
“Ada Dokter Nadia di ruangan Bapak,” ucap Yohan ketika Erik sudah berada di depannya.
Erik lalu mempercepat langkahnya menuju ruangan direktur utama, dengan kasar dia membuka pintu ruangan miliknya. Ketika dia masuk tatapannya bertemu dengan wanita cantik yang dulu menjadi sahabat Jingga waktu kuliah.
“Ke mana saja kamu?” Erik bertanya pada wanita yang duduk santai di sofa ruangannya.
“Ceh..! Kenapa memangnya? Aku free ya, terserah dong mau ke mana!” jawabnya yang acuh.
“Kamu tidak tahu! Berapa kali Mama menjodohkanku ketika kamu pergi? Hah!” maki Erik pada Nadia.
“Lalu? Kamu juga nggak nikah kan? Sudahlah Rik, terima saja wanita dari Mamamu itu, aku yakin dia melakukan itu karena ingin hidupmu lebih baik lagi,” ucap Nadia menasehati pria yang sudah duduk di sampingnya.
“Kamu tahu sendiri bagaimana aku mencintai istriku, kamu tahu kan bagaimana posisiku, dan kamu juga merasakannya, tidak mudah mencintai kembali setelah kita ditinggal pergi pasangan,” ucap Erik mengingatkan Nadia, karena dia juga seorang janda.
“Aku tidak seperti kamu, kamu duda terhormat ditinggal pergi istrimu mati, sedangkan aku, diceraikan karena tidak bisa memberikan keturunan,” jelas Nadia, “Apa kabar dengan Riella?” lanjutnya bertanya.
“Masih seperti biasa,” ucap Erik singkat.
“Apa dia masih sering datang ke mimpimu?” Erik tersenyum saat mendengar pertanyaan Nadia, mengingat istrinya yang tidak lagi datang ke dalam mimpinya.
“Mungkin dia sudah tenang di sana,” jawab Erik sambil menyalakan rokoknya.
“Aku di sini, matikan dulu rokokmu!” maki Nadia.
“Pergilah jika tidak suka, hanya batangan ini yang bisa membuat diriku lebih tenang, saat teringat kembali dengannya,” ucap Erik sambil menatap kepulan asap rokok di depannya.
“Kurangajar kamu ya!” upat Nadia sambil memukul Erik dengan tasnya.
Nadia Maharani dia adalah teman sekaligus dokter psikiater Erik, Erik bertemu dengan Nadia tiga tahun yang lalu, ketika mereka sama-sama berada di makam, Nadia seorang janda berusia 44 tahun, dia diceraikan suaminya dua tahun yang lalu, karena tidak bisa memliki keturunan, mantan suaminya menikah lagi, tapi istrinya juga belum bisa memberikan keturunan untuk mantan suaminya, itulah kenapa Nadia juga merasa sakit hati pada pasangannya.
Erik selalu meminta tolong pada Nadia, ketika Jihan akan menjodohkan dia dengan putri teman arisannya, dia selalu mengakui jika dia sudah punya pacar namanya Nadia, tapi Erik belum memperkenalkan Nadia langsung pada Jihan. Jadi, Jihan masih kekeh memperkenalkan putri rekannya.
Sejak kepergian Nadia, selama kurang lebih tiga bulan, sudah tiga kali pula Jihan mengenalkan putri rekannya, membuat Erik bingung karena tidak tahu keberadaan Nadia, mereka berdua sama-sama sakit hati dengan cinta masa lalunya, tapi mereka berdua masih mencintai mantan pasangannya, keduanya juga saling mengerti dan paham akan hal itu, jadi untuk menjalin hubungan mereka belum memikirkan sampai sana.
Nadia sudah sangat dekat dengan kedua anak Erik, apalagi dengan Riella, bahkan Riella sering memanggilnya tante mama, Erik yang paham, hanya membiarkan saja anaknya berperilaku seperti itu, mengingat Nadia juga sangat menyukai anak-anak.
Setelah mengobrol lama dan saling bertukar cerita, Nadia akhirnya izin untuk meninggalkan ruangan Erik. Erik mengantarkan Nadia hingga lobi gedung kantornya, berpisah seperti pasangan kekasih pada umumnya. Para karyawan yang tidak tau tentang Erik, mereka mengira bahwa Nadia adalah calon istrinya.
Saat Erik selesai mengantarkan Nadia, dia kembali ke ruangan, meraih ponsel yang sejak tadi bergetar, tapi dia masih malas untuk mengangkatnya.
“Ada apa Ma?” tanya Erik saat mengangkat telepon.
“Pulanglah, Riella tiba-tiba demam,” jawab singkat Jihan memerintahkan anaknya untuk segera datang.
__ADS_1
“Tapi tadi pagi, dia baik-baik saja,” kilah Erik yang sedikit tidak percaya dengan ucapan Jihan.
“Mama juga tidak tahu, kamu cepatlah pulang!” perintah Jihan dengan nada marah. Erik langsung mematikan ponselnya, Berlari meninggalkan ruangan menuju tempat parkir mobilnya, mengabaikan panggilan Yohan, yang berteriak memberitahu jika sebentar lagi rapat akan di mulai.
Dengan kecepatan tinggi, Erik melajukan mobil menuju rumah kedua orangtuanya. Sampai di sana terlihat masih tersisa nafas Erik yang panik, tapi saat melihat anaknya yang baik-baik saja, Erik mulai lega dan menghampiri mamanya yang sedang berada di dapur.
“Ma..., apa lagi sih Ma?” tanya Erik
“Bentar lagi ada putri teman Mama datang, kamu siap-siap sana, dia cantik, anggun, baik, pokoknya pasti kamu suka dengannya.” Erik menjatuhkan tubuhnya di sofa depan tv.
