Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Kondisi Erik


__ADS_3

Season 2 dimulai, jangan lupa untuk like dan vote.👍😜


.


.


.


Dua bulan kemudian.


Erik masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dia belum sadarkan diri sejak kecelakaan yang menimpanya saat itu, usaha keras dari dokter sudah mereka kerahkan untuk menyelamatkan pemilik rumah sakit tersebut. Tidak ada kerusakan parah di bagian tubuhnya. Tapi beban pikirannya yang berat membuat dia belum segera sadar dari tidurnya yang panjang.


Kalun sudah sering dibawa ke sana oleh Jihan, berharap dengan kehadiran Kalun, Erik bisa segera bangun. Tapi yang ada dia hanya bisa mengeluarkan air matanya, membuat Jihan semakin sedih dan terpukul melihat tubuh lemah Erik.


Malam ini mereka semua sedang menemui dokter yang menangani kondisi Erik, mereka sepakat akan membawa Erik pindah ke rumah sakitnya yang berada di Australia. Namun, saat diperiksa ulang, kondisi Erik kembali down, dia kembali sesak nafas, dan membuat keluarga serta dokter yang menaganinya mengurungkan niatnya untuk memindahkan Erik.


Di alam lain.


Terlihat Erik tengah duduk di kursi, dia mengenakan pakaian yang serba putih, menunggu Ella datang untuk menemuinya, sudah cukup lama dia duduk di sana, hingga dia melihat bayangan tubuh Ella yang mendekat ke arahnya.


“Kenapa lama sekali?” tanya Erik saat Ella sudah duduk di sampingnya. Dia hanya menjawab dengan senyuman tipis yang selalu dia perlihatkan pada Erik seperti hari-hari biasanya, tapi segera dia mengubah ekspresinya menjadi marah.


“Kenapa Mas melakukan ini?” Erik tersenyum simpul pada Ella.


“Kau tau alasannya, dan jangan lagi bertanya,” jawab Erik.


“Jangan seperti ini Mas, jangan buat dirimu menderita, aku menitipkan mereka padamu, jangan kamu tinggalkan Kalun dan Riella, mereka masih membutuhkanmu,” ucap Ella lembut, sambil menatap wajah Erik.


“Bagaimana denganku? Aku juga butuh kamu mendampingiku!” ucap Erik dengan nada tinggi, dia juga seperti marah pada Ella.

__ADS_1


“Ini takdir kita Mas, jika aku bisa meminta, aku akan memohon untuk bisa menemani kalian lebih lama lagi,” ucap Ella sambil mengalihkan pandangannya ke arah depan.


“Rawatlah mereka dengan baik, jika kamu tidak sanggup, a-aku, aku merestuimu jika kamu menggantikanku dengan wanita lain,” ucap Ella dengan terbata.


“Aku akan menunggumu di sini,” sahut Erik sambil menatap wajah Ella. Ella hanya memperlihatkan senyumnya menoleh ke arah Erik.


“Aku tidak yakin, jika kamu akan bertahan,” ucap Ella dengan senyuman smrik.


“Akan aku buktikan jika aku bisa bertahan di sisa waktuku, kita akan bertemu kembali di alam yang sama,” ucap Erik membalas senyuman Ella.


“Pulanglah..., mereka membutuhkanmu, jika kamu ingin menghapus kisah cinta kita, aku akan ikhlas menerimanya.” Ella lalu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Erik di kursi taman itu.


Erik menunduk, dia tidak mampu melihat kepergian Ella yang semakin hilang di tengah sinar cahaya terang. Dia meneteskan air matanya, hingga tangisnya mulai sesenggukan.


“Aku juga butuh kamu, La!” teriak Erik di tengah tangisnya.


***


“Tidak apa-apa Bu, ini mungkin dia sedang bermimpi atau merindukkan anaknya, teruslah mengajak dia berbicara, supaya bisa memancing syaraf otaknya,” jelas dokter pada Jihan.


“Cepatlah bangun Sayang, lihatlah anak-anakmu, mereka membutuhkanmu,” lirih Jihan sambil mengusap air mata Erik yang kembali menetes. Dia tidak bisa melihat kondisi anaknya yang seperti itu, akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan, meminta suaminya untuk bergantian menjaga Erik.


“Aku mau di rumah saja, menjaga cucuku, nanti kalau Erik bangun, kamu segera menghubungiku,” ucap Jihan sambil berjalan meninggalkan anak dan suaminya. Dia ingin menghibur dirinya dengan becanda dengan cucunya di rumah.


