Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Cara Melupakanmu


__ADS_3

Happy reading, jangan lupa untuk like dan vote ya, biar saya semangat bikin ceritanya.👍😊


.


.


.


Setelah kepergian Jihan dan anaknya, Erik masih memikirkan apa yang akan dilakukan Bima padanya, karena selama ini hubungan mereka sangatlah baik, bahkan sangat jarang mereka berantem.


“Biarlah..., toh dia belum menunjukkan aksinya,” ucap Erik karena tidak bisa menemukan keanehan Bima saat ini.


Dia lalu beranjak dari ruang tv, menuju kamar pribadinya. Melihat barang-barang yang masih tersusun rapi sebelum mereka pindah ke rumahnya yang baru, istrinya selalu menempatkan setiap benda miliknya pada tempatnya, termasuk kacamata Erik yang paling disukainya, dia selalu meletakkan di laci samping ranjang.


“Mungkin aku harus menyimpan semua barang pemberianmu, agar aku bisa secepatnya mengurus anak-anak, tapi tenanglah, meski kamu di sana, kamu tetap berada di hatiku, kamu yang akan memiliki hatiku seutuhnya, semoga kita bisa segera bertemu,” ucap Erik sambil menatap kaca mata pemberian Ella.


Erik lalu memasukan semua barang peninggalan Ella ke dalam kardus, bahkan tespack saat kehamilan Kalun masih Ella simpan di sana, foto USG dari awal kehamilan Kalun dan Riella sudah menjadi satu album di sana, sejenak Erik membuka album kecil itu. Erik membaca tulisan kecil di album itu.


“Terima kasih suamiku, sudah menjadikanku wanita paling sempurna, aku mencintaimu.” Erik tersenyum kecut saat membaca tulisan itu, lalu melemparkannya ke dalam kardus. Dia tidak ingin lebih lama lagi merasakan sesak di dadanya.


Setelah dia selesai memasukkan benda peninggalan Ella, dia duduk di sofa kamar, menatap nanar surat terakhir pemberian Ella, dia menyobek lem amplop itu, dia hendak meraih isinya, tapi mengurungkan niatnya lalu melempar surat itu ke kardus, dia menunduk karena merasa tidak sanggup untuk membaca surat terakhir dari istrinya.


“Maaf bukan aku nggak mau baca surat darimu, tapi aku benar-benar nggak sanggup Yang, maafkan aku,” ucap lirih Erik lalu beranjak dari kamarnya membawa kardus itu ke gudang yang ada di apartemennya.


Erik lalu berjalan ke dapur, untuk mengambil minuman yang ada di lemari pendingin. Dia langsung meneguknya, sambil berdiri. Pikirannya melayang ketika Ella memeluknya dari belakang, memintanya untuk duduk ketika minum.


“Duduk Mas, bukannya dulu kamu yang memintaku untuk duduk ketika minum, masih ingatkan?”


“Diamlah kumohon, aku tidak bisa seperti ini!” teriak Erik saat teringat suara itu, seolah Ella benar-benar berada di sampingnya.


“Tolong Mas bantu angkat cakenya ya..., bentar lagi sudah bisa di angkat.” Suara itu kembali tergiang di telinga Erik.


Erik lalu melempar botol kaca itu, hingga pecahan kaca itu mengenai kakinya, dia tidak peduli dengan luka di kakinya, karena luka di hatinya lebih sakit dari yang dia rasakan.


“Jangan seperti ini Yang, please...,” lirih Erik yang sudah menagis di sana.


Erik lalu pergi dari dapur, bayangan Ella saat barmanja-manja dengannya kembali berputar seperti pita kaset yang tengah berputar, suara manja Ella ketika memanggil namanya, suara merdu Ella ketika bercinta dengannya, semua terbayang di pikiran Erik.

__ADS_1


Setelah sedikit tenang Erik mengambil jaket dan kunci mobilnya, dia keluar meninggalkan apartemen dengan suasana hati yang tidak baik. Dia melajukan mobilnya ke makam istrinya yang sudah lama tidak dia kunjungi.


Erik yang baru tiba langsung melemparkan bunga lily yang tadi sempat dia beli, dia menjatuhkan diri di atas gundukkan tanah itu, air matanya keluar tapi dia tidak bersuara.


“Aku benci kamu yang meninggalkanku, Yang.”


“Kenapa kamu seperti ini, katakan padaku, apa yang harus aku lakukan, tanpa adanya kamu? Bahkan aku belum bisa merawat anak-anak, hanya kamu yang selalu berada di pikiranku,” ucap Erik sambil sesekali mengusap air matanya.


