Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Nara & Rara


__ADS_3

Seminggu berlalu, kini Ella dan bayi kembarnya sudah diperbolehkan pulang, oleh dokter anak yang memantau kondisi anak kembarnya, karena berat badan bayi kembar Ella, mengalami kenaikkan berat badan yang pesat.


Saat ini, di rumah Erik dan Ella tengah ramai pengunjung, baik dari saudara maupun dari para sahabat keduanya. Erik segaja mengadakan pemotongan kambing tepat ketika bayinya diperbolehkan pulang.


Malam ini semua berkumpul di rumah Erik, untuk menyaksikan pemotongan rambut bayi keduanya.


“Bagaimana ... aku kan yang menang?” Erik melirik tajam ke arah Damar yang tengah menggendong Galang.


“Ku akui, selain tampan kamu rupanya jago juga bikin anak.” Damar sengaja mengeraskan suaranya, supaya adiknya yang tengah duduk di sofa itu bisa mendengar ucapannya.


“Sengaja ya loe, biar adikmu marah-marah ke gue!” Erik sudah menaikkan nada bicaranya saat mendengar ucapan Damar. Damar terkekeh sambil mendekat ke arah Ella.


“La, kata Erik masih mau minta kamu hamil lagi,” adu Damar yang melirik ke arah Erik yang menatapnya tajam. Ella tidak mau menanggapi ucapan kakaknya yang tidak penting itu. Dia masih asyik mengobrol dengan Ana karena sudah hampir 3 bulan mereka tidak bertemu.


Erik lalu berjalan ke arah Ella, yang tengah memangku anaknya yang ketiga. Dia segera mengambil alih anaknya karena sebentar lagi acara pengajian segera dimulai. Jihan yang juga datang, segera masuk ke ruang tengah untuk mengikuti acara akikahan cucunya.


Acara dimulai, setelah pembacaan doa kedua bayi itu dipotong sedikit rambutnya, biarkan sisanya Erik yang akan memotong. Erik lalu mengumumkan nama bayi yang sudah dia pilih. Erik memperkenalkan kedua bayinya itu di depan orang yang datang ke acara.


“Anak saya yang ketiga, dia lahir begitu kecil bahkan berat badannya tidak lebih dari 2 kg saat dia dilahirkan, tapi alhamdulillah berkat Asi istri saya, sekarang sudah naik menjadi 2300 gram, dan saya menamainya Naura Putri Ramones, kalian bisa memanggilnya 'Nara' dan anak keempat saya yang cantik seperti Mamanya ini. ” Erik menjeda ucapannya sambil melihat ke arah Ella. “Namanya Maura Putri Ramones, kalian bisa memanggilnya 'Rara'...” lanjutnya sambil memamerkan senyum bahagianya ke arah orang yang hadir di sana.


Setelah mengetahui nama bayi tersebut, pak uztad mulai membacakan doa-doanya, semua orang yang datang turut mengaminkan doa yang pak uztad itu ucapkan.


Semua tamu undangan turut merasakan kebahagiaan pasangan suami tersebut. Mereka dibuat takjub atas perjuangan dan kesetiaan Erik pada Ella. Lelaki itu bahkan tidak sempat memikirkan wanita lain ketika istrinya itu menghilang. Bahkan Erik bisa merawat kedua anaknya dengan baik.


Tamu undangan sudah meninggalkan rumah Erik dan Ella, karena acara sudah selesai. Tinggal kedua orang tua Erik saja yang masih tinggal di sana, turut menjaga bayi kembar Ella. Tapi beruntungnya bayi kembarnya itu tidak serepot saat Kalun dulu, yang tengah malam selalu minta begadang.


Kamar Utama Rumah Erik


Ella tengah menatap bayinya yang berada di box dengan mata berkaca-kaca, dia seperti bermimpi bisa punya bayi kembar yang menggemaskan ini. Akhirnya setelah 6 tahun dia bisa kembali merasakan repotnya mengurus bayi.


“Tidurlah, mereka tidak akan hilang.” Erik memeluk Ella dari belakang membuat Ella tersadar dari lamunannya.