Sampai di rumah dia disambut Kalun yang baru belajar berjalan, dia lalu memeluk cucu lelaki satu-satunya itu dengan erat, wajahnya semakin sama persis dengan anak lelakinya waktu kecil.


“Doakan Papamu ya Nak, biar dia segera bangun,” ucap Jihan bebicara pada Kalun, lalu memberikan lagi kepada baby sitternya, karena Kalun semakin berontak berada di gendongannya.


“Di mana cucuku satunya,” tanya Jihan pada baby sitter yang menggendong Kalun.

__ADS_1


“Dia masih tidur Bu, tadi baru saja rewel, jadi saya beri dia susu setelah itu tidur lagi,” jelas baby sitter yang mulai menimang-nimang kalun supaya tertidur.


Jihan lalu menghampiri bayi mungil yang belum diketahui namanya itu. Dia menatap wajah bayi yang tengah berbaring di box bayinya, hanya dengan menatap wajahnya saja itu sudah sangat menghiburnya, setelah melihat anaknya yang tidak kunjung bangun. Rambutnya yang lebat mengingatkan Jihan pada wanita yang sudah melahirkannya.


“Kenapa Mamamu tega meninggalkanmu Sayang, kamu bahkan sangat mirip dengannya,” ucap Jihan sambil mengusap rambut bayi mungil itu. Air matanya kembali menetes saat mata bayi itu terbuka, dia menangis tergugu di sana, dia menatap mata bayi yang sama persis dengan Mamanya, bayi itu menangis membuat Jihan berteriak memanggil baby sitternya, dia tidak sanggup jika harus menggendong bayi itu dalam kondisinya yang seperti ini. Setelah bayi itu diam dia segera pergi meninggalkan ruangan bayi itu menuju kamar miliknya. Tidak peduli jika Bima tengah memanggil namanya berulangkali. Dia juga sakit melihat putra kesayangannya seperti itu, dia setiap malam selalu berdoa untuk kebahagian putranya, tapi putranya hanya bisa merasakan kebahagiannya dalam sekejap. Seolah Allah terlalu sering mengujinya dengan berbagai masalah yang ada harus dia lewati.


Di sisi lain.


Dokter berlarian mendatangi ruangan Erik, mereka semua heran dengan kesadaran Erik yang tiba-tiba menurun. Alat pacu jantung sudah disiapkan jika seolah-olah jantung Erik terhenti. Semua dokter berkumpul di depan pintu ruangan Erik, menuggu jika memang ini saat detik-detik terakhir pimpinan rumah sakit itu, Yusuf yang baru tiba, dari ruangan pribadi Erik segara menerobos masuk saat mendengar kondisi Erik yang menurun.


“Rik..., jangan pergi, apa yang harus Papa katakan pada Mamamu, Nak!” ucap lelaki yang sudah tua itu.


“Pak..., Maaf sabaiknya Bapak menunggu di luar dulu, biarkan dokter yang menanganinya,” perintah dokter wanita yang berdiri di sampingnya. Demi kebaikan Erik Yusuf akhirnya berjalan keluar meninggalkan putranya berjuang sendirian.


Dia hanya mampu melihat dari balik jendela kaca ruangan itu. Air matanya juga sudah keluar, mengingat betapa sulitnya dia mendapatkan putra semata wayangnya itu, dan dia tidak bisa jika harus melepaskannya begitu saja. Namun, dia menghapus air matanya saat melihat Erik mulai pelan-pelan membaik, bahkan kini tangannya sudah bisa bergerak , berbeda dengan minggu-minggu lalu dia hanya bisa mengeluarkan air matanya.


Dokter yang menanganinya keluar ruangan Erik, memberitahukan bahwa kondisi Erik sudah stabil, dan semoga setelah ini, Erik segera sadar dari tidur panjangnya. Saat dokter menjelaskan pada Yusuf terlihat Erik duduk dan membuat kaget semua orang yang berada di sana. Erik melihat kesekeliling ruangan, Yusuf yang melihat itu langsung masuk dan mendekat ke arah Erik.


“Di mana aku?” tanya Erik pada perawat di sampingnya.


“Rumah sakit Pak.”


Erik terdiam sejenak, kemudian dia melepas selang infusnya, membuat perawat itu panik, dan segera menekan tombol darurat di samping brankar.


Tanpa dia sadari jika sudah banyak dokter yang menunggu di depan ruangan.


“Aku ingin pulang!” Teriak Erik sambil menurunkan kakinya turun dari ranjang.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2