
Lanjut ya...😃👍🙏
Vote dan likenya jangan lupa!😜
.
.
.
.
Waktu terus berlalu, usia kehamilan Ella kini sudah 38 minggu, keinginanya semakin tidak masuk akal, membuat Erik kualahan menurutinya. Seperti malam ini dia ingin memotong rambutnya, Ella bilang dia ingin memotong rambutnya sebahu, tapi yang ada Ella hanya memotong 2 cm. Di tengah rasa kantuknya Erik mengetok rumah hair styles yang sudah ditunjuk Yohan, untuk menuruti keinginan Ella.
Ella mengomel tidak jelas saat hasilnya tidak sesuai keinginannya. Pipinya yang menggembung menunjukkan dia yang tidak puas dengan hasilnya. Dia lalu membangunkan Erik yang tertidur di sofa tunggu.
“Massshhh... Ayo pulang!” ajaknya dengan suara manja. Erik gelagapan saat mendengar panggilan Ella, dia lalu mengusap kasar wajahnya. Melihat ke arah jam di dinding sudah pukul 11 malam.
“Sudah? Kamu potong rambut bagian mana sih? Kok nggak berkurang rambutmu,” tanya Erik saat memperhatikan rambut istrinya. Ella hanya diam sambil berjalan ke arah mobil sesekali mengusap perutnya yang mulai kontraksi.
“Mau kemana lagi?” tanya Erik.
“Pengen makan hot pot.” Erik mengerutkan keningnya saat Ella meminta makanan yang banyak lemaknya itu.
“Di mana tempatnya? Tunjukkan jalannya!” perintah Erik.
Ella mengangguk dan sedikit tersenyum, karena Erik selalu menuruti keinginannya. Mereka berdua memutuskan untuk pindah ke rumah setelah beberapa minggu yang lalu Ella mengeluh sakit pinggang, karena di rumah baru Ella bisa menempati kamar bawah. Sedangkan jika di apartemen semua kamar berada di lantai atas. Sejak Ella cuti Erik juga selalu menemaninya, selalu berada di samping Ella 24 jam penuh. Bahkan Ella tidak mengizinkan Erik pergi sendiri saat keluar rumah.
Setelah 30 menit perjalanan, mereka tiba di kedai hot pot, langganan Ella, Erik hanya menatap istrinya yang tengah menikmati makanan khas China itu.
“Mas pegang perutku deh! Kenapa keras seperti ini?” ucap Ella sambil meletakkan tangan suaminya di perutnya.
“Nggak papa. Mungkin dia lagi pengen bertemu Papanya.” Ella langsung melepaskan tangan Erik dari perutnya. Kembali memakan makanan di depannya, tanpa mengajak bicara suaminya lagi.
Karena menyadari hari sudah larut malam Erik segera mengajak Ella untuk pulang ke rumah. Sampai di rumah Erik yang mengantuk langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan Ella masih terjaga sambil merasakan krontraksi di perutnya.
Ini kenapa sih. Kok perut rasanya nggak biasa, apa sudah waktunya ya? Batin Ella. Tapi dia tidak mau membangunkan suaminya, dia merasa kasihan karena Erik sudah terlalu lelah untuk menuruti keinginannya hari ini.
Sudah jam 2 pagi Ella masih belum tertidur. Dia masih merasakan perutnya yang sakit setiap 20 menit sekali, dia mulai khawatir jika hari ini akan melahirkan, jadi dia menghitung dengan jam yang ada di dinding. Setiap Erik bergerak dari tidurnya dia selalu menempelkan tangan Erik ke perutnya, bermaksud agar suaminya itu merasakan apa yang dia rasakan.
“Mungkin minggu depan sudah launching babynya.” Ella hanya mendengus kesal saat mendengar ucapan Erik yang masih memejamkan mata itu. Suaminya tidak paham apa yang dia rasakan, Ella lalu keluar kamar mencoba untuk meredakan perutnya yang masih sedikit sakit. Dia berjalan ke sana ke mari karena merasa tidak nyaman. Hingga pukul 4 pagi dia baru bisa terlelap di sofa ruang tv.
