Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Mencari Petunjuk


__ADS_3

Sudah up! jangan lupa vote dan like ya.👍🙏


.


.


.


Satu minggu kemudian ...


Setelah kepergian Erik yang tanpa kabar, sepanjang hari Ella hanya bisa duduk diam di apartemennya. Sudah berulangkali Damar meminta Ella agar tinggal bersamanya dan Sashi, tapi Ella tidak mau meninggalkan apartemen itu, dengan alasan dia takut jika nanti, ketika suaminya pulang, dia tidak berada di rumah.


Sudah satu minggu Ella tidak datang ke rumah sakit, profesinya pun dia tinggalkan, hanya untuk menunggunya suaminya pulang ke rumah.


Usia kehamilan Ella kini sudah memasuki 8 minggu, dokter yang memeriksanya memberitahu jika hasil pemeriksaan janinnya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Dari awal Ella tidak mengalami gejala ibu hamil, jadi dia bisa menjalani kehidupan dengan biasa pada umumnya, bisa dibilang bukan seperti orang hamil, jadi dokter hanya memberikan vitamin terbaik dan obat penguat untuknya, mengingat kondisinya sekarang yang cukup mengkhawatirkan.


Pagi ini, terlihat Ella sedang berada di ranjang, memeluk bantal yang biasa dipakai suaminya, dia sering menangis ketika merindukan suaminya, hanya bantal dan baju terakhir Erik, yang dia pakai sebagai obat rindunya.


“Kamu di mana sih Mas, ini sudah 7 hari! Apa kamu tidak merindukanku?” lirih Ella sambil memeluk bantal yang sering dipakai Erik. Matanya menatap sofa yang ada di dekat ranjang, siapa tau suaminya tengah tertidur di sana, tapi yang ada dia hanya tersenyum simpul seolah menertawakan dirinya sendiri.


Setelah merasa puas menangis dan kuat menghadapi hari ini, dia segera berjalan menuju kamar mandi, untuk sekedar membersihkan dirinya. Pagi ini, dia akan datang ke rumah sakit, siapa tau di sana ada petunjuk di mana suaminya berada, dia menghela nafasnya saat melihat dirinya di pantulan cermin, wajahnya begitu pucat, matanya sebab dan terlihat jelas lingkaran hitam di area matanya.


Pasti kamu akan kecewa jika melihatku seperti ini. Batin Ella. Lalu dia merias tubuhnya agar tidak terlihat buruk saat orang melihatnya.


***


Tigapuluh menit berlalu, Ella kini sudah berada di rumah sakit tempat pribadi milik suaminya, kondisi ruangan masih sama saat dia meninggalkan tempat itu untuk terakhir kalinya. Bahkan banyak berkas yang belum sempat di selesaikan oleh suaminya.


Ella lalu berjalan ke arah ranjang kamar itu, hanya ada ponsel milik suaminya yang tertinggal di sana, ponsel itu sudah tidak dapat menyala lagi karena baterai yang sudah tidak diisi selama satu minggu.


Tidak ada petunjuk apapun di sana, membuat Ella semakin frustasi karena kesusahan mencari keberadaan suaminya. Ella yang merasa lelah merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu, hingga pelan-pelan dia mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


“Sayang... Kamu tidur di sini! Kenapa tubuhmu kurus begini?” ucap Erik yang mendekat ke arah Ella, dia membelai rambut Ella yang hitam pekat itu. Ella kaget saat melihat suaminya itu tiba-tiba berada di depannya.


“Mas... Mas Erik sudah pulang? Syukurlah! Apa sudah selesai masalahmu Mas,” tanya Ella saat melihat suaminya berjongkok di samping ranjang.


Terlihat Erik tersenyum tipis ke arah Ella, dia mendudukkan Ella agar istrinya itu menghadap ke arahnya. Erik lalu menempelkan telinganya ke arah perut Ella.


“Apa anakku yang kamu bawa ini menyusahkanmu, kamu nggak nyidam aneh-aneh kan?” Ella tersenyum saat mendengar ucapan Erik.


“Dia hanya merindukanmu, sudah satu minggu kamu tidak pernah menyapanya,” ucap Ella tersenyum menggoda ke arah Erik.


“Sepertinya bukan hanya anakku! Tapi kamu juga?” ucap Erik sambil mendekatkan wajahnya ke arah Ella.


“Mas kemana saja, seminggu ini? Mas nggak lagi nyari Mama muda kan?” tanya Ella sambil mengalungkan tanganya ke leher Erik, menatap wajah suaminya itu dengan sangat dekat.


