
...Selamat Membaca...
Sore tadi, tidur siang Naura begitu lama. Ia terbangun saat merasakan sinar jingga menyorot ke matanya. Ia langsung membuka ponselnya untuk mengetahui perkembangan gosip tentang dirinya. Namun, ia terkejut saat mendapati banyaknya pesan singkat dari Nathan. Bahkan pria itu mengirim pesan umpatan karena ia tak lekas membalasnya.
Rasanya ia ingin memaki Nathan habis-habisan saat pria itu meneleponnya. Selain dia masih emosi dengan kejadian di gedung KPK tadi, dia juga tidak terima atas umpatan yang pria itu kirimkan padanya. Ia berjanji akan mengadukan nanti pada suaminya.
Namun, saat pria itu memintanya untuk alasan yang tepat, yaitu mengambil rekaman karena dia tengah membuntuti wartawan, ia pun paham, dan langsung melakukan apa yang diperintahkan pria itu.
Meski begitu, tetap saja malam ini ia masih merasa kedinginan. Tidak ada Abhi yang membantu menghangatkan tubuhnya, seperti hari biasa-biasanya. Ia pun tak ingin terhanyut dalam kesedihan, berusaha mengajak ngobrol calon anaknya siapa tahu, calon anaknya itu bisa merespon ucapannya.
Ia meletakan ke dua tangannya di atas perut, memberikan gerakan lembut di sana, berusaha mengusir rasa lelah calon anaknya, setelah seharian ini ia bawa mondar-mandir. Tapi tetap saja, calon anaknya itu belum bisa merespon dengan gerakan. Dia hanya merasakan jika perutnya berkedut saat ini.
Merasa sudah tak dapat menahan kantuk, Naura membaringkan tubuhnya, berharap pagi akan segera tiba, karena dia sudah tidak sabar menanti kehancuran orang yang membuat hidup suaminya menderita.
...🌼🌼🌼...
Saat ini di salah satu ruangan. Seorang pria tengah duduk di kursi kayu, dengan kedua tangan yang diikat dengan sandaran kursi. Tidak ada luka di tubuh pria itu, Nathan bukan orang bodoh yang akan melukai pria di depannya ini. Bisa-bisa satu masalah selesai timbullah masalah baru. Jordan adalah pria yang disekap dan dibawa Nathan ke ruangan sempit yang ada di gedung kantornya.
Wajah Nathan terlihat masam, karena pria di depannya tak kunjung membuka suara. Kesabarannya nyaris habis, ia ingin segera menelepon polisi saat ini juga, supaya menangkap pria di depannya ini.
Wartawan bernama Jordan itu berhasil dia tangkap sedari pukul dua siang tadi, tapi pria itu masih menutup rapat bibir tebalnya. Tidak ingin mengatakan apapun padanya.
Siang tadi, saat ia berjalan keluar gedung KPK hendak pulang. Telinganya mendengar seorang petugas tengah berbicara melalui panggilan telepon. Terdengar, pria itu membuat janji bertemu dengan pria di ujung telepon. Dengan bodohnya pria itu menyebutkan nama rumah makan dan nomor meja yang sudah di daftarkan oleh pria di ujung panggilan. Jadi Nathan bisa dengan sigap menuju ke sana.
Pulang memasang alat penyadap Nathan kembali ke rumah wartawan yang ada di dekat gedung KPK. Nathan sengaja menyanderanya demi mengetahui apa yang sudah pria itu rencanakan dengan Martinus.
Suara bujukan yang keluar dari bibirnya sedari tadi tidak mampu membuat pria itu membuka mulut. "Jika kamu jujur padaku, aku bisa menjadi saksi kalau kamu hanya dimanfaatkan oleh Martinus." Nathan berusaha membujuk lagi, supaya pria itu mau mengatakan apa yang sudah dilakukan Martinus.
"Jordan! Apa kamu ingin keluargamu tahu kelakuanmu ini?" Nathan kembali melayangkan pertanyaan, saat pria itu masih diam membisu.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa yang sudah mereka rencanakan! Temanku memberitahu, jika dia sudah menemukan bukti kalau Abhi hanya dijebak. Jadi kalaupun kamu—aku bebaskan, pasti namamu besok akan ada di daftar pencarian orang!" terang Nathan, dengan senyum kecut.
Wajah Jordan langsung menatap ke arah Nathan. Terlihat dengan jelas jika pria itu tengah ketakutan. "Apa jika aku mengatakan, aku akan terbebas?" tanya Jordan.
"Semua tergantung keterlibatan mu dalam perkara ini! Katakan semua padaku tanpa ada yang kamu tutupi!" Pria kekar itu beranjak dari posisinya, lalu berjalan ke arah belakang punggung Jordan.
Melihat gelagat Jordan yang ingin mengatakan sesuatu, Nathan lekas menyalakan perekam suara, berbentuk pulpen yang ada di saku celananya.