Ella terbangun saat Erik mencium bibirnya.
“Mas ke rumah sakit dulu ya,” pamit Erik pada istrinya yang masih setengah sadar.
“Aku ikut.”
“Nggak usah Mas cuma sebentar kok, nggak sampai jam 12 Mas sudah sampai di rumah,” jelas Erik pada Ella. Ella langsung duduk dan beranjak dari sofa.
__ADS_1
“Pokoknya aku ikut, kalau Mas nggak mau nungguin biar aku naik taksi online saja, aku mau ketemu Hanin, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya,” ucap Ella sambil berjalan ke arah kamar mandi. Meninggalkan Erik yang masih terbengong di kursi sofa.
Lama menunggu Ella keluar dengan baju hamil yang terlihat sexy. Erik hanya diam sambil tersenyum ke arah istrinya.
“Kamu mau ketemu Hanin atau ke pesta, kok cantik banget?”
“Kenapa! Tergoda ya? Ayo aku tadi sudah mengirim pesan pada Hanin dia sudah menunggu di ruang poli anak.” Erik hanya bisa mengikuti langkah kaki Ella yang sudah lebih dulu berada di depannya.
***
Setelah sampai di parkir khusus rumah sakit Ella mengambil nafas panjang karena merasakan sakit yang lebih parah dari semalam.
Erik yang tidak tau hanya menggandeng tangan Ella yang mulai berkeringat itu. Sampai di ruang poli anak Erik segera berpamitan dan berpesan agar Ella menunggunya di sini saja, Erik tidak memperbolehkan Ella untuk naik ke atas.
“Iya. Aku tunggu Mas di sini.” Erik lalu meninggalkan Ella yang sudah duduk bersama Hanin, setelah dia meninggalkan wejangan khususnya.
Setelah suaminya pergi, Ella mulai menatap Hanin, dia masih ragu akan bertanya atau tidak tentang masalah yang dia alami, setelah diam cukup lama Ella akhirnya mulai berbicara pada Hanin.
“Nin. Bagaimana tanda pastinya mau melahirkan?”
“Dokter sudah merasakannya?”
“Aku bertanya jangan menjawab dengan pertanyaan! Perutku dari kemarin kontraksi sampai nggak bisa tidur, tapi nggak keluar lendir atau flek, aku mau bilang suami takutnya cuma kontraksi palsu,” jelas Ella sambil menarik nafas panjang merasa lega karena berhasil mengungkapkan apa yang tengah dia alami.
“Apa Dokter menghitung jarak kontraksinya?” tanya Hanin.
“Iya..., setiap duapuluh menit sekali, dan itu sudah hampir aku alami sejak tadi pagi, Nah ini juga lagi merasakan kontrakai,” ucap Ella sambil menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
Ella yang merasa sakitnya sudah mereda, hanya bisa menolak ucapan Hanin.
“Biar nanti suamiku yang ke sini,” jawab Ella yang masih bisa tersenyum.
Ella lalu beranjak dari duduknya untuk menuju kamar mandi, karena dia sudah menahannya dari tadi. Ella semakin panik saat melihat bercak darah di celana dalamnya. Dia mencoba menangkan dirinya agar bisa tenang dan tidak terlalu panik karena itu akan menambah rasa sakitnya.
“Hanin..., Hanin...,” teriak Ella dari dalam kamar mandi. Hanin yang mendengar itu segera berlari ke arah depan pintu kamar mandi.
“Bagaimana Dok?”
“Aku keluar flek Nin, tapi masih sedikit,” teriak Ella dari dalam kamar mandi.
“Benarkah Dok? Berarti itu sudah waktunya Dokter melahirkan,” ucap Hanin memberitahu pengalamannya saat melahirkan anak pertamanya.
Ella yang sudah selesai segera membuka pintu kamar mandi. Dia hanya mengusap perutnya, saat kontraksi itu semakin intens dia rasakan.
“Dokter rileks saja, nggak usah panik, anggap saja semakin terasa sakit, samakin cepat pula Dokter bertemu dengan jagoan Dokter,” ucap Hanin menghibur Ella.