“Mas sudah punya yang lebih baik, dari wanita di luar sana, jadi tidak butuh mama muda ataupun mama tua,” ucapnya balik menatap Ella dengan senyuman manis.


“Apakah sudah siap? Sepertinya akan sangat lama permainan kita kali ini, karena Mas sudah berpuasa sangat lama,” ucap Erik sambil melepaskan baju yang dia kenakan.


“Astaghfirulloh...,” ucapnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia pun mengabaikan telepon yang sejak tadi belum berhenti berdering itu.


Entah karena kebetulan atau apa? Baru Ella akan mengangkat telepon itu, teleponnya sudah tidak berdering lagi. Ella lalu kembali merebahkan tubuhnya berharap suaminya akan datang kembali ke alam mimpinya.


“Aku kangen kamu, Mas. Bisakah kamu pulang secepatnya,” ucapnya lirih sambil menatap tempat suaminya yang kosong.


“Anak kita juga merindukanmu, meski aku belum merasakan tendangannya, tapi aku yakin dia merindukan sentuhanmu, saat kau mengusap perutku,” lanjutnya sambil membuat lingkaran di area perutnya sendiri. Ella lalu tersenyum tipis ketika mengingat mimpinya tadi.


“Dalam mimpi pun, kamu masih tetap mesum ya? Datang hanya untuk minta jatah.”


Ella meraih ponsel suaminya yang sejak tadi di charge itu, mencoba menyalakannya, beruntung telepon Erik tidak pernah menggunakan password, jadi Ella bisa dengan mudah menggunakan ponsel itu. Tidak ada hal yang mencurigakan di ponsel itu, hanya panggilan keluar terakhir yang tertuju pada Yohan.


Ella yang sudah merasa bosan berada di kamar itu, segera mengambil tasnya dan bersiap akan pulang ke apartemen.

__ADS_1


Saat dia berjalan ke luar banyak tatapan sendu menatap ke arahnya, tapi Ella enggan bertanya kepada para karyawan itu, hingga akhirnya dia bertemu dengan Hanin assistanya yang cerewet itu.


“Hanin...,” panggil Ella saat melihat Hanin yang tengah berjalan ke arah apotek.


“Bu Dokter. Hai ..., gimana Bu sudah sehat?” tanya Hanin pada atasannya yang terlihat pucat itu.


“Aku tidak sakit Hanin! Aku hanya merindukan suamiku!” jawab Ella penuh penegasan.


“Apa kamu tahu di mana suamiku, Nin?” Hanin terlihat gugup saat mendengar atasannya mengatakan itu. Dia ingin sekali memberitahu Ella, tapi dia juga takut dengan ancaman Yohan yang akan memecat siapapun yang memberitahu Ella. Apalagi Yohan sudah memberikan surat ultimatum, pada seluruh perawat dan karyawan di sini, jika berani membocorkan rahasia kejadian waktu itu kepada istri bos nya.


“Maaf Dok, saya harus mengambil obat ini ke apotek, karena pasien sudah menunggu saya,” ucap Hanin sambil menatap ke arah jalan apotek, berharap kebohongannya itu tidak diketahui atasannya.


“Ya sudah! Urus saja pasienmu, aku juga harus kembali, siapa tau Mas Erik sudah pulang ke rumah,” ucap Ella lalu berjalan ke luar rumah sakit, untuk mencari taxi yang terparkir di depan rumah sakit.


Setelah sampai di apartemen, dia mencari ke seluruh ruangan, takutnya suaminya sudah pulang saat dia pergi tadi. Setelah tidak mendapati Erik, Ella berjalan ke arah depan tv. Duduk sendiri di sana, hanya di temani suara jam yang tidak henti-hentinya berdetak. Hingga dering suara telepon mengalihkan perhatiannya. Dia lalu segera mengangkat telepon itu dengan tangan yang sedikit ragu.


“Hallo ...,” ucapnya sambil mengangkat telepon. Setelah menunggu beberapa detik tidak ada sautan dari si penelepon.


“Hallo... hallo...” ulang Ella tapi masih belum ada reaksi dari ujung telepon.


“Hall-


“Sayang.” Ella yang mendengar itu, bibirnya langsung bergetar ingin menyebut nama suaminya tapi merasa kesulitan, karena tidak percaya suaminya akan menelepon ke nomor yang ada di apartemennya.


Bersambung ....


.


.


Terimakasih ya atas dukungan votenya.

__ADS_1


Jangan lupa like dan koment, saran juga boleh agar saya lebih baik lagi👍🙏


__ADS_2