
...Selamat Membaca...
Abhi yang baru saja tiba di gedung kantor, segera memasuki ruangan Nathan untuk menyusun file yang ia perlukan saat persidangan nanti. Bibirnya yang berisi tersenyum ramah, membalas sapaan orang yang menyapanya pagi ini.
Semangatnya sedang membara, efek dari kepuasan yang sudah istrinya berikan tadi pagi. Memperbaiki mood nya yang kacau karena semalam Nathan menyerahkan banyak tugas padanya.
“Nathan kapan pulang ke Jakarta?” tanya Abhi, pada seorang wanita yang biasa mengawal Nathan.
“Bilangnya, nanti sore, Pak!” jawab Lina. Wanita itu lalu menyerahkan file yang biasa ditangani oleh Nathan pada pria di depannya.
Abhi lekas membawa file itu ke ruangan kerjanya, berniat mempelajari lebih dulu sebelum nanti bertanding menyelesaikan kasus yang sedang di tangani Nathan. Sebenarnya, jadwal sidang hari ini tinggal mendengarkan putusan sidang. Jadi Abhi tidak begitu repot untuk membela kliennya. Tugas Abhi hanya mendampingi klien Nathan saat hakim membacakan putusannya, dan bersiap jika nanti kliennya akan mengajukan banding.
Tepat pukul 10 pagi, Abhi kembali meninggalkan gedung kantor. Sebelum dia berangkat, Abhi lebih dulu menghubungi Naura. Tiga kali melakukan sambungan telepon, tapi istrinya menjawab panggilan daringa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengetikan pesan pada Naura.
📨 Tunggu aku di rumah! Nanti selesai sidang aku akan pulang. Peluk, cium untukmu 😘
Setelah mengirimkan pesan itu, Abhi membuka pintu mobil putih miliknya. Ia masuk dan segera melajukan mobil tersebut ke gedung kantor pengadilan. Takut terjebak macet dan akan membuatnya datang terlambat.
Dua puluh menit menempuh perjalanan, mobil Abhi pun sudah berada di area parkir gedung kantor pengadilan. Ia keluar dari mobilnya, disambut beberapa wartawan yang hendak menanyakan tentang kasus Bahtiar. Namun, sepatah katapun tidak ada kata yang keluar dari bibir Abhi. Pria itu memilih berjalan masuk dengan sikap tenang, yang biasa ia tunjukan di depan kamera. Ia berlalu begitu saja, menemui klien Nathan yang sudah menunggunya di depan pintu ruang sidang.
Seseorang menyambutnya dengan ramah, lalu menuntunnya untuk masuk ke ruang sidang. Menangani kasus pak Bahtiar mau tidak mau kini Abhi menjadi pengacara yang cukup terkenal di mata masyarakat. Sebagai pengacara di pihak penggugat, cara kerja Abhi cukup memuaskan. Pria itu menyerahkan bukti bagaimana mereka memasukan barang haram itu ke negara kita. Dan karena bukti itulah, akhirnya Jordan ditetapkan sebagai tersangka. Namun sayangnya, keberadaan Jordan tak diketahui oleh siapapun, pria itu masih dalam proses pencarian. Dan hal itulah yang membuat Abhi was-was akan keberadaan istrinya.
__ADS_1
Meski kasus pak Bahtiar belum selesai ia tangani. Namun, beberapa klien Nathan yakin, jika kasus yang ditangani Abhi akan berhasil dimenangkan olehnya.
Sidang hari ini berlangsung cukup lama, padahal Abhi sudah tidak sabar ingin membaca balasan pesan dari istrinya. Sampai jarum pendek di jam dinding hampir barada di angka dua, sidang itu baru berakhir.
Abhi langsung pamit pulang setelah sidang itu selesai. Ia ingin segera pulang saat menilik ponselnya tidak ada pesan balasan dari Naura. Rasa cemas tiba-tiba hinggap di hatinya saat ini. Karena tidak biasanya Naura bersikap seperti ini. Kalaupun Naura marah, biasanya paling lama tiga puluh menit. Setelah itu Naura akan kembali menyapa dan mengajaknya bercanda lagi.
Abhi lekas melajukan Mini Cooper nya ke arah komplek perumahan. Saat ia tiba di rumah, Art yang biasa membantu Naura masih berada di rumahnya.
“Istri saya mana, Bu?” tanya Abhi saat melihat seorang wanita tengah sibuk menyapu halaman rumahnya.
