Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Spy


__ADS_3

...Selamat Membaca...


Bukan tanpa alasan Naura mendatangi kedai jawa timuran yang ada di salah satu mall elite di Jakarta. Ada sesuatu yang harus ia kerjakan di sana, selain menikmati rujak khas Jawa Timur itu.


Saat tiba di lokasi, aroma petis udang pun menyambutnya, membuat ngidamnya semakin menjadi-jadi, seakan protes tak sabar ingin mencicipi makanan itu.


Daftar menu yang disediakan terpampang jelas di black board. Tapi Naura hanya tertarik dengan satu nama yaitu rujak cingur.


Saat ini Naura tengah duduk berhadapan dengan Ella. Mata Naura terus berkeliling, mencari sesuatu yang bisa memberinya petunjuk tentang langkah selanjutnya yang harus dia lakukan. Seorang pelayan pria datang. Pria itu dengan sigap meletakkan pesanan mereka berdua. Wajah Naura berbinar, saat menatap piring gerabah di depannya, aroma petis pun semakin dekat dengannya, dia semakin tidak sabar untuk menikmati makanan itu.


Sedangkan Ella, tengah membuka telur asin sebagai bahan pelengkap rawon yang ia pesan.


“Cicip deh, Ma!” Naura mendekatkan sendok ditangannya ke arah mulut Ella. Jelas Ella menolak, karena wanita itu tidak begitu menyukai cingur. Dengan alasan menggelikan.


“Ati-ati, kolestrol!” Ella mengingatkan, diakhiri cengiran tipis.


“Sekali dua kali, kan tidak masalah!” sahut Naura. Setelah itu keduanya diam menikmati menunya masing-masing. Tapi, Naura yang tengah menanti kedatangan seseorang tengah harap-harap cemas. Sesekali mengamati ponselnya. Mengharapkan pesan masuk dari seseorang.


“Kita nonton yuk, Na, dah lama mama nggak nonton film,” usul Ella.


“Nggak ada film bagus.” Naura terlalu malas untuk menonton film dengan mamanya. Dia dan mamanya itu berbeda genre, Ella suka drama sedangkan dia suka horor. Jadi, nggak nyambung.


“Ada nih, tapi film komedi!” ucap Naura setelah memeriksa daftar tayangan film lewat aplikasi online.


“kesukaan Abhi nih, film komedi!” sambungnya.


“Kamu yang kuat, ya … Na! Nanti kalau dia keluar. Kamu bisa ajak dia jalan-jalan sepuasnya.” Ella mengusap tangan Naura dengan lembut, menyalurkan kekuatan untuk putrinya.


“Aku mau bulan madu saja nanti sama Abhi,” cetus Naura, sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.


“Nggak enak bulan madu saat hamil, nggak bisa jalan-jalan.”


“Ya, nggak papa, di kamar saja, menghabiskan waktu berdua.” Naura menyahut dengan penuh keyakinan.


Ella mengangkat kedua bahunya saat mendengar ucapan Naura. Matanya mengawasi pria yang saat ini duduk di belakang Naura. Pria itu tidak asing di matanya, seolah sudah pernah melihatnya berulangkali.


“Na, itu bukannya pak Martinus?” Ella mencondongkan tubuhnya, berbisik di depan wajah Naura.


Sedangkan Naura hanya meletakan telunjuknya ke depan bibir, lalu meminta Ella untuk pindah ke kursi yang ada di sampingnya. Supaya pria itu tidak melihat keberadaan mereka berdua saat ini. Bisa gawat kalau misi ini akan diketahui lawan.


“Jadi, untuk ini kamu ngotot pengen beli rujak cingur?” Ella bertanya dengan suara berbisik, dia begitu penasaran dengan kedatangan Martinus saat ini.


“Mereka bekerja sama dengan orang dalam, Naura tidak tahu pasti siapa orangnya. Mereka janjian di tempat ini.” Naura menjelaskan, suaranya sama lirihnya dengan Ella.


Setelah itu, Ella mengangguk, paham dengan maksud dan tujuan putrinya. Mereka berdua diam tanpa suara, mencoba mencuri dengar apa yang mereka bahas kali ini.


“Ow … jadi pria itu! Aku paham sekarang,” gumam Naura saat ada seorang pria mendatangi Martinus. Pria yang sama, yang melarang dirinya masuk menemui Abhi tadi pagi saat tadi berada di gedung KPK.


