Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Extra Part : Kisah Cinta Naura


__ADS_3

...Selamat Membaca...


“Papa, kira—teleponan saja sudah kenyang?” Wajah Erik tampak cemas, mengingat putrinya itu tidak keluar kamar untuk mengisi perut. “ sedari tadi mama dan kakakmu berteriak memanggilmu! Tak taunya lagi berduaan. Yah, meski terpisah jarak, tapi itu cukup membuat papa cemas.”


Naura terkekeh, “Papa bisa aja, deh! Tenang, Pa! Lagian, kaya, Papa, nggak pernah muda aja!”


“Mudanya papa dan generasi kalian itu ,BEDA! Jadi ... kapan Abhi membawa keluarganya datang?” tanya Erik sambil menepuk ruang kosong di sampingnya. Meminta Naura untuk menjelaskan, meski sebenarnya ia sudah mendengar sebagian perbincangan mereka tadi.


Gadis itu menurut, mendaratkan bokongnya di sofa. “Lusa!” jawab Naura, mencoba mengamati perubahan ekpresi Erik. Tapi ia lega saat melihat ekpresi papanya yang tampak datar. Sedangkan Kalun dan Alby melotot tak percaya. Kalun seolah marah karena keputusan Naura menikah, bisa secepat ini.


“Secepat itu, Na? Kau tak ingin mengenal dia lebih dari sekedar pengacara?” tanya Kalun berusaha protes.


“Kenapa? Ada yang salah, pengenalan setelah menikah?” Erik yang melontarkan pertanyaan itu pada Kalun. “Papa nggak mau, Nana lama-lama pacaran. Ntar, kejadiannya kaya Maura sama Riella!” sindirnya.


Alby yang duduk di seberang Erik tampak terkejut mendengar namanya disebut. Ya, dia sempat tergoda akhirnya menyakiti Maura. Sedangkan Riella, dia bahkan menyerahkan kehormatanya untuk Emil.


“Hanya buang-buang waktu, dan siapa yang dirugikan? Tentu saja pihak wanita!” tambah Erik bersungut-sungut. Ia tidak mau kejadian yang sudah-sudah terjadi di kehidupan Naura.


“Jadi, gimana, Pa? Abhi—apakah pria yang pantas untuk Nana?” tanya Naura, ia mencoba meminta pendapat Erik.


“Sejauh yang papa tahu, dia pria baik, pekerja keras. Dan yang penting dia bisa mengajakmu salat, mungkin!” tatapan Erik tertuju ke arah dua pria di depannya. Dia sengaja mengatakan itu, untuk menyindir mantu dan anaknya yang jarang membentangkan sajadah.


Sedangkan gadis yang tidak lagi muda itu, malu-malu kucing saat mendengar ucapan Erik. “Papa doain ya, semoga Abhi yang terbaik untuk Nana.”

__ADS_1


“Iya, dia pasti terbaik dari yang sudah-sudah. Tapi, kalau kamu menuntut sempurna seperti yang kamu inginkan. Jangan harap itu bisa kamu temui, kodratnya manusia itu ada kelebihan dan banyak kekurangan.” ucap Erik sambil mengacak rambut Naura.


Naura kembali mengangguk. "Nana juga banyak kurangnya."


“Hemmm, jadi, jangan mencintai kelebihannya saja, cintai juga kekurangannya. Contohnya nih, mantannya Abhi yang terus mengejarnya!” sindir Erik.


“Kok—papa tahu?” tanya Naura.


“Tahulah, sebelum dia datang ke sini. Papa juga harus paham siapa Abhi sebenarnya. Jangan kamu kira papa akan diam saja, melihat kamu bergaul dengan pria!” Erik menjelaskan. Benar, yang dia ucapkan, dia terus mengorek informasi tentang Abhi sejak malam itu, mereka kepergok berduaan di apartemen.


“Jadi beneran dia akan, datang lusa?” tanya Kalun lagi.


“Iya, kalau papa mengizinkan.” Naura menjawab ragu, sambil menatap Erik takut.


Naura diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Erik, yang ia tahu—inilah rasanya cinta, berbunga-bunga selalu ingin berada di dekatnya, rindu tak terbendung ingin segera bertemu, dan kalau bertemu jantungnya berdegup cepat.


“Ya, aku mencintainya. Aku sudah dua kali mengalami perasaan seperti ini.” Naura menjelaskan.


“Dua kali?” Erik mengeryit, sepertinya ia merasa melewatkan informasi penting. Naura mengangguk, Erik memang tidak pernah mengetahui jika ia pernah menyukai Hanif.


“Hanif, Pa. dulu saat kuliah Nana sempat menaruh rasa padanya.”


Kalun yang mendengar terpingkal. Ia tahu jika adiknya itu selalu bersama Hanif. Dan ia baru paham sekarang kalau ternyata mereka berdua mempunyai kisah cinta bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


“Yakin? Pria itu menolakmu? Karena apa?”


“Dia kan lebih memilih wanita lain jadi ya, sudahlah. Lagian saat itu Nana yakin, jauh di sana Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk aku!” jelasnya penuh binar kebahagian.


"Jadi, nggak takut nikah, lagi?" tanya Alby, yang mulai berani angkat suara.


"Selama itu Abhi, insya Allah Nana siap!"


“Hah! Sudah mabuk sepertinya kamu, Na! Eh, tunggu! Jadi, karena ini kamu kemarin menolak makan malam dengan keluarga Hanif?” tanya Erik.


“Aku nggak mau media semakin salah paham. Aku dan dia murni hubungan pekerjaan, tidak lebih, rasa itu memang pernah ada, tapi alhamdulillahnya aku dibantu melupakan perasaan itu.”


“Tapi, kamu sudah move on kan, Na?” tanya Kalun.


“Kakak apaan sih? Jelas sudahlah! Hati ini cukup ada papa dan Abhi,” sahut Naura, matanya menatap ke arah Kalun, tangannya memeluk tubuh Erik.


Erik tersenyum tipis, lalu meminta Naura untuk melanjutkan makan malam. Sedangkan dia melanjutkan obrolannya dengan Kalun dan Alby.


"Kita susun lamaran Nana sebaik mungkin, ia harus tahu, kalau menikah tidak semenakutkan yang ia bayangkan." dua pria di depan Erik mengangguk. "pernikahan juga kita buat dua adat yang berbeda. Wah berarti ada tradisi mangain dong yah? Nggak nyangka menantuku berasal dari suku yang berbeda!" ucap Erik panjang lebar. “By, terus aku nanti panggil kamu apa? Calon suaminya Nana, kan juga Abhi?”


“Panggil Boy saja, Pa!” sambar Kalun. “jadi lengkap Bhiboy!” tambahnya.


“Kenapa nggak seperti tokoh kartun kesukaan Leon saja?” Erik berdiri meninggalkan dua lelaki tersebut sambil berdendang, “Boboiboy, ter—baek.” Katanya menirukan gaya Leon yang biasa ia dengar.

__ADS_1


...Besok lamaran, siapkan kain ulos hela jangan sampai keliru ulos saput ya. Dan jangan lupa emas-emasnya dipakai biar blink-blink. 😍...


__ADS_2