“Gitu ya..., baiklah aku nikmati sajalah,” ucap Ella sambil kembali duduk di kursi kerjanya.
“Di pakai goyang salsa Dok, ajak Dokter Erik goyang salsa biar cepat juga pembukaannya,” goda Hanin pada atasannya itu.
__ADS_1
Ella hanya meringis menahan sakitnya kontraksi, saat Hanin menggodanya.
Rasanya seperti akan patah seluruh urat pinggangnya. Hanin yang melihat Ella kesakitan merasa kasihan, sambil sesekali mengusap pinggang Ella.
“Ayo sepertinya Dokter benar-benar mau melahirkan, biar saya antar ke ruang bersalin, tapi kita jalan kaki saja biar sekalian mempercepat pembukaan, soalnya aku kemarin begitu,” jelas Hanin yang belum lama merasakan hal yang sama dengan Ella.
Ella hanya mengangguk dan mengikuti saran Hanin. Dia berjalan pelan menuju ruang bersalin yang berada 500 m dari ruangannya. Sambil sesekali berhenti di pegangan tembok.
“Nikmat sekali rasanya,” ucap Ella sambil tersenyum.
“Begitulah perjuangan seorang Ibu,” ucap Hanin sambil mensejajarkan langkah Ella yang tertinggal, lalu merangkul tangan Ella, untuk dia tuntun ke ruang bersalin.
Saat mereka sampai di ruang bersalin, Ella ragu untuk melanjutkan langkahnya, karena sakitnya mulai mereda.
“Nin, sepertinya aku nggak jadi melahirkan deh..., sudah nggak sakit lagi kok.” Hanin hanya terkekeh mendengar ucapan Ella sambil menuntun Ella ke ranjang ruang bersalin. Namun, sebelumnya Hanin sudah memberitahu perawat jaga untuk menghubungi Dokter Erik yang berada di ruang pribadinya.
“Hallo, ada apa?” tanya Erik saat menerima panggilan telepon.
“Dokter maaf, ini Dokter Ella sudah berada di ruang bersalin, sebagai suami siaga apa Dokter tidak mau menemaninya?” ucap perawat itu sambil menggoda Erik dengan suara centil.
“Sesuatu yang lucu, jika diulangi tidak akan menarik lagi, heh..., sudahlah jangan mengangguku, apa kamu ingin saya pecat!”
“Tapi Dok! Dokter Ella ma-”
Tut...tu...tut...
“Enak saja mau mengulangi kejadian sebulan yang lalu, aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya, hahaha...” lirih Erik sambil mengingat kejadian sebulan yang lalu saat dia harus berlari dengan kepanikannya menuju ruang UGD.
Tidak lama ponselnya kembali berdering.
“Benar-benar mau dipecat sepertinya ini!” ucapnya sebelum mengangkat telepon, lalu Erik segera menggeser tombol hijaunya.
“Dok. Saya berani bersumpah! Istri Anda mau melahirkan, cepat datang ke ruang bersalin.” Erik diam sejenak saat mendengar ucapan perawat yang bertugas di ruang bersalin, telepon dari perawat juga sudah dimatikan oleh orang di seberang sana.
“Sudah siapkah kamu Yang, mengalami rasa sakit itu? Mas nggak akan kuat jika melihatmu kesakitan?” ucapnya sambil menundukkan kepala dia diam sejenak sambil memejamkan matanya.
“Aku harus kuat dan menguatkanmu Yang,” lirih Erik sambil mengusap air matanya yang sudah keluar. Lalu berjalan keluar dari ruangannya.
Sebenarnya Erik sudah menyarankan untuk mengambil langkah sectio caesarea / caesar karena dia takut Ella tidak akan kuat menahan rasa sakitnya melahirkan, tapi Ella tetap kekeh karena ingin merasakan apa yang dulu Bundanya rasakan ketika melahirkan dirinya.
.
.
.
TBC...
.
__ADS_1
.
Terimakasih sudah mengikuti kisah Erik dan Ella, saya lagi semangat nulis nih, semoga readers juga semangat buat ngasih poin dan like, koin juga boleh😜😜😜😜😂😂😂🙏🙏