“Di bawah meja, ada alat penyadap. Temanku yang memasangnya. Jadi, kita tunggu mereka pergi baru bisa pulang!” bisik Naura di samping telinga Ella.


“Kamu tahu nggak, Na ... mama serasa lagi main film Spy! Deg-deg an takut ketahuan!” ucap Ella.

__ADS_1


“Nggak papa meski sudah tua nanti Nana ajarin!”


“Tua apanya!? Mama masih muda, kamu kalau mau ngajak bulan madu bareng—mama masih hayuk saja!” ucap Ella saat tidak terima dikatai tua oleh putrinya sendiri.


“Ish, nggak ngaca wajah sudah keriput!” cibir Naura, ia sampai harus merangkul Ella supaya orang yang tidak jauh dari mereka tidak melihatnya.


“Sudah-sudah diam, nanti ketahuan!” Setelah itu mereka berbicara dengan setengah suara. Tidak bisa mencuri dengar, karena mereka bicara tidak terlalu keras. Naura hanya menunggu sampai mereka berdua pergi.


Tubuh Ella membeku saat salah satu dari mereka beranjak dari posisi duduknya. Pria itu berjalan ke arah meja yang mereka berdua tempati.


“Santai, Ma. Jangan tegang, ah … nanti Nana nggak mau ajak mama lagi!” ancam Naura saat melihat Ella seperti orang ketakutan. Ella menarik napas berusaha bersikap santai saat Martinus melewatinya. Tapi, tetap saja tangannya mereemas-remas tangan Naura demi merendam takut ketahuan.


“Nana lihat dia dulu ya?” pamitnya kemudian berlalu menuju toilet. Tapi ternyata Naura tidak mendapatkan informasi apapun. Dia kembali dengan wajah lusuh, setelah Martinus keluar dari toilet dan pria itu sudah kembali ke posisi semula.


“Dia beneran lagi pipis mungkin, bukan menelepon seseorang,” adu Naura.


“Ya sudah duduk. Mama justru mendengar pria itu berulangkali menyebut nama Abhi. Tapi nggak jelas pria itu berbicara apa!”


Bibir Naura mengerucut, “Nanti, kita lihat di rekamannya,” ucapnya lirih, sambil menundukan wajahnya. Beruntung dua orang itu lekas meninggalkan kedai, jadi dua wanita itu bersiap-siap untuk mengambil recorder yang sudah terpasang di bawah meja.


“Ayo kita pulang, Mama nggak jadi nonton sama kamu. Nanti nontonnya sama papa saja!” ajak Ella. Dia sudah penasaran dengan isi rekaman tersebut. Naura mengangguk lekas berjalan ke arah meja yang ditempati Martinus, mengambil rekaman itu, setelah berhasil ia lekas memberi kabar pada temannya.


📤 Semua aman, mereka duduk sesuai meja yang sudah kamu pasang recorder.


Naura dan Ella, bersiap pulang ke rumah. Namun, saat hendak masuk ke lift seorang satpam berlari mengejarnya.


Iya itu benar orangnya. Pelayan berpakaian hitam dan satpam itu berlarian ke arah mereka berdua.


“Ikut kami ke pos satpam dulu!” perintah pria yang mengenakan seragam putih.


“Iya kami akan membayarnya, Pak! Jangan main tangkap begini? Ini saya lagi hamil, kalau saya kenapa-kenapa nanti Bapak dan mas nya ini aku tuntut!” mata Naura menatap keduanya bergantian.


“Bukan masalah itu, kalian berdua harus ikut kami ke kantor dulu!” satpam itu menolak permintaan Naura, dia tidak peduli jika nanti mendapat tuntutan, karena yang menyuruhnya ini lebih berkuasa dari kedua wanita di depannya.


Tidak ingin membuang waktu Naura dan Ella mengalah mengikuti satpam tersebut untuk ke kantor keamanan.


“Aku telepon papamu dulu, biar dia membebaskan kita,” ucap Ella sudah mencari-cari keberadaan ponselnya.


Namun, sialnya saat mereka berdua tiba di kantor keamanan. Ella menemukan pria tua yang tadi berseteru dengannya, tengah duduk bersidakep menatap ke arah papan white board yang ada di dinding.


“Ngapain kamu di sini?” sarkasnya saat melihat Erik duduk di kursi, depan pria berpakaian putih.


“Menangkap istriku yang kabur dari rumah!” jawab Erik.


