Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Baby Kalun


__ADS_3

Happy reading, pokoknya jangan lupa untuk like ya👍😊


.


.


.


.


“Siapa nama anak kita Yang?” tanya Erik pada Ella.


“Baby K.”


“Kenzie?” tanya Erik yang menebak huruf K tersebut.


Ella tersenyum ke arah Erik, sambil membalas pelukkan Erik.


“Aku tidak akan mengizinkanmu memberikan nama itu!” Erik berucap sambil menatap istrinya.


“Nggak papa Kenzie juga bagus kok,” sahut Jihan yang memdengar obrolan mereka. Ella hanya bisa tersenyum tipis di wajah letih dan pucatnya.


“Beneran Yang? Kamu menamai dia Kenzie?” tanya Erik yang masih penasaran dengan nama anaknya.


Cup


Ella memcium pipi suaminya agar sedikit meredakan emosi Erik. Jihan dan Yusuf hanya terkekeh melihat kemesraan anak dan menantunya yang tidak tau malu.


“Enak saja Kenzie, ya bukanlah Pa.” Erik tersenyum senang saat mendengar panggilan baru untuknya, dia lebih bahagia lagi karena nama anaknya bukan Kenzie seperti mantan calon suami istrinya.


“Lalu siapa?” tanya Erik sambil memeluk erat Ella.


“Kalundra Ananda Ramones.” Erik tersenyum saat mendengar anaknya membawa namanya di belakang, tak beda dengan kedua orang tua Erik yang masih bahagia menimang-nimang cucu laki-laki pertamanya itu, karena anak ketiga Bima kemarin cewek lagi.


“Siapa panggilannya Ma?” tanya Erik menghadap ke arah Ella.

__ADS_1


“Nanda.” Sahut Jihan cepat saat mendengar ucapan Erik.


“Bukan Oma? Aku tanya ke Mamanya bayi itu.” Jihan mendengus kesal saat mendengar ucapan Erik. Sedangkan Ella hanya terkekeh sambil mengusap lengan suaminya.


“Boleh juga di panggil Nanda,” jawab Ella.


“Tapi aku pengenya lebih ke nama depannya, Kalun atau Andra,” ucap Erik menambahkan.


“Terserah Mas saja, aku hanya akan merutimu.” Erik tersenyum saat mendengar ucapan Ella lalu dia mendekat ke arah bayinya.


“Baby Kalun..., sini sama Papa tampan!” ucap Erik sambil menyentuh pipi anaknya.


“Baru tidur anakmu jangan diganggu,” maki jihan yang masih menggendong cucu barunya. Erik lalu mencium kasar pipi anaknya membuat Kalun menangis keras karena merasa terganggu.


“Nah, kan!” teriak Jihan sambil memukul pundak anak bungsunya itu.


“Ma..., jangan teriak nanti Kalun kaget!” maki Erik saat mendengar tangisan anaknya, dia lalu tersenyum ke arah Jihan.


“Kamu yang gangguin kok Mama yang disalahin!” maki Jihan, Erik semakin tertawa keras, lalu segera mengambil anaknya dari tangan Jihan.


“Kasih Mamanya Rik, jangan dibiarkan menangis terlalu lama,” perintah Jihan saat masih mendengar tangisan baby Kalun.


“Kamu hauskah?” tanya Erik sambil mendekat ke arah Ella. Ella segera menerima bayinya saat melihat Erik menyerahkan ke tangannya.


“Dia nggak mau nyusu?” tanya Erik saat melihat Kalun masih menangis, lalu mengambil kembali bayinya dari tangan Ella.


“Kenapa Kalun? Maafin Papa ya ..., tadi sudah ganggu tidurmu, atau kamu di gendong Opa?” tanya Erik sambil membawa anaknya ke samping papanya.


Yusuf yang mendengar itu hanya tersenyum lalu mengambil bayi Erik.


“Kenapa? kamu nggak mau ya megang perusahaan Papamu yang kecil itu? Opa akan kasih harta Opa ke kamu deh ya, tunggu sampai kamu 20 tahun, tapi mungkin Opa sudah pulang ke rumah Allah.” Jihan yang mendengar ucapan suaminya langsung melotot karena suaminya itu bicara soal kematian, tapi anehnya baby Kalun langsung terdiam saat mendengar ucapan opanya yang sudah tua.


“Enak saja kecil! Coba Papa berkunjung sana ke Jerman tanya mereka kenal Erik nggak? Papa pasti bangga deh nanti sama Erik,” ucap Erik.


