Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
KCD : Kekhawatiran Ella


__ADS_3

Jangan lupa untuk menekan tombol like 👍


Waktu terus berlalu, setelah Ella menyelesaikan sarapan, ia dijemput oleh suster Riza, asisten perempuan Erik. Ella diantarkan ke ruang praktek Erik untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ella ditemani Danu karena Damar sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi.


Riza mengetuk pintu ruang praktek Erik, menunggu pemilik menyahut untuk meminta masuk.


“Masuk,” jawa Erik dari dalam ruangan. Dia menoleh dan tersenyum ke arah Ella, yang berada di kursi roda. “Pagi Ella, bagaimana sudah siap?” tanya Erik bertanya.


“Siap Dok,” jawab Ella dengan nada sedikit khawatir, karena takut ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


“Rileks aja La, tidak usah tegang,” nasihat Erik pada Ella, sama seperti saat dia memberi nasihat pada pasien lainnya.


“Riz, tolong bantu Ella naik ke brankar pemeriksaan ya!” perintah Erik pada Riza.


“Baik Dok,” jawab Riza sambil menuntun Ella naik ke brankar yang tertutup tirai biru sebagai pembatas, setelah Ella berbaring Riza membuka perut Ella dan memberikan gel ultrasonic ke perut Ella bagian bawah. Saat Riza beranjak pergi, Ella menarik tangan Riza dan memintanya untuk tetap berada dengannya.


“Jangan khawatir Nona Ella saya akan menemani Anda selama pemeriksaan,” ucap Riza ramah, “sudah siap Dok,” lanjut Riza pada Erik yang masih duduk di kursi kerjanya.


“Ok,” ucap Erik lalu beranjak dari duduk dan berjalan menuju brankar pemeriksaan.


“Permisi ya La, maaf kita periksa dulu ya.” izin Erik yang merasa sungkan. Ella hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dan Erik segera melakukan pemeriksaan.


Setelah lima belas menit di periksa, Ella dan Danu mendengarkan penjelasan dari Erik, ternyata benar dugaan Erik, terdapat kista di rahim Ella, tapi kista tersebut masih kecil jadi tidak perlu melakukan operasi. Ella hanya membutuhkan obat untuk menghancurkan kista yang ada di rahimnya. Erik menyarankan untuk observasi lagi di sini, agar lebih memudahkan pengawasan terhadap Ella.


“Tenang saja Om, Ella akan baik- baik saja,” jelas Erik pada Danu.


“Insya Allah setelah diberi obat, kistanya bisa hancur dengan sendirinya,” terang Erik yang masih melihat kekhawatiran Ella.


“Iya Nak Erik, lakukan yang terbaik untuk Lala,” sedangkan Ella yang mendengar itu hanya menangis di pelukan ayahnya.


“Kita kembali ke kamar ya Sayang,” ajak Danu pada Ella, yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Ella.


Setelah sampai kamar, Ella meminta ponsel pada Danu. Ella berniat ingin menelepon Sashi untuk memintakan izin pada dosennya, karena sedang sakit. Baru Ella akan menelepon Sashi, rupanya Sashi sudah lebih dulu menelepon dirinya, ia segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel, terdengar teriakkan keras dari ujung ponselnya saat ia menempelkan ponsel di telinganya.


“Hallo Lo, di mana? kenapa tidak masuk? Lo tau gak baru dua hari pelajaran tugas sudah banyak banget!” teriak Sashi bertanya tanpa jeda.


“Sashi! satu- satu kalau bertanya, gue lagi di rumah sakit,” jawab Ella.

__ADS_1


“What! Siapa yang sakit? Kak Damar?” potong Sashi.


“Bukan gue yang sakit,” jawab Ella.


“Loe bisa sakit juga ternyata,” canda Sashi dengan gelak tawanya.


“Gue juga manusia juga kali, Shi,” sewot Ella saat mendengar cibiran sahabatnya di ujung telepon.


“Oke, Lo sekarang di rumah sakit mana? gue nanti kesana sama Anna,” tanya Sashi.


“Gue di Ramones Hospital. Oke aku tunggu, jangan lupa buah tangannya yang banyak, biar gue cepat sembuh,” canda Ella.


“Oke, gue tutup dulu ya masih ada materi setelah ini, bye, La,” pamit Sashi.


“Oke bye, hati- hati,” pesan Ella lalu menutup panggilannya.


Setelah menutup telepon dari Sashi, Ella kembali berbaring di ranjang, belum juga Ella memejamkan matanya suster Riza masuk membawakan obat yang diberikan Erik. Ella segera meminum obat yang diberikan suster Riza, meski ia tidak suka dengan aroma obat yang dibawakan Riza.


Setelah suster itu pergi, Danu beranjak dari sofa mendekat ke arah tempat duduk yang ada di samping brangkar Ella. Ia menatap anaknya yang tangah melamun.