“Sebentar saja ... aku masih ingin menatap mereka. Mereka perpaduan dari kita, sepertinya Nara dan Rara akan menjadi idaman lelaki di luar sana,” ucap Ella sambil mengusap jari mungil bayinya.


“Itu pasti dan tugasku yang paling berat, aku harus bisa mendidiknya menjadi anak sholikha, dan berakhlak baik, dan yang penting bisa menjaga kesuciannya supaya mereka bisa mengikuti Mamanya ini,” ucap Erik yang ditutup dengan kecupan singkat di bibir Ella.

__ADS_1


Ella tersenyum tipis, sambil mengusap pipi Erik. Namun, pandangannya masih tertuju pada kedua bayi yang berada di box.


“Kalun akan membantumu menjaga mereka, Riella, Nara, Rara, mereka punya Kakak dan Papa yang akan selalu melindunginya.” Ella membalas kecupan Erik, membuat senyuman lebar terukir di bibir suaminya.


Ella lalu berjalan meninggalkan box anaknya, hari ini dia sangat lelah karena menjamu tamu yang hadir. Erik yang melihat Ella tidak segera memejamkan mata, hanya mengamati gerak-gerik Ella yang seperti orang gelisah.


“Tidurlah di sini!” perintah Erik sambil menepuk lengannya. Ella menurut dengan ucapan Erik, dia meletakkan kepalanya di lengan Erik. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, dia mencari posisi ternyaman supaya bisa tidur dengan baik.


Selamanya ... sampai kita tua, Sampai jadi debu. Kau di liang yang satu ku di sebelahmu. Erik bernyanyi lirih sebagai penghantar tidur Ella, Erik mengecup singkat bibir Ella yang berada di pelukannya.


“Aku nggak tahu, kenapa bisa secinta ini padamu ... aku pikir dulu Mas cuma mengagumimu, karena kamu gadis kecil yang periang, meski tidak memiliki Mama, tapi perlahan rasa kagum itu berubah jadi cinta, hingga saat ini bahkan rasa itu semakin kuat. Tidurlah Sayang ... aku akan berada di sebelahmu, apapun yang akan terjadi kita hadapi bersama. Dan kita tak akan bisa dipisahkan meski aku akan pergi lebih dulu, aku yakin kamu akan segera menyusulku,” ucap Erik bermonolog sendiri sebab Ella sudah terhanyut dalam alam mimpinya.


Erik yang juga lelah akhirnya, memilih menyusul Ella ke alam mimpi, dia memeluk Ella erat, sebagai pengganti guling untuknya. Tanpa mempedulikan Ella yang kesulitan untuk bergerak. Hidupnya kini terasa lengkap, tidak ingin menginginkan hal lain lagi kecuali kebahagiaan orang yang dicintainya.


***


Mereka berdua terbangun saat mata hari mulai menyilaukan mata keduanya, mereka saling melemparkan tatapan matanya dengan posisi yang masih berpelukkan. Erik lalu menarik kembali selimut tebalnya yang ada di bawah kakinya, untuk menutupi tubuh mereka berdua. Seperti Riella dan Kalun yang tengah bermain petak umpat.


“Kenapa begini?” Ella bertanya setelah menyadari kelakuan Erik yang kekanak-kanakkan itu.


Seketika Ella langsung menyibakkan selimut tebalnya ketika mendengar Erik mengucapkan kata anak-anak. Dia langsung beranjak dari ranjang, segera menghampiri kedua bayi kembarnya.


“Nara sama Rara sudah keluar, berarti sudah ada yang masuk ke kamar kita,” ucap Ella, lalu menatap jam yang menempel di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


“Ya nggak papa Sayang, lagian kita kan, pakai baju. Palingan mereka diambil Papa sama Mama,” ucap Erik seraya berjalan ke arah jendela yang tepat mengarah ke arah taman.


“Tuh ... lihat! Betapa bahagianya mereka,” ucap Erik saat melihat kedua orang tuanya dan keempat anaknya, tengah berada di taman. Ella menurut dengan Erik, dia mendekat ke arah jendela, dia tersenyum tipis melihat tawa lepas dari orang yang berada di taman.