“Iya iya. Tapi Papa bangganya bukan sama kamu, tapi sama Yohan, hahaha...,” sahut Yusuf sambil tertawa keras membuat bayi Ella kembali menangis karena kaget. Keluarga besar itu sangat bahagia dengan kehadiran anggota baru mereka, apalagi Erik yang selalu tersenyum bahagia saat para dokter di sana datang ke ruangan dan mengucapkan selamat menjadi papa baru.

__ADS_1


***


Setelah kondisi ruangan sepi, Erik segera menyuruh Ella untuk beristirahat, Erik menyanggupi jika dia akan mengganti popok Kalun saat bayinya terbangun nanti.


“Panggil perawat Pa, kalau kamu juga capek!” perintah Ella yang sudah merebahkan tubuhnya.


“Nggak usah, Mas masih sanggup kok, kalau hanya begadang semalam,” ucap Erik. Ella yang mendengar itu mulai memejamkan matanya, karena dia merasa lelah dan letih pasca melahirkan.


Dan benar saja setiap 30 menit Kalun terbangun karena merasakan basah di popoknya, dan Erik dengan sabar menggantikan popok bayinya.


Hingga pukul 3 dini hari, bayi itu tidak mau memejamkan mata lagi, matanya terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak menangis, mungkin dia mengerti dan tidak ingin menganggu ibunya. Hingga menjelang fajar Kalun mulai memejamkan mata kembali, terlelap dalam pelukkan Erik. Erik yang matanya mulai mengantuk segera memejamkan matanya setelah meletakkan bayinya ke dalam box bayi. Sampai terdengar suara Ella memanggil dia baru membuka matanya kembali.


“Pa ...,” panggil Ella lembut pada Erik yang tertidur di sofa.


“Aku pengen mandi,” ucap Ella saat melihat jam di dinding sudah pukul 7 pagi. Erik pelan-pelan membuka matanya, sambil mengusap wajahnya. Sejenak dia meregangkan tubuhnya, memastikan otot-otot tubuhnya sudah terletak pada posisinya masing-masing.


“Ayo!” ucap Erik yang akan mengangkat tubuh Ella.


“Baby Kalun gimana?” tanya Ella yang khawatir.


“Biar saja, banyak perawat jaga di luar,” jawab Erik yang sudah mengamgkat tubuh Ella lalu membawanya masuk ke kamar mandi.


Erik mulai melepaskan baju rumah sakit yang Ella pakai, Ella menutupi perutnya yang terlihat sangat buruk di matanya itu.


“Kenapa?” tanya Erik sambil menyalakan air.


“Tubuhku jadi jelek, tidak cantik lagi,” jawab Ella yang masih menutupi bagian perutnya. Erik hanya terkekeh di tengah wajah kantuk yang dia rasakan.


“Mau kamu jelek ataupun kamu keriput, rambutmu berubah menjadi putih, bandanmu membesar, kamu akan selalu jadi orang yang akan Mas cintai, lepaskan tanganmu tidak usah malu,” ucap Erik, “Perutmu seperti ini juga gara-gara Mas yang menghamilimu,” lanjutnya sambil tersenyum, lalu mulai memberikan sabun ke tubuh Ella, mencuci rambut Ella hingga bersih. Terakhir mencuci bagian bawah Ella, karena Ella tidak bisa duduk maupun berjongkok. Ella yang malu hanya berusaha menahan tangan Erik supaya segera menghentikannya. Erik hanya terkekeh saat mengingat proses melahirkan istrinya.


“Terimakasih ya..., sudah melahirkan anakku,” ucap Erik sambil mengecup bibir Ella.


“Kamu mau sampai berapa kali Pa, akan mengucapkan kalimat itu.”


“Sampai seumur hidup Mas,” jawab cepat Erik. Sambil memakaikan handuk di tubuh Ella lalu membawanya ke depan kaca, mengambil semua perlengkapan perawatan pasca melahirkan termasuk memberikan minyak zaitun di kulit perut Ella. Setelah selesai dia menggendong Ella masuk kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


“Kalun kemana Mas?” tanya Ella saat tidak melihat box bayi di samping ranjangnya. Erik yang baru menyadari segera berlari keluar untuk mencari anaknya. Ella yang panik ingin segera berlari keluar tapi apalah daya bahkan berjalan pun dia masih belum sanggup, dia hanya akan menunggu suaminya menemukan bayinya.


__ADS_2