Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Bulan Madu 1


__ADS_3

Drrrtttt ... Drrrtttt ... Drtttt


Terdengar suara getar ponsel Ella yang di letakkan di meja samping tempat tidurnya, Ella yang masih terlelap belum bisa bergerak sama sekali karena pelukkan tangan suaminya. Selimut tebal masih menutupi tubuh mereka berdua yang masih bertelanj*ng. Mereka benar-benar menikmati berduaanya tanpa gangguan dari kedua anaknya.


Sudah dua hari mereka berada di Paris, tapi Erik belum mengajak Ella pergi untuk jalan-jalan. Hari pertama tiba, mereka memulihkan tenaga dulu, karena Ella mengalami jet leg, dan hari kedua Erik tidak membiarkannya turun dari kasur empuk yang di tinggalinya saat ini, dan hari ini hari ketiga untuk mereka berbulan madu, semoga Erik mengajaknya untuk berkeliling kota Paris.


Bunyi ponsel masih terasa getarannya, Erik mulai menggeliat, karena terganggu dengan suaranya. Matanya masih lengket, tapi pikirannya sudah mulai bekerja di alam nyata.


Cup.


Erik mencium wanita di pelukkannya, dengan mata yang masih terpejam. Dia pelan-pelan meletakkan kepala Ella ke bantal, tangannya terulur mengambil ponsel Ella yang bergetar karena suara panggilan vidio. Dia mulai menempelkan ponsel itu di telinganya.


“Hallo Papaaaa ...,” sapa Kalun dan Riella bersamaan.


“Heemmm ...,” balas Erik dengan malas, karena dia baru tidur sekitar tiga jam.


“Pa ..., wajah Papa mana?” tanya Riella saat melihat layarnya bewarna hitam.


Ella yang merasa mendengar suara cempreng anaknya, perlahan mulai membuka matanya, dia mengusap matanya yang lengket, melihat Erik yang sudah menatap layar ponsel di depan wajahnya.


“Pa ..., Riella kangen.” Riella merengek saat melihat wajah Erik yang baru bangun tidur.


“Iya, tunggu ya. Papa belum beli oleh-oleh buat Riella dan Kalun, jadi belum bisa pulang,” ucap Erik sambil melirik ke arah Ella yang tengah mengancingkan pakaiannya, tangan Erik yang jahil berusaha menahan tangan Ella supaya tidak melanjutkan lagi.


“Mama mana Paaa ...?” Erik mengarahkan kemera ponselnya ke arah Ella yang berada di sampingnya, saat kalun menanyakan Ella.

__ADS_1


“Hai anak Mama, sudah mengerjakan PR?”


“Sudah dong Ma, adik yang belum, soalnya adik main terus,” adu Kalun pada Ella, karena saat di rumah Damar, Riella lebih senang bermain dari pada harus belajar.


Mereka ngobrol cukup lama, Kalun dan Riella menceritakan kegiatannya saat dua hari tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Erik segera menutup ponsel karena sudah terlalu lama bertelepon, dia sedikit tidak suka, karena waktu berduannya terganggu.


Erik terus menatap ke arah wajah Ella yang masih menatap layar ponselnya. Dia lalu membawa Ella ke dalam pelukkannya.


“Kenapa lagi? Masih kangen dengan mereka?” Erik menaikkan dagu Ella, agar Ella menghadapnya.


“Baru tiga hari kita berpisah. lihatlah aku di sini, suamimu yang tampan ini selalu berada di sini.”


“Kita nggak usah dua minggu saja ya? Aku sudah terlalu lama berpisah dengannya,” tawar Ella yang masih berada di pelukkan Erik.


“Apa satu minggu tidak cukup untuk kita, Hum?” tanya Ella yang tidak ingin menerima penolakkan dari suaminya.


“Kurang sekali, sudahlah kita nikamati saja 11 hari tersisa kita,” jawab Erik, “Bersiaplah ayo kita jalan-jalan!” lanjutnya yang sudah melepaskan pelukkan Ella.


Satu jam kemudian Erik membawa Ella keluar dari hotelnya menginap, hotel yang di pilihkan Damar terbilang cukup mewah, dari dalam kamar hotel mereka bisa melihat keindahan Menara Eiffel, jarak hotel dengan Menara Eiffel cukup dekat, hanya butuh waktu 15 menit berjalan kaki, mereka akan tiba di menara yang wajib dikunjungi saat berada di Paris itu.