Wanita itu lekas mendekati Abhi. “Bapak berantem sama mbak Naura?” selidik Yuni. Wanita 50 tahun yang dipekerjakan Abhi. Pria itu bingung, Ia belum paham, kenapa Art nya justru bertanya seperti itu padanya.
“Soalnya, saat saya tiba di rumah—kondisinya sangat berantakan, bahkan meja di depan televisi terbalik. Saya pikir Pak Abhi yang melakukannya!” jelas Yuni, saat melihat raut bingung Abhi.
“Masya Allah, itu ponsel mbak Naura kenapa bisa di bawah kursi sofa, Pak!” Yuni berteriak, saat melihat cahaya layar ponsel yang menyala. Telunjuknya dengan cepat menunjuk ke arah kolong kursi sofa di mana ponsel Naura berada.
Dan benar saja, saat Abhi mengambil ponsel tersebut, pesan yang dia kirim ternyata belum dibuka oleh istrinya. Kecurigaan Abhi mulai menuntut jawaban. Ia menarik nafas dalam, untuk tetap dalam kondisi tenang, supaya bisa mengambil langkah berikutnya. “Okey,” gumamnya sambil meraih ponsel lagi “tenang Abhi.” Dia berusaha menghibur diri, tapi jemarinya tak henti mencari nomor kembaran istrinya. Setelah berhasil menemukan nomor Maura. Abhi lekas meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.
“Hallo, Ra … apa Nana main ke rumahmu?” tanya Abhi saat mendengar suara merdu wanita di ujung panggilan. Maura memang baru saja melahirkan, mereka bahkan belum sempat berkunjung ke rumah saudara kembar Naura. Jadi, ia curiga kalau Naura saat ini berada di sana.
“Nggak, kok. Nana tidak ada di sini. Mungkin ke rumah mama.” Jawaban wanita di ujung panggilan membuat perasaan Abhi semakin cemas. Ia masih enggan kalau harus menghubungi Erik, jadilah ia lebih dulu menghubungi Alea. Tapi, wanita itu juga tidak tahu di mana keberadaan Naura saat ini. Bahkan hampir tiga hari ia tidak menyapa Naura.
__ADS_1
Sampai akhirnya, saat matahari sudah berada di kaki bumi. Abhi menyerah, dia akhirnya memberanikan diri untuk menelepon mertuanya. Tujuan awal untuk menanyakan keberadaan Naura, tidak membuahkan hasil. Erik justru memakinya melalui panggilan telepon.
“Abhi akan mencarinya, Pa! Tolong Papa tenang!” ujarnya lalu menutup panggilan tersebut.
Saat Abhi berjalan ke arah depan rumah, untuk mencari jejak Naura, ia tidak mendapati apapun. Ia kemudian berdiri di samping pintu utama, mengamati sorot lampu temaram yang ada di taman depan. Pandanganya lalu mengarah ke atas sudut teras rumahnya.
“Bodoh!” umpatnya, sambil berjalan cepat ke arah ruang kerja. Berharap semoga para penculik Naura tidak terlalu pintar, sampai memotong kabel cctv yang terhubung ke layar komputernya.
Abhi semakin tidak sabar saat layar di komputer memintanya untuk menunggu. Tanpa menatap lama-lama foto pernikahannya di layar computer, Abhi lekas membuka memori rekaman cctv nya.
Setelah menyetting jam yang akan ditampilkan, layar pun berubah menampilkan Naura yang sedang dipapah oleh seorang pria. Sekarang Abhi bisa melihat wajah-wajah penculik itu memenuhi layar komputernya. Mata Abhi dengan jeli mengamati nomor polisi yang tertera di mobil penculik. Ia merasa tidak asing dengan nomor polisi yang tercatat di sana.
Tulang rahang Abhi mengetat saat menyadari siapa yang membawa istrinya pergi. Ia tidak akan membiarkan mereka bernafas lega jika sesuatu terjadi dengan istrinya nanti. Abhi kemudian menghubungi rekannya. Nathan. Berharap sahabatnya itu mau membantunya membebaskan Naura.
“Kau di mana, Than?” tanya Abhi, saat mendengar sapaan pria di ujung panggilan suara.
“Aku di Bandung, kenapa? Cemas begitu?”
“Ke Bogor sekarang, tempat biasa kita nongkrong! Aku butuh bantuan mu! Aku akan cerita, saat nanti kita bertemu di Bogor!” minta Abhi dengan suara cemas bercampur emosi.
...------- BERSAMBUNG -------...
__ADS_1
...Sudah vote belum?...