
Erik segera menemui Reyhan dan berbicara tentang kondisi istrinya saat ini, dia meminta tolong pada Reyhan untuk membantu mengeluarkan bayi kembarnya. Karena nggak mungkin juga, Erik akan mengambil bayinya sendiri karena dia harus menemani Ella.
Operasi akan di lakukan nanti pukul 10 pagi, Erik sudah meminta Ella untuk berpuasa. Ella sudah diberi obat pereda rasa sakit, jadi dia bisa sedikit tenang.
Erik sudah mengabari kedua orang tuanya, dan kedua anaknya akan dia beritahu jika anak kembarnya sudah lahir.
Pukul 09.30 Erik mendorong brankar Ella untuk memasuki ruang operasi. Dia terus berada di samping Ella saat operasinya akan dimulai, Ella mulai panik saat melihat dokter anastesi memasuki ruangan.
“Itu Dokteri Airin bilang saja jika dia menyakitimu, aku akan langsung memecatnya!” ucap Erik untuk meredakan rasa khawatir Ella.
Bunyi mesin EKG mulai terdengar, Dokter Reyhan memasuki ruang operasi tepat pukul 09.55, dia memastikan dulu kondisi Ella, berdasarkan laporan yang diberikan perawat padanya.
“Nyalakan musiknya biar istrimu sedikit tenang!” perintah Reyhan pada Erik, saat akan memulai operasi. Erik yang berada di atas kepala Ella, terus mengusap air mata Ella yang terus keluar, meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Mas janji ini yang terakhir kalinya kamu akan berada di posisi seperti ini, Mas nggak akan membiarkanmu berada di kesulitan lagi,” lirihnya lalu memberikan ciuman di dahi Ella.
“Mereka akan baik-baik saja,” lanjut Erik sambil mengusap rambut Ella, supaya istrinya itu bisa lebih tenang lagi.
Erik melihat Reyhan tengah mengangkat anak pertamanya, bibirnya sedikit tertarik ke atas saat mendengar suara tangisan kecil yang kuluar dari bayi perempuannya.
“Dia cantik, rambutnya sudah panjang, seperti kamu,” ucap Erik yang mendiskripsikan bayinya supaya Ella merasa tenang dan lega.
“Tapi aku tidak mendengar suara tangisnya Mas?” Erik tersenyum sebentar ke arah Ella, lalu kembali menatap bayinya.
“Dia bersuara, tapi sangat kecil, dia sedang di bersihkan oleh perawat,” jelas Erik sambil menatap bayi perempuan yang perawat bawa masuk ke dalam inkubator.
Lima menit kemudian Dokter Reyhan kembali mengeluarkan bayi dari dalam perut Ella, kali ini bayi itu manangis keras, bahkan suaranya bisa memenuhi ruang operasi, membuat Ella sedikit tersenyum tipis di tengah tangisnya.
__ADS_1
“Bawa dia padaku!” perintah Ella saat mendengar tangisan bayi keduanya.
“Sabarlah, biar dibersihkan dulu oleh perawat,” jelas Erik yang mencoba menenangkan Ella. Erik lalu memberikan isyarat tangan pada Reyhan menanyakan kondisi Ella.
“Istrimu baik-baik saja, bahkan dia bisa kamu hamili lagi setelah ini,” candanya sambil mengangkat plasenta bayi Ella yang sudah tidak utuh lagi.
“Na ... bawa sini bayiku!” perintah Erik pada perawat yang membersihkan bayi Ella. Perawat itu mendekat dan menyerahkan bayi perempuan di atas dada Ella.
“Hai Sayang ... selamat datang di dunia, selamat datang di keluarga Ramones.” Erik tersenyum senang saat mendengar ucapan Ella.
“Satunya mana Mas?” tanya Ella yang hanya menerima satu bayinya. Dia terus menatap wajah bayi perempuan itu, dia sama seperti suaminya, hidungnya, bibirnya bahkan terlihat dari bentuk rahangnya, jika dia mirip sekali dengan suaminya ini.
“Satunya baru di inkubator Bu, beratnya di bawah 2000 gram, kalau adiknya 2100 gram,” jelasnya pada Ella. Ella yang mengerti hanya bisa menangis sambil menatap wajah bayi yang berada dipelukkannya.
“Mas, jangan biarkan dia pergi, bantu aku untuk menjaganya!”
