
Happy reading...
.
.
.
Setelah sampai di salah satu Mall terbesar di Jakarta, Erik segera membawa istrinya untuk masuk ke dalam. Merangkul pinggang istrinya dengan erat takut istrinya lari dan pergi jauh darinya.
“Mau apa coba ke sini Yang?” tanya Ella sambil mengalungkan tangannya ke lengan Erik.
“Nonton film romantis!”
“Hah...,” kaget Ella saat mendengar jawaban singkat suaminya, “Nggak ingat umur,” lirih Ella sambil melirik suaminya.
“Apa? Coba ulangi ucapanmu!” Ella menampilkan senyumnya saat melihat raut wajah Erik yang sudah mulai berubah.
“Belum keriput Yang, kita seperti seumuran kok, lihat deh kaca itu,” ucap Erik sambil menghentikan langkahnya lalu menatap dirinya dalam pantulan kaca, sambil memperlihatkan wajah tampannya ke arah pantulan kaca. Tanpa melihat sekitar yang tengah memperhatikan kelakuan lelaki yang hampir kepala 4 itu.
“Iya kita memang seumuran, suamiku yang tam-pan!” ucap Ella menghibur suaminya sambil menegaskan kata diujung kalimat. Lalu Erik tersenyum dan melanjutkan jalannya menuju studio yang terletak di lantai paling atas. Tanpa menawari film apa yang ingin dilihat, Erik langsung membeli tiket film romantis. Entah siapa artisnya, yang penting dia mencari film yang bergenre romantis. Erik yang tengah mengantri membeli popcorn, sesekali melirik ke arah Ella yang tengah memainkan ponselnya, takut jika ada lelaki yang duduk di sampingnya karena kursi di samping Ella tengah kosong.
Setelah lama mengantri untuk membeli popcorn dan minuman, akhirnya Erik mendapatkan keinginannya. Saat menghampiri istrinya, Erik yang cemburu langsung menarik tangan istrinya lantaran Ella tengah asyik mengobrol dengan pemuda yang lumayan tampan menurutnya.
“Jangan berikan senyum manismu itu ke orang lain,” bisik Erik sambil berjalan ke arah studio.
“Cemburu ya ..., masa iya? aku naksir brondong, sedangkan suamiku tampan dan mesumnya melewati batas,” ucap Ella sambil mencubit pipi suaminya.
“Siapa tau nanti setelah kepincut cinta Dokter Erik, kamu kepincut brondong manis,” ucap Erik yang sudah duduk di ruang tunggu dekat studio.
“Nggak akan mungkin, kamu satu untuk sekarang dan selamanya,” ucap Ella meyakinkan.
__ADS_1
“Yakin banget ngomongnya, berarti kalau Mas punya istri lagi, kamu selamanya akan tetap di samping Mas?” tanya Erik.
“Ya. Aku akan bertahan sekuat hati dan tenaga, tapi jika satu hari setelah Mas menikah aku tersakiti aku lebih baik pergi,” ucap Ella serius.
“Udah ah... Nggak mau Mas ngomongin poligami, nggak bisa bayangin harus memberi nafkah batin dengan kedua istriku nanti, hahaha...” ucap Erik sambil tertawa lirih takut orang mendengarkan ucapannya.
“Ih... kamu yang diingat cuma memberi nafkah batin! Belajar tentang poligami dulu sana baru deh dijalanin,” ucap Ella sambil memakan popcorn yang diberikan suaminya.
“Nggak Mas cuma mau denganmu, nggak akan ada lagi yang bisa menyandang gelar Ny. Erik.” Ella tersenyum manis ke arah Erik lalu memeluk Erik dari samping.
“Terimakasih suamiku yang tampan, aku pegang ucapanmu sampai nanti aku tak bisa lagi menemanimu,” ucap Ella yang berbisik ke arah Erik. Membuat Erik merasa aliran darahnya memanas karena hembusan nafas istrinya tepat mengenai lehernya.
“Kita pulang saja Yuk!” ajak Erik yang merasa aliran darahnya semakin panas.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Ella.
“Ada, dan ini kesalahanmu!” ucap Erik, “Mas ingin memakanmu!” lanjutnya. Ella yang mendengar itu langsung menjauhkan tubuhnya dari Erik.
Saat masuk ke studio terdengar alunan musik yang menenangkan, lampu masih menyala dan penonton juga belum banyak yang masuk ke dalam ruangan. Setelah mendapatkan tempat duduk Ella mulai mencari posisi ternyamannya, dibantu Erik yang membenarkan tempat duduk agar Ella bisa bersandar di bahunya.
