Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

Suara roda yang ditimbulkan brankar membuat kecemasan tersendiri di hati Erik saat ini. Ya. Meskipun rumah sakit ini bagai rumahnya sendiri, tapi hari ini berbeda. Ada belahan jiwanya yang kini tengah terbaring lemah di atas brankar yang tengah didorong oleh petugas medis.


Dan untuk kesekian kalinya alat bantu pernapasan itu bekerja, membantu sang istri dalam kondisi darurat. Saat tiba di ruang IGD mau tidak mau Erik harus menghentikan langkah kakinya. Memberi dokter untuk berkonsentrasi saat menangani sang istri.


Ia bersandar di samping pintu. Menunggu hasil diagnosa dokter yang berada di dalam ruangan. Ia membuang nafas kasar lewat mulut, lalu menengadahkan kepalanya, matanya terpejam erat, menghalau air mata yang kini sudah menggenang di pelupuk matanya. Berdoa dalam hati, supaya istrinya itu mampu bertahan demi dirinya.


Penyakit lupus yang diderita istrinya kini semakin parah, mengingat usia Ella yang sudah berada di atas 60-an, dokter sudah memperingatkan padanya untuk lebih ketat lagi menjaga pikiran dan kondisi kesehatan sang istri.


Tidak tega, saat Ella harus masuk rumah sakit karena penyakit itu lagi. Dan mau tidak mau Erik kini harus memberitahu anak-anaknya tentang kondisi Ella yang sebenarnya.


"Bagaimana kondisi ibu, Pak!" Yohan yang masih setia berada di sampingnya, berusaha mencaritahu tentang bos nya tersebut.


Erik masih belum membuka suara. Andai saja istrinya tidak menerima kabar tentang Naura, pasti kondisi ini bisa terhindarkan. Ya, Naura dalam masalah, entah kenapa anak gadisnya itu memilih menyembunyikan ini darinya.


"Entahlah, Yo! Aku serba salah." Erik membuka mata, menatap Yohan. "Aku tidak bisa melihatnya tersiksa seperti tadi! Tapi di sisi lain, aku tidak ingin dia meninggalkanku!" Senyum kecut tampak jelas di bibir Erik. Ia lalu mendekat ke arah kursi tunggu, menanti dokter keluar dari ruang IGD.


"Saya akan mengirimkan orang untuk menjaga nona Naura." Yohan mencoba menenangkan.


"Jangan! Aku akan memintanya untuk pulang setelah ini. Aku akan memberitahu pada mereka tentang kondisi mamanya." Erik menolak tawaran Yohan. Dia harus memberitahu mereka supaya ikut menjaga kesehatan istrinya.


"Tolong kamu hubungi Kalun saja!"


"Baik, Pak." Yohan menjawab cepat, dia segera meraih ponselnya dan menjauh dari Erik, berniat memberitahu anak-anak bosnya.


Erik menunduk, menggunakan pahanya untuk tumpuan kedua siku. Berulangkali memainkan kedua jempolnya dengan gerakan memutar, demi meredam apa yang saat ini ia rasakan.


"Pa!"


Erik buru-buru mengedipkan kelopak matanya berulangkali. Menahan dan berusaha memasukan lagi air matanya. Lalu mendongak ke arah sumber suara.


"Hai, kamu tahu papa di sini?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, aku tadi sedang di kamar atas, menunggu Ken dan ada perawat yang memberitahuku." Riella menjelaskan.


Erik tersenyum, "tidak apa-apa. Harusnya kamu tidak perlu ke sini. Kamu sedang hamil, pasti lelah!" Tatapannya tertuju ke arah perut Riella yang sudah terlihat membuncit.


Riella mendekat dan mengambil duduk di samping Erik, "apa yang terjadi, Pa?" Riella mengabaikan ucapan Erik, memilih mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sang mama.


"Hanya terlalu lelah, mamamu terlalu lelah!" Erik yang bingung sampai harus mengulang perkataanya.


Riella kemudian mengunci mulutnya, terus menatap ke arah pintu ruang IGD di mana mamanya berada. Berharap ada dokter yang keluar dan menjelaskan padanya tentang kondisi mamanya saat ini. Tapi, nihil. Sudah 30 menit menunggu hanya kehampaan yang ia dapat.


"Kembalilah ke ruanganmu, pasti kamu lelah!" perintah Erik, yang merasa kasihan dengan Riella yang tengah hamil 6 bulan. "Baim sama Queena nggak ikut?" tanyanya kembali saat tidak melihat kedua cucu kembarnya.


