
Jangan lupa like dan vote ya...!
.
.
.
Erik mendekat ke arah kedua anaknya, terlihat Riella yang tengah mengusap air matanya dengan tangan, dan Kalun menepuk-nepuk punggung gadis kecil di sampingnya, mencoba menguatkan adiknya, tidak peduli dia yang sejak tadi juga menahan tangisnya. Erik tidak mendengar apa yang mereka ucapkan, karena tadi dia mengobrol sebentar dengan penjaga makam istrinya.
“Kamu lihat kan, seberapa sedihnya mereka,” lirih Erik menatap nisan yang bertuliskan nama istrinya, belum sempat Erik melanjutkan ucapannya Riella sudah menarik tangannya, membawa Erik menuju mobil. Erik menuruti keinginan putrinya, sambil menoleh ke arah makam Ella, ketika langkahnya semakin jauh dari makam Ella.
Besok akan datang lagi. Ucap Erik dalam hati.
Dia melajukan mobilnya ke apartemen Nadia sesuai janjinya kepada Riella, tapi ntah kenapa anak gadisnya itu masih diam tidak bersemangat, pandangannya hanya menatap jalanan yang sedang dilewatinya.
“Kita batalkan saja ya, ke rumah tante Nadia, Papa nggak mau kalau sampai di sana Riella sedih seperti ini,” ucap Erik yang membuat Riella langsung menoleh menatapnya.
“Kata Papa janji harus di tepati, bohong itu dosa!” cibir Riella sambil mengalihkan pandangannya lagi ke arah luar jendela.
“Habisnya kedua anak Papa ini seperti tidak bersemangat, semuanya cemberut membuat Papa sedih,” ucap Erik sambil fokus ke arah jalan menuju apartemen Nadia.
Sampai di lobi apartemen Nadia Erik membawa kedua anak dan pengasuhnya masuk ke dalam apartemen. Dia belum memberitahu Nadia jika pagi ini akan datang ke apartemennya. Nadia yang tengah mengenakan pakaian tidurnya kaget saat melihat Erik berada di balik pintu. Lantaran apartemennya masih terlihat acak-acakkan, bahkan mungkin tidak bersih sama sekali. Erik yang merasa biasa-biasa saja dengan Nadia langsung menerebos masuk mengikuti kedua anaknya. Nadia masih berdiri di belakang pintu sambil melihat ke arah Erik yang hendak menduduki pakaian dalamnya yang tadi hendak dia lipat. Matanya melongo ketika Erik mengangkat pakaian dalam itu.
“36B.” Nadia langsung berlari meraih apa yang dipegang Erik, menatap cemberut ekspresi Erik yang tengah menertawakannya.
“Kamu ini, nggak ada rapinya sama sekali, berbeda dengan istriku!” ucap Erik sambil terkekeh.
“Biar saja! Toh aku juga bukan istrimu,” sahut Nadia.
“Tante mama, kenapa rumahnya jorok sekali?” keluh Riella saat melihat keadaanya apartemen Nadia.
“Hehehe... Iya Riella sayang, maaf tante baru pulang dari luar kota, jadi belum sempat bersih-bersih rumah ini,” jawab Nadia.
“Mau nggak Riella bantuin bersih-bersih?” tawar Riella.
“Ayoh...!” sahut Nadia senang. Tanpa melihat ekspresi Erik yang sudah ingin melahapnya hidup-hidup.
“Nggak Riella nggak boleh!” peringat Erik.
__ADS_1
“Nggak papa Pa..., Riella bantuin yang ringan saja,” jelasnya supaya Erik mengizinkan gadis kecil itu untuk membersihkan ruangan.
“Kalun nggak mau, Kalun mau main game saja dengan Papa,” ucap Kalun menolak membantu Nadia.
“Terserah kalian, ayo Riella kamu saja yang bantu Tante!”
“Oke...,”
Riella dan Nadia membersihkan apartemen itu, diiringi suara teriakkan dari Kalun dan Erik yang tengah bermain game, pengasuh mulai menyiapkan makan siang untuk mereka semua, setelah mengetahui sudah waktunya makan siang. Mereka makan siang bersama setelah apartemen itu sudah bersih, karena bantuan Erik yang akhirnya mau membantu Nadia untuk mengepel lantai. Erik meminta pengasuh menidurkan Riella dan Kalun di kamar Nadia, karena kamar di apartemen itu hanya satu. Setelah kepergian kedua anaknya, Erik tiba-tiba memeluk Nadia dari belakang, membuat Nadia langsung berontak karena merasa tidak nyaman.
“Lepas Rik!”
“Biarkan seperti ini, aku pinjam sebentar tubuhmu, aku lelah..., aku merindukannya...” Nadia yang mendengar suara serak Erik, hanya diam tidak lagi berontak.
“Aku capek Nad, aku ingin segera menyusul dan bertemu dengannya,” lanjut Erik yang sudah menyandarkan kepalanya di punggung Nadia.
“Mama terus memintaku menikah, belum juga anak-anak, aku tidak bisa terus dipaksa seperti ini, hanya kamu yang bisa mengerti aku,” keluh Erik pada Nadia.
“Bantu aku mengatakan pada kedua orangtuaku Nad, aku sudah lelah...” Erik membuang pelan nafasnya. Tangannya masih melingkar di pinggang ramping Nadia.
“Kamu jangan seperti ini! Lepaskan dulu pelukkanmu! Aku takut kamu nanti jatuh cinta padaku!”
“Dasar! Nyusul saja keliang lahat sana!”
“Aku butuh bantuanmu, aku akan bilang ke Mama jika kamu pacarku, supaya dia tidak lagi menjodohkanku dengan wanita hamil lagi.” Suara tawa Nadia pecah saat mendengar cerita Erik.
“Itu saking nggak lakunya kamu, makanya diobral dan jodohkan dengan orang hamil,” cibir Nadia.
“Nanti malam aku akan datang lagi, bersiaplah aku akan menjemputmu!”
“Nggak mau! Berani bayar berapa kamu?” tanya Nadia.
“Apa maumu? Bayi tabung? Atau mau aku carikan pendonor sp*rma paling unggul?” canda Erik.
“Ceh! Kamu saja ketakutan masuk rumah sakit! Mau program bayi tabung denganmu, pasti 100% akan gagal.”
“Nggak! Untuk kali ini aku akan membantumu asal kamu juga mau membantuku!” Nadia tersenyum menatap Erik.
“Baiklah demi kawanku yang sedang patah hati ini, aku akan melakukannya, ingatkan aku tentang janjimu, jika aku sudah menemukan pasangan nantinya,” ucap Nadia, membuat Erik tersenyum lebar karena berhasil mengelabuhi kawannya itu.
__ADS_1
“Istrirahatlah, aku akan pulang, biar anak-anakku di sini dulu, nanti sekalian aku menjemputmu, jangan lupa dandan yang cantik seperti istriku biar mereka percaya, jika aku tidak mengambilmu dari pinggir jalan.” Nadia yang mendengar ucapan Erik langsung memukul lengan Erik dengan keras.
“Pergi sana! Sudah muak aku mendengar celotehanmu,” usir Nadia ketika melihat Erik masih menikmati kue di depannya.
“Oke, aku akan pulang! Aku ingatkan lagi, jangan sampai...,”
“Ada cinta diantara kita, aku juga tidak sudi menjadi selirmu!” sahut