Perawat itu segera mengambil alih bayi yang Ella bawa tadi, bayi itu tidak kembar identik, tidak memiliki persamaan dalam bentuk wajah. Bahkan postur tubuhnya juga terlihat berbeda. Tapi keduanya sama-sama berjenis kelamin perempuan.
Erik segera memindahkan ke ruang perawatan setelah operasi selesai. Dia melihat kedua orang tuanya yang sudah menunggu di ruangan itu dengan perasaan khawatir.
“Bagaimana? Apa yang terjadi?” tanya Jihan yang terlihat panik sambil menghampiri tempat duduk keduanya anaknya.
“Nggak papa Ma, semua baik-baik saja, bayinya sudah berhasil dikeluarkan, tinggal menunggu perawat mengantarkannya saja,” jelas Erik yang sudah selesai memindahkan Ella ke bed ruangan itu.
“Kamu baik-baik saja kan, La?” tanya Jihan yang sudah berada di samping bed Ella.
“Iya Ma, aku baik-baik saja tinggal pemulihan saja,” jelas Ella yang separuh tubuhnya masih merasakan obat bius pasca operasi.
__ADS_1
Sore harinya setelah kedua orang tuanya pulang, Erik dengan setia menyeka tubuh Ella yang terasa lengket, karena setelah jalan pagi tadi dia belum mandi sama sekali. Kedua bayinya masih berada di inkubator. Hanya sesekali Erik mendatangi ruang bayi tersebut, takut jika ada orang yang akan menukar bayinya.
Perawatan pasca operasi memang tidak mudah, beruntungnya Erik berpengalaman dalam mengurusnya, jadi dia tidak perlu meminta bantuan pada perawat lain.
Malam harinya Kalun dan Riella datang ke rumah sakit, setelah tadi mereka di telepon oleh Erik, dibarengi dengan Damar dan Sashi yang saat itu juga berada di sana, karena membaca status Erik yang menyatakan bahwa kedatangan anggota baru. Bayi Ella dan Erik kini sudah berada di ruangan, karena Ella selalu meminta untuk memindahkan bayinya, tapi tetep saja bayi itu di masukkan ke dalam inkubator, supaya lebih hangat.
Riella dan Kalun terus memandangi kedua adiknya yang tengah bert*lanjang itu, adiknya hanya di pakaikan diapers oleh perawat. Riella terus merengek meminta Erik untuk meletakkan bayinya di pangkuan Riella, membuat Erik merasa geram sendiri dengan anak gadisnya.
“Nggak boleh Sayang ... tunggu adik bisa duduk dulu baru boleh di gendong,” jelas Erik yang sudah pusing dengan suara rengekkan yang keluar dari bibir Riella. Dia lelah sehari belum bisa beristirahat setelah tadi mengurus operasi Ella, dan sekarang mendengar rengekkan anak gadisnya itu, membuat kepalanya seperti mau pecah.
“Riella dan Kalun pulang ya, kasihan Mama sedang sakit, adik juga belum bisa di gendong,” bujuk Erik yang sudah duduk di sofa, di mana kedua anaknya itu tengah menikmati donat yang tadi orang tuanya bawakan.
“Besok Papa dan Mama pulang kan?” tanya Riella memastikan.
“Tunggu Mama sembuh dulu Sayang, nanti kita pulang, dan bawa dedek kembar pulang ke rumah,” jelas Erik yang membuat Riella menekuk wajahnya.
“Pasti Mama lama kan sembuhnya, bagaimana jika Papa saja yang pulang, Riella pengin bobo sama Papa.”
Erik hanya terdiam sambil memikirkan ucapan Riella. Dia melihat ke arah Ella yang mengangguk untuk mengikuti ucapan Riella. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Ella sendirian, bahkan untuk duduk saja istrinya itu membutuhkan bantuan darinya. Bagaimana nanti jika tengah malam anaknya menangis meminta Asi.
“Ya sudah Kalun dan Riella boleh bobo sini, tapi jangan menganggu Mama dan adik ya, karena Mama masih sakit,” jelas Erik yang mengalah karena dia tidak bisa meninggalkan bayi dan istrinya sendirian di rumah sakit.
.
.
* Tinggal 2 part lagi End ya, jadi jangan lupa untuk vote dan like.👍🙏
__ADS_1