“Sudah, sekarang Lala istirahat jangan pikirin hal yang macam- macam!” perintah ayah Danu menarik selimut menutupi kaki Ella.


“Sudah, Lala pasti akan segera sembuh, tidak ada yang perlu di khawatirkan, tadi dokter Erik juga sudah menjelaskan,” jelas Danu.


“Ayah, Lala kangen Bunda, Lala takut Yah,” ucap Ella sambil menangis di pelukan Danu.


“Anak Ayah ini, masih pura- pura kuat kalau di depan temannya, kalau depan ayah saja melow kaya gini, sampai kapan pun Ella akan jadi gadis kecil ayah yang akan selalu ayah jaga saat Lala sakit ataupun sedih, ayah akan jadi orang yang akan selalu ada buat Lala, sampai ayah tutup usia,” jelas ayah Danu mengusap lembut rambut Ella.


“Ih ... Ayah, kok ngomong gitu, Ella mau lihat Ayah tetap ada di samping Ella ketika nanti Ella nikah, Ella punya anak dan ...”


“Lala, kan, Ayah sudah tua, kita gak tau kapan Allah akan memanggil kita,” potong Danu, “ya, sudah, pokoknya Lala istirahat dulu biar cepat sembuh, jangan pikirin hal yang tidak penting,” sambungnya mengurai pelukannya.


Ella menurut dan segera merebahkan tubuhnya, tak butuh waktu lama, Ella sudah memejamkan matanya. Sedangkan Danu berjalan menuju sofa merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Sebenarnya Danu juga tidak tega melihat Ella yang kesakitan seperti kemarin. Danu merasa sedih dan panik saat itu, bingung harus berbuat apa? Dia belum pernah menangani penyakit seperti itu.


***


Waktu terus berlalu, Danu terbangun dari tidurnya. Matanya melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Danu berdiri dan segera membuka pintu, karena takut membangunkan Ella. Terlihat dua gadis cantik berdiri di depan pintu, Danu lalu menyuruh gadis itu masuk dan duduk di sofa.

__ADS_1


“Assalamu'alaikum, Ayah,” sapa kedua gadis yang berdiri di depan pintu.


“Wa'alaikumsalam, Nak. Ayo masuk!” Ajak Danu. “Lala masih tidur, bentar lagi pasti bangun,” lanjut Danu menatap Ella yang masih terlelap.


“Ella sakit apa Yah?” tanya Sashi penasaran.


“Itu ada kista di rahimnya, belum besar, dan masih kecil, jadi tidak perlu dioperasi jadi hanya perlu obat untuk menghancurkan kistanya,” jelas Danu.


Selang beberapa waktu terlihat Ella membuka matanya, karena mendengar obrolan Danu dan kedua sahabatnya itu.


“Sudah pada datang ya ..., kok gak bangunin Ella?” tanya Ella.


“Kita kan gak mau ganggu waktu istirahat Lo, La,” jawab Anna berjalan menuju kursi dekat brankar Ella.


“Gimana sudah enakan badannya?” tanya Sashi penasaran dengan keadaan Ella.


“Iya alhamdulillah sudah mendingan, kan sudah diobati,” jawab Ella dengan tersenyum tipis.


Tak berapa lama, terdengar suara pintu terbuka, terlihat Damar masuk ke ruangan Ella, sambil membawa plastik warna putih di tangan, dia berjalan mendekati brankar Ella.


“Gimana Dek, masih sakit perutnya?” tanya Damar.


“Tidak Kak, alhamdulillah sudah gak sakit lagi,” jawab Ella.


Sashi yang melihat perhatian Damar pada Ella semakin tergila- gila pada Damar, Sashi memang dari dulu memendam perasaannya pada Damar, tapi dia enggan untuk mengatakannya, secara dia perempuan, mau ditaruh mana harga dirinya.


“Hey! Bengong aja,” peringat Anna yang meyadarkan lamunan Sashi. Damar yang juga terkejut, menoleh ke arah suara dan tersenyum pada kedua sahabat adeknya itu.


“Makan yuk, itu Kakak bawain pizza!” ajak Damar pada kedua sahabat adiknya.


“Iya Kak terima kasih, kebetulan kita juga laper lumayan buat ngisi perut,” ucap Anna dengan percayadiri.


“Ih! kamu malu- maluin,” bisik Sashi di telinga Anna.


“Biarin dari pada cacing di perut gue pada demo,” jawab Anna.


Siang itu mereka makan pizza bersama, ditemani Danu, mereka larut dalam canda tawa yang sedikit bisa menghibur hati Ella. Sampai keduanya pamit pulang karena sudah jam lima sore.

__ADS_1


“Sahabat sejati itu adalah orang yang selalu ada di saat kita susah maupun senang.”


__ADS_2