
Lanjut ya.. jangan lupa like dan vote.🙏👍
.
.
.
Malam harinya tepat pukul 7 malam Erik menjemput kedua anaknya di apartemen Nadia, dia sudah menghubungi Nadia jika akan segera menjemputnya. Saat tiba di apartemen dia melihat Riella yang membuka pintu apartemen, Nadia yang buru-buru segera berlari ke arah Erik, sekilas Erik melirik ke arah penampilan Nadia yang sedikit terbuka.
“Kenapa ada yang salah?” tanya Nadia saat melihat wajah Erik.
“Bagaimana aku menjawab pertayaan Mamaku nanti? Jika pakaianmu seperti itu,” keluh Erik sambil menyuruh pengasuhnya membawa keluar dengan kedua anaknya.
“Ribet tau nggak sih! Perasaan mantan mertuaku dulu tidak seribet Mamamu,” ucap Nadia, tapi dia segera beranjak dari depan Erik menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Sepuluh menit Erik menunggu Nadia di ruang tv. Hingga kemunculan Nadia yang membuat bibir Erik terangkat ke atas.
“Begini kan cantik,” pujinya sambil merapikan rambut Nadia yang sedikit berantakan.
“Ceh! Cepat ayo! Aku sudah tua ya, nggak butuh gombalan maut darimu!” ucap Nadia yang berjalan mendahului Erik.
Erik mengikuti langkah Nadia, hingga sampai di dekat mobilnya lalu membukakan pintu untuk Nadia, memperlakukan Nadia layaknya pasangan pada umumnya.
“Kita mau makan malam di mana sih Pa? Kenapa Tante mama cantik banget?” puji Riella ketika melihat penampilan Nadia.
“Di rumah Oma,” jawab Erik singkat.
“Ow...,” jawab Riella membulatkan mulutnya sambil mengangguk menatap Kalun yang tengah menatap jalanan.
“Sepertinya kita akan segera punya Mama betulan Kak!” bisik Riella di telinga Kalun. Kalun hanya menoleh sambil melirik ke arah Nadia.
“Nggak! Aku mau jika punya Mama harus lebih cantik dari Mamaku,” jawab Kalun yang juga membalasnya dengan bisikan. Pengasuh yang dari tadi mendengar bisikkan mereka hanya bisa tersenyum tipis.
Sampai di rumah orangtua Erik, mereka sudah disambut oleh Jihan yang sudah berdiri di depan pintu rumah, karena Erik sudah menghubunginya saat tiba di apartemen Nadia.
“Itu Mamaku! Jawab aja ‘Iya’ setiap apa pertanyaanya,” pesan Erik pada Nadia sambil menunjuk Jihan.
__ADS_1
Erik lalu keluar dan membukakan pintu untuk Nadia, sedangkan anaknya sudah berlari ke rumah menghampiri Yusuf, kebetulan di sana ada Bima yang sedang berkunjung ke rumah Jihan, jadi suasana menjadi ramai ditambah dengan kehadiran kedua anak Erik.
“Malam Ma,” sapa Erik saat tiba di depan Jihan. Jihan menjawab dengan senyuman ramah. Lalu menatap ke arah Nadia, dan memberikan senyuman manis ke arah wanita yang berdiri di samping Erik.
“Ini pacar kamu Rik?” Erik hanya diam.
“Kenalin Ma, dia Nadia.” Jihan memeluk Nadia menyambutnya dengan ramah.
“Ayo masuk, Mama sudah menyiapkan masakan enak untuk kalian,” ucap wanita yang sudah tua itu, bahkan tangannya sudah bergetar dimakan usia, rambutnya yang hitam juga bisa dihitung dengan jari, tapi keinginannya sulit untuk ditolak.
“Hai Kak...” sapa Erik saat melihat Bima tengah duduk di sofa tv.
“Gebetan baru! Bisa juga dapat, meski sudah tua,” cibir Bima saat melihat Jihan membawa wanita ke dalam rumah. Erik hanya menjawab dengan senyuman.
“Tumben datang, Kak Mila mana?” tanya Erik yang tidak melihat kakak iparnya.
“Ada di rumah, di Bandung baru ada acara, jadi tidak bisa di tinggalkan,” jelas Bima tanpa menatap wajah adiknya.
“Kapan kamu akan menikahinya?” lanjut Bima bertanya pada Erik.
“Hahaha, jangan bicara seperti itu, Kakak tau jika aku tidak akan menikah lagi, cukup dia yang menjadi cinta terakhirku,” jelas Erik. Tidak lama terdengar panggilan Jihan yang meminta mereka untuk datang ke meja makan. Erik duduk tepat di samping Nadia, seperti sengaja membuat Jihan semakin senang dengan kedekatan Erik dengan Nadia.
