Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Kasus Pak Bahtiar


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Satu Bulan Kemudian.


Hari yang dinantikan oleh Abhi tiba. Merasa lega, tapi belum sepenuhnya beban itu hilang. Siang nanti Hakim Agung akan membacakan vonis hukuman untuk tersangka mafia narkoba yang berhasil ditangkap oleh Bahtiar. Bukan perkara mudah, tapi Abhi berhasil menyelesaikannya dengan baik. Bukti yang diberikan pun valid dengan yang terjadi di lapangan.



Abhi tampak bersemangat pagi ini, menatap istrinya yang sudah mengenakan celana hamil dan blouse warna putih hitam yang menurut, pendapatnya blouse itu sudah tampak kekecilan, karena calon anaknya mulai menunjukan bahwa, dirinya saat ini ada, dan berkembang dengan baik di perut sang mama.



Tiba di kantor kejaksaan, sapaan dari wartawan mau tidak mau membuat Abhi meninggalkan Naura. Ia tidak mau Naura masuk televise karena urusannya. Meski mereka bekerja di bidang yang sama, tapi Abhi tidak mau menghubung-hubungkan antara kepentingannya dengan kepentingan Naura.



“Kita lihat saja keputusan Hakim Agung selanjutnya, kita cuma bisa menunggu sampai persidangan hari ini berakhir. Semoga mereka dihukum setimpal sesuai dengan perbuatan yang sudah mereka lakukan.” Abhi menjawab dengan santai apa yang wartawan itu pertanyakan padanya, wajahnya serius, tampak sekali pria itu sangat bertanggungjawab atas pekerjaanya.



“*Apa mereka akan dihukum mati, Pak Abhi?” pertanyaan kembali terdengar*.



“Itu tuntutan dari kami. Besar harapan saya Hakim Agung akan mengabulkannya.” Abhi menjelaskan. Ada bukti yang membuat Abhi dan pak Bahtiar berani menuntut mereka dengan hukuman berat.



“*Lalu bagaimana dengan kasus pak Martinus*?” kini giliran seorang wanita yang melemparkan pertanyaan itu.



“Kita sedang di kasus pak Bahtiar. Dan hal itu bukan kapasitas saya. Biarkan orang saya yang menaganinya!” Abhi menjawab dengan tenang karena memang dia tidak tau menahu urusan Martinus meski dia adalah korban. Abhi sengaja menyerahkan kasus itu untuk diselesaikan oleh Nathan.



“*Apa Pak Abhi akan mencalonkan untuk menjadi salah satu anggota partai politik setelah ini? Sepertinya banyak sekali partai yang hendak menarik Pak Abhi untuk bergabung*?”



“Sama sekali tidak! Saya tidak tertarik dengan dunia politik!” Abhi menjawab tegas. Dari zaman dia tahu seperti apa dunia politik Abhi tidak tertarik untuk terlibat di dalamnya. Dia ingin menjadi orang biasa saja, tapi berguna untuk orang lain.



“*Lalu apa yang Anda lakukan setelah ini, Pak? Apa sudah ada yang meminta Bapak untuk menjadi penasihat hukum lagi*?”


__ADS_1


“Setelah ini?” Abhi menggaruk pelipisnya, seolah sedang berpikir keras, padahal dia sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari. “Saya akan cuti beberapa bulan ke depan, untuk berbulan madu dan sekalian menunggu istri saya melahirkan. Kasihan istri saya sampai hamil belum juga saya ajak untuk bulan madu,” ucap Abhi sambil tersenyum. Wartawan pun bersemangat untuk menggali lagi tentang kehidupan rumah tangga Abhi.



“*Sudah berapa bulan, Pak, istri Anda hamil*?”



“Rahasia. Sudah, ya … sebentar lagi sidang akan dimulai! Tolong kerjasamanya. Sampaikan pada masyarakat sesuai apa yang Anda lihat. Jangan ditambahi dan jangan ada yang dipotong! Biar masyarakat tahu dengan benar apa yang sebenarnya terjadi. Terima kasih sebelumnya.”


Abhi memang tidak ingin membahas masalah pribadinya di muka umum, ia menyesali saat tadi keceplosan mengatakan tentang istrinya. Dan itu efek karena ia terlalu bahagia. Abhi kemudian berbalik menghampiri Naura, istrinya itu sedang duduk bersama penjaga wanita yang bertugas di kantor kejaksaan. Senyum Naura mekar saat mengetahui ia berjalan menghampirinya. Hal itu mengundang kecurigaan di benak Abhi.


“Apa kamu melihat mantan gebetanmu lagi? Jangan tebar pesona gitu, Ah … aku, kan cemburu! Atau calon anak kita berkedut lagi, kaya semalam saat aku menjenguknya?” Abhi berbisik di samping telinga Naura, berusaha mencari tahu, apa yang membuat Naura tersenyum begitu manis.