Lampu mulai dimatikan, banyak kursi di depan sana yang masih kosong, penonton pun tak begitu banyak, hanya separuh kursi yang terisi oleh penonton. Film kali ini bukan film komedi melainkan film romantis yang sedikit menampilkan adegan vulgar. Erik yang melihat film itu hanya bisa berdehem saat adegan panas dimulai, sesekali mengecup pipi Ella saat film itu menayangkan adegan panasnya, dan Ella hanya bisa menutup matanya saat melihat adegan yang tengah ditayangkan, menurutnya itu hal memalukan.
“Kenapa Mas beli tiket film seperti ini sih?” bisik Ella yang kali ini di depan wajah suaminya.
“Mas fikir isinya nggak seperti ini, hehehe,” jawabnya yang diakhiri tawa lirih.
“Mamay... Aduh keluar saja yuk,” ucap Ella sambil menutup mata Erik.
“Kenapa sih Yang, Mas sudah dewasa nggak perlu juga kamu seperti ini,” ucap Erik masih dengan tawa lirihnya, dia semakin gemas dengan kelakuan istrinya itu. Ella lalu menarik tangannya dan membiarkan Erik melihat adegan pemanasan itu.
Setelah di layar itu tidak menampilkan adegan panas, mata Ella dibuat melotot karena sekarang orang yang duduk di depannya yang menampilkan adegan panasnya. Terlihat cowok itu dengan agresifnya mencium bibir sang wanita dengan tangan yang sudah berada di area terlarang wanitanya. Ella menoleh ke arah suaminya yang tengah tersenyum menikmati pemandangan gratis itu.
__ADS_1
“Uhuk..., uhuk...” Ella pura-pura batuk agar Erik tersadar dengan apa yang tengah dia lihat. Erik lalu menoleh ke arah Ella dan tersenyum.
“Mas hanya penasaran sampai mana mereka akan melakukannya,” ucap Erik memberikan alasan agar istrinya tidak marah. Lalu dia mendekatkan bibirnya untuk mencium pipi istrinya.
“Sudah yuk ayo pulang! Kurang panas filmnya. Mas punya yang lebih panas dari ini,” ucap Erik lalu segera menutup mulutnya karena baru menyadari ucapannya yang keceplosan.
“Apa tadi Mas bilang? Mas simpan di mana film seperti itu!” maki Ella lirih takut terdengar dan menganggu.
“Kenapa memangnya? Atau jangan-jangan kamu mau lihat juga ya?” canda Erik. Ella yang mendengar itu langsung berdiri dan meninggalkan suaminya. Berjalan menuju toilet wanita karena sedari tadi dia ingin buang air kecil.
Erik yang melihat Ella masuk ke dalam toilet, hanya bisa menunggunya di luar, sambil melihat ponselnya, membalas chat mamanya yang menyuruhnya untuk berkunjung ke rumah. Erik langsung merangkul Ella saat melihat istrinya itu keluar dari toilet. Mereka tidak ingin masuk ke dalam studio film romantis itu lagi, karena ternyata filmnya kategori hot romantic.
“Mas, apa aku kurang menarik hingga Mas nonton film seperti itu?” tanya Ella yang berjalan di samping Erik.
“Maksudmu apa? Mas nggak ada lihat film begituan, nggak ada waktu untuk seorang Dokter Erik melihat film seperti itu,” bohong Erik karena malu juga jika istrinya melihat koleksi di laptopnya. “Kamu mencium Mas saja sudah bisa membangkitkan gairah Mas, jadi jangan bicara bahwa kamu kurang menarik, kamu itu cantik, sexy, apalagi di tambah perutmu yang gendut ini, setiap menatapmu rasanya Mas tidak bisa untuk tidak menyentuhmu,” ucap Erik berbisik di samping Ella.
“Aku sexy? Bukan krempeng lagi?” tanya Ella pada suaminya.
“Iya kalau nak*d di depan Mas, kalau begini masih saja krempeng,” canda Erik mencubit hidung istrinya.
“Ya syukurlah kalau aku sexy didepanmu saja, karena itu yang aku inginkan,” ucap Ella sambil tersenyum.
Mereka berdua benar-benar meninggalkan studio film dan makananya di sana, padahal film baru di putar 30 menit. Tapi Ella dan suaminya sudah tidak ingin melanjutkan nonton filmnya takut jika Erik tidak kuat jika tidak di ajak pulang.
.
.
.
Terimakasih...
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan vote.👍😊