Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
Hewan Buas


__ADS_3

Kalau boleh minta! mampir yuk ke novel saya yang satunya CINDERELLA GENDUT, saya berharap kalian juga menyukainya, dan jangan lupa kasih bintang 5.


.


Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍


Setelah menyelesaikan tangisnya, Ella kembali berjalan ke arah wastafel hendak membuang sampah alat tes kehamilannya tadi, dia memastikan lagi garis yang ada di tespack itu, matanya membulat sempurna saat melihat garis yang tadinya hanya satu kini berubah menjadi dua garis, tapi yang satunya terlihat samar. Dia lalu berjalan ke arah tasnya mengambil semua alat tes uji kehamilan yang kemarin dia beli di apotek.


Hanin yang melihat ekpresi Ella segera mendekat dan mananyakan hasil dari tes urin Ella. Rasa penasarannya terlalu tinggi, mengingat cerita atasannya itu yang pernah mengalami keguguran.


“Gimana Dok?” Tanya Hanin sambil mendekat ke arah Ella.


“Diamlah disitu!” Perintah Ella menunjuk ke arah kursi di depan mejanya. Hanin yang mendengar itu segera berbalik badan, melangkah dengan langkah gontai karena rasa penasarannya tidak terjawab.


Ella kembali ke kamar mandi, membuka semua alat tespacknya dan memasukkan 5 merk yang berbeda. Beruntungnya, dia belum sempat membuang urine yang tadi dia tampung.


Hasilnya berbeda saat pertama kali dia mengujinya, kelima tespack itu langsung menunjukkan dua garis merah yang sangat terlihat jelas. Ella menunduk, menangis, tidak percaya dengan hasil yang dia lihat saat ini, dia bahagia dan terharu karena doanya dikabulkan. Dia menatap ke enam alat tespack itu, penuh dengan rasa haru, tangannya ikut bergetar saat dia mengambil salah satu alat tespack itu, air matanya masih belum berhenti, tangan kananya terulur memegang perutnya yang masih datar.


"Berjanjilah! Kita akan berjuang bersama sayang," ucapnya lirih sambil mengelus perutnya.


Setelah beberapa menit menangis, Ella lalu membereskan semua alat tes uji kehamilan itu, menyimpannya dalam plastik kantong bewarna hitam.


Saat keluar dari kamar mandi terlihat Hanin yang berdiri di depan pintu kamar mandi, siap membrondongi Ella dengan banyak pertanyaan.


“Dok, jawab dong penasaran nih? Gimana hasilnya?” Ella menatap wajah Hanin yang penasaran itu, lalu tersenyum tipis pada Hanin.


“Positif,” ucap Ella sambil menunduk dan mengeluarkan air matanya.


“Puji Tuhan,” ucap Hanin yang memang berbeda kepercayaan dengan Ella. Asistannya ini ikut bahagia walau belum bekerja lama dengan Ella, tapi dia cukup paham saat penantian lama dokternya, akhirnya dapat terpenuhi.


“Selamat ya Dok, semoga lancar sampai babynya lahir,” lanjutnya memberikan selamat pada Ella, dia ingin memeluk Ella tapi ragu, karena mengingat Ella adalah atasannya. Tapi Hanin tersentak saat Ella mulai memeluknya terlebih dahulu.

__ADS_1


“Terimakasih,” ucap Ella sambil menangis memeluk Hanin, dia terharu, untung kemarin dia mendengarkan saran dari Hanin, dan beruntung dia menurunkan gengsinya pada Hanin.


“Mungkin Allah menghadirkannya sebagai pengganti Ayahku,” ucap Ella yang masih menangis memeluk Hanin, tapi segera dia melepaskan pelukan Hanin saat menyadari perut Hanin yang menempel erat di perutnya itu.


Ella segera mengangkat telepon yang dari tadi berdering itu, dia melupakan janjinya untuk datang ke ruangan suaminya. Pasti suaminya akan bahagia saat mendengarkan kabar bahagia ini.


“Iya Mas, ini aku siap-siap ke ruanganmu,” ucapnya saat panggilannya terhubung. Ella sudah paham kenapa Erik meneleponnya, jadi tanpa dia bersuara pun Ella tau maksudnya.


Saat tiba di depan ruangan suaminya, Ella berdiam sejenak mengatur jantungnya agar tidak berdebar terlalu cepat. Dia pelan-pelan membuka pintu ruangan suaminya. Melihat ruangan kerja yang sudah tidak berpenghuni itu.


“Yang...” Panggil Ella karena tidak melihat Erik di ruangannya. Dia lalu berjalan ke arah kamar pribadinya, terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi, yang Ella yakini pasti suaminya sedang berada di kamar mandi.


