
Lima tahun kemudian.
Di kamar yang sudah tidak terang lagi, dua insan itu masih asyik melakukan aktivitas dewasa, meski keduanya sudah tidak muda lagi, tapi yang namanya kebutuhan harus dipenuhi, supaya tidak menjalar ke emosional dan penyakit kronis lainnya.
Erik terlelap setelah pelepasannya, Ella yang masih terbangun mengusap dahi suaminya, yang masih tertinggal peluh keringat yang keluar dari tubuhnya.
Hari ini, dia kesulitan untuk memejamkan mata, setelah seharian mengemasi barang bawaan Kalun untuk pergi ke luar negeri, dia juga harus menyiapkan hatinya untuk perpisahan besok dengan anak lelakinya.
Ella lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat berada di dalam kamar mandi, dia menatap tubuhnya yang sudah mulai tidak kencang lagi, tapi dia bahagia bisa menemani dan menua bersama dengan Erik.
Setelah selesai, Ella lalu berjalan pelan menuju ranjangnya. Dia mengingat kembali jika besok Kalun akan pergi meninggalkan Jakarta, hatinya sedikit sesak untuk menerima kenyataan, jika putra pertamanya itu akan benar-benar pergi meninggalkannya. Dia menangis tersedu-sedu, dengan posisi memunggungi suaminya. Hingga Erik yang merasa terganggu, mengusap matanya untuk memastikan kondisi Ella.
“Sayang, kenapa menangis?” tanya Erik sambil mengusap pelan punggung Ella. Erik mengedarkan pandangannya ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Karena tidak mendengar jawaban dari Ella. Erik lalu membawa Ella ke dalam pelukkan.
“Kenapa? Cerita sama Mas!” perintah Erik sambil menciumi pucuk kepala Ella.
“A-aku nggak bisa melepasnya Mas,” terang Ella, tubuhnya bergetar saat mengucapkan itu pada Erik, air matanya pun semakin deras mengalir.
“Kaluun,” lirihnya sambil menatap mata Erik.
“Jangan seperti ini, atau aku tidak akan menyuruhnya untuk pulang,” ancam Erik pada Ella. Ella langsung melepaskan pelukkan suaminya.
“Aku akan ikut dengannya, boleh ya?” pinta Ella yang menampilkan wajah memohon di depan Erik.
“Kamu mau meninggalkan suamimu di sini sendirian?” tanya Erik sambil menatap lekat reaksi wajah Ella. Ella justru semakin keras menangis, dia tidak bisa memilih di antara lelaki yang sangat di cintainya.
“Kita bisa ke sana, setiap akhir bulan. Apa kamu lupa jika suamimu ini punya pesawat pribadi?”
Ella hanya diam, tidak mampu memikirkan ucapan Erik. Dia menatap ke arah jendela, yang sudah tampak berembun di sana.
“Jangan begitu lagi, kamu harus bisa melepasnya, dia satu-satunya yang akan menggantikanku, dan aku akan cemburu jika kamu seperti ini,” jelas Erik sambil menidurkan lagi tubuh Ella. “Apa kamu mau nambah lagi?” tawar Erik dengan suara tawanya.
Erik yang melihat Ella belum memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan Ella, dia memeluk Ella dari samping supaya istrinya itu segera tertidur.
“Mas.”
“Hemm,” sahut Erik yang hampir tertidur.
“Kenapa perutku sakit sekali?” tanya Ella sambil meraba perutnya.
__ADS_1
“Kamu sudah makan?” tanya Erik, Ella hanya menganggukan kepalanya.
“Mungkin sebentar lagi datang bulan,” jelas Erik sambil meraba lembut perut Ella.
“Apa mau aku buatkan minuman hangat?” tawar Erik saat merasakan perut Ella yang terasa sedikit mengeras.
“Nggak perlu, kamu usap terus saja, sepertinya itu lebih baik,” jelas Ella sambil mulai memejamkan matanya. Erik yang mendengar perintah Ella, menuruti perintah Ella, hingga Ella bisa tertidur nyenyak, dia baru mulai kembali melanjutkan tidurnya yang tadi terputus.
___
Pagi pun tiba, seperti biasa keriwuhan terjadi di rumah mewah Erik. Si kembar yang masih SMP, sudah siap dengan seragamnya. Sedangkan Riella sudah siap dengan pakaiannya, karena dia hari ini akan mendaftar kuliah di UI. Sebenarnya dia ingin ikut dengan kakaknya, tapi Erik tidak mengizinkan karena dia anak perempuan, takutnya akan terjerat pergaulan bebas ketika berada di luar negeri.
“Kak, hati-hati ya, jangan punya pacar di sana!” peringat Riella yang memeluk pinggang kalun dari samping.
“Nggak akan! Kakak sudah punya Kayra yang akan selalu setia di sini, jadi Kakak akan menjaga hati ini untuk Kayra,” jelas Kalun sambil berusaha melepaskan pelukkan Riella.
Setelah berpamitan dengan orang seisi rumah, Kalun segera berangkat ke bandara, dia diantarkan oleh Erik dan Ella.
Ketika tiba di bandara, Kalun segera berpamitan pada Ella. Dia memeluk wanita kesayangannya itu dengan erat, dia juga berat meninggalkan mamanya, karena orang yang paling dekat dengannya adalah mamanya, mamanya yang selalu memyiapkan kebutuhannya setiap hari.
“Ma, jangan nangis ya, kita masih bisa ketemu kok,” ucap Kalun, saat berada dipelukkan Ella.
“Kalun.” Kayra yang baru saja tiba memdekat ke arah Kalun yang tengah memeluk Ella.
“Hai Kay.” Kalun menjawab sambil tersenyum ramah ke arah Kayra. “Aku berangkat ya, kamu jaga diri baik-baik, setelah pulang nanti aku akan segera melamarmu,” lanjut Kalun yang sudah berdiri di depan Kayra.
“Iya, aku tunggu ya! Boleh kita berpelukkan?”
“Maaf Kay, aku hanya boleh memeluk Mamaku saja sebelum kita halal,” terang Kalun sambil meraih pinggang Ella, bibirnya tersungging ketika menolak permintaan Kayra.
Erik yang mendengar itu, hanya menggelengkan kepalanya, karena kepolosan anak lelakinya tersebut.
Kalun yang mendengar panggilan pesawatnya akan berangkat dia segera berpamitan lagi.
“Semuanya Kalun berangkat dulu ya, sampai ketemu lagi, dah Ma, Pa doain Kalun supaya cepat lulus,” ucap kalun sambil melambaikan tangannya, lalu berjalan meninggalkan keluarganya.
Ella yang dari tadi mencoba tegar untuk tidak menangis di depan Kalun, kini tidak tahan lagi dia langsung memeluk tubuh Erik, membemamkan wajahnya di dada suaminya. Ella menagis keras di sana, hingga membuat kemeja Erik basah karena air matanya.
Sesaat kemudian, Ella merintih kesakitan, ketika merasakan perutnya yang terasa kram. Dia mencekram kuat lengan Erik, untuk menyalurkan rasa sakit yang tengah dideritanya. Karena tidak kuat dengan rasa sakitnya, Ella pinsan di pelukkan Erik membuat semua orang yang berada di sana panik, dengan apa yang di alami Ella.
__ADS_1
Erik segera menelepon Pak Roni untuk segera mendekat ke area pintu bandara, dan segera membawa Ella ke rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, Erik segera menghubungi dokter terbaik untuk memeriksa kondisi Ella. Wajah Ella yang pucat membuat Erik semakin bertambah panik. Dia tahu pasti sejak semalam Ella menahan rasa sakit itu.
“Pak Erik! Bisa ke ruangan saya sebentar,” ajak dokter wanita yang tadi memeriksa kondisi Ella.
“Katakan!” perintah Erik setelah berada di ruang kerja dokter wanita tersebut.
“Bu Ella keguguran!”
Erik kaget, tidak percaya ketika mendengar ucapan dokter wanita di depannya, dia tidak pernah berpikir jika Ella bisa hamil lagi, di usianya yang sudah akan menginjak 46 tahun. Meski Ella ingin hamil lagi, tapi Erik tidak mengizinkan, lantaran selalu teringat saat kelahiran si kembar yang harus melewati proses cessar. Erik memastikan jika penyebab Ella keguguran itu karena faktor usia, atau karena dia kelelahan mengemasi barang Kalun kemarin.
“Ya, baiklah, saya mengerti.” Erik lalu meninggalkan ruangan dokter tersebut, dia lebih memilih memeriksa ulang kondisi Ella dan menunggunya di sana.
“Maaf Sayang,” ucap Erik lirih sambil mengenggam tangan Ella.
“Mas, tahu kamu menginginkannya, tapi Allah berkata lain, dia tidak mampu bertahan, semoga kamu bisa ikhlas menerima kepergiannya,” ucap Erik sambil mengusap punggung tangan Ella.
Ella yang sebenarnya sudah membuka matanya, hanya bisa menagis tanpa suara, saat mendengar ucapan Erik.
“Kamu sudah bangun?” tanya Erik yang menyadari tangisan Ella.
“Maafkan aku Mas, aku nggak bisa menjaganya,” ucap Ella sambil memukul kasar kasur dengan tangannya.
“Stt ... nggak ada yang bersalah, itu berarti bukan rezeki kita,” jelas Erik yang menenangkan Ella.
“Tapi ...”
“Sudahlah, jangan bersedih lagi! Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, bisa jadi semalam Mas terlalu menyakitinya,” ucap Erik sambil tersenyum tipis ke arah Ella.
“Bulan depan kita planning lagi!” pesan Ella yang membuat dahi Erik berkerut.
“Yakin? Kita sudah tua loh, bukan anak lagi yang kita harapkan,” jelas Erik sambil terkekeh berusaha menghibur istrinya.
Sedangkan Ella hanya membuang nafas kesalnya, karena hari ini dia harus kehilangan dua anaknya. Tapi beruntungnya, ada suaminy yang selalu berada di sampingnya, saat melewati hal berat seperti ini.
👣
Next extra partnya pertunangan Kalun ya, karena di "Mistake" belum dibahas jadi aku bahas di sini. Jadi jangan unfavorit dulu👍
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komentar. Votenya disimpan saja besok, buat "Mistake".