“Mama..., cukup ya Ma, jangan paksa Erik lagi.”
“Rik..., Mama sudah tua, Mama belum tenang jika mereka belum ada yang mengurus.” Jihan menatap Kalun dan Riella yang tengah bermain dengan Yusuf.
“Mama kan tau, jika Erik tidak akan mau menikah lagi!” ucap Erik yang mulai menaikkan nada suaranya.
“Jangan egois Rik, bagaimana dengan mereka, mereka butuh pengganti Mamanya, mereka juga butuh kasih sayang seorang Mama.” Jihan mendekat ke arah Erik menasehati anaknya yang keras kepala. Erik hanya diam, masih menatap kedua anaknya.
“Aku masih mencintai Lala Ma, bahkan rasa cintaku belum berkurang sedikit pun, aku masih berharap ini semua hanya mimpi, dan aku ingin segera bangun dari mimpi ini.” Erik menghela nafas lelahnya, dia masih belum sepenuhnya menerima jika istrinya benar-benar sudah pergi meninggalkannya.
“Ini bukan mimpi Rik, sadarlah! Sudah terlalu lama kamu sendiri, siapa tahu jika kamu membuka hatimu, kamu akan segera melupakan Lala.”
“Sampai mati aku nggak akan melupakannya, Ma.”
“Terserah kamu, setelah ini ada anak rekan Mama yang akan datang, temuilah dia siapa tau dia bisa menjadi ibu sambung untuk anakmu,” ucap Jihan berjalan meninggalkan Erik.
Erik meraih ponselnya, bukan ponsel miliknya tapi milik ella yang masih dia simpan, dia membuka galeri foto ponsel Ella. Bibirnya selalu tersenyum saat melihat wajah Ella yang mengenakan lingrie dan lipstik hijau, fotonya bertiga, berdua dan foto Ella yang dibuat sejelek mungkin, tapi tetap saja sangat cantik menurutnya.
“I Miss You, cepatlah menemuiku lagi,” ucap Erik sambil mengusap foto di ponselnya.
“Papa...,” teriak Riella berlari ke pangkuan Erik. Erik hanya mengalihkan pandangannya ke arah Riella yang menunjukkan ikat rambutnya yang baru.
“Siapa yang mengganti rambutmu?” tanya Erik ketika melihat gaya rambut Riella yang sudah berubah.
“Kata teman Riella, rambut Riella tadi tidak cantik, jadi Riella minta Bunda Amel untuk mengikat ulang.” Erik mengernyitkan kening, sambil memeluk Riella.
“Baiklah besok Papa akan belajar lagi ngikat rambut Riella, biar anak Papa yang manja ini semakin cantik,” ucap Erik sambil mencubit pelan hidung Riella.
“Tadi Riella di sekolah belajar apa?”
“Nggak tahu, Riella nggak mau masuk kelas, Bunda Amel membahas kasih sayang Ibu, Riella kan nggak tahu,” jawab Riella jujur.
“Kenapa nggak bilang tentang kasih sayang Papa kepada Riella saja,” jelas Erik. Riella cemberut, sambil menyandarkan kepalanya di dada Erik.
__ADS_1
“Kok diam?” tanya Erik, “Jangan sedih dong! Nanti Papa ikut menangis kalau Riella sedih,” lanjut Erik. Mereka diam sejenak, Erik mengusap punggung Riella yang duduk menghadapnya.
“O ya, tadi Papa bertemu sama tante Nadia, dia nanyain Riella,”
“Benarkah?!” sahut Riella yang kembali bersemangat setelah mendengar Erik mengatakan nama kawannya itu. Erik menjawab dengan anggukan kepala.
“Boleh Riella main ke rumah Tante Mama?” tanya Riella dengan wajah memohonnya.
“Tidak untuk hari ini, besok ya setelah kita pulang dari makam Mama,” jelas Erik.
“Ngapain juga ke makam Mama, Mama juga nggak pernah mau datang menemui Riella, berbeda dengan Tante Mama yang selalu menemui Riella,” ucap Riella dengan wajah sedih, mengingat dia memang tidak bisa menemui Ella. Erik hanya diam, dan meraih kembali ponselnya yang tadi dia letakkan di atas meja.
“Riella, tahu nggak ini siapa?” tanya Erik sambil menunjukkan layar ponsel ke arah Riella.
“Tahu, itu Papa, Kak Kalun, dan Mama,” jawab Riella.
“Riella tahu nggak, Mama bawa apa?” Riella mengangguk karna sudah sering dia diberitahu soal gambar itu. Riella tiba-tiba menangis keras di dada Erik, karena teringat dengan Ella yang tidak pernah dia temui.
“Aku sayang Mama, Pa..., Riella pengen ketemu Mama,” ucap Riella di sela tangisnya. Kalun yang mendengar tangisan Riella segera berlari ke arah Riella.
“Adik Lala cengeng,” ledek Kalun.
“Biar saja, dari pada Kakak menangisnya di bawah selimut,” ucap Riella, yang membuat Erik menoleh ke arah anak sulungnya. Dia baru tahu jika Kalun pernah menangis di bawah selimut.
“Memang benar Kalun menagis di bawah selimut?” tanya Erik menatap ke arah Kalun.
“Nggak!” jawab Kalun singkat lalu segera berlari meninggalkan mereka berdua.
“Bohong! Hampir setiap malam Kakak selalu menangis, katanya pengin ketemu Mama.” Erik mencoba tersenyum ke arah Riella, mencoba menutupi rasa perih hatinya, ternyata bukan hanya dia yang merindukan, dan sakit hati atas kepergian Ella, tapi kedua anaknya, ternyata juga membutuhkan kehadiran istrinya.
.
.
.
TBC
.
.
Jangan lupa like dan vote👍😊
__ADS_1