“Haruskah aku melepaskan cincin ini,” ucap Erik sambil memainkan cincin di jarinya.


“Aku akan menyimpannya, tapi selamanya kamu akan tetap di hatiku,” ucap Erik lirih.


“Kamu secepatnya menjemputku, aku akan selalu siap kapan pun itu,” ucap Erik terakhir kalinya, lalu segera beranjak dari makam, meninggalkan gundukan tanah istrinya.


Erik melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya, sampai di sana dia melihat Kalun yang berada di gendongan Yusuf. Erik yang melihat itu segera mendekat dan mengambil Kalun.


“Kalun sudah bisa jalan ya? Kita jalan-jalan yuk...” ucap Erik yang menghibur hatinya dengan kehadiran anaknya.


“Masuklah, anak gadismu sudah bangun, kamu pasti senang melihatnya,” ucap Bramana.


“Kenapa? Apa aku akan senang melihat anakku yang sangat mirip dengan istriku?”


“Ntahlah Pa..., jika melihatnya aku semakin teringat terus dengan Lala,” ucap Erik.


“Kamu membencinya karena dia pergi?” tanya Yusuf.


“Nggak tau, aku benci dia yang pergi dariku,” ucap Erik.


“Dulu saat dia pergi ke Sydny aku masih bisa terima, karena setidaknya dia masih di langit yang sama denganku, dan sekarang, bahkan untuk menemuinya saja aku bingung harus bagaimana,” jelas Erik.


“Kuatkan hatimu, dia pergi karena melahirkan keturunanmu, dia merelakan hidupnya untukmu dan anak-anakmu supaya bisa hidup bahagia,” ucap Yusuf menatap ke arah taman di depannya.


“Papa memang belum pernah kehilangan istri, tapi melihatmu seperti ini, Papa bisa tau rasa sakitnya dirimu saat ini,” lanjut Yusuf sambil mengusap punggung Erik.


“Aku akan baik-baik saja Pa, jangan mengkhawatirkan aku.” Yusuf mengangguk sambil tersenyum ke arah Erik.


“Aku percaya padamu, dan aku akan pegang ucapanmu,” ucap Yusuf lalu meninggalkan Erik. Erik menatap Kalun, lalu mengusap rambut anaknya.

__ADS_1


“Kalundra Ananda Ramones,” ucapnya lirih.


“Kamu tahu, nama itu pemberian Mamamu, kamu suka dengan namamu? Atau mau Papa ganti?” tanya Erik mengajak becanda putranya.


“Mammaa..” Erik tersenyum saat Kalun lagi-lagi menyebut nama itu.


“Apa kamu mau Mama baru?” Erik menatap lekat anaknya, “Nggak usah ya, Papa takut nanti Mamamu cemburu di sana, dan tidak mau menjemput Papa,” ucapnya lagi menggoda Kalun, “Kita bertiga saja ya, sama Papa dan adik Riella,” lanjut Erik sambil menghadapkan Kalun yang sudah meneteskan air liur di tangannya.


“Mammmmma..., annnahhh,” tanya Kalun sambil mengusap pipi Erik. Erik tersenyum.


“Mama di atas, Mama sudah sama Kakek dan Nenek,” ucap Erik sambil menatap langit yang terlihat cerah siang itu.


Jihan yang melihat Erik dan Kalun segera menghampirinya. Dia mengusap punggung Erik yang tegap menguatkan anaknya, supaya dia kuat menghadapi cobaan.


“Makan siang dulu sana, biar Kalun bersama Mama!” perintah Jihan.


“Erik belum lapar, Ma.”


“Kalau boleh biar mereka Mama yang mengasuh mereka, Mama akan sangat senang jika mereka tinggal di sini,” ucap Jihan.


“Nggak Ma, Erik ingin merawatnya sesuai pesan Lala, mungkin aku akan menitipkan ke Mama jika aku merasa kerepotan.” Jihan mengangguk menyetujui keinginan Erik.


Mungkin dengan berpura-pura tegar, dia akan baik-baik saja, tanpa tau hatinya yang sudah tidak utuh lagi.


.


.


.


.


.


TBC lanjut besok ya.😊👍🙏


.

__ADS_1


.


Yang pengen bacaan romantis komedi bisa mampir ke karya teman saya 'Menggapai Pelangi' .🙏


__ADS_2