
Happy reading jangan lupa like dan vote 👍🙏
.
.
.
Bella terbangun ketika mendengar suara dering panggilan vidio ponselnya, dia mengusap matanya yang masih lengket lalu menatap layar ponsel di tangannya, panggilan vidio dari Axel, dengan malas dia menggeser tombol hijau di layar ponsel, sambil melihat Erik yang masih tertidur nyenyak di sampingnya. Dia belum menyadari jika tubuhnya hanya tertutup selimut tebal.
“Hallo.” Terdengar jelas suara Axel menyapanya. Bella membalasnya dengan senyuman tipis, sambil menatap ke arah telepon.
“Baru bangun tidur?” tanya Axel di ujung telepon.
“Ya, sebentar lagi mau siap-siap ke toko roti,” jawabnya, sambil melirik ke arah Erik yang sudah terbangun.
“Aku nanti malam berangkat, kemungkinan aku tiba di Jakarta besok pagi, apa kamu tidak ingin memberikan yang spesial untukku?” ucap Axel menatap wajah Bella.
“Maksudmu?”
“Kita akan menikah sebentar lagi, bisakah aku menikmati tubuhmu lebih dulu,” jelas Axel yang menatap Bella dengan lekat. Bella melirik ke arah Erik, yang sudah siap ingin memakinya, Bella diam cukup lama membuat suasana hening di ujung telepon.
“Hahaha ..., aku hanya becanda jangan dipikirkan, aku tahu kamu nggak ingin kusentuh sebelum kita menikah,” ucap Axel saat melihat perubahan wajah Bella. Erik yang cemburu segera menekan tombol merah yang ada di layar ponsel istrinya.
“Kamu mau selingkuh di belakang Mas?” teriak Erik yang sudah menatap Bella.
“Terserah Mas mau bilang apa! Apa Mas mau rencana kita gagal?”
“Tapi aku nggak rela Yang ..., jika kamu terus berada di dekatnya, biar Mas saja yang menyelesaikan masalahnya, kamu cukup diam di rumah, memeluk anak-anak kita.” Erik sudah mendudukkan tubuhnya, berharap Bella mengurungkan niatnya untuk menghadapi Axel.
“Kita akan melakukannya bersama, aku mencintaimu, aku tidak ingin kamu terluka atau pergi lagi, sudah cukup 5 tahun saja kita berpisah, jangan sampai kita terpisah lagi,” ucap Bella, “Setiap orang punya kelemahannya, dan aku sudah mengetahui kelemahannya, dan kita akan segera tahu apa yang diinginkan kedua makhluk itu,” lanjutnya meyakinkan Erik.
“Tapi bagaimana jika dia menyentuhmu, itu terlalu beresiko,” ucap Erik yang sudah menenggelamkan kepalanya di dada Bella.
“Itu tidak akan terjadi, aku juga tidak akan rela tubuhku di jamah lelaki lain selain kamu,” ucap Bella sambil menusap rambut Erik.
“Ayo kita pulang! Aku merindukan anak-anakku,” ucap Bella yang mendapat cibiran dari Erik.
“Kau tidak merindukan aku?” Bella hanya menggeleng sambil tersenyum ke arah Erik.
__ADS_1
“Padahal setiap hari aku selalu datang ke makammu, berdiri di sana setiap pagi, berharap kamu mendengar dan merindukanku, tak taunya kamu sama sekali tidak merindukkanku,” gerutu Erik. Bella terkekeh saat mendengar ucapan Erik.
“Tidak taunya, bukan istrimu yang berada di dalam sana, hehehe.”
“Iya tapi aku bahagia, bisa kembali menyentuhmu, memberikan kecupan selamat pagi untukmu, dan bisa ...,” ucap Erik yang sudah membuka selimut yang di kenakan Bella.
“Stop aku mau mandi!” teriak Bella sambil mendorong tubuh Erik untuk menjauh darinya. Dia segera berlari meninggalkan Erik yang menunduk menatap bantal Bella.
***
Erik segera membawa Bella pulang ke rumah setelah selesai sarapan, menuruti keinginan Bella yang merindukan anaknya. Saat tiba di rumah Erik, kedua anaknya pergi ke rumah Jihan, Erik yang mendengar kabar itu, langsung panik karena Bima juga berada di sana. Dengan cepat Erik menarik tangan Bella, membawanya lagi masuk ke dalam mobil.