Riella menggeleng cepat, "Papa tenang saja, aku baik-baik saja!" Riella mengusap lengan Erik, meminta pria renta itu untuk tidak memikirkan kondisinya.


Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara sepatu berlarian mendekati mereka. Kalun dan Aluna mendekat ke arah ruang IGD untuk mencaritahu kondisi Ella. Tapi sayang segala akses tertutup rapat dari dalam ruangan. Pandangannya kini tertuju ke arah Erik yang berusaha tersenyum ke arahnya.


"Kalian meninggalkan Leo dan Gwen bersama babysitter?" Lagi, lagi Erik justru memikirkan tentang cucunya.


"Pa, gimana keadaan mama?" Kalun tidak peduli dengan pertanyaan Erik. Mengabaikan pertanyaan yang diberikan sang papa. Dia hanya ingin tahu kondisi mamanya saat ini. Setelah mendengar kabar dari Yohan tadi, ia langsung meninggalkan rapat bulanan hari ini demi menemani mamanya.


"Pa, itu pasti! Ada apa sebenarnya?" tanya Kalun.


"Mama mengidap penyakit lupus." Erik berkata dengan lirih. Riella dan Aluna yang mendengar pun kompak langsung menutup bibirnya dengan tangan kanan.


"Sejak kapan, Pa? Kenapa Papa menyembunyikan ini dari kita?!" Kalun marah, karena Erik tidak memberitahunya dari awal. Aluna yang berada di sampingnya pun berusaha mengendalikan amarah Kalun yang hendak memaki Erik.


"Setelah mamamu keguguran yang terakhir. Kondisi kesehatannya menurun sejak saat itu. Dan setelah diperiksa secara menyeluruh kita baru mengetahuinya."


Perasaan kesal yang melanda Kalun semakin menggebu, ia tahu kejadian itu sudah lama, bahkan hampir 15 tahunan, kenapa papanya itu menyembunyikan darinya. Ia ingin sekali memarahi Erik, tapi tidak bisa. Bagaimanapun pasti papa nya punya alasan sendiri kenapa melakukan hal itu. Dia memilih pergi dan menjauh dari mereka demi meredam perasaan kesal yang tengah ia rasakan.


"Mamamu yang meminta papa untuk menyembunyikannya, La! Jangan menyalahkan papa!" Erik menjelaskan pada Riella yang masih berada di depannya. Menatap putrinya dengan mata yang berkilau.

__ADS_1


Riella memeluk Erik, berusaha menenangkan. Ia tahu pria itu begitu mencintai mamanya. Jadi, pasti paham bagaimana Erik berusaha untuk menuruti keinginan mamanya.


"Iya, Riella paham, Pa!" Riella menjawab.


"Tolong bantu, Papa jaga mama kamu!"


Riella mengangguk, "Papa juga harus jaga kesehatan, ya! Riella tidak mau terjadi sesuatu dengan Papa."


Erik melepas pelukan Riella, menatap wajah sendu putri dan menantunya bergantian. "Maaf ... kalian jadi tahu kesedihan yang papa alami! Padahal tidak seharusnya kalian mengetahui hal ini! Karena pasti akan menjadi beban untuk kalian!"


"Pa, kita keluarga! Mama dan Papa sudah Luna anggap seperti orang tua kandung Luna. Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi!"


"Papa tidak merasa begitu! Papa hanya menuruti keinginan mamamu!" Sifat keras kepala Erik, yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik. Dan menurun kepada anak-anaknya. Ia tidak ingin mengalah saat mendengar ucapan Aluna.


Yohan yang baru saja datang, berusaha memotong momen mereka. "Permisi, Pak! Saya mau melaporkan bahwa nona Maura sudah perjalanan menuju bandara. Dia akan tiba mungkin 2 atau 3 jam lagi."


"Ya, tolong siapkan orang untuk menjemput mereka!" perintah Erik.


"Dan untuk nona Naura—


"Kau memberitahunya?"


Yohan mengangguk pelan.


"Bodoh! Dia sedang dalam masalah!"


"Nona Naura akan pulang! Mungkin besok baru tiba di Jakarta."


Saat Erik hendak memaki Yohan lagi, pintu ruang IGD terbuka lebar, seorang dokter wanita keluar dengan wajah lelah. Semua orang yang ada di sana mendekati dokter tersebut. Bersiap menerima apapun penjelasan tentang kondisi Ella saat ini.


...----------------...

__ADS_1


... Lanjut nggak, nih? ...


...Ella tunggu komentarnya dulu, ya! Kalau ada banyak yang like dan komentar bakalan Ella lanjutin....


__ADS_2