
Happy reading, semoga suka dengan cerita saya, jangan lupa 👍🙏
.
.
.
.
.
Sore ini Ella mengikuti syukuran yang diadakan oleh mama mertuanya, dia mengenakan baju kaftan yang senada dengan kakak ipar dan mama mertuanya, sedangkan Bima dan papa Yusuf juga mengenakan baju dengan warna yang sama, sedangkan Erik masih berada di rumah sakit berkutat dengan alat USG.
Pukul 4 sore acara pengajian dimulai, para tamu yang di undang adalah anggota sosialita mama Jihan dan tetangga komplek, serta beberapa anak panti asuhan yang sering di datanginya, Ella hanya menatap ibu-ibu kalangan atas itu, mereka datang dengan gayanya yang glamour, bicaranya pun tak kalah menarik perhatian komunitasnya, membicarakan emas baru, tas branded, jumlah asetnya, bahkan dengan mudahnya menawarkan para anak-anak mereka, kebiasaan para wanita jika mereka sudah bertemu bicaranya kemana -mana, menggunjing sana-sini, tanpa peduli jika ada pak ustadz yang sedang menyampaikan ceramah di depan.
Tepat sekali, hari ini tema ceramahnya tentang kesabaran, seolah menjadi motivasi sendiri bagi Ella, setiap apa yang disampaikan, seolah menguatkan hatinya untuk selalu bersabar dalam setiap cobaan dan penantian.
Acara demi acara sudah dilewati, sebagian tamu ada beberapa yang sudah pulang, karena sudah selesai menikmati santapannya, anak panti juga sudah di antar oleh sopir mama Jihan.
Ketika Ella hendak mengambil makanan ada seorang ibu-ibu menghampirinya, wajahnya sangat cantik dan anggun, mungkin usianya sama seperti mama mertuanya.
“Ya Tante, kenapa?” jawab Ella menjawab sapaan perempuan itu.
“Apa kamu menantu Jihan? ” Ella hanya tersenyum mengangguk sebagai jawaban, dia masih bersikap sopan mengingat orang di depannya ini sudah lebih tua darinya.
“Aku kira kamu yang hamil! Ternyata bukan ya? Kasian Erik sudah tua belum juga punya anak, coba dulu nikah dengan anakku, pasti deh sudah punya anak,” ucap ibu-ibu di depan Ella, tak lama datang dua rekannya yang sama glamour nya.
Ella hanya menatap lembut wanita paruh baya itu, tapi wanita itu menatap Ella dengan tatapan tidak suka, entah kenapa ingin sekali Ella mengambil plaster dan menutup kedua mata wanita didepannya itu.
“Kenapa diam saja? Jangan-jangan kamu mandul ya? Nggak bisa punya anak? Kasian Erik ganteng-ganteng nggak punya keturunan,” ucapnya lagi yang membuat Ella memejamkan matanya demi meredam emosinya.
“Ijinkanlah Erik menikah dengan anak saya, pasti anak saya akan setuju walau dijadikan yang kedua, biar anak saya yang akan melahirkan anak-anak Erik,” ucapnya lagi, emosi Ella semakin tinggi, dia tidak menangis, dia hanya kesal dengan wanita yang dari tadi mengoceh tak jelas itu.
“Jaga mulut Tante!” teriak kasar Ella, lalu terdiam menatap tajam wanita di depannya itu.
“Sampai aku mati, aku nggak akan merestui jika Mas Erik menikah lagi. Apa anak Tante tidak laku, sampai-sampai Tante mengobral anak Tante itu,” ucap Ella dengan suara keras, namun tiba-tiba wanita tua itu menampar pipi kiri Ella dengan keras, membuat mama Jihan langsung berlari ke arah Ella.
“Inikah pilihan Erik Ji? Wanita murahan, nggak punya etika sama sekali! Sepertinya menantumu yang satu ini kurang didikan orangtua ya? ” Ucapnya kasar, membuat Ella bertambah emosi.
__ADS_1
“Jangan bawa-bawa orangtua saya Tan! ” ucap Ella sambil menatap sinis wanita tidak tau diri itu.
“Kenapa? Apa latar belakang keluargamu kurang baik? Hingga kamu harus menutupinya? ” ucapnya dengan tertawa sinis ala ibu-ibu sosialita, Ella menatap wanita beruban itu, memindai dari atas sampai bawah.
“Oh... Jadi tante tidak tau siapa keluarga saya? Jangan -jangan tante pura-pura kaya ya, biar bisa masuk di kehidupan sosialita, tas palsu, emas palsu, dan baju ini pasti juga dibeli di Tanah Abang,” ucap Ella yang menbuat Jihan menggelengkan kepalanya, jihan tidak mampu melerai perdebatan wanita berbeda usia itu.
Sedangkan wanita beruban itu kembali mengangkat tangannya, hendak menampar Ella lagi, tapi tangannya dicekal oleh seseorang.
