
Jangan lupa untuk like😊
Happy reading,
.
.
.
Sampai di apartemen dia segera menuju meja kerjanya, mencari keberadaan surat yang terakhir diberikan Ella. Cukup lama dia terdiam karena lelah mencari, dia sebentar merebahkan tubuhnya di kamar, siapa tau setelah kepanikkannya mereda, dia akan ingat di mana dia menyimpan surat yang Ella berikan.
Karena terlalu lelah, Erik akhirnya terlelap di ranjang apartemen miliknya.
“Bukan seperti itu Yang...,” ucap Ella yang datang dalam mimpi Erik, tapi kata ‘Yang’ itu tidak ditujukan untuk dirinya, melainkan untuk seseorang yang duduk di samping ella.
“Hahaha..., terus aku taruh di mana bunganya, di sini?” tanya lelaki itu yang meletakkan rangkaian bunga yang sudah di rangkai menjadi mahkota di kepala Ella. Erik melihat Ella yang tertawa bahagia dengan lelaki di sampingnya, hatinya sakit karena melihat satu-satunya orang paling dicintainya duduk bersanding dengan lelaki lain.
“La...,” panggilnya pada Ella.
“Hay..., Mas kamu sudah datang, aku sudah lama menunggumu,” ucap Ella yang menoleh ke arah Erik.
“Kenalkan dia..., dia...,”
“Dia pacarmu!” teriak Erik pada Ella, membuat Ella kaget atas perubahan sikap Erik.
“Mas bukan seperti itu!” sahut Ella.
“Jelaskan padaku Yang, katakan jika kamu hanya mencintaiku!” teriak Erik, membuat Ella ketakutan dan mundur untuk menjauhi Erik.
“Aku tidak pernah mengenal dirimu yang seperti ini Mas,” lirih Ella, dia berjalan mundur meninggalkan di mana Erik sedang menatapnya tajam.
“Jangan Yang...! Jangan pergi lagi, ku mohon!” teriak Erik. Erik menangis di sana, menangisi kepergian Ella yang sudah berulangkali meninggalkan dia sendiri di alam mimpinya.
Erik yang baru saja terbangun dari tidur, langsung beranjak ke kamar mandi, mencuci wajahnya supaya pikirannya lebih jernih. Dia terdiam menatap dirinya dalam pantulan cermin, wajahnya terlihat lebih kurus dari empat tahun yang lalu.
“Aku senang jika kamu berada di sini Yang, tapi siapa yang aku kuburkan waktu itu?”
__ADS_1
“Jika kamu masih di sini, harusnya secepatnya kamu menemuiku, tidak akan menyiksaku seperti ini, kembalilah ku mohon, aku merindukan segalanya tentangmu,” ucap Erik yang masih menatap dirinya di pantulan kaca.
Dia beranjak dari kamar, menuju gudang apartemen, dia mengambil kardus yang sudah dia tutup rapat, karena dia teringat jika menyimpan surat Ella di sini. Dia langsung membongkar isi kardus yang sudah dia bawa ke ruang kerjanya. Dia mengambil barang kenangan Ella satu persatu, hingga terlihat amplop coklat yang sudah terbuka, tangan Erik terulur mengambil amplop itu. Dia lalu duduk di kursi kerjanya, sambil melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Erik mengambil nafas pelan sebelum memgambil isi amplop coklat di tangannya.
“Semoga aku kuat Yang,” ucapnya yang membuka surat Ella.
Dear my husband...
Jangan sedih ya😀 aku sudah berpesan pada Yohan, jika surat ini sampai di tanganmu, berarti aku sudah tidak berada di sampingmu lagi, atau bahkan anak gadis kita ikut aku bawa pergi...
Seandainya aku bisa menghapus air matamu saat ini, akan aku lakukan demi apapun itu, seandainya aku bisa memilih, aku akan memilih untuk bersanding denganmu sampai tua, bahkan sampai aku menjadi debu, aku ingin kita berada di liang lahat yang sama nantinya.
Sayang...
Aku minta maaf padamu apapun yang terjadi, di hatiku selalu ada kamu, suami terhebatku tersenyumlah😁 aku akan menulis surat cinta untukmu...
Aku bahagia, senang sekali ketika kamu menawariku untuk melahirkan secara seccar, meski aku takutnya setengah mati, dengan benda kecil yang teramat menyakitkan itu, mungkin aku akan bisa menahannya, demi bisa mendampingimu, karena kamu tahu? diluar sana Axel sudah menyusun rencana buruk untukku ketika aku melahirkan normal. Waktu itu aku mendengarkan dia bicara dengan Bima ketika di restoran, maaf aku tidak bisa bercerita kepadamu, karena itu adalah pilihanku.
