
Happy reading, jangan lupa like dan vote ya👍🙏
.
.
.
Karena tidak melihat Erik segera keluar dari gudang, anak buah Damar segera mendekat ke arah gudang tua tersebut. Mereka ada empat orang dengan tubuh khas seorang bodyguard, saat mereka masuk, terjadi pertarungan antara anak buah Bima dan Damar. Tidak ada yang menang karena mereka sama-sama kuat, tapi perlahan anak buah Damar mulai tumbang karena jumlah mereka lebih sedikit.
“Ikat lelaki ini!” teriak Bima meminta anak buahnya untuk mengikat tubuh Erik yang sudah pinsan di tempatnya tadi. Terlihat dari segar keluar dari kepala lelaki itu, Kalun yang melihat hanya bisa memejamkan mata karena merasa takut.
Dari atas gudang terdengar suara helikopter yang tengah mendarat, Bima tersenyum, merasa dirinya sudah menang, karena sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan.
Axel yang baru tiba, langsung duduk di kursi yang berada di depan Erik, dia menatap lelaki yang sudah mengambil wanita yang sangat dicintainya.
“Kita lihat! Apa yang akan dilakukan istrimu saat melihat obat ini masuk ke dalam tubuhmu,” ucap Axel sambil melihat obat di tangannya.
“Lakukan sekarang!” teriak Bima yang tidak sabar ingin menyaksikan kematian Erik.
“Papaaa ..., Paapaaa,” ucap Kalun sambil menatap tubuh Erik yang diikat dan tidak sadarkan diri.
“Jangan gegabah, kamu menurut saja dengan apa yang aku katakan semalam, kita harus sama-sama untung dengan rencana besar kita ini,” jelas Axel sambil memainkan suntikan di tangannya.
“Terserah pokoknya aku ingin dia dan orangtuanya segera mati!” ucap Bima yang sudah menaikkan nada bicaranya.
“Tenanglah kita tunggu istrinya datang dulu, dia akan dengan sendirinya menukar tubuhnya demi kehidupan suaminya,” jelas Axel sambil melirik ke arah Erik.
“Paapaaa ..., bangun Pa!” teriak Kalun yang berusaha membangunkan Erik dengan suara rengekkannya.
“Pa ... Kalun takut,” ucapnya lagi yang melemah karena merasa ketakutan, ikatan kakinya yang terlalu kuat sudah membekas di kulitnya yang putih.
“Diamlah ..., jangan berteriak seperti itu!” bentak Bima di hadapan Kalun.
“Aku akan bilang pada Kakak Zalin kalau Papanya ini penjahat, biar nanti om di tangkap polisi,” lanjutnya yang sudah berlinang air mata.
Bima hanya tersenyum licik ke arah Kalun, lalu berjalan dan segera melepaskan ikatan tali Kalun, dia mengangkat tubuh mungil Kalun, dan menggendong Kalun ke atap gudang tua tersebut.
Damar yang melihat Kalun dibawa Bima segera meminta anak buahnya untuk mengikuti Bima.
__ADS_1
“Mas ...!” panggil Ella yang berteriak memanggil Erik. Dia berlari mendekat ke arah Erik, tapi dia terhalang oleh tubuh kekar anak buah Bima.
“Baguuuus! Sudah datang kamu? Aku merindukanmu Sayang ...,” ucap Axel berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah Ella.
“Kamu mau lari dariku? Bel-la,” ucap Axel yang menyentuh pipi Ella. Ella berusaha berontak dari cekalan tangan anak buah Axel.
“Sssstttt ..., diamlah Sayang aku punya tawaran menarik untukmu, bagaimana jika kita melanjutkan acara pernikahan kita di Sidney saja? Di sini terlalu banyak masa lalumu Sayang ...,” ucap Axel yang mendekatkan wajahnya di depan Ella, bahkan dapat Ella rasakan sapuan nafas Axel tepat mengenai wajah putihnya.
Ella meludahkan salivanya ke wajah Axel, tepat mengenai hidung Axel. Axel tertawa kecil sambil mengusap air liur Ella, melirik sebentar ke arah Ella.
“Jadi kamu mau, cairan suntik mati ini memisahkanmu dan Erik?” tanya Axel yang masih menyisakan senyum di bibirnya.
Ella memejamkan mata sebentar, lalu melirik ke arah Damar dan anak buahnya yang tengah menghadapi anak buah Axel.
“Nggak! Awas saja jika kamu melakukan itu, lelaki biad*p!” ucap Ella berteriak di depan wajah Axel.
“Sexy! Aku semakin menyukaimu,” ucap Axel seketika menarik lengan Ella.
“Ambilkan talinya!” perintah Axel pada lelaki di belakangnya dia lalu mendudukkan Ella di kursi putar yang tadi dia pakai. Dia mengikat tubuh Ella di sana, Ella berusaha memberontak dan menendang kaki Axel, hingga lelaki itu hampir terjatuh.
“Lepaskan!”