Ella membuka pelan pintu kamar mandi itu. Terlihat Erik yang sudah berada di bawah guyuran air dingin dari shower, dengan pakaian atas yang sudah terlepas.


“Mandi lagi?” Tanya Ella yang heran melihat Erik yang mandi saat siang hari.


“Iya. Gerah soalnya.”


“Apa pendingin udaranya mati?” Tanya Ella yang merasa curiga.


Ella mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan aneh dari suaminya itu. Tapi mau tidak mau, dia segera melepaskan jas putihnya menyusul Erik yang berada di bawah guyuran air, tanpa melepaskan dress yang dia kenakan, karena takut Erik akan berbuat lebih.


“Istri terbaik,” puji Erik saat melihat kelakuan Ella yang penurut itu.


Ella tersenyum ke arah Erik, memeluk suaminya itu di bawah guyuran air shower, seperti anak kecil yang sedang bermain air hujan.


“Jadi ingat waktu kegagalan malam pertama kita, pagi hari hanya mampu mandi bersama di bawah guyuran air dingin,” ucap Ella mengingatkan Erik. Tapi Erik hanya diam sambil mencium leher Ella.


“Yang aku menginkanmu,” bisik Erik sambil mengeratkan pelukannya.


Ella mendongakkan kepalanya menatap suaminya yang tersiram air dingin itu. Semakin terlihat tampan saat rambut basah itu meneteskan air yang tepat mengenai tubuhnya.

__ADS_1


“Boleh, tapi ada syaratnya,” jawabnya singkat.


“Apa? Mau diganti dengan apa? Mobil, rumah, tas, sepatu, atau semuanya Mas belikan untukmu?” Tanya Erik yang salah paham. Ella menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan kasar.


“Aku hanya minta, kamu melakukannya dengan lembut,” jawab Ella sambil mengecup bibir suaminya.


“Bukannya kamu suka aku yang kasar, yang liar seperti hewan buas, hahaha?” Goda Erik pada istrinya itu sambil tersenyum mesum ke arah Ella. Ella yang mendengar itu merasa malu, dia lalu membalikkan badan membelakangi Erik, melepas dress yang dia kenakan dan menggantinya dengan handuk kimono bewarna biru.


Baru dia akan melangkahkan kakinya Erik sudah lebih cepat menggendongnya dari belakang berjalan keluar dari kamar mandu, lalu merebahkan Ella di ranjang.


“Berjanjilah untuk melakukannya dengan pelan!” Peringat Ella saat Erik sudah akan memulai kegiatannya. Dia hanya takut akan melukai calon anaknya.


“Akan Mas usahakan,” balasnya sambil tersenyum ke arah Ella.


Erik yang mendengar itu langsung mulai mencium Ella dengan lembut sesuai permintaan istrinya, menikmati setiap lekuk tubuh istrinya.


“Ada apa denganmu? Kenapa kamu setegang ini? Ini bukan yang pertama untuk kita Yang, rileks dong,” ucap Erik ketika merasakan tubuh Ella yang menegang, karena sentuhan dari Erik. Sedangkan Erik tersenyum lebar saat melihat Ella langsung menutup wajahnya dengan bantal.


“Cepat lakukanlah sebelum aku berubah pikiran,” teriak Ella di bawah bantal. Membuat Erik semakin terbahak dan ingin membuka bantal yang menutupi wajah Ella.


Setelah berhasil membuang bantal yang menutupi wajah Ella, dia mengecup semua wajah istrinya, membuat wajah Ella semakin merah karena malu dengan ucapannya tadi. Erik menikmati wajah istrinya yang malu-malu itu, terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja, sedangkan Ella mengalihkan pandangannya ke arah lain cermin besar didekat ranjangnya, menatap pantulan tubuh Erik dari sana.


“Sepertinya kamu sudah tidak sabar ya? Bukankah kamu tadi yang mengatakan padaku untuk bermain lembut?” canda Erik lagi membuat wajah Ella semakin merah merona. Erik paling menyukai saat melihat wajah istrinya seperti ini, istrinya bagaikan kucing liar yang sudah berhasil dia jinakkan.


Erik siang ini benar-benar memperlakukan Ella dengan lembut, seperti batu permata yang akan hancur bila terkena benda tumpul. Tanpa mengetahui apa alasan istrinya meminta syarat itu padanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih sudah membaca, semoga suka cerita kisah lika-liku Erik dan Ella. Saya berharap readers mau memberikan dukungan like dan votes untuk saya .🙏👍


__ADS_2