“Semua ini karena kamu. Kamu yang hadir di tengah-tengah keluarga Ramones, kamu yang mau melahirkan keturunan Ramones,” ucap Erik yang sudah memeluk Ella dari belakang.


“Terima kasih, sudah hadir dan mendampingiku,” lanjutnya yang akan kembali menyerang bibir Ella.


Ella tersenyum senang mendengar ucapan Erik. Dia sebisa mungkin untuk menahan bibir Erik supaya tidak mendarat di bibirnya.


“Stop! Gosok gigi dulu sana!” ucap Ella yang sedikit berteriak. Membuat Erik membuang nafas kecewa. Namun, seketika ide cemerlang muncul di otaknya. Dia langsung mengangkat tubuh Ella dan membawa masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


“Kita mandi bareng, biar lebih menyingkat waktu,” ucap Erik sambil menendang pintu kamar mandi supaya terbuka.


“Hanya mandi!” peringat Ella.


“Oke Sayang ... aku paham!” sahut Erik sambil menurunkan Ella dari gendongannya.


“Berat kamu,” cibirnya setelah menurunkan Ella.


“Apa kamu mau mencari wanita lain, setelah tubuh ini melebar karena ulahmu?” Ella bertanya sambil memicingkan matanya di depan Erik.


“Meski seperti ini, aku masih suka! Aku nggak akan mempedulikan bentuk fisikmu seperti apa, aku hanya ingin kamu! Jangan sampai hatimu ini terukir nama lain selain namaku,” jawab Erik sambil menunjuk di mana letak hati Ella.


“Pintar sekali ya sekarang membuat hati wanitamu ini berbunga-bunga.” Ella menatap wajah Erik yang posisinya lebih tinggi darinya. “Aku juga akan begitu, meski rambutmu ini memutih lebih dulu, aku akan selalu berada di sebelah kirimu,” lanjutnya sambil mengacak rambut Erik dengan tangan kanan kanannya. Membuat Erik tertawa keras setelah melihat perlakuan Ella, dia lalu menyalakan air shower yang tepat berada di sisi kanannya.


“Kita akan seperti ini sampai kita tua nanti, salah satu kita pasti akan merasakan berat jika diantara kita akan pergi lebih dulu,” ucap Erik di tengah guyuran air hangat yang membasahi tubuhnya. Perlahan tangannya membuka kancing piyama yang Ella kenakan. Ella hanya tersenyum manis saat mendapatkan perlakuan Erik.


Setelah semua terlepas, Erik hanya menatapnya, membuat Ella heran karena tidak segera menyelesaikan mandinya.


Sampai kapan aku kan menanti, oh Tuhan tolong kuatkan hati ini. Erik justru bersenandung saat melihat tubuh Ella yang tidak terbungkus apapun itu. Tawa Ella semakin renyah. Namun, seketika dia hentikan karena terdengar gedoran pintu kamar mandi dan suara teriakkan dari Jihan.


“Ganggu saja! Nenek tua itu,” lirih Erik sambil memakaikan handuk kimono ke tubuh Ella.


“Kenapa Ma?” tanya Ella saat membuka pintu kamar mandi.


“Kalian ngapain? Kok satunya basah kuyup gitu? Jangan-jangan kalian mau bikin adik lagi buat si kembar ya?” tanya Jihan ketika melihat kondisi anaknya.


“Iya, Mama tutup dulu pintunya!” sahut Erik yang sudah melingkarkan tangannya di perut Ella. Membuat Ella menunduk malu atas perlakuan Erik.


“Gila kamu Rik!” umpat Jihan sambil menutup pintu kamar mandi, mengurungkan niatnya untuk menyerahkan si kembar pada Ella.


“Ya, bekerja keraslah! Banyak anak banyak rejeki,” teriak Jihan di balik pintu, bibirnya tertarik ke atas sambil menggelengkan kepalanya.


TBC


One part again, please kasih vote dan jangan lupa likenya.👍

__ADS_1


__ADS_2