
...Selamat Membaca...
Tiga pria itu menyekap Naura di sebuah bangunan kosong yang ada di daerah kota Bogor. Tempat yang sudah disepakati bersama dengan dalang dari penyekapan Naura. Saat ini ketiga pria itu sedang menanti kedatangan orang yang sudah menyuruh mereka untuk menculik Naura. Duduk sebangku, bercengkerama sambil menghabiskan beberapa botol minuman memabukkan. Sesekali menyulut batang rokok, dan mengisapnya bersama-sama.
Di dalam kamar yang tidak terlalu luas, Naura merasa kesulitan bernafas. Bagaimana tidak? Rumah yang sudah lama tidak ditempati ini benar-benar menyiksanya. Aroma jamur begitu pekat, membuat dadanya sesak dan senyawa di perutnya mulai naik memberikan rasa mual yang hampir tak mampu ia tahan. Kamar itu terasa lembab karena tidak memiliki ventilasi, membuatnya benar-benar tersiksa meski baru beberapa jam berada di sana.
Kepala Naura menoleh ke arah pintu saat mendengar suara kaki mendekat ke arah ruangan yang ia tempati. Pintu kamar terbuka lebar menampilkan senyum pria bengis dengan rambut yang terikat rapi. Naura benci senyum pria itu, ingin sekali ia melenyapkan senyum pria tersebut dan menggantikannya dengan air mata.
Mata Naura kini bisa melihat dengan jelas kilatan gairah dari mata pria bernama Edi. “Jangan macam-macam, atau kamu tahu apa yang akan dilakukan suamiku nanti jika mengetahui hal ini!” peringat Naura saat melihat Edi melangkah mendekat ke arahnya.
“Kita bermain sebentar saja. Mumpung aku sudah berhasil menidurkan mereka berdua. Dan kamu jangan memberontak, atau nanti akan terasa menyakitkan!” ujarnya justru balik memperingati Naura. Bibirnya yang tebal tersenyum licik.
“Pria gila!”
Suara umpatan yang keluar dari bibir Naura justru membuat Edi semakin tertawa lebar. Pria itu kembali melangkah, mendekati Naura yang saat ini duduk di sudut ruangan. Dengan gerakan slow motion pria itu melepas tali yang ada di kaki Naura. Bibir pria itu hampir meneteskan air liur, ketika melihat kaki Naura yang begitu menggoda.
__ADS_1
Saat Edi tengah menikmati pemandangan kaki putih di depannya, Naura dengan berani menghentakkan kakinya keras ke tubuh Edi. Pria itu terjungkal, terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba di keluarkan oleh wanita itu.
Sedangkan dia, yang merasa memiliki kesempatan lekas berlari ke arah pintu, berniat ingin melarikan diri. Namun, saat dia mulai melangkah, tubuhnya justru terjatuh karena terhalang oleh kaki Edi.
“Sialan!” umpat Naura ketika tubuhnya terhempas ke lantai, dia meringis menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini, karena posisi jatuhnya terlalu keras.
“Aku sudah memperingati kamu! Jangan membuatku marah, atau aku bisa bermain kasar padamu!” dengan gerakan kasar Edi membalikan tubuh Naura, sampai terdengar benturan kepala Naura yang beradu dengan lantai. Ia meringis, menahan rasa sakit di kepalanya.
“Sakit?” tanya Edi, dengan satu tangan mengusap kasar rambut Naura. Lalu membawa tubuhnya kembali ke tempat semula. Merasa tidak sabar untuk menikmati tubuh Naura, Edi lekas melepas kaus hitam yang ia kenakan saat ini.
“Pergi! Jangan mendekat!” teriak Naura mengusir Edi, ketika melihat otot perut Edi yang terpampang di depannya. Ia tidak ingin kulit Edi sampai menyentuh tubuhnya. Tapi rupanya peringatan itu tidak diindahkan oleh Edi, pria itu kekeh mendekati Naura bersiap menyerangnya.
“Siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Aku janji akan membayar mu lebih, asal kamu mau membebaskan aku!” tawar Naura, berusaha lagi melakukan nego, siapa tahu pria itu bersedia menolongnya. Sekarang ia bisa melihat senyum licik dari Edi. Ia pikir dia sudah berhasil menghasut Edi, tapi rupanya tidak. Pria itu justru menindiih tubuhnya.