"Pertama, saya membuat laporan pada pak ketua jika pak Abhi menyuap pak Brata Susena dengan uang 1,2 milliar."
Nathan mendengarkan dengan seksama, setiap kata yang keluar dari Jordan. "Lalu, dari mana asalnya pak Brata bisa mendapatkan uang itu?"
"Itu uang dari pak Martinus. Mereka mengirimkan uang itu atas nama pak Abhi."
"Pihak bank tidak bertanya saat itu?"
Jordan menggeleng.
Jordan menyebutkan salah satu nama bank, dan ternyata Martinus memliki saham di sana.
"Ada pihak dalam yang bekerja sama dengan pak Martinus, beliau yang melakukan penyidikan atas kasus pak Abhi."
"Biar aku yang melanjutkan." Nathan menarik napas dalam. "Lalu ... penyidik itu mengatakan jika Abhi benar-benar melakukannya?" tebak Nathan.
Pria di depan Nathan mengangguk.
"Berita tadi pa—
"Ya, itu atas perintah pak Martinus." Jordan memotong ucapan Nathan. Membuat Nathan menggelengkan cepat kepalanya. "aku sudah salah paham sama Naura, gara-gara kamu!"
__ADS_1
"Apa hukumanku akan berat?" Jordan bertanya sebelum Nathan meninggalkan ruangan tersebut.
"Setidaknya tidak seberat Martinus dan pria itu." Nathan kemudian melangkah pergi, membiarkan pria itu bermalam di sana. Dia akan memanfaatkan Jordan untuk menjadi saksi jika diperlukan.
Tujuan Nathan saat ini adalah ke kantor polisi, untuk melaporkan kegiatan Martinus dan komplotannya. Setelah itu ia akan membebaskan rekannya yang saat ini menjadi tahanan KPK.
Selesai urusannya dari kantor polisi, Nathan kembali ke rumah, hari sudah malam, tidak akan mungkin datang ke gedung kantor saat ini. Datang pun ia bisa diusir oleh penjaga.
...🌼🌼🌼...
Titik-titik embun menghiasi jendela kamar Naura pagi ini, sinar rembulan masih terlihat remang-remang, ingin segera pergi sebelum kuningnya matahari mulai menyinari seisi bumi. Begitu banyak harapan untuk hari ini. Wanita itu berharap gelap akan segera pergi, berganti dengan terangnya sinar mentari. Seperti hidupnya saat ini, berharap kesedihannya akan segera berlalu, dan kebahagiaan menyambutnya.
Bagai naik roller coaster Naura baru saja berada di titik atas, dan sekarang pelan-pelan ia turun ke bawah. Naura sudah tidak sabar untuk menyambut hari ini, sampai-sampai setelah selesai menjalankan kewajibannya subuh tadi, ia langsung menyibukan dirinya di dapur.
Menghirup aroma sup singkong buatan tangannya sendiri. Bukan dia atau calon anaknya yang mau. Tapi, mengingat suaminya menyukai makanan itu, Naura rela hampir dua jam mencari resep dan cara pembuatannya.
Peluh di keningnya sebagai bukti kesungguhan usahanya saat memasak sup singkong. Berulangkali mencicipi, merasa ada yang kurang, ia tambahkan lagi bumbunya hingga ia terasa pas di lidahnya, barulah Naura mematikan kompor itu.
"Bu pindahkan ke kotak makan, sedikit saja, tidak usah banyak-banyak! Aku akan membawanya ke kantor!" perintah Naura saat melewati wanita yang membantunya memasak.
"Ok, mbak!" sahutnya. Naura segera naik ke lantai atas untuk membersihkan tubuhnya. Ia terlalu bersemangat untuk datang ke gedung kantor KPK pagi ini. Berharap mereka akan benar-benar membebaskan suaminya.
Jika biasanya Naura mandi lebih dari 30 menit, tidak dengan pagi ini, terasa lebih singkat dari biasanya. Menurutnya dia sudah terlambat untuk menjemput Abhi. Gedung kantor pasti sudah terbuka lebar untuk pengunjung. Dan jika berita penangkapan Martinus sudah menyebar berarti pria itu juga sudah dibebaskan petugas. Dia ingin sekali melihat mereka hancur.
Dengan dress warna merah, serasi dengan warna bibirnya, Naura kembali berjalan ke arah dapur untuk menemui wanita yang tadi ia perintahkan menyiapkan bekal.
"Aku berangkat ya, Bu! Tolong jaga rumah siapa tahu nanti aku pulang ke rumah papa!" pamit Naura sambil berjalan ke arah pintu utama. Tangannya bergerak mencoba mencari kunci mobil Abhi yang ia simpan di dalam tas. Saat Naura membuka pintu rumah, ia terkejut saat melihat pria di balik pintu itu. Tubuhnya beberapa detik sulit untuk digerakkan. Tatapannya intens ke arah pria di depannya.
Pria itu lekas mendekat, lalu membungkam bibirnya ....
__ADS_1
...-------- BERSAMBUNG --------...