Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Pemakaman


__ADS_3

Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍


.


.


.


.


Pagi harinya para kerabat dan tetangga sudah berdatangan ke rumah ayah Danu, mereka turut berbelasungkawa atas meninggalnya lelaki yang bisa dibilang sukses dalam bisnisnya itu. Karangan bunga belasungkawa dari para kolega sudah memenuhi halaman rumah bahkan sampai ke arah keluar gang kediamannya, itu karena ayah Danu dikenal baik oleh semua orang, jadi banyak orang yang mengirimkan karangan bunga serta ucapan doa, membuat siapa yang datang pasti akan disambut dengan nama orang atau nama perusahaan yang mengirimkannya.


Tante Sinta, sudah tiba di Jakarta tepat pukul 6 pagi tadi dan saat ini Ella masih terlelap di kamar ayah Danu dengan Sashi yang tengah menunggu disampingnya, berjaga agar saat Ella terbangun dia tidak akan syok lagi, seperti kejadian semalam.


Rencananya jenazah ayah Danu akan dimakamkan pukul 1 siang nanti dan akan disemayamkan di samping kanan makam istrinya.


Damar terlihat sedang menyapa mertua Ella, terlihat mama Jihan dan papa Yusuf memasuki rumah Danu, mereka langsung mendekat ke arah Damar, menanyakan kondisi menantunya saat ini, karena mama Jihan tahu anaknya yang manja itu, sedang berada di luar negeri.

__ADS_1


Setelah mendapat jawaban Damar, Jihan segera masuk ke dalam kamar yang sudah ditunjukkan oleh pelayan disana, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, jantungnya sedikit mereda saat melihat Ella sedang terlelap disana, Jihan memang menyangi Ella seperti anak kandungnya sendiri, sama juga seperti dia menyayangi Mila, dia selalu baik memperlakukan para istri anaknya, bahkan seumur Mila menjadi menantunya, mereka tidak pernah adu mulut ataupun marah-marahan seperti mertua dan menantu pada umumnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Ella masih tertidur nyenyak disana, mama Jihan hanya bisa menatap wajah polos menantunya itu, sambil menunggunya bangun.


Mama Jihan lalu meminta Sashi untuk menyiapkan sarapan untuk Ella, karena mendengar laporan Damar tadi, Ella belum makan sejak kemarin, Sashi yang mendengar perintah Jihan langsung keluar kamar dan membuatkan bubur kesukaan Ella.


Matahari sudah masuk ke dalam kamar Ella dengan terangnya, Ella perlahan membuka matanya yang terasa lengket itu, menatap perempuan yang sudah beruban disampingnya itu, dia memeluk mama Jihan mencoba mencari pelukan ternyaman dari mama mertuanya, dia lalu mencoba tersenyum tipis ke arah mama Jihan, lalu duduk bersandar di kepala ranjang yang menghadap ke arah pintu, melihat jam di dinding jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


“Ma, bolehkah aku meminjam ponsel Mama, sejak kemarin aku belum menghubungi Mas Erik, aku takut dia akan marah padaku,” ucapnya yang akan meminjam ponsel mama Jihan. Mama Jihan yang mendengar itu hanya menggeleng tak percaya, dalam kondisi lemah pun Ella masih memikirkan perasaan anaknya yang manja itu.


“Mas Erik sudah tau jika Ayah pergi? Tapi kenapa dia tidak pulang? Apa dia tidak peduli denganku hingga dia lebih mementingkan pekerjaanya,” ucapnya yang sudah tidak mampu lagi berpikir jernih, jadi apa yang dipikirkan langsung diomongkan, meski itu tidak benar adanya.


“Bukan seperti itu La, perjalanan Australia-Jakarta membutuhkan waktu yang lama, jadi mungkin dia akan tiba siang nanti,” Jelasnya menenangkan Ella yang pikirannya mulai tidak waras.


“Makan dulu ya La, biar kamu bisa kuat saat acara pemakaman nanti, nanti Mama akan menemanimu ke makam, jadi makan dulu ya!” Mama Jihan membujuk menantunya itu, Ella mengangguk menyetujui dan mulai mau makan sesendok dua sendok, itupun disuap oleh Jihan. Setelah selesai sarapan dia berjalan ke arah kamarnya segera membersihkan tubuhnya, mengenakan pakaian muslimnya bewarna putih dan syal senada yang dipakai untuk menutupi rambutnya, wajahnya tidak dipoles apapun, dia hanya memperlihatkan wajah naturalnya.


