
Sudah satu minggu Erik tidak bisa keluar rumah, setiap matanya terkena sinar matahari kepalanya mulai pusing, pandangannya selalu berputar-putar, seperti orang yang terkena vertigo. Horden kamar utama, sudah tidak dibuka selama satu minggu ini, demi meredakan rasa pusing yang Erik rasakan.
Erik mengalami mual yang parah, sedangkan Ella hanya setiap bangun tidur saja, meskipun tidur siang, dia akan tetap absen untuk mengeluarkan cairan dalam perutnya.
Jadwal usg Ella harus tertunda, tapi Erik tidak henti-hentinya untuk selalu mengingatkan Ella untuk meminum vitamin, karena trimester pertama sangat penting untuk pertumbuhan otak janin.
Saat ini, dengan setia Riella memijit tangan Erik, tubuh Erik lemas seperti tidak bertulang, setelah habis dari kamar mandi tadi. Ella yang melihat suaminya seperti itu merasa kasihan, karena Erik tidak bisa keluar kamar sama sekali.
Ella mengoles minyak angin di dada Erik untuk meredakan rasa mual yang suaminya rasakan.
“Ini terakhir, Mas janji,” ucap Erik pelan karena tenaganya sudah habis untuk mengeluarkan cairan dalam tubuhnya.
“Beneran? Aku masih mau kok jika kamu mau aku hamil lagi,” canda Ella sambil terkekeh.
“Perasaan dulu waktu hamil Kalun dan Riella tidak seperti ini,” jelas Erik yang bersandar di kepala ranjang.
“Papa minum obat dulu ya, biar cepat sembuh, biar nggak muntah-muntah lagi,” ucap Riella yang sudah beralih memijit kaki Erik. Erik hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan anaknya.
Jangankan untuk meminum obat, sudah beberapa hari ini nafsu makan Erik ikut menurun, dia hanya menginginkan camilan yang terlintas di kepalanya, seperti kemarin dia meminta Ella untuk membuatkan kue pukis. Sindrom Simpatik yang di alami Erik kali ini memang parah, bukan hanya Ella saja yang direpotkan bahkan Yohan sehari bisa 5 x untuk membelikan keinginan Erik.
“Mau muntah lagi?” tanya Ella saat Erik memegang perutnya, dan hendak berlari ke kamar mandi.
“Iya sepertinya,” ucapnya lemah.
“Mas tunggu sini saja, biar aku bawakan baskom!” perintah Ella.
“Riella Sayang, keluar dulu ya Papa mau muntah lagi, nanti kalau sudah selesai Riella masuk lagi nggak Papa!” perintah Ella yang langsung di turuti gadis itu.
Ella berjalan menuju kamar mandi, mengambil baskom untuk Erik. Ella membantu mengusap punggung Erik, cairan itu tidak begitu banyak, tapi Erik mengeluarkan isinya dengan sekuat tenaga bahkan air matanya sudah keluar dengan sendirinya, sama seperti ibu hamil pada umumnya.
Ella mengusap bibir Erik yang masih tertinggal cairan muntah. Erik yang terlihat lemas, kembali menyandarkan kepalanya di ranjang.
“Kapan ini berakhir?” tanya Erik yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.
__ADS_1
“Aku panggilkan dokter ya?” tawar Ella, yang tidak dijawab Erik. Ella mengusap pelan pipi Erik, dia merasa bersalah karena Erik ikut merasakan yang harusnya di alami olehnya. Dia lalu mengucup bibir Erik, membuat Erik langsung membuka matanya.
“Memang nggak jijik?” tanya Erik menatap wajah Ella yang tepat di depan wajahnya.
“Nggak, dulu kamu juga pernah melakukan hal itu saat aku tengah hamil Kalun, Mas lupa? Kita sudah menjadi satu, nggak ada yang namanya jijik!” jelas Ella.
“Kalau begitu sekali lagi, tapi yang lama nyiumnya!” minta Erik yang membuat Ella mengerutkan kening. Tapi perlahan Ella mendekatkan bibirnya untuk kembali mencium Erik. Bukan ciuman singkat yang Ella berikan, bahkan ******* kecil yang berujung nafsu itu dia berikan untuk suaminya.
“Maafkan aku, aku sudah tidak bertenaga lagi, aku tidak mampu untuk memberikan nafkah batin untukmu, jadi jangan menggodaku,” ucap Erik setelah Ella melepaskan ciumannya. Ella terkekeh sambil menutup mulutnya.
“Besok kalau sindrom ini sudah berhasil aku lewati, aku akan memberikan nafkah double untukmu,” terangnya lagi, membuat Ella semakin tertawa keras.