“Kita rahasiakan ini berdua, setelah ini aku janji akan membantumu pergi dari sini!” ucap Edi, membuat Naura kembali mual karena aroma minuman keras yang keluar dari mulutnya.
Namun, pria itu justru semakin tertarik saat Naura mengatakan hal itu. Tangannya masuk ke sela kaki Naura, membuka lebar kaki wanita yang kini berada di bawah tubuhnya. Tangan Edi menjelajahi tubuh Naura, meraaba dengan pelan dari perut hingga ujung rambut Naura.
“Kau akan menyesal jika melakukan ini padaku!” Naura benar-benar putus asa menghadapi pria di atasnya saat ini. Tubuhnya kini sudah kehabisan tenaga, makanan yang ia santap tadi pagi sudah habis dipakai untuk seharian ini. Tapi, ia juga tidak rela jika tubuhnya dinikmati oleh pria selain Abhi.
Tangan Edi mulai turun lagi, mengusap lembut wajah putih Naura dengan jemari kokohnya. Meski ia sudah tidak sabar untuk menikmati tubuh wanita di bawahnya saat ini, rupanya Edi tidak ingin terburu-buru dalam melakukannya. Sudah lama, semenjak istrinya kabur dengan sang kekasih gelap, ia tidak merasakan kehangatan pelukan wanita.
__ADS_1
Satu persatu tangannya dengan cekatan membuka kancing blouse yang Naura gunakan. Ia meletakan ikatan tangan Naura ke atas kepala, dua bukit indah itu pun tampak menggoda di balik cup berenda warna putih yang wanita itu kenakan. Naura sampai harus menahan nafas saat melihat bibir itu mendarat di dadanya. Ia memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir dengan deras melalui sela-sela matanya yang terpejam. Tenaga untuk memberontak pun sudah terkuras habis saat ini, dia hanya bisa pasrah.
“Apa kamu punya anak perempuan? Aku bersumpah, akan ada lelaki di luar sana melakukan hal seperti ini pada anakmu kelak!” suara peringatan Naura terdengar lirih, ia benar-benar lelah saat ini.
“Aku bahkan tidak peduli lagi dengan mereka.” Edi lalu melepas kain terakhir yang tersisa di tubuhnya. Ia kembali menindih Naura dan bersiap melakukan penetrassi. Bahkan pria itu melupakan jeans Naura yang belum terlepas.
“Wah, wah, wah kau ingin bersenang-senang sendiri?” suara tepukan tangan dari bibir pintu mengurungkan niat Edi untuk melakukan penetrassi.
“Jangan begitulah, Ed!” Bogel berjalan memasuki ruangan. Ia mulai tertular gairah saat melihat tubuh Naura yang setengah terbuka terlentang di lantai.
“Menyingkirlah dulu! Apa kau tidak melihat aku sudah berada di ambang batas kesabaran.” Edi menarik napas dalam. “Keluarlah dulu, setelah itu aku akan memberi kesempatan padamu!” tertawa sinis, sambil mengusap miliknya yang sudah berdiri tegak.
“Kalian berdua memang tidak punya otak!” maki Naura, di sisa akhir tenaga yang ia miliki, dengan kaki yang sudah terlepas dari tali, ia lekas berdiri dan berusaha melarikan diri dari mereka.
Bogel yang berada di bawah pengaruh alkohol dengan sigap menangkap tubuh Naura. Ia menahan wanita itu supaya tidak bisa melarikan diri. “Kau ingin aku bantu? Kita akan bermain bertiga!” seru Bogel menatap ke arah Edi, ia menggendong tubuh Naura dan meletakkan kembali ke asal.
Posisi Bogel kini memangku tubuh Naura, menahan supaya gadis itu tidak lagi memberontak. Bibirnya yang tipis dengan lembut mengecupi wajah Naura. Sedangkan Edi yang sudah siap dari tadi, mengusap berulang kali miliknya, bersiap melepas jeans dan lekas melakukan penetrassi. Namun, saat tangan Edi melepas kancing celana Naura seseorang memberikan peringatan pada mereka berdua.
...-------- BERSAMBUNG --------...
...Jangan lupa like...
...Jangan lupa vote...
...Jangan lupa gift...
__ADS_1
...Terima kasih ❤️...