Ella turun ke bawah, duduk disamping jenazah ayahnya yang sudah dikafani, menatap wajah tersenyum ayahnya yang sudah terbujur kaku didepannya. Tangisnya kembali pecah saat orang menghiburnya berkata bahwa dia kuat dan harus ikhlas, dia duduk ditemani tante dan mertuanya disana, sambil merapalkan doa-doa untuk ayahnya. Sesekali dia melihat ke arah pintu, menanti kedatangan Erik, agar dia juga ikut mendoakan almarhum ayahnya. Namun, sampai jenazah sudah selesai disholatkan Erik tidak kunjung datang, setelah selesai disholatkan jenazah dibawa menggunakan mobil ambulan.

__ADS_1


Ella datang ke pemakaman ditemani mama mertuanya, saat berjalan menuju lokasi Ella terus menatap keranda yang berisi jenazah ayahnya itu, jenazah yang diangkat oleh kakak dan para saudaranya, langkah Ella semakin berat saat akan tiba di tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Dia hampir jatuh tersungkur jika Erik tidak menahan tubuhnya, Ella menatap Erik yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya itu, menatap dengan sendu wajah Erik, seolah memberitahu Erik jika dia sedang terluka ditinggal cinta pertamanya.


“Maafkan Mas yang datang terlambat,” ucapnya sambil menatap ke arah depan mengikuti rombongan yang datang untuk mengikuti pemakaman ayah mertuanya, Ella mengalungkan tangannya ke leher Erik, menyandarkan kepalanya di dada Erik, seolah disana adalah tempat paling nyaman untuk saat ini, Erik mendudukkan Ella di kursi, tepat di depan liang lahat sang ayah, baru kemaren dia datang kesini untuk mendoakan bunda dan Kenzie sekarang dia harus kembali kesini lagi mengantarkan ayahnya ke peristirahatan terakhirnya.


Damar yang sudah tidak sanggup lagi mengumandangkan suara adzan untuk terakhir kalinya, akhirnya harus digantikan oleh adik iparnya, Erik mengumandangkan adzan diiringi tangisan dari istrinya, Erik yang berada di bawah sana, sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, menahan rasa sesak didada kerena mendengar tangisan istrinya yang memilukan itu.


Setelah mengumandangkan adzan dia lalu naik untuk kembali menenangkan Ella, memeluk erat istrinya, menyalurkan kekuatan untuk Ella.


“Harus ikhlas Yang, Ayah sudah tenang disana bersama Bunda,” ucapnya sambil membelai rambut Ella, kemeja putih Erik sudah basah terkena airmata istrinya yang dari tadi mengalir deras itu, Erik lalu mengajak Ella pulang setelah proses pemakaman selesai, mereka tidak pulang ke apartemen melainkan ke rumah ayah Danu sesuai permintaan istrinya, menemani istrinya yang katanya ingin tidur di kamar ayahnya itu.


Erik pulang ke rumah ayah Danu diantarkan oleh Yohan, saat di dalam mobil dia masih memeluk istrinya, melepaskan kerinduannya sekaligus memberikan perlindungan untuk Ella, hingga Ella terlelap di dadanya.


“Kenapa matamu sembab seperti ini Yang?” ucapnya lirih bertanya pada Ella yang sedang tertidur nyenyak disana, harusnya Erik hari ini masih belum bisa pulang ke Indonesia, tapi karena dia tadi membayar lebih akhirnya pagi tadi dia bisa pulang ke tanah air, menjaga istrinya dan berada disisi Ella saat dia rapuh.


Dia mengangkat tubuh Ella saat sudah tiba di depan rumah ayah Danu, karena Ella masih tidur terlelap didalam pelukannya, meletakkan tubuh istrinya di kamar atas miliknya.


Terimakasih sudah membaca, semoga suka cerita kisah lika-liku Erik dan Ella. Saya berharap readers mau memberikan dukungan like dan votes untuk saya .🙏👍

__ADS_1


__ADS_2