
Happy reading, jangan lupa klikπ dulu ya.
*
*
β Apa kita cerai saja! Jika Mas merasa sudah lelah, β ucap Ella pelan saat tidak mendapat respon jawaban dari Erik.
Erik langsung membuka matanya saat mendengar kata cerai yang keluar dari bibir Ella, meskipun dia berkata pelan tapi Erik masih bisa dengan jelas mendengarnya, dia bangun dari posisi tidurnya, menatap tajam ke arah Ella yang tengah menundukkan kepalanya.
β Segitu dangkalnya otakmu, dikit-dikit minta cerai! Itulah kenapa hak talak diberikan pada lelaki karena laki-laki selalu menggunakan akal pikirannya untuk berpikir ke depan, sedangkan wanita selalu gegabah dalam mengambil keputusan, tidak pernah memikirkan kedepannya, β ucap Erik panjang lebar, Ella sudah semakin deras mengeluarkan air matanya, saat mendengarkan ucapan suaminya, ini pertama kali Erik berbicara kasar padanya. Erik berhenti sejenak menarik nafas panjang, hening. Hanya deru suara ombak yang terdengar di telinga mereka berdua, dia kembali menarik nafas panjang lagi, dia merasa lelah menghadapi sikap istrinya, tapi dia sangat mencintainya.
β Lebih dari separuh hidupku, aku menanti waktu untuk bisa memilikimu, bersanding denganmu, apa itu tidak terlalu kejam untukku, jika kamu hanya di sampingku selama 6 bulan, Hah! β ucap Erik dengan nada sedikit keras.
β Mana janjimu yang katanya ingin menua bersama Mas, apa kamu sudah merasa bosan hidup bersamaku? β tanya Erik pada Ella yang masih diam membisu.
β Banyaknya masalah harusnya bisa membuat kita lebih baik lagi, bukan untuk membuat kita menjauh dan bercerai, β Ella semakin menangis keras saat Erik mengucapkan kalimat itu. Ingin rasanya Erik menenangkan istrinya itu, membawa Ella ke dalam pelukannya, Ella menatap kosong hamparan air laut di depannya, malam ini adalah malam pertama dia bertengkar hebat dengan suaminya, tiba-tiba Erik memeluk Ella dari belakang karena sudah tidak tahan menahan rasa perih saat melihat istri yang dicintainya menangis.
β Jangan mudah mengatakan cerai! β bisik Erik di dekat telinga Ella, lalu membalikkan tubuh Ella menghadapnya, dia mengangkat kepala Ella menghadap ke arahnya. Menatap mata berair Ella yang tak kunjung berhenti. Erik membersihkan air mata Ella dengan bibirnya, rasanya asin, pahit jadi satu. Erik lalu membawa Ella ke dalam pelukkannya, memeluk Ella erat membuang kekhawatirannya yang sudah dia tahan dari tadi.
β Jangan marah lagi, Lala janji mulai sekarang Lala akan jadi istri penurut buat Mas, tapi jangan seperti tadi, Lala takut kalau kamu pergi meninggalkan aku disini sendiri, β ucap Ella saat mengingat Erik yang menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, Erik mengusap rambut panjang istrinya, menenangkan Ella dengan sentuhan lembut.
β Mas hanya marah melihatmu di sentuh oleh lelaki lain, kamu bisa bayangkan! jika Mas datang terlambat sedikit saja, pasti kamu sudah benar-benar bercin-β ucapan Erik terpotong karena tangan kanan Ella sudah membungkam mulutnya dengan tangan kanannya.
β Jangan dilanjutkan lagi, Maaf... Maafkan aku! β ucap Ella sambil meringkuk di dada Erik mencari posisi ternyaman dan mendengarkan detak jantung suaminya.
