Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part


__ADS_3

... Selamat Membaca...


Ada yang berbeda pagi ini di apartemen Naura. Wanita itu tengah berkutat dengan spatula dan penggorengan di saat jarum jam dinding baru bergerak di angka tujuh.


Pagi yang istimewa, setelah penantian panjangnya hampir 32 tahun yang hanya ada di dalam angannya. Menyiapkan pakaian kerja, sarapan, dan mungkin sebelum berangkat nanti ia akan memberikan ciuman semangat untuk soulmate-nya. Sambil berkata, 'jangan pulang telat, aku kesepian ...' dia berjanji akan berujar manja ketika Abhi hendak berangkat kerja nanti.


Membayangkan itu saja, sudut bibir Naura saling menjauh, membentuk lengkungan indah untuk menyambut suaminya yang sebentar lagi akan keluar kamar.


Benar saja, belum ada tiga menit ia berhenti memikirkan Abhi, pria itu menarik pintu dari dalam kamar. Tapi—kondisi Abhi saat ini justru membuatnya bingung.


Piyama satin warna hijau toska, dan kaos kaki wol milik Naura masih menempel indah di kakinya. Ya, semalam Abhi memang mengeluh kedinginan, selain cuaca yang memang sedang syahdu-syahdunya untuk pengantin baru, Abhi ternyata tidak tahan dengan dinginnya air conditioner. Jadilah, dini hari tadi, Naura memakaikan kaos kaki wol ke kakinya.


"Loh, loh, apa-apaan ini, Abh?" Naura meletakan spatula di tangannya lalu menghampiri Abhi, yang saat ini memilih untuk duduk di depan layar televisi, duduk di alas karpet.


"Kenapa, Na?"


"Bukannya pengantin baru, biasanya si laki gencar-gencar nyari cuan buat beli kebutuhan istri, kebutuhan calon baby, dan kebutuhan lainnya?" ujar Naura datar. Tapi entah kenapa jawabannya itu justru menarik Abhi untuk menggodanya.


"Ngomong-ngomong baby—kamu pengen baby berapa?" Abhi yang duduk di karpet kini sedikit mendongak menatap Naura.


"Ah ... kok tanyanya itu, kamu sengaja mengalihkan pembicaraan ya, kan?" Naura berbalik kembali ke tempat semula, ia lupa samosa nya belum sempat ia balik.


Abhi kini justru mengekor dan memeluk Naura, meletakan pipinya di punggung sang istri. Ia tetap berusaha untuk tidak bertumpu pada tubuh wanita itu.


"Boleh nggak aku pengen anak triplet-nya tiga kali, terus kembarnya sekali dan aku mau cowok semua. Biar bisa bikin club' bola sepak."


Mulut Naura menganga, ketika mendengar ucapan suaminya, saat ia hendak mengeluarkan protes, Abhi justru kembali melayangkan keinginannya.


"Baby girl nya dua kali. Kembar!" ujarnya penuh penekanan, dan kini Naura berhasil meremas bibir Abhi dengan tangan kanannya.


"Dan mau berapa istri?"


"Cukup satu!"


"Lo, pikir gue kucing!"

__ADS_1


"Iya, kucing garong!"


Naura melotot sempurna, terlihat pupil matanya hampir lompat dari tempatnya. Dan Abhi sengaja menutup mata, demi tidak melihat wajah garang itu. "Garong kalau di kasur saja!"


"Sudah ... sekarang, kamu mandi! Dan pergi ketemu klien atau apa sana! Yang penting jangan di rumah, aku masih syok saat mengetahui sifat mu ini!"


"Aish ... Nggak bisa gitu, aku sudah minta sama Nathan, kalau aku ambil cuti sampai acara pesta pernikahan kita usai!"


"Terus kamu mau ngapain?"


"Mini honeymoon. Jalan-jalan habisin waktu berdua sama kamu, lihat rumah baru kita. Kita susun semua berdua, belanja berdua. Pokoknya semuanya diisi berdua sesuai yang aku dan kamu inginkan."


Naura mengusap dada, ingin sekali ia berteriak seraya meminta tolong siapapun untuk membawa Abhi sementara dari kehidupannya yang damai. Tapi, ia luluh saat Abhi mengucapkan kata-kata yang mampu menggetarkan hatinya. Apa katanya, ' sesuai keinginan aku dan kamu?' seperti itu saja Naura sudah merasa diistimewakan


"Na ...."


"Hm ...."


Abhi mengayunkan pelan tubuhnya ke kanan dan kiri, gerakannya pelan, seolah percikan minyak di dalam penggorengan itu adalah music salsa atau sejenisnya.


"Stop!" teriak Naura. Ia lalu membalik tubuhnya menghadap Abhi, sampai akhirnya wajah mereka pun saling berhadapan.


Tidak ada kata yang terucap setelah itu, hanya tatapan yang mengisyarakatkan cinta, yang keduanya saling berikan. Keduanya saling terbuai.


"Kau mau, apa?" tanya Naura.


Abhi melirik penggorengan lalu mematikan kompornya. Mengangkat samosa terakhir dan meniriskannya di mangkok.


"Kau nakal! Kalau bicara seperti itu seolah-olah kamu tahu apa yang aku mau. Dan dengan sengaja kamu menggodaku!" seru Abhi.


Seketika Naura merasakan tubuhnya terbang karena Abhi mengangkat tubuhnya ala bridal style. Abhi membaringkan tubuh istrinya di atas sofa, menikmati aroma minyak goreng, dan parfum Naura yang masih tersisa. Ya, istrinya itu belum mandi, ia lebih memilih menyiapkan sarapan untuknya.


"Abh ...."


"Yes ...."

__ADS_1


"Bisa kita menundanya dulu, samosaku ntar gosong!"


"Sudah aku angkat!"


"Aku haru—


"Tiga puluh menit," bisik Abhi di samping telinga Naura. Setelah itu, ia mengawali hari itu dengan indah. Obrolan-obrolan, candaan ringan, rintihan, luapan cinta semua bercampur menjadi satu. Abhi merasa Naura lebih menikmati saat Naura terus diajaknya bercanda, ya meski tawanya kadang diiringi dengan suara desaha*n erotis dari bibir sang istri.


--


Naura menatap dirinya di pantulan kaca, setelah mandi junub bersama suami dan berakhir ronde ke dua, tiga, dan empat. Kini ia sudah benar-benar bersih. Ia menyisir rambutnya yang panjang. Masih sedikit basah, ia lupa membawa pengering rambutnya masih di rumah mama nya.


Setelah selesai ia menyusul Abhi yang sedang menikmati acara televisi. Sambil menikmati samosa yang tadi ia goreng. Ada saos sambal di sana, yang kadang Abhi cocok di sudut samosa yang tadi ia buat.


"Mau duduk di mana? Pangkuanku atau di sofa?" Goda Abhi saat melihat Naura berdiri di sampingnya.


"Stop, Abh ... aku lelah!"


"Oke, Sayang. Tunggu agak siangan ya, kita beli es campur toping durian. Habis itu kita pergi ke suatu tempat."


"Nyerah! Nggak jadi pergi saja, tubuhku pegel semua!" Abhi tersenyum penuh arti, ia tahu yang membuat istrinya seperti itu adalah dia. Saat ia hendak membawa kaki Naura ke pangkuannya bunyi bel pintu apartemen berbunyi nyaring.


"Pasti pengganggu, nih!" ujar Abhi.


"Aku bisa tebak, dari aromanya ini mama dan papa. Pasti hendak ngomel, kenapa motornya gak balik-balik! Jadi, mendingan gak usah dibuka!" peringat Naura, tapi Abhi tetap beranjak dari posisinya untuk membuka pintu.


Saat pintu apartemen terbuka lebar, pria yang berada di luar apartemen tercenung saat melihat Abhi yang membukakan pintu apartemen Naura.


Hanif menatap Abhi dengan sejuta pertanyaan di kepalanya sedangkan gadis mungil yang kini mengenakan dress warna putih, langsung berlari masuk ke apartemen untuk mencari keberadaan Naura.


...----------------...


**Terima kasih sudah membaca, dan sabar menanti Abhi-Naura. Saya masih kurang sehat ya, sebenarnya. Jadi, nggak bisa janji up cepat. Di sebelah masih libur, soalnya masih belum bisa mikir konflik berat, kepala masih cenat-cenut.


Dan untuk semuanya jaga kesehatan, cuaca sedang extrime, semoga Allah selalu melindungi kita. Aamiin 🤲

__ADS_1


...HAPPY WEEKEND**...


__ADS_2