Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

"Mbak ini ... istrinya Mas Abhi, ya?" Zainab yang penasaran mulai bertanya.


🦠


Mereka menjawab bersamaan, tapi siapa sangka jawaban mereka berbeda. Abhi mengaku kalau Naura adalah istrinya. Sedangkan gadis itu mengulangi jawabannya, menyangkal dengan cepat. Berkata 'tidak' dengan lantang.


"Ih, Mbak malu, ya? Diakuin atuh, Mbak—nanti mas Abhi kabur loh!" Zainab menggoda dengan suara tawa khas seperti biasa, matanya menatap mereka bergantian.


Tatapan Naura semakin kesal ke arah Abhi. Bertanya-tanya apa maksud dari jawaban pria itu. Melihat tingkah keduanya Zainab yang sungkan pamit ke belakang, membiarkan mereka melanjutkan perdebatannya. Menurut Zainab, sangat wajar mengingat mereka adalah pasangan pengantin baru, jadi maklum kalau malu-malu, baru tahap penyesuaian.


"Apa maksudmu bilang aku ini istrimu?! Hah!" protes Naura, tangannya dengan kasar mendorong lengan Abhi, sedikit melebarkan jarak.


"Terpaksa." Abhi menjawab singkat.


"Dasar! Perjaka usang, malu ngakuin statusnya kalau masih lajang!" ucap Naura kakinya mencoba menendang kaki Abhi, yang hampir menempel dengan kakinya.


Abhi berdiri dari posisinya, takut jika nanti tubuhnya semakin babak-belur. Ia berusaha mengabaikan celotehan Naura yang seperti nyamuk lewat di samping telinganya.


Pria itu memilih mendekat ke arah jendela kaca, mengamati hujan yang turun semakin deras. Sedangkan langit tidak semakin terang, justru semakin gelap karena sebentar lagi akan berubah malam.


"Kita pulang saja, percuma di sini! Kita tidak bisa menemui ibu Susan!" ajak Abhi saat melihat ke arah jam tangannya sudah berada di angka 5 lewat.


"Pulang sendiri sana, aku masih ingin di sini!" jawab Naura ketus. Tidak mempedulikan ajakan Abhi. "Sepertinya, ART-nya ibu Susan dekat denganmu, ya. Kamu pernah bertemu dengannya?" imbuh Naura, rasa penasarannya begitu tinggi melihat perbincangan Abhi dengan Bu Zainab yang sepertinya begitu dekat.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!"


Naura mencebikkan bibirnya. Lalu menatap punggung kekar Abhi yang menghadap ke arah jendela. "Apa tujuanmu datang ke tempat ini?" tanyanya lagi, setelah mereka hanya diam. Kini melangkah mendekati Abhi.


"Itu juga bukan urusanmu. Aku mau pulang, kamu mau ikut atau tetap ingin di sini?!"


"Pulang saja sendiri! Aku akan tetap menunggu ibu Susan. Aku sudah jauh-jauh datang. Aku tidak mau pulang dengan tangan kosong." Naura berucap tegas, tidak goyah dengan ajakan Abhi.


"Kita bisa datang lagi besok!"


"Emang besok aku tidak ada kerjaan? Lo pikir gue pengacara nganggur!? Banyak pekerjaan di Jakarta," sarkas Naura. "Lagian kenapa juga lo ikut-ikutan kesini? Bukanya biasanya lo langsung menyetujui permintaan klien mu?" sungutnya menatap kesal ke arah Abhi.


"Bukan urusanmu!"


Naura mengikuti ucapan Abhi tanpa suara, tangannya seolah hendak memukul kepala Abhi bagian belakang. Ia kemudian kembali ke tempat duduknya, mengambil cangkir yang tadi dibawa ibu Zainab lalu segera menikmati teh manis tanpa mempedulikan Abhi lagi.


Sampai akhirnya, ibu Zainab kembali menemui mereka. "Maaf, Mas Abhi, ibu putar arah karena jalanan macet panjang, katanya ada pohon tumbang. Mana hujan juga belum berhenti," ucap Zainab yang tampak cemas.


Abhi menoleh ke arah ibu Zainab. Mengatakan jika ia baik-baik saja. Dia akan pulang, dan kembali besok.


"Apa mas Abhi mau menginap saja, biar saya siapkan kamar," tawar Bu Zainab.


"Itu artinya ibu Susan nggak pulang malam ini?" tanya Naura memastikan.

__ADS_1


"Iya, Mbak." Mendengar jawaban singkat itu, Naura menarik nafas dalam, merasa kesialannya bertambah lagi.


"Mau saya siapkan kamar, Mas Abhi. Siapa tahu istrinya capek." tawar Zainab.


"Boleh, Bu." Abhi menjawab cepat. Membuat Bu Zainab bergegas menyiapkan kamar untuk mereka. Pastinya mereka akan tidur satu kamar, lantaran ibu Zainab mengetahui status mereka adalah pasutri.


"Pinjam ponselmu!" Naura mendekat dan menengadahkan tangannya, ke arah Abhi. Ia ingin menelpon Alea, supaya membantunya mencarikan penginapan di daerah sini. Dia tak mau satu kamar dengan manusia di depannya ini, takut pria itu berbuat aneh-aneh. Abhi yang paham langsung memberikan ponselnya.


Naura mulai sibuk menggeser ponsel Abhi, tapi nihil ia tidak bisa membuka kunci ponsel pria tersebut. "Apa password-nya? Kamu, nggak pakai sidik jempol kaki untuk mengunci ponselmu, kan?" Naura mengarahkan kamera depan ponsel ke wajah Abhi, tangannya menahan lengan Abhi supaya tidak bergerak, tapi tetap saja gagal. Ponsel belum juga terbuka. "jangan-jangan benar, nih!" katanya setelah mengambil jempol jari tangan Abhi, tapi tetap gagal juga.


"Coba saja!" ketus Abhi mengangkat satu kakinya.


"Nyebelin, kaki bau, juga! Jadi orang pelit amat, sih!" Naura menghentakan kakinya berjalan kembali ke sofa, menunggu ibu Zainab, menyiapkan tempat istirahat untuknya.


Perlahan jarum jam bergerak ke angka 7 malam. Setelah melaporkan kamar sudah siap, ibu Zainab meminta mereka untuk makan malam lebih dulu.


Di rumah itu, sebenarnya ada banyak pegawai yang membantu ibu Susan untuk mengurus kebun teh nya. Tapi mereka selalu pulang ketika pekerjaan sudah selesai. Tinggallah Bu Zainab sendiri yang menemani bu Susan.


Lampu yang sengaja di desain redup, membuat acara makan malam mereka seperti sudah direncanakan. Menu sederhana, sayur asem dengan ayam goreng, tanpa sambal. Keduanya menikmati itu dalam diam. Naura masih kesal dengan pria di depannya, sedangkan Abhi ingin segera beristirahat tanpa mempedulikan wanita yang sudah memanasi telinganya hari ini.


"Mbak, kalau mau ganti baju sudah saya siapkan di ranjang. Itu bajunya nona Oliv yang masih tertinggal di sini."


Naura mengangguk, paham. "Terima kasih ya, Bu. Jadi merepotkan," Naura tersenyum cerah, membuat wajahnya semakin cantik. Berbeda dengan Abhi, seolah enggan menyelesaikan makanannya, mendadak gerakannya sangat pelan, seolah ia sudah melakukan kesalahan besar hari ini.

__ADS_1


...----------------...


...Sudah jelas, kan? Hubungan Abhi dengan keluarga Martinus?...


__ADS_2