
Mereka berdua masih betah berada di bawah Menara Eifell, Erik memeluk tubuh Ella agar istrinya itu lebih hangat lagi, dia tidak merasa risih meski mereka berdua seharian belum mandi.
“Anak-anak lagi ngapain ya Pap?” tanya Ella saat melihat di depannya ada anak kecil seumuran Kalun yang tengah berlarian.
“Mungkin baru belajar, hey aku di sini! Aku juga butuh perhatian darimu!”
“Dari kemarin aku sudah manjain kamu, nggak sadar saja kamunya!” ucap Ella.
“Kamu capek? Ayo kita kembali ke hotel,” ajak Erik yang sudah menggendorkan pelukannya.
“Nggak capek, cuma terlanjur nyaman saja dengan posisi seperti ini,” jelas Ella yang masih menyadarkan kepalanya di dada bidang Erik.
“Ayo sepertinya aku membutuhkan sesuatu,” ajak Erik yang sudah berdiri di depan Ella. Dia lalu menggandeng tangan Ella, supaya Ella mau mengikuti langkahnya.
Mereka berdua berjalan menuju hotel tempatnya menginap, Erik terus bercerita ke sana-kemari supaya perjalanannya tidak terasa lama.
“Mau aku gendong lagi?” tawar Erik saat Ella merangkul lengannya.
“Nggak perlu, aku hanya ingin waktu seperti ini lebih lama,” jawab Ella.
“Apa! Kalau begitu kita kembali lagi ke sana,” ucap Erik yang kaget saat mendengar ucapan Ella.
“Kita akan seperti ini terus kan Pap, kamu akan selalu berada di sebelah kananku saat aku senang maupun susah?” tanya Ella.
“Iya, sampai kita tua dan kita mati,” jawab Erik yang sudah terlalu malas menjelaskan hal itu pada Ella.
Lima belas menit kemudian mereka sudah berada di depan hotel tempatnya menginap. Erik segera menekan tombol lift untuk mengantar mereka berdua ke kamarnya. Pintu lift terbuka, tidak ada satu orang pun yang berada di dalam lift tersebut.
Erik melemparkan tatapan mesumnya ke arah Ella, dia seperti mendapat ide cemerlang yang belum pernah dia dapatkan selama ini. Bibirnya tersenyum, melihat pantulan tubuh Ella dari pintu lift. Ella tersentak saat merasakan bibir Erik mendarat di bibirnya, Erik menciumnya dengan penuh nafsu. Ella khawatir jika nanti pintu lift tiba- tiba terbuka dan seseorang melihat kelakuannya saat ini.
“Jangan khawatir semua sudah aman,” ucap Erik setelah melepaskan ciumannya. Dia lalu kembali mencium bibir Ella, tidak seperti saat pertama tadi, ciumannya kini lebih lembut, membuat Ella mampu membalas ciuman Erik, bahkan tangannya yang tadi meremas kemeja suaminya kini beralih melingkar di leher Erik. Dalam hati Erik tersenyum menang saat melihat respon Ella. Dia mengangkat tubuh Ella saat melirik ke angka yang tertera di samping pintu lift. Bibir keduanya masih terpaut, belum ada yang mau mengalah untuk melepaskan.
Ting
__ADS_1
Bunyi tanda pintu lift terbuka terdengar, pintu perlahan terbuka, mereka baru melepaskan ciumannya, beruntungnya di luar pintu tidak ada orang, mereka saling tatap satu sama lain, sambil mengatur nafasnya yang seperti habis berburu binatang buas.
“Sabarlah! Kita lanjutkan di kamar,” ucap Erik yang membuat wajah Ella merona. Ella yang berusaha turun dari gendongan Erik, hanya bisa pasrah ketika suaminya itu tidak mengizinkannya.
Erik segera membuka pintu kamar hotel ketika sampai di depan pintu kamarnya, setelah pintu terbuka dia langsung melemparkan tubuh Ella ke kursi yang ada di kamarnya. Erik melanjutkan ciumannya yang sempat tertunda tadi, dia mulai membuka jaket tebal yang Ella kenakan, lalu melemparkannya ke sembarang arah.
“Pap, apa nggak sebaiknya besok saja kita melakukannya, aku capek!”
“Hey ..., ini ibadah yang paling enak jika kamu lupa!” peringat Erik saat mendengar penolakan Ella. Ella membuang nafasnya kasar, jika sudah seperti itu, suaminya itu akan sulit menerima penolakan.
“Lakukan sesukamu, tapi jika aku lelah aku akan tidur.” Erik tersenyum lebar saat Ella berkata seperti itu, dia lalu melanjutkan kegiatanya. Erik mulai melepaskan baju yang Ella kenakan. Melupakan jika mereka berdua sama-sama belum mandi.
Di tengah rasa capek dan lelah yang menghampirinya, Ella masih bisa melayani suaminya dengan baik, bahkan dia menurut saat Erik memintanya untuk bergantian, saat Ella mencapai puncak pelepasannya dia langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Erik, karena tubuhnya benar-benar lelah, tanpa peduli jika suaminya itu belum mendapatkan kepuasaanya. Erik hanya bisa tersenyum saat melihat wajah Ella yang berada di bawahnya, mata Ella sudah terpejam, tapi bibirnya masih bisa mengeluarkan suara desah*n kecilnya.
“Aku kan, sudah bilang jangan panggil aku Uncle, ini hukumanmu karena tidak menurut,” ucap Erik saat di ujung pelepasannya. Dia lalu merjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Ella. Masih ingin menikmati aroma tubuh Ella yang menjadi candu baginya.
Keesokkan harinya, Ella yang masih berada di bawah Erik terbatuk karena merasakan sesak di dadanya. Dia membuka matanya, menatap kepala Erik yang berada di atas dadanya.
“Sepertinya aku sudah gila,” ucap Ella yang menyalahkan dirinya sendiri. Dia lalu berusaha mendorong tubuh Erik, karena merasakan benda keras yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Gila kamu ya Pap! Bisanya tidak melepas benda itu dariku!” maki Ella saat Erik mulai menggerakkan miliknya.
“Maaf semalam Mas kecapekkan, dan sangat ngantuk, bangun-bangun dia sudah bangun karena gerakkanmu!” ucap Erik yang masih memejamkan mata, “Sudah on dia Yang, kita lanjutkan lagi ya!” ucapnya yang sudah membuka matanya.
“Apa jadinya jika aku menolak!”
“Aku tidak menerima penolakkan, kamu milikku! Lagian ini juga demi adiknya Riella,” ucap Erik yang masih terus memainkan bagian bawahnya.
“Kalau begitu, lakukan secepatnya! Aku beri waktu kamu 5 menit!” ucap Ella yang membuat Erik terkekeh.
“Baiklah baby, i’m coming!” ucap Erik lalu melanjutkan aksinya. Ella sangat lemah dengan kelakuan Erik yang terus menggodanya. Tidak hanya 5 menit Erik melakukan hal itu, hingga waktu menunjukkan pukul 10 pagi, dia baru mengizinkan Ella untuk beranjak dari kasur empuknya.
“Kamu benar-benar menyiksaku!” bentak Ella ketika berada di kamar mandi.
__ADS_1
“Inilah yang di namakan bulan madu, aku hanya ingin menikmati waktu berduaan kita, membuat anggota baru untuk keluarga kita, dan menyenangkanmu,” ucap Erik sambil menggosok tubuh Ella dengan sabun.
“Hari ini aku mau di kamar saja, sepertinya aku tidak bisa berjalan-jalan lagi, lihatlah leherku juga seperti ini, ini sangat memalukan,” ucap Ella sambil menunjuk lehernya.
“Hahaha baiklah, aku akan mengingatkanmu juga akan hal ini,” ucap Erik sambil menunjuk kissmark di lehernya, “Tapi aku tidak akan malu menunjukkan hal ini kepada orang-orang, aku ingin memberitahu ke semua orang, betapa liarnya istriku pagi ini,” goda Erik yang langsung mendapat pukulan dari Ella. Ella segera meraih handuk di sampingnya. Meninggalkan Erik yang belum mandi di sana.
Ella segera membuka kopernya, berniat mencari baju yang panjang dan yang tidak mencetak lekuk tubuhnya dengan jelas, supaya suaminya itu tidak tergoda dengannga lagi, tapi dia kaget saat melihat baju yang dia bawa sudah berubah menjadi lingrie semua, dia berpikir jika suaminya lah yang sudah mengganti isi kopernya.
“Dasar pria mesuuummm!” teriak Ella yang bisa di dengar oleh Erik. Beberapa hari ini dia memang belum membuka koper, karena di tas punggunggnya masih terdapat beberapa baju. Erik tertawa senang saat keluar dari kamar mandi.
“Kamu kan pelakunya?” tanya Ella sambil menatapnya marah.
“Kenapa? Kan nggak papa jika memakai itu di depanku!”
“Iya masalahnya, aku butuh baju panjang untuk menghangatkan tubuhku,” jelas Ella yang sudah membelakangi Erik.
“Begitu ya ..., kalau begitu sini biar aku yang menghangatkanmu!” ucap Erik yang sudah memeluk Ella dari belakang.
“Aku merasa nyaman saat memelukmu,” ucap Erik sambil mengeratkan pelukkannya.
“Sudahlah jangan seperti anak muda, kita sudah tua, nggak pantas bicara romantis seperti itu,” jelas Ella yang menyandarkan kepalanya di dada Erik.
“Kamu saja yang tua, Mas nggak! Mas masih kuat jika untuk bermain semalaman.”
“Kamu ini, ngomongin itu terus, telingaku panas, tau nggak!”
Cup
Erik mencium telinga Ella, membuat Ella menggelinjang sambil terkekeh, karena rasa geli yang dia rasakan. Ella lalu melepaskan pelukkan Erik, dia berjalan ke arah sofa yang ada di kamarnya.
“Pap ..., pijitin dong!” perintah Ella dengan nada manja.
“Berhadiah nggak?” tanya Erik yang sudah mengangkat kaki Ella ke dalam pangkuannya. Dia lalu mulai memijat pelan kaki Ella, sambil sesekali melirik ke arah Ella yang tengah tertawa melihat acara tv di depannya, menurutnya tidak lucu, tapi istrinya bisa tertawa seperti itu. Erik bahagia sekali bisa menikmati waktu seperti ini lagi dengan Ella, wanita yang teramat dia cintai dan selamanya akan dia lindungi dari apapun itu.
__ADS_1
~
Update terakhir hari ini, jangan lupa untuk like, vote dan komentarnya ya!👍🙏