__ADS_1
β Apa masih sakit, β tanya Erik menyentuh bibir Ella yang masih terlihat bengkak, meski luka robeknya tidak terlalu lebar, pasti besok akan jadi luka sariawan, yang akan bertambah sakit jika terkena makanan pedas atau asin, Ella hanya mengangguk sebagai jawaban. Suasana tiba-tiba hening ketika Ella sudah berhenti menangis, hanya terdengar suara ombak yang menderu dan suara para nelayan yang hendak mencari ikan di laut, Erik membawa Ella menyusuri bibir pantai, entah apa yang ada di otaknya padahal jam sudah menunjukkan pukul 00.30 dini hari, tapi dia justru mengajak istrinya menikmati udara dingin .
β Mas. Kita duduk saja Lala sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, β Erik yang mendengar ucapan Ella langsung melepas sepatunya, agar Ella bisa duduk di atas sepatu miliknya.
β Mas duduk dimana? β tanya Ella saat melihat Erik tidak punya alas untuk duduk, Erik yang mendengar ucapan Ella langsung mendudukan dirinya di hamparan pasir di samping Ella. Mereka menikmati hembusan angin malam yang dingin itu, tanpa ada penganggu, Ella menatap wajah Erik yang tengah menatap ke arah lautan hitam itu.
β Apa Mas menyesal menikah denganku? β Erik menoleh ke arah Ella dan menatap wajah istrinya yang terlihat sembab itu, cukup lama dia terdiam.
β Memilikimu adalah keajaiban dalam hidup Mas, tak ada penyesalan sedikit pun yang Mas rasakan, β ucap Erik lalu membawa Ella ke dalam pelukkannya.
β La. Sebenarnya seberapa besar cintamu pada Mas? β tanya Erik sambil merapikan rambut Ella yang berantakan tertiup angin.
β Tidak bisa diukur dengan alat manusia, karena cintaku padamu tidak terlihat, tapi bisa kurasakan, β jelas Ella.
β Benarkah sebesar itu? β Ella mengangguk meyakinkan suaminya.
β Berjanjilah kita akan selalu bersama, kamu akan selalu menggandeng tanganku saat aku lemah, dan kita akan hidup tua bersama, dan ada satu lagi yang lebih penting, β Ella mendongak ke arah Erik, meminta Erik untuk melanjutkan ucapannya.
β Jangan ucapkan kata cerai lagi, apapun yang akan terjadi, karena Mas lemah tanpamu, β lanjut Erik menatap balik ke arah Ella. Ella mengangguk mengerti, dia tidak bisa berkata-kata lagi, hatinya bagai teriris saat mendengar ucapan Erik yang terakhir.
β Apa itu termasuk jika aku tidak bisa melahirkan anakmu? β tanya Ella tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.
β Iya. Karena hidup berdua denganmu saja, itu sudah cukup untuk Mas, tapi yakinlah setelah ini kita akan memiliki banyak anak, kita akan segera mendengarkan tangisan anak pertama, kedua, ketiga kita, bahkan kalau bisa sampai anak ke sepuluh, β ucap Erik yang dihadiahi pukulan oleh Ella.
β Aku jadi mengantuk mendengar khayalanmu, β ucap Ella jujur, karena tidak biasanya dia begadang hingga selarut ini.
__ADS_1
β Tidurlah disini Mas akan menjagamu, β ucap Erik sambil menepuk dadanya, Ella yang saat itu duduk di samping Erik, berpindah menjadi duduk di depan Erik, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
β Ceritakanlah tentang khayalanmu yang indah-indah sebagai pengantar tidur untukku, β pinta Ella yang membuat Erik menyunggingkan senyumannya.
Tidak butuh waktu lama, Ella sudah tertidur nyenyak di pelukkan Erik, Dia menghentikan ceritanya menatap lekat wajah istrinya yang sembab itu, air matanya yang dia tahan sedari tadi akhirnya lolos juga, dia menangis tanpa suara mengingat kejadian malam ini, beruntungnya dia datang tepat waktu, bagaimana jika Ella benar-benar dinodai dan hamil dari lelaki brengsek itu, membayangkan saja Erik tidak akan sanggup, dia sangat mencintai istrinya, mungkin hanya dia yang tahu seberapa dalam rasa cintanya terhadap Ella, dia mengeratkan pelukkanya ke tubuh Ella, membuat Ella memberontak karena tidak bisa bernafas.
β Maaf... Tidurlah Sayang, β ucap Erik lalu mengecup pucuk rambut Ella, dia masih ingin menikmati dinginnya angin laut dan pantulan cahaya bulan purnama itu, hingga pukul 2 dini hari dia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil, Erik segera melajukan mobilnya meninggalkan pantai yang akan menjadi kenangannya itu, melajukkan mobilnya dengan pelan menuju villa miliknya.
Setelah 30 menit mereka tiba di villa, Erik disambut ramah oleh karyawan yang berjaga di pintu masuk.
β Tolong buka kan kamar saya! β perintah Erik pada karyawan dihadapannya, karena tangan Erik saat ini sedang menggendong istrinya, setelah pintu terbuka Erik segera menyuruh karyawan villa itu untuk meninggalkannya. Erik masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuh Ella ke ranjang, dia dengan telaten menggantikan baju Ella dengan baju yang lebih nyaman dipakai, tentunya baju yang menurutnya enak dipandang, setelah selesai Erik ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya, menarik selimut agar menutupi tubuh Ella dan dirinya, berharap hari esok akan lebih baik.
*****
Pagi pun datang, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi, tapi pasangan itu masih terlelap di bawah selimut, Erik yang terbangun lebih dulu meraba sisi kirinya, ternyata istrinya masih berada di sampingnya, dia menoleh ke arah Ella yang masih terlelap, lalu mencium kening istrinya, dia sedikit panik saat merasakan rasa panas di bibirnya, dia menempelkan punggung tangannya untuk memastikan kondisi Ella, dia mengecek suhu tubuh Ella yang sedikit panas itu.
β Yang, kamu demam? β tanya Erik namun tak mendapatkan jawaban dari Ella karena dia masih memejamkan matanya, Erik berjalan ke kamar mandi mengambil baskom yang sudah terisi air hangat dan handuk kecil, dia memeras handuk kecil itu dan menempelkan di kening Ella, Ella yang merasakan hangat di keningnya pelan-pelan membuka matanya yang sedikit lengket karena terdapat kotoran mata.
β Jangan bergerak dulu, kamu baru demam, β ucap Erik yang membuat Ella kembali mejamkan matanya, tiba-tiba dia bangun dari tidurnya berlari menuju kamar mandi.
Hueekkkk....hueekkkkk.....
Erik segera mendekat ke kamar mandi setelah mendengar suara Ella yang sedang muntah, dia mengusap tengkuk Ella saat sudah berada di balik ella.
β Apa kamu terlambat datang bulan? β tanya Erik yang sudah berpindah berdiri di samping Ella, Ella mengernyit menatap dalam ke arah Erik, biasanya suaminya yang lebih hafal kapan dia akan datang bulan.
__ADS_1
β Aku tidak pernah mengingatnya, β jawab Ella singkat, Erik yang mendengar itu segera keluar dari kamar mandi, memeriksa ponselnya, karena dia juga lupa kapan istrinya terakhir datang bulan, untungnya Erik selalu memasang alarm tanda merah setiap tanggal datang bulan Ella. Setelah mendapatkan jawaban dari ponselnya, dia kembali menghampiri Ella yang tengah mengeluarkan cairan bewarna kuningnya, dia menunggu istrinya sampai selesai, lalu mengangkat tubuh Ella kembali ke ranjang.
Terimakasih yang sudah memberikan dukungan ke karya saya, jangan lupa ya yang belum ikutan challenge segera kirim tautannya ke fb saya tutorialnya bisa dilihat di bab 100.π