Erik melajukan dengan cepat mobilnya, saat tiba di depan rumah Jihan, di membuang nafas lega ketika melihat Riella bermain dengan Yusuf di halaman rumah.
“Kakak Kalun mana, La?” Riella hanya menggeleng karena merasa tidak tau keberadaan saudaranya.
Erik berlari ke dalam rumah, menyusul Bella yang sudah mendahuluinya.
“Kalun pergi dengan Bima,” ucap Bella saat bertemu Erik di depan pintu masuk.
“Apa!”
“Kenapa kalian ini? Kalun cuma pergi dengan pamannya,” ucap Jihan yang baru saja keluar dari arah dapur.
“Ma, mereka pergi kemana?”
“Mama juga nggak tau, bilangnya tadi cuma sebentar, tapi sudah sejak jam 8 tadi mereka pergi,” jelas Jihan. Bella menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu, air matanya mulai menetes, dia menyesal sudah meninggalkan anak-anaknya demi menemani Erik.
“Tenanglah ...! Aku akan segera menemukan Kalun,” jelas Erik yang sudah menekuk lututnya di hadapan Bella.
“Apa yang terjadi Rik?” tanya Jihan yang penasaran.
“Nanti aku jelaskan, tolong jaga Lala Ma! Aku akan mencari Kalun ke Bandung, siapa tau Bima membawanya pergi ke sana,” ucap Erik yang sudah akan beranjak pergi. Baru dua langkah dia meninggalkan Bella, terdengar suara Bella menghentikan langkahnya.
“Mash ..., hati -hati jaga dirimu jika kamu menyayangiku,” pesan Bella sebelum Erik meninggalkannya. Erik kembali mendekat ke arah Ella, mengecup singkat bibir Bella.
“Pasti, demi kamu dan mereka, tunggu aku pulang, aku akan menyelesaikannya sekarang juga,” jelas Erik yang sudah memeluk tubuh Bella.
Dia lalu benar-benar pergi meninggalkan Bella bersama kedua orangtuanya, Bella menatap ke arah Jihan yang dari tadi terus menatapnya, mencoba mencari jawaban dari Bella, dia meminta Bella menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga anaknya.
__ADS_1
Bella masih diam, sambil menatap wajah keriput Jihan, dia mencoba menjelaskan bagaimana keadaanya selama ini, dan mencoba memberikan pengertian kepada Jihan kenapa Bima melakukan itu pada keluarganya.
“Jadi kamu Lala?” Bella mengangguk membenarkan ucapan Jihan. Dia menangis keras di ruang tamu, membuat suaminya segera mendekat ke arahnya.
“Bima pa ... Bima membawa Kalun pergi!” ucap Jihan di tengah tangisnya.
“Dia menginginkan warisan yang kita berikan pada Kalun,” jelas Jihan yang memeluk suaminya.
“Tenangkan dirimu! Jangan menangis itu akan memperpendek usiamu,” jelas Yusuf yang dibumbui candaan. Jihan lalu mendorong tubuh suaminya. Hingga suaminya jatuh di sofa.
Bella segera meraih ponsel yang ada di dalam tas, dia menggeser tombol hijau, menerima panggilan dari Haikal.
“Di mana kamu La?”
“Di rumah, mertua. Ada apa?”
“Bagaimana kamu bisa di sana, semalaman aku dan Nindi menunggumu!” ucap Haikal di ujung telepon.
“Apa ada masalah?” tanya Bella.
“Ya jelas, ada masalah besar menimpamu, mereka sudah mengetahui jika ingatanmu sudah kembali,” jelas Haikal.
“Nggak! Nggak, mungkin itu terjadi, Axel tadi pagi baru saja meneleponeku!” sahut Bella yang tidak percaya.
“Seperti kamu, dia hanya berpura-pura,” jelas Haikal yang mulai geram dengan ucapan Bella.
“Berarti Kalun!”
“Ada apa dengan Kalun?” tanya Haikal yang ikut panik.
“Kalun dibawa pergi Bima,” jawab Bella yang langsung mematikan panggilan dari Haikal, berpesan pada kedua orangtua Erik untuk menjaga Riella dengan baik.
Dia meninggalkan rumah mertuanya dengan membawa mobil yang ada di garasi, dia hendak meminta bantuan pada kakaknya, karena dia tidak akan mungkin membiarkan Erik berjuang sendiri menghadapi orang selicik Axel dan Bima.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC