Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Aku Pasti Kembali


__ADS_3

Widya terkekeh, lalu memeluk Naura dari samping. "percaya sama mama, Abhi anak baik. Kalau dia salah, biar mama yang akan menegurnya! Kalian baik-baik di Jakarta. Apapun yang terjadi, pokoknya kalian harus bersama."


...Selamat Membaca...


Ucapan dari Widya justru membuat kadar kegelisahan Naura meningkat. Seolah ada pesan khusus dari Widya yang disampaikan untuknya. Naura menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan, masih ada 40 menit lagi, sebelum pesawat yang ditumpangi Abhi, melakukan take off.


Sosok pria berjaket biru navy dengan seorang gadis kecil di gendongan, tengah berjalan ke arah Naura. Di tangannya membawa satu kantong plastik berisi es krim.


Tiba di depan Naura, pria itu lekas menyerahkan plastik putih yang ia bawa. Abhi sengaja membelikan es krim untuk Naura saat Ara merengek meminta es krim di kedai yang tadi mereka lewati.


“Aku nggak mau.” Naura menolak saat Abhi membukakan es krim tersebut.


Tangan Abhi masih menggantung, menunggu Naura menerimanya. “Ini nggak manis kok, rasa green tea.”


Dengan sedikit terpaksa Naura menerimanya es krim tersebut, memasukan es krim putih, hijau itu ke dalam mulutnya, sambil berbincang dengan Ara yang makan es krim rasa coklat.


Sedangkan Abhi tengah menikmati pemandangan menggemaskan di depannya. Sepertinya, istrinya itu jarang menikmati es krim dengan bentuk stik, terbukti lelehan es krim itu mengotori sudut bibirnya yang mungil. Abhi beranjak dari kursi, mendekat ke Widya untuk meminta tisu.


Ia berjongkok di depan Naura, menyeka lembut sudut bibir istrinya dengan tisu basah. “Ara aja pinter makan El krimnya, gimana bisa belepotan begini, sih? Pasti lagi mikirin aku, ya?!” Dan kegiatan yang dilakukan Abhi, mampu membuat mata Naura bertemu dengan matanya. Ia bisa melihat Abhi tersenyum lebar saat pandangan mereka bertemu.


"Dulu, papa biasanya beliin yang cup! Aku nggak begitu suka es krim."


"Iya, aku tahu ... kamu kan sukanya sama aku!"


Naura menatap Abhi dengan wajah tertekuk, menanggapi over pede Abhi yang naik secara tiba-tiba. Abhi kemudian kembali duduk. Tapi, kali ini ia duduk di samping istrinya, tangan kanannya tak lepas menggenggam tangan lembut milik Naura.


Mereka menunggu di luar bandara sambil menikmati kebersamaan sebelum panggilan untuk naik ke pesawat mengudara. Abhi hanya mencuri dengar obrolan Ara dan Naura, yang terlihat sedang berusaha mengusir rasa sedih. Hingga jam berputar cepat, waktu keberangkatan Abhi tinggal 15 menit lagi. Seolah Naura ingin memperlambat waktu mereka untuk berpisah.


“Aku ke toilet sebentar ya! Jangan pergi dulu sebelum aku kembali,” minta Naura pada suaminya.


“Biar aku antar!” Abhi berusaha menahan tangan istrinya.


“Mama nggak ada yang jaga!” tolak Naura.


“Kamu lebih tidak ada lagi!” sarkasnya sudah berdiri di samping Naura.


“Di situ saja, Bhi!” Naura menunjuk ke arah simbol toilet yang di gantung.


“Ayo aku antar, jangan buang-buang waktu!” ajak Abhi dia berjalan lebih dulu sambil menggandeng tangan Naura.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan, membelah lautan manusia yang menghalangi langkahnya. Tiba di pintu toilet Naura lekas meninggalkan Abhi di depan pintu toilet wanita. Abhi menyetujui dengan sabar menunggu istrinya. Tapi setelah lima menit tak kunjung keluar, Abhi merasa ada sesuatu yang tidak beres.


Abhi memperhatikan toilet tersebut, setelah tidak ada orang selain istrinya Abhi yang merasa gerah pun ikut masuk untuk mencuci wajah. Tapi saat Abhi membasuh wajahnya, terdengar suara isakkan tangis dari bilik toilet. Suaranya teredam, semakin lama suara itu semakin samar. Hingga benar-benar terhenti. Pintu itu pun ikut terbuka lebar, setelahnya.


Abhi merentangkan kedua tangannya, yang segera dibalas Naura dengan pelukan erat. Tidak hanya itu, tangisnya pun pecah, diiringi air mata yang kembali mengalir deras.


Abhi menunduk, mengamati wajah kacau Naura. Bukan hanya istrinya, hal itu juga membuat dia semakin berat untuk meninggalkan istrinya. Ia menyeka air mata yang membasahi pipi istrinya, mengambil nafas dalam-dalam, berharap rasa sesak yang kini menimpa dadanya, segera mendapat kelegaan.


“Jangan lama-lama!” minta Naura, suaranya lirih di sela-sela tangis yang ia ciptakan. Mereka berdua tidak peduli beberapa orang sudah, mengamati dan menunggu drama perpisahan itu berakhir.


“Aku, hanya mengantar mama pulang, Sayang! Mama tanggungjawabku juga! Tahu kan Surganya seorang lelaki ada di telapak kaki ibu. Jadi, jangan seperti ini! Aku jadi berat untuk meninggalkan kamu! Tadi sudah janji, kan, tidak ada drama di bandara.” Abhi menyeka air mata yang jatuh di pipi sang istri. Mata Naura begitu banyak memproduksi air mata, jadi Abhi perlu menyekanya berulangkali, bibirnya pun tak henti berusaha menenangkan Naura. “Aku pasti kembali, Sayang! Ini hanya 7 hari,” kata Abhi.


“Janji ya, paling lama satu minggu!”


Abhi mengangguk cepat, “Jangan nangis ya, malu sama itu dilihat banyak orang. Aku akan sering memberi kabar untukmu, setiap hari!” kata Abhi, menenangkan.


Naura mendongak menatap wajah suaminya, dengan tatapan sayu, “jangan jauh dari ponsel! Papa bilang rumah tangga akan bahagia kalau komunikasi dan komprominya baik. Jadi hanya ponsel alat komunikasi kita! Kita akan mengobati kerinduan lewat benda pintar itu. Jangan pernah meninggalkan ponsel mu! Anggap saja ponselmu itu aku! Supaya kamu tidak jauh-jauh darinya!” tangis Naura semakin menjadi, nafasnya sampai tersengal, karena sejujurnya ia tidak mau berpisah dengan Abhi.


“Iya, Sayang!” Abhi mengeratkan pelukannya. "Semua pesan mu akan aku ingat dengan baik.” Abhi mengecup sebentar bibir ranum istrinya. Setelah sedikit tenang ia mengajak Naura untuk keluar dari toilet. Diiringi, makian dari beberapa bibir wanita.


Keduanya kembali berjalan menuju kursi tunggu yang di tempati Widya, masih ada lima menit dari jadwal take off jadi mereka memilih menunggu di sana.


“Mama doain ya?” balas Naura.


“Pasti. Doa terbaik untuk putri mama dan Abhi.” Widya menatap bergantian ke arah mereka berdua, dengan senyum simpul yang meneduhkan.


“Ara ...” panggil Naura, sambil mensejajarkan tingginya dengan balita tersebut. “Hati-hati ya, jaga nenek dengan baik kalau ada apa-apa telepon bibi!” gadis kecil itu mengangguk, lalu mencium kedua pipi Naura. Setelah puas ia kembali berdiri, menghadap Abhi, yang sedari tadi mengamatinya. Mengambil nafas pelan mengeluarkannya kasar.


“Aku pergi ya, Sayang!” Abhi memeluk tubuh istrinya, membaui aroma vanila yang akan dirindukan untuk tujuh hari ke depan.


“Hati-hati!” pesan Naura, Abhi mengangguk. “Jaga dirimu!” lanjutnya, dan mendapat hadiah ciuman kening, cukup lama pria itu menekan kepalanya seolah tidak ingin menjauhkan bibirnya dari kening Naura.


Setelah panggilan naik pesawat kedua mengudara, Abhi menjauhkan bibirnya dari kening sang istri, lalu tersenyum tipis. “Oke ... Sudah! Aku berangkat, ya, kamu juga hati-hati! Jaga kesehatan, kalau ada apa-apa hubungi aku,” bisiknya di depan wajah Naura, dengan jempol mengusap pipi istrinya.


"Iya, Sayang ..." balas Naura dengan mata yang sudah berkilau. Abhi kemudian menyusul langkah mamanya, meninggalkan Naura yang masih terus menatap ke arah langkah kakinya.


Naura menarik nafas dalam saat tubuh Abhi menghilang dari radar penglihatan. “Kenapa galau banget gini ya!” gumam Naura sambil menyugar rambutnya yang panjang, air matanya kembali membasahi pipinya. Ia segera mengusapnya kasar, lalu membalikan tubuhnya, berjalan ke arah area parkir mobil.


Ia ingin segera beristirahat setelah ini, tubuhnya lelah, dia lemah saat ini meski tadi sore sudah sempat tertidur lama. Demi mengusir rasa kesepian yang harus ia lalui, Naura memilih pulang ke rumah Erik. Ia ingin mencari hiburan supaya tidak melulu mengingat Abhi.

__ADS_1


Tiba di rumah mewah milik Erik, Naura lekas masuk ke dalam rumah. Matanya berkeliling mencari seseorang yang bisa menghiburnya, tapi sia-sia kondisi rumah sudah terlihat sepi, tidak satu orang pun yang bisa ia ajak bicara. Jelas saja, karena ini sudah pukul 11 malam, pasti mereka semua sudah terlelap.


Naura menatap lekat ponselnya, tidak ada apa-apa di sana. Mungkin pesawat suaminya itu belum menyentuh tanah. Ia lalu mengganti bajunya dengan piyama tidur, setelah selesai ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang, berharap mimpi akan datang lebih dulu ketimbang rasa rindunya pada Abhi.


...****************...


Matahari bersinar terang pagi ini, Ella yang melihat mobil putrinya terparkir di halaman rumah, terkejut. “Jam berapa Nana datang, Yang?” tanya Ella, sambil menyemprotkan air ke arah rumput di taman.


“Nggak tahu, bukannya aku tidur lebih dulu?” tanya Erik menoleh sebentar ke arah istrinya.


“Nggak! Aku kok kamu kemarin masih di ruang kerjamu,” sanggah Ella, mengingat ia masih sempat membuatkan teh ginseng untuk suaminya.


“O, iya lupa!” Erik meringis, ke arah Ella.


“Duh sudah pikun ternyata suamiku!” gerutu Ella, menggoda.


“Nggak papa, asal pikunnya bersamamu,” ujarnya sambil menaikan kaca mata yang turun. Saat ini ia tengah membaca koran, sambil memperhatikan istrinya yang tengah merawat tanamannya.


“Aku ke kamar Nana dulu, ini gantian kamu yang siram!” Ella menyerahkan selang air pada suaminya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari Naura.


“Di mana Nana, Mbok?”


“Masih di kamar sepertinya, Bu!”


Ella yang mendengar segera naik ke lantai dua untuk menghampiri Naura. “Ih, kenapa semalam nggak kirim pesan dulu. Kalau mama tahu kamu akan datang, kan bisa nungguin, dulu!” ucap Ella saat melangkahkan kakinya masuk ke kamar Naura. Ia terkejut saat melihat kondisi Naura tidak seperti biasanya.


Gadis itu tengah menutupi tubuhnya dengan selimut. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh Naura, karena gadis itu tidak suka memakai selimut tebal.


“Tumben anak kesayanganku ini, pakai selimut?” Ella menyingkap gorden jendela kamar membuat cahaya matahari memancarkan sinarnya ke mata Naura.


“Silau, Ma!” keluh Naura sambil memijat kepalanya yang terasa pening, bukan hanya kepala, suhu tubuhnya pun tidak seperti biasanya.


Ella yang melihat wajah pucat putrinya, lekas mendaratkan telapaknya di kening Naura, terkejut saat merasakan suhu tubuh Naura yang begitu menyengat di telapaknya.


Ella berdecak, “Baru juga ditinggal semalaman, sudah demam! Segitu cintanya kamu sama Abhi!”


Naura bergeming, tidak peduli apa yang diucapkan sang mama, tubuhnya seperti sudah tidak menapaki tanah lagi, tak ada semangat untuk melewati hari ini.


...--------BERSAMBUNG--------...

__ADS_1


Unang lupa mangalean like, vote, hadiah dohot komentar nadenggan. Mauliate


__ADS_2