“Siapa Tante berani menyentuh istri saya! ” bentak Erik yang baru datang, bahkan dia masih memakai jas sneil putihnya.
Wanita itu menatap Erik dengan tatapan bingung.
“Erik? Kamu lupa dengan tante? Ini tante mamanya Endang, teman kamu waktu kecil, kamu lupa? ” ucap wanita paruh baya itu.
“ Bahkan aku tidak kenal dengan wanita bernama Endang! ”Jawab kasar Erik sambil menghempaskan tangan wanita tua itu.
“Pergilah sebelum emosiku kembali tinggi! Aku tidak ingin melihat wajahmu disini! ” ucap Erik dengan tatapan dingin, wanita itu terdiam ketakutan dia lalu menatap ke arah Ella, dengan tatapan tidak percaya, seolah berkata urusan kita belum selesai aku akan membalas dendam.
Setelah kepergian wanita itu, Ella bermaksud meminta maaf pada mertuanya atas tindakannya yang kelewatan. Ella mendekat ke arah mama Jihan, meraih tangan yang sudah mulai keriput itu.
“Sudahlah lupakan! Mama sudah tau jelas sifatnya,” ucap Jihan pada Ella.
“Nggak papa, Cuma masalah kecil,” jelas Jihan.
Erik yang melihat pipi Ella merah langsung menghampirinya, lalu membawanya ke dalam kamar miliknya, dia mendudukkan tubuh istrinya itu di ranjang.
“Apa yang terjadi Yang? Kenapa dia menamparmu? ” tanya Erik yang sudah kembali dari dapur membawa air dingin, lalu mengusapkan di pipi istrinya.
“Nggak papa Mas, semua sudah berlalu, aku juga salah karena aku bicara kasar pada ibu itu,” jelas Ella, dengan Erik yang masih mengobati bekas merah dipipinya, Ella menikmati wajah Erik yang sangat dekat dengannya itu, bahkan deru nafas Erik mengenai pipinya, Ella tiba-tiba memeluk erat Erik, seolah tidak ingin Erik pergi dari hidupnya, yang membuat Erik bingung dengan tingkahnya.
“Kenapa hum? ” tanya Erik.
“Mas nggak boleh nikah lagi ya! Mas hanya milikku,” ucap Ella sambil mengeratkan pelukkan Erik, seperti memeluk boneka kesayangannya.
“ Bukannya tadi siang kamu sendiri yang minta mas buat poligami ya? ” goda Erik pada Ella, Ella menatap mata Erik dengan sendu.
“Tadi siang hanya becanda Yang! ” jelasnya.
“Becanda jangan hal seperti itu, takutnya nanti dicatat sama malaikat, terus dikabulkan sama Allah, bagaimana? ” Ella yang mendengar itu langsung melepaskan pelukanya karena merasa menyesal dengan ucapannya tadi siang, Erik hendak membawa Ella ke dalam pelukannya lagi tapi getar suara ponselnya mencegahnya. Dia lalu mengangkat telepon dari Yohan.
__ADS_1
“Kenapa? ” tanya Erik setelah tersambung.
“ ............ ”
“Bagaimana bisa begitu Yo? ”
“ ............... ”
“Baiklah aku akan berangkat malam ini juga,” ucap Erik singkat lalu mematikan sambungannya.
Dia lalu menatap Ella, dan duduk di samping istrinya.
“Yang sepertinya mas harus pergi ke Australia,” ucap Erik sambil menatap Ella, Ella segera menoleh ke arah Erik, karena dia tidak ingin ditinggal lagi.
“Kenapa? Kok mendadak?” tanya Ella.
“Ada masalah disana? Dan harus mas sendiri yang bisa menyelesaikannya,” jelas Erik.
“Aku ikut!” ucap singkat Ella.
“Nggak! Terlalu bahaya Yang,” jelas Erik.
“Berapa lama?” tanya Ella lagi.
“Secepatnya mas akan pulang,” ucap Erik sambil membawa Ella kedalam pelukkannya.
“Mas... Kalau bahaya berarti disana banyak musuh dong?” ucap Ella.
“Iya, makanya mas nggak ngizinin kamu ikut,”
“Lalu bagaimana denganmu Mas?”
“Jangan khawatirkan mas, aku akan pulang dengan keadaan baik-baik saja,” ucap Erik.
“Kupegang janjimu,” ucap Ella sambil mencium pipi suaminya.
“Mas nggak akan mati, jika belum berhasil menghamilimu,” canda Erik pada wanita di depannya itu.
Setelah berduaan di kamar, Ella mengantarkan Erik ke bandara, karena Erik harus berangkat ke Australia malam ini juga, dan Ella pulang ke apartemen milik Erik, dia tidak ingin ada mulut-mulut tajam lagi yang akan menyakiti hatinya.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca kisah Erik dan Ella, Author berharap kalian suka dan like serta votes yang banyak.🙏👍