“Sepertinya otakmu juga sudah terkena sindrom kemesuman, baru juga dicium, sudah mode on saja.”
“Give me spirit,” ucap Erik sambil menunjuk bibirnya. Ella yang merasa kasihan kembali mendekat ke arah bibir Erik. Namun, dia memundurkan wajahnya saat terdengar pintu terbuka.
“Masya Allah ... kamu apain Erik itu La? Kenapa bisa selemah itu? Ingat suamimu sudah tua, tenaganya juga berkurang,” tanya Jihan yang baru saja tiba.
“Ah ... Mama, nggak kok Ma,” ucap Ella yang malu-malu karena tingkahnya hampir saja diketahui oleh Jihan.
“Kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat?” selidik Jihan yang sudah meletakkan tangannya ke dahi Erik, dia mengabaikan ucapan Erik yang menyalahkan dirinya.
“Sindrom simpatik, Mama akan punya cucu lagi,” jawab Erik yang membuat Jihan berteriak kesenangan.
“Benar La?” tanya Jihan meyakinkan ucapan anaknya.
“Iya Ma,” jawab Ella sambil mengusap perutnya.
“Alhamdulillah kalau begitu, biar saja Erik yang merasakan, jangan tahunya cuma bikin saja,” ucap Jihan sambil melirik tajam ke arah anak lelakinya.
“Ma ... bikinkan klepon dong!” minta Erik pada Jihan yang sudah akan meninggalkan kamar utama.
“Besok Mama bawakan,” jawab Jihan.
__ADS_1
“Sekarang Ma, Erik maunya sekarang,” rengek Erik sambil menahan tangan Jihan.
“Atau Mama duduk dulu sini deh Ma, Erik pengen dielus Mama,” sambung Erik sambil menepuk ranjang kosong di sampingnya.
“Mas!” tegur Ella yang sudah menatap tajam ke arah Erik.
“Jangan cemburu Sayang ... dia Mama! Mungkin juga ini keinginan anak kita,” jelas Erik yang membuat Ella semakin jengkel, sedangkan Jihan hanya merasa aneh dengan kelakuan anak dan menantunya itu.
“Biar Ella saja yang tidur di sana, Mama tadi cuma mampir sebantar saja. Mama juga sebentar lagi mau arisan,” ucap Jihan yang menolak permintaan Erik.
“Ma, please Erik cuma mau sama Mama,” rengek Erik yang membuat Jihan tidak tega untuk menolak permintaanya.
“Ok sampai kamu tidur saja,” ucap Jihan yang menyetujui permintaan Erik. Dia lalu mulai menepuk pelan punggung Erik saat anaknya itu meletakkan kepala di pangkuannya.
“Dasar manja!” cibir Ella.
“Biar saja, ini tempat ternyamanku saat ini,” balas Erik sambil menjulurkan lidahnya ke arah Ella.
Setelah mendengar nafas Erik yang mulai teratur, Jihan mengangkat kepala Erik untuk dipindahkannya ke bantal, karena sudah waktunya dia berangkat untuk arisan, bahkan ini sudah mendekati acara arisan itu dimulai.
“Alhamdulillah, bayi besarku sudah tidur,” ucapnya saat sudah berhadapan dengan Ella.
“Persis Papanya dulu. Dulu aku juga cemburu La, tapi semua itu di luar keinginanya, bisa jadi bawaan orok,” jelas Jihan yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
“Iya Ma, Ella paham kok,” ucap Ella yang berusaha menutupi rasa cemburunya. Dia mengantarkan kepergian Jihan dari rumahnya. Lalu kembali berjalan menuju ke kamar utama. Saat masuk ke dalam kamar dia terkejut ketika melihat Erik yang sudah rapi mengenakan kemeja warna hitam.
Jadi tadi pura-pura tidur saja? tanya Ella dalam hati, sambil menatap tajam ke arah pantulan tubuh Erik yang bisa dia lihat dari pantulan kaca.
“Mau ke mana?” tanya Ella saat Erik sudah akan keluar kamar.
“Emmm ... ke rumah sakit, aku akan meminta seseorang untuk memindahkan alat usg ke rumah,” jelas Erik.
“You are crazy!” ucap Ella dengan nada tinggi. Erik menggelengkan sambil meminta Ella untuk diam dengan isyarat tangan.
__ADS_1
Mungkinkah dia ngidam alat usg? Oh Tuhan sepertinya aku akan dibuatnya gila betulan. Ucap Ella dalam hati.
TBC