
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan voters ya.🙏👍
Ella Pov
Hari pernikahanku kurang dua hari lagi, keluarga dari Bali juga sudah datang, rumah ayah semakin ramai dengan kedatangan sepupuku. Aku bahagia karena sebentar lagi akan ada orang yang selalu di sampingku, melindungi dan menjagaku, tak lama kudengar panggilan ayah menyuruhku turun kebawah karena katanya ada Mas Erik yang ingin bertemu.
" Yah, maaf Lala nggak bisa nemui dia yah, " ucapku saat ayah sudah masuk ke kamarku.
" Apa dia menyakitimu, kenapa kamu seperti ini La, dia terlihat sangat kacau disana, " ucap ayah.
" La... " tiba- tiba terdengar suara Mas Erik dari luar pintu kamar yang memang tidak ayah tutup.
" Bicaralah, selesaikan masalah kalian, ayah akan keluar dulu, " ucap ayah lalu meninggalkanku dan Mas Erik di kamarku.
" Kenapa? ada apa lagi Mas? kalau Mas ke.sini hanya untuk memintaku membatalkan pernikahanku, maaf karena aku tidak bisa memenuhinya, " ucapku pada Mas Erik.
" La, Mas cuma mau minta maaf atas kejadian waktu itu. Mas janji nggak akan ganggu lagi hidupmu jika kamu memaafkan Mas, " ucap Mas Erik tulus.
" Pergilah Mas, aku sudah memaafkanmu, dan aku berharap kita tidak akan bertemu lagi," ucapku yang sudah tidak dapat menahan rasa sedihku , nggak tau kenapa hatiku juga sedih melihatnya kacau seperti itu.
" Jangan bicara seperti itu La? apa segitu bencinya kamu sama Mas La, apa memang tak ada cinta untuk mas sedikitpun, " tanya Mas Erik padaku.
" Jangan seperti ini Mas kumohon, aku nggak kuat melihatmu rapuh seperti ini, jangan lagi tanyakan cintaku untukmu, karena sampai kapanpun rasa itu akan tetap ada, tapi cintaku pada Zie jauh lebih besar." ucapku dalam hati.
" Mas sudahlah, aku memaafkanmu, itukan yang kamu minta, " ucapku tegas karena ingin dia segera pergi karena aku sudah tidak tahan melihatnya bersedih.
" Baiklah, Mas akan pergi La, semoga kamu bahagia dengannya, " ucap Mas Erik lalu segera dia pergi meninggalkan aku.
Aku pun menangis setelah dia pergi, aku dulu memang mencintainya, tapi sekarang posisinya sudah digantikan oleh Zie.
" Maaf kan aku Mas, " ucapku lirih,
kulihat kepergiannya dari jendela kamarku, lama aku menatapnya hingga mobilnya tak terlihat lagi.
" Maaf Mas, maafkan karena penantianmu berujung seperti ini, " ucapku lagi, karena merasa sesak di dada mengingat kesedihannya.
" Aku harus bahagia, agar dia lebih mudah melupakanku, " ucapku bermonolog sendiri agar tidak teringat wajah sedih Mas Erik.
" Semoga dia juga bisa mendapatkan jodoh yang terbaik, " ucapku lagi.
__ADS_1
Aku pun meraih ponselku berniat menhubungi Zie, namun setelah kutelepone ponselnya tidak aktif, terakhir dia menghubungiku semalam sebelum tidur dia bilang kalau dia merindukanku.
" Semoga hanya lowbat baterainya, " ucapku lirih. Setelah aku tenang aku pun segera berjalan ke bawah untuk menemui keluarga besarku yang sudah berkumpul, aku menyapa keponakanku satu persatu yang sekarang sudah remaja, mereka membrondongiku tentang kuliahku di Sydney.
" La, mau bulan madu kemana? " tanya tante Sinta adik dari ayah yang sudah duduk disampingku.
" Di rumah saja tant, Zie sudah menyiapkan rumah buat kita berbulan madu, " ucapku sambil menggoda tante karena tau maksudnya.
" Nggak mau ke Bali? " tanya tante Sinta.
" Ogah, ntar disuruh jagain anak tante, " tolakku pada tante Sinta.
" Di sana saja, nanti kamu tidur kamar atas, biar nggak terdengar anak- anak hahaha, " goda tante Sinta.
" Kalau pun Lala kesana, nggak mau Ella nginap di rumah tante, nggak jadi liburan malah pulang- pulang jadi stress kurang liburan, " ucapku.
" Hehehe bisa saja kamu, nanti tante kenalin bule- bule kece teman tante. " ucap tante Sinta.
" Nggak mau, Zie aja sudah cukup, " ucapku ketus.
" Terus Erik tadi gimana nasibnya, ? " tanya tante Sinta sambil menatapku.
" Kenapa tadi nggak nanya, " ucapku sambil tersenyum kearahnya lalu berjalan meninggalkan tante Sinta.
" Kamu sudah siap La? " teriak tante Sinta bertanya kearahku.
" Siap apa? " ucapku yang memang tak mengerti.
" Siap digempur, " jawabnya cepat
" Tante! " teriakku lalu segera berjalan meninggalkan tante Sinta menuju kamarku. percuma menanggapi tanteku sang agak hyper itu.
*****
Hari pernikahan semakim dekat, besuk statusku akan berubah menjadi istri orang, hari ini Zie akan datang kerumah mengikuti acara pengajian bersama para tetangga dan anak- anak yatim. Aku sudah sangat merindukannya, sudah empat hari aku tak melihat wajahnya, aku pun menatap diriku dalam pantulan cermin, kaftan berwarna dusty pink yang melekat ditubuhku membuatku tampak anggun. Aku pun segera turun kebawah saat tante Sinta memanggilku, dia menggandeng tanganku, menggantikan posisi almarhumah bunda saat ini, saat aku berjalan turun kulihat Zie dan keluarga besarnya sudah duduk di alas yang sudah digelar dilantai rumahku.
Aku pun segera berjalan menatap mata yang kurindukan, wajah tampan yang menggunakan baju koko yang senada dengan bajuku. Segera kuberi senyuman untuknya dia pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya.
Senyuman yang akan selalu kurindukan ketika dia pergi bekerja setiap harinya.
__ADS_1
Acara pengajian pun dimulai dengan pembacaan ayat- ayat suci Al-Qur'an dan Tausiah dari pak Uztad dan diakhiri dengan acara makan bersama.
" Mau langsung pulang bun, " tanyaku pada bunda Zie yang sudah bersiap- siap akan pulang.
" Iya sayank, buat persiapan besuk, kamu jangan capek- capek, simpan tenaga buat besuk ya, " pesan bunda Zie padaku.
" Iya bun, habis ini Ella juga istirahat kok, bunda hati- hati ya, " ucapku sambil mencium kedua pipinya.
" Iya, bye assalamu'alaikum,"
" Wa'alaikumsalam, " jawabku
" Kamu? masih disini, sana pulang hafalin ijab qobulnya, takutnya salah nama, " ucapku pada Zie.
" Ngusir ya? nggak kangen sama aku? " tanya Zie padaku.
" Kangen...kangen banget malah...pengen nguyel- uyel kamu.. " bisikku didepan telinga Zie. dia pun tersenyum ke arahku.
" Siap- siap saja besuk malam, " ucapnya sambil berjalan keluar rumahku.
" Aku pulang ya, sampai ketemu besuk dipelaminan, " ucap Zie sambil mencium keningku, aku pun tersenyum manis kearahnya.
" Bye assalamu'alaikum, " ucapnya sambil masih menatapku seakan enggan berpisah.
" Wa'alaikumsalam, hati- hati ya, kabari kalau sudah sampai, " pesanku padanya dia hanya mengangguk.
Aku segera masuk ke dalam rumah saat melihat mobil civic merah itu telah menghilang. Aku ingin mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk hari esok, hari yang tak akan pernah kulupakan. Mataku menatap baju kebaya putih yang digantung di kamarku, baju yang akan aku kenakan saat ijab qobul nanti.
" Semoga ini yang terakhir ya Zie." ucapku lirih.
Aku sedikit tidak percaya aku bisa menikah secepat ini dan bisa move on secepat ini dari Mas Erik padahal dulu aku begitu mencintainya. Ini semua karenamu Zie, karena kamu yang hadir dihidupku, kamu yang sudah mengobati lukaku. saat mataku mulai terpejam kudengar ponselku berdering mungkin itu dari Zie.
" Hallo... " ucapku menjawab panggilan itu.
" ,,,, ,,,, ,,,,"
" Baiklah aku akan segera kesana, " ucapku dengan panik.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa vote, like dan coment.👍🙏
__ADS_1
* update terakhir hari ini, doain biar besuk bisa update lagi.👍🙏