegas.
"Sarapan dulu! Mumpung formasi kita lengkap!" Kata Erik, yang membuat Naura mengeluarkan desahan pelan, seolah menolak permintaan Erik.
"Ayolah, Dek! Lengkap ini, jarang-jarang Lo, kita ngumpul seperti ini!" bujuk Riella, tanganya bergerak menarik kursi di sampingnya. Tapi Naura menolak dia mengambil kursi yang biasa ia tempati.
Aluna mendekat dan ikut bergabung dengan Riella dan Maura, diikuti Erik yang mengambil duduk di kursi pimpinan. Meminta ART untuk memanggil anak beserta para cucunya.
Menunggu sekitar 10 menit, akhirnya anak dan kelima cucunya sudah duduk di meja makan. Memenuhi kursi-kursi yang semula kosong. Erik memperhatikan bergantian ke empat anaknya. Maura yang tengah bermanja dengan Alby, menutup bibirnya ketika pria itu mendekatkan sendok ke arahnya. Berkata, jika ia ingin mangga muda.
Sedangkan Aluna, tengah menyuapi Gwen dan Leo bergantian, Kalun yang melihatnya sesekali menyuapi Aluna. Tak luput dari penglihatannya, Ken dengan sabar menyuapi anak kembarnya, membiarkan Riella fokus dengan makanan yang masuk ke perutnya. Ibu hamil butuh nutrisi yang cukup, kata Ken ketika Riella hendak mengambil alih pekerjaannya saat ini.
Hanya Naura yang masih mendapatkan perhatian penuh dari sang istri. Wanita itu masih meminta tambahan sayur mengganggu kenikmatan sang istri yang tengah menyantap sarapannya. Jelas perasaan khawatir menyelimutinya saat ini.
__ADS_1
"Gimana, Na? Apa sudah menemukan yang cocok?" tanya Erik membuat semua mata beralih memperhatikannya.
...Pokoknya minta like ya, biar aku semangat ngetik.😂...