Di Paris saat ini sedang musim gugur, jadi mereka bisa berjalan-jalan tanpa gangguan cuaca buruk, tapi tetap saja mereka berdua memakai jaket tebal, karena suhunya berada di bawah 24 derajat. Hari pertama Erik mengajak jalan-jalan Ella dengan menggunakan Rer, dia hanya ingin berkeliling saja, belum ingin menginjakkan kakinya di tempat wisata.


Wajah Ella terlihat muram, saat Erik tidak juga mengajaknya turun dari Rer yang mereka tumpangi.


Lelaki memang egois, pengennya dimanjain giliran ngajak jalan-jalan cuma naik Rer saja, kalau begini di Jakarta juga bisa, kenapa harus ke Paris. Batin Ella yang melirik Erik tengah terlelap.

__ADS_1


Kereta bawah tanah itu akhirnya berhenti di pusat pembelanjaan kota Paris La Vallee Village, setelah lama berpikir akhirnya Ella membangunkan suaminya, dan mengajaknya jalan-jalan, ini memang yang pertama dia pergi ke Paris, tapi dia sudah tau jika tempat itu tempat barang-barang branded di jual.


Erik hanya mengikuti langkah Ella yang mengeliling toko demi toko, bahkan kakinya sudah mulai kram karena kecapean. Dia heran sekali dengan istrinya, berulangkali memasuki toko itu, tapi tidak ada satu pun barang yang istrinya beli.


“Kenapa nggak jadi beli?” tanya Erik.


“Mahal!” Ella menjawab dengan singkat tanpa melihat perubahan wajah Erik.


“Hey jangan kamu kira suamimu ini nggak punya uang, kita sudah capek-capek jalan kaki, memasuki semua toko, tapi zonk! Nggak ada satu barang pun yang kamu ambil!” ucap Erik yang mulai menaikkan nada bicaranya, dia lalu berjalan mendahului istrinya. Meninggalkan Ella yang masih berdiri mematung di sana, Ella menggelengkan kepalanya, bukan karena dia nggak mau membeli, tapi memang barang yang dia lihat, tidak sesuai dengan seleranya. Dia berjalan pelan mengikuti langkah Erik yang semakin jauh darinya, dia juga capek.


Katanya orang kaya! Kenapa tadi naik Rer nggak naik mobil saja, kalau beginikan jadi double capeknya. Awas saja nggak ada jatah buat nanti malam. Batin Ella sambil menatap tajam ke arah punggung suaminya yang masih terlihat.


Dia duduk sejenak di kursi dekat taman, tidak mempedulikan Erik yang sudah berada jauh darinya. Entahlah dia lelah, kalaupun nanti dia tersesat dia tinggal meminta orang untuk mengantarkannya ke The Peninsula Paris, beruntung dia punya otak yang encer untuk mengingat nama hotel tempatnya menginap. Cukup lama Ella terdiam di sana, bahkan dia tidak melihat lagi punggung suaminya saat ini.


Ella masih enggan beranjak dari kursinya, masih betah melihat daun-daun yang dihinggapi banyak burung di sana. Dia menatap ponsel di tangannya, bahkan Erik tidak menghubunginya, atau memberi kabar padanya posisinya saat ini. Dia pasti juga nggak akan jauh dari tempatnya berhenti, karena semua kartu ada padanya. Dia hanya membawa beberapa lembar mata uang asing saja.


“Dia nggak balik lagi?” lirih Ella saat tidak melihat Erik di sana.


“Bodoh amatlah, males juga naggepin lelaki tua itu, maunya di manjain, giliran ngajain jalan malah ribut!” lirihnya lagi yang sebenarnya kecewa dengan kelakuan Erik.


Ella masih belum beranjak dari duduknya, dia justru mengenakan earphone di telinganya, sengaja mendengarkan lagu di ponsel yang dia bawa. Menyalakan lagu kesukaanya. Sambil mengeratkan tangannya ke tubuhnya, supaya lebih hangat, karena cuaca yang semakin dingin.


~


Jangan lupa untuk like dan vote ya!

__ADS_1


__ADS_2