“Oma Kalun boleh nambah udangnya lagi?” tanya Kalun yang sangat menyukai udang. Nadia yang mendengar permintaan Kalun langsung mengambilkan karena memang udang itu tepat di depannya. Tingkah Nadia membuat Jihan semakin yakin jika Nadia adalah wanita yang pas untuk mendampingi dan menjadi ibu sambung untuk kedua cucunya.
“Nak Nadia sudah lama kenal dengan Erik?” tanya Jihan sambil menatap ke arah Nadia yang mengunyah makanan.
“Sudah Tante, kita kenal waktu kuliah di Amerika, kebetulan Erik saat itu pacar sahabat saya,” jelas Nadia.
“Memang jodoh nggak ke mana, meski dia pacar sahabatmu, kan namanya bekas nggak akan mau balikkan lagi, hehehe,” ucap Jihan yang mencoba mencari bahan candaan.
“Sudah makan dulu!” peringat Yusuf pada istrinya. Tiba-tiba suara sepi karena mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.
“Sus.. Tolong bawa anak-anak masuk ke kamar!” perintah Jihan pada pengasuh Riella dan Kalun, mereka segera pergi meninggalkan meja makan termasuk Zoya dan Zalina, menyisakan beberapa orang dewasa yang akan membicarakan tentang hubungan Erik dengan Nadia.
“Nadia sudah pernah menikah?” tanya Jihan dengan lembut.
“Su-sudah Tante.” Nadia menjawab sambil menatap ke arah Erik. Jihan hanya tersenyum menanggapi jawaban Nadia.
__ADS_1
“Sudah punya anak?” tanya Jihan lagi yang semakin penasaran.
“Belum tante, ada permasalahan pada fertilitas saya, mungkin dulu juga belum rezeki saya,” jawab Nadia jujur.
“Kamu kerja?” tanya Jihan lagi, membuat Erik menatap ke arah Jihan, karena terlalu banyak pertanyaan yang Jihan lontarkan.
“Saya dokter psikiater Tante, salah satu dokter si rumah sakit Erik,” jelas Nadia.
“Wah, kamu kepincut sama dokter lagi ya Rik, jodohmu memang tidak jauh dari dunia medis,” ucap Jihan di akhiri dengan candaan.
“Stop ya Ma, jangan bertanya lagi, sudah cukup kan pertemuan kali ini, jadi Erik berharap Mama tidak akan mendatangkan anak teman arisan Mama lagi,” ucap Erik menghentikan Jihan yang akan memberikan pertanyaan lagi pada Nadia.
“Hahaha, iya Mama percaya, jika kamu sudah punya pilihan sendiri,” jawab Jihan sambil menggerakkan tangannya yang mulai kebas.
“Lalu kapan kalian akan menikah?” tanya Jihan, membuat dua manusia di depannya itu melongo menatap ke arahnya.
“Kalian sudah sama-sama tua, apa tidak malu jika terus bergandengan tangan kesana kemari seperti anak muda,” jelas Jihan, yang paham dengan reaksi anaknya.
“Bagaimana jika dua bulan lagi setelah lebaran, Mama akan mengurus semuanya, meski tua begini Mama cukup banyak mengenal WO terbaik di Jakarta,” ucap Jihan membuat kedua orang di depannya semakin tegang.
Sandiwara sebagai pacar sewaan kenapa harus berakhir di pelaminan? Batin Erik.
“Maaf Tante, apa itu tidak terlalu cepat? Bahkan saya tidak pernah berpikir ke arah sana,” ucap Nadia saat mendengar ucapan Jihan. Jihan hanya tersenyum membalas ucapan Nadia.
“Usia Tante sudah 73 tahun Tante nggak mau melihat anak Tante terus menderita, atas kepergian istrinya, apa lagi melihat Kalun dan Riella yang terus meminta Mama,” jawab Jihan. Mereka semua yang berada di meja makan menatap ke arah Erik yang wajahnya sudah berubah menjadi tak bersahabat.
“Kalian tinggal menjalani, tanpa harus memikirkan acaranya,” jelas Jihan lagi. Membuat Erik melepaskan nafas lelahnya, dia hanya pasrah ntah mau bagaimana lagi menolak keinginan Jihan. Bima yang mendengar Erik akan menikah lagi, justru tersenyum lebar, karena Erik akan segera melepas masa dudanya.
Mereka mengakhiri acara makan malam yang sangat membosankan di mata Erik. Berbeda dengan Jihan yang terlihat sangat bahagia. Erik segera mengantar Nadia dan membawa anaknya untuk pulang ke rumah, karena sudah bosan berlama-lama berada di rumah orangtuanya.
Bima yang melihat kepergian mobil Erik, menatap kosong taman di depannya, teringat kebersamaan Erik dengannya waktu kecil, dia lalu meraih ponsel di kantong celananya.
“Dia akan menikah, sepertinya sudah saatnya!” ucap Bima saat panggilannya sudah terhubung dengan seseorang yang jauh di sana.
.
.
__ADS_1
.
Thanks untuk jempol dan vote hari ini, jangan lupa untuk dukungannya lagi👍🙏😁