“Kok Papa bisa di sini?” selidik Naura yang penasaran dengan keberadaan Erik.


“Orang yang papa tugaskan untuk mengawalmu melapor pada papa, kalau kamu datang ke tempat ini! kamu tahu? Kelakuanmu ini membahayakan nyawamu!” maki Erik.


Naura berdecak saat mendengar ocehan dari Erik. “Sudah mari kita pulang, aku lelah.” Naura mengeluh dan Erik langsung luluh. Erik meminta Naura untuk kembali ke rumahnya, tapi wanita itu menolak dengan alasan ada hal penting yang harus ia selesaikan. Erik kemudian melirik ke arah Ella, seolah menyimpan dendam karena istrinya itu pergi tanpa dirinya.


“Kau mau ke mana?” cegah Erik saat Ella mengikuti langkah Naura.

__ADS_1


“Pulang ke rumah anakku!”


“Tapi aku nggak ngizinin kamu!” cegah Erik.


“Terserah!”


“Kalau papa sama mama mau berantem jangan di depan Nana. Aku sudah pusing, nggak mau lihat kalian berdebat!” peringat Naura. Kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua. Dia sudah benar-benar pusing tidak bisa memikirkan lagi masalah apa yang membuat sang mama marah pada papanya.


Selain itu Naura juga sudah tidak sabar untuk membuka isi rekaman yang sekarang ada di dalam tasnya.


***


Tiba di rumah, Naura lekas masuk ke ruang kerja yang biasa di tempati Abhi. Masih ada petunjuk yang harus ia ikuti. Dengan cepat ia segera membuka laptop Abhi. Naura mencebikkan bibirnya saat layar laptop meminta kunci password untuk menyalakan laptop tersebut. Naura yang tidak bisa berpikir cerdas langsung menghubungi temannya.


“Aku tidak tahu apa password laptop suamiku?” tanya Naura saat panggilannya langsung terhubung dengan pemilik nomor.


“Tanggal ulang tahun Abhi!” jawab pria di ujung panggilan. Pelan-pelan Naura memasukan tanggal ulang tahun suaminya. Tapi gagal, laptop itu masih terkunci.


“Pasti tanggal ulang tahunku!” ujar Naura penuh keyakinan, namun lagi-lagi bukan itu. “Bukan! Lalu apa dong?” gumam Naura.


“Tanggal pernikahan,” saran pria di ujung telepon.


Naura kembali memasukkan tanggal pernikahan mereka berdua, tapi lagi-lagi gagal. “Gagal lagi dan kesempatan tinggal dua kali!” adu Naura.


“Coba ini deh!” pria di ujung panggilan meminta Naura mendengar dan menekan keyboard nya. “zero, seven, zero, seven.” Naura mengikuti apa yang diperintahkan pria itu, dan setelahnya wallpaper dirinya saat menikah dengan Abhi menjadi gambar penyambutan di sana.


“Itu nomor apa? Kok cocok?” selidik Naura yang penasaran.


“Bukan apa-apa?”


“Jelaskan padaku nomor, apa?” desak Naura.


“Hari jadian Abhi dengan Olivia,” jelas pria di ujung panggilan.


“Kau yakin?”


“Ya, kalau ragu kamu bisa pertanyakan padanya!”


“Cukup tahu saja, aku tidak ingin mengungkit masa lalunya.” Naura berusaha tenang itu hanya bagian masa lalu, tapi kalau Abhi membawanya di kehidupan sekarang pasti pria itu punya alasan yang tepat kenapa melakukan itu. Ia kemudian menyambungkan colokan recorder itu ke laptop Abhi.


“Aku akan menghubungi jika sudah selesai mendengarnya,” ucap Naura.


“Aku tunggu!”


Naura lalu menutup panggilan tersebut. Kemudian memasangkan headphone ke telinganya, mencoba mendengarkan apa yang menjadi pembahasan antara Martinus dan pria yang tadi pagi ia temui. Bibir Naura tersenyum lebar, saat mendengarkan suara itu. Matanya sampai berkaca-kaca saat menemukan salah satu bukti yang mungkin bisa langsung membebaskan suaminya. Naura mengirimkan rekaman itu pada rekan prianya melalui pesan email. Berharap rekaman itu bisa menjadi barang bukti, saat pria itu datang ke gedung KPK.


📥 Good job.


Senyum Naura semakin lebar saat membaca pesan itu.


...--------BERSAMBUNG--------...

__ADS_1


__ADS_2