“Menurutlah jika tidak ingin melihatku memukulmu lebih keras lagi!” peringat Axel, sambil mengingat tubuh Ella dengan kursi.
Dor ...
Bunyi suara tembakkan mengenai lengan tangan Axel, dia hanya bisa mengumpat ke arah orang yang menembaknya. Dia lalu tersenyum licik ke arah lelaki yang berada 10 meter darinya.
Axel lalu meraih pistol yang dia letakkan di belakang tubuhnya, dia langsung menodongkan ke arah kepala Ella. Membuat Haikal menatap wajah Ella yang panik, dia mencoba berbicara melalui tatapan mata dengan Ella. Menenangkan Ella bahwa semua akan baik-baik saja. Dia lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ella.
“Selangkah lagi, peluru ini akan masuk ke kepala Ella!” peringat Axel.
“Heh ..., kamu takut? Bahkan aku bisa meledakkan gudang ini sekarang juga, tapi aku tidak bodoh, aku tidak ingin melihat orangku mati bersamamu!” ucap Haikal dengan penuh emosi.
“Baiklah kamu akan melihat, bagaimana orang ini akan mati di tanganku,” ucap Axel yang sudah menarik pelatuknya, sebelum dia menembakkan ke Ella, tangannya sudah tertembak lebih dulu dari arah samping, pistol Axel terjatuh, dia mengibaskan tangannya merasakan rasa sakit di tangan kananya. Dua kali terkena tembakkan, membuat tubuhnya sedikit lemah.
“Jangan habisi dia! Biar aku saja yang membunuhnya!” ucap Haikal yang sedikit berteriak, “Dia sudah menghabisi kembaranku, jangan mengotori tanganmu, dengan membunuhnya” ucap Haikal pada Damar yang baru saja berhasil mengalahkan anak buah Axel.
Dia lalu teringat dengan Kalun yang tadi dibawa Bima naik ke atas gedung gudang tua. Dia segera berlari menaiki anak angga ke arah atas.
__ADS_1
Terlihat Axel meraih kembali pistol yang jatuh di dekatnya, tanpa melihat ke arah Haikal dia langsung melepaskan pelatuknya, mengenai kaki Haikal, karena Haikal tadi lengah menatap kepergian Damar.
“Brengs*ek!” teriak Haikal sambil melepaskan tembakkannya ke arah Axel, tembakkan itu tepat mengenai dada kiri Axel. Axel yang sudah lemah langsung jatuh ke lantai. Menahan rasa sakit di dadanya. Tidak lama kemudian Yohan yang baru saja tiba dengan beberapa orang polisi segera mendekat ke arah mereka. Yohan melihat tubuh Erik yang sudah diikat di kursi dengan luka di kepalanya, dia segera melepaskan ikatan tali di tubuh Erik. Ella yang sudah berhasil melepaskan talinya di bantu Haikal segera mendekat ke arah Erik.
“Kamu bawa Erik ke rumah sakit, aku akan membantu Damar medapatkan Kalun!” perintah Haikal pada Ella. Dia lalu berlari ke arah atap bersama polisi yang berada di belakangnya.
Saat dia tiba di sana terlihat Bima yang akan menjatuhkan Kalun dari lantai paling atas gudang tua itu.
“Paman ..., tolong Kalun!” terdengar teriakkan Kalun ketakutan saat melihat ke arah bawah, sapuan angin menyapu rambutnya yang sedikit panjang. Tubuhnya sudah bergelayutan di lengan Bima.
“Pamaan jika Kalun jatuh ke bawah bilang sama Papa dan Mama, Kalun menyayanginya, tolong Paman ....” Haikal yang mendengar suara Kalun jadi teringat dengan Kenzo yang berada di rumah.
“Bim, lepaskan anak itu, dia tidak tau apa-apa!” teriak Damar yang berjalan mendekat ke arah Bima.
Bima semakin menjadi, bahkan dia berdiri di tepi atap gedung itu.
“Aku akan mendorongnya, atau aku akan pergi bersamanya ke surga! Setidaknya mereka akan merasa terpukul karena kehilangan penerus Ramones,” ucap Bima berteriak.
“Stop Bim! Jangan lakukan itu,” ucap Damar yang tidak berani mendekat. Para polisi yang berada di sana hanya bisa terdiam menyaksikan kelakuan Bima.
Bima terus berjalan mendekat ke arah pinggiran bangunan.
“Paman Bima ..., lepaskan Kalun. Kalun janji nggak akan nakal lagi, tapi tolooong lepaskan Kalun,” ucap Kalun dengan nada memohon. Bima lalu meraih pistol yang ada di pinggangnya.
“Diamlah! Gara-gara Papamu, om tidak bisa mendapatkan semuanya!” ucap Bima yang sudah meninggikan suaranya, dia mengarahkan pistol ke arah kepala Kalun.
“Pa-Paman,” ucap Kalun sambil menangis.
Dor ....
.
.
.
TBC
Tebak siapa yang tertembak dan siapa yang menembak, coba tulis di komentar!🤔😂
__ADS_1