Dengan gerakan cepat dan singkat Naura mengecup pipi suaminya. Tanpa peduli lagi ada berapa banyak wartawan yang saat ini tengah mengambil gambar mereka berdua. “Aku tersenyum untukmu! Mau tahu nggak alasannya?” Naura menampilkan wajah manja, yang membuat Abhi berpikiran liar. “Selain kamu pahlawan untuk aku, kamu juga pahlawan buat penerus putra-putri bangsa. Tanpa kamu sadari, pak Bahtiar dan kamu sudah berhasil menggagalkan rencana mereka. Bayangkan saja jika barang haram itu berhasil terjual! Ada berapa banyak pemuda-pemudi yang akan rusak karena barang itu! Kamu terbaik, Bhi!”


“Kamu bisa saja berpikiran seperti itu! Dah ayo masuk!” ajak Abhi, setelah menatap jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.



Mereka berdua berjalan bersisian, dengan tangan saling terpaut. Tiba di ruang sidang mereka terpaksa harus berpisah tempat duduk, karena Abhi harus berada di depan. Kali ini Naura hendak melihat aksi suaminya, meski agenda hari ini adalah pembacaan putusan. Tapi Abhi tampak mengagumkan dengan pakaian hitam yang tengah ia pakai saat ini. Ia tidak pernah mengira jika jodohnya adalah seorang pengacara.



Sidang berlangsung cukup lama, berulangkali Naura membenarkan posisi duduknya karena merasa pegal. Setiap ia bergerak sedikit saja, pandangan Abhi langsung tertuju ke arahnya, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.



Istri Jordan langsung melayangkan surat cerai saat mengetahui Jordan adalah bandar narkoba, tidak peduli lagi dengan status mertuanya saat itu. Miris sekali nasib Jordan, tapi begitulah upah yang setimpal untuk mereka.


Sidang ditutup tepat pukul dua siang, pihak penuntut bersorak senang merayakan kemenangan atas kasus yang sudah berbulan-bulan mereka tangani. Tapi cuma Abhi yang mendatangi keluarga tersangka vonis mati. Berusaha menenangkan dan memberikan penghiburan, memberi penjelasan pada keluarga tersangka tentang bahayanya obat terlarang yang sudah mereka edarkan selama ini. Setelah semua terkendali, pria itu kembali ke tempat duduk istrinya, meluapkan kelegaan dan kepuasan atas kasus yang ia tangani.



“Kau puas, Bhi?” tanya Naura, saat di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berdua.



“Ada rasa puas, tapi ada rasa sedih juga saat melihat keluarga mereka,” jawab Abhi. “Mau pulang sekarang?” tawarnya, “kamu mau apa, hari ini? Aku akan menuruti keinginanmu, sebelum kita berangkat ke Bangkok.”



“Emang kita mau berangkat hari ini?” Naura memang tidak tahu jika suaminya diam-diam sudah menyiapkan tiket bulan madu ke Bangkok.



“Iya, pesawat akan take off jam 9 malam.”

__ADS_1



“Mama Ella ikut?” tanya Naura, bisa gawat kalau wanita itu ikut, bisa-bisa acara *sayang-sayangan* sama Abhi gagal.



Abhi mendekatkan bibirnya ke wajah Naura. “Hanya kita berdua.”



Senyum Naura tak surut, bahkan senyum itu semakin merekah saat Abhi mengatakan hal itu padanya. “Aku mau gendong belakang, sekarang! Sampai tiba di mobil,” ucap Naura memutar tubuh Abhi supaya membelakanginya.



“Eh, nggak kasihan tu sama Abhi junior, nanti kal—



“Udah sana ayo jalan!” Naura sudah bersiap untuk naik ke punggung Abhi.



“Kamu nggak malu, Sayang? Di luar sana banyak wartawan loh!” Abhi berusaha mengurungkan keinginan Naura.



“Malu? Kita nggak berbuat yang melanggar peraturan, kita pasangan halal, Abhi!”



Abhi mengalah, dia menuruti ke-mau-an istrinya yang mengiginkan untuk digendong belakang. Dengan langkah pelan Abhi berjalan ke arah mobil yang ada di halaman kantor. “Kita ke dokter kandungan dulu ya, kamu butuh surat izin dari dokter untuk melakukan perjalanan jauh!”


“Ok kita ke dokter Pampam, saja!”



“Nggak, nggak kita ke dokter Lusy,” tolak Abhi.



“Kenapa? Apa kamu cemburu?”



“Nggak usah ditanya aku cemburu atau tidak! Karena kamu sudah tahu jawabannya. Kalau kamu masih mengelak lagi coba posisikan dirimu menjadi aku! Kamu pasti juga nggak ngizinin, kan?”


__ADS_1


“Iya imamku … aku nurut sama kamu!”


...----------------...


__ADS_2