*Hari kelahiran anak kita semakin dekat, aku senang karena sebentar lagi kita akan menimang putri cantik kita, tapi entah kenapa aku selalu bermimpi tentang ayah dan bunda, mereka selalu menemuiku setiap malam, mereka memperingatkanku untuk berhati-hati dengan orang terdekat, aku senang sekali meski hanya bertemu di alam mimpi, aku melihat ayah dan bunda bahagia sekali, aku berharap kita juga akan seperti itu. Aku yakin kamu kuat Sayang, jika kita diizinkan untuk bertemu lagi, berarti memang kamulah takdirku. Aku mencintaimu lebih dari hidupku, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu di manapun kamu berada*.
Jika anak perempuanku tidak aku bawa, didiklah dia dengan baik. Katakan pada mereka berdua jika aku sangat manyayanginya, dan untuk Papanya, aku akan merindukanmu setiap detik waktu pertemuan kita.
Lala.
Erik yang sudah selesai membaca surat dari Ella, segera menghapus air matanya yang sejak tadi sudah turun. Dia lalu menatap jam di dinding, hendak menghubungi Yohan, tapi dia urungkan karena takut menganggu waktu istirahat Yohan.
“Axel...! Belum jera juga dia...!”
Erik mengacak rambutnya, karena merasa bodoh tidak pernah berpikir jika Axel akan membalaskan dendamnya.
“Apa benar kamu masih di langit yang sama denganku Yang, jika benar seperti itu, aku akan mencarimu!” ucap lirih Erik sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Apa aku harus bahagia? Tapi kamu belum tentu ada di sini,” lanjutnya sambil mengusap air matanya.
Hingga sampai pagi, Erik masih terjaga karena mengingat kejadian Ella sebelum melahirkan hingga dia meninggal.
“Jika dia bukan kamu, harusnya aku mengenalinya,” lirih Erik lalu segera mengambil ponsel miliknya, mencoba menghubungi Yohan karena hari sudah mulai terang.
__ADS_1
“Hallo Yoh..., perintahkan orangmu untuk menyelidiki Axel dan Bima, sepertinya kita melewatkan dua orang itu!”
“Tapi cincinnya Pak?”
“Lupakan dulu soal cincin! Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan selama ini,” perintah Erik pada Yohan, lalu segera menutup panggilannya. Dia segera beranjak dari ruang kerja, karena tidak ingin ketika anaknya bangun, dia tidak berada di sampingnya.
Erik segera melajukkan mobilnya untuk pulang ke rumah, sampai di rumah dia sudah di sambut Nadia yang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Ada apa?” tanya Erik.
“Mamamu terus memaksaku! Apa yang harus aku lakukan?” Erik yang merasa pusing, hanya bisa memijit kepalanya.
“Kita bicarakan nanti siang, aku lelah, aku ingin beristirahat dulu, aku terlalu banyak berpikir semalam,” ucap Erik yang sudah duduk di kursi teras rumahnya.
“Ini, berikan pada Kalun,” ucap Nadia sambil menyerahkan kotak cake ke tangan Erik.
“Dan sepertinya aku benar-benar akan mendapatkan keajaiban Rik,” ucap Nadia.
“Sepertinya aku, akan hamil, kemarin aku sudah memeriksakannya pada Reyhan,” ucap Nadia. Erik hanya tersenyum saat mendengar ucapan Nadia.
“Selamat ya, semoga lancar hingga lahiran! Eh tapi kan kamu baru 2 hari yang lalu melakukannya, masak iya secepat itu?” tanya Erik yang curiga.
“Dua minggu yang lalu, aku juga melakukannya, aku pikir aku tidak akan pernah bisa hamil,” jelas Nadia.
“Segera beritahu dia, atau kau akan benar-benar menjadi single parents,” ucap Erik yang menasehati rekannya itu.
“Kita ketemu di cafe biasa ya..., tepat saat jam makan siang,” ucap Nadia sebelum meninggalkan rumah Erik.
Erik hanya menatap kepergian Nadia, hingga tidak terlihat lagi dari rumahnya.
“Dasar wanita sinting, sudah cerai juga masih mau melayani,” ucapnya lirih lalu segera berjalan ke arah kamarnya menghampiri Riellan dan Kalun yang masih terlelap di ranjang miliknya.
Erik yang mengantuk mulai menyusul tidur kedua anaknya, dia tidur di tengah-tengah Kalun dan Riella. Mengalungkan tangan kedua anaknya ke arah perutnya, selalu berharap jika yang memeluk perutnya adalah istrinya yang selalu dia rindukan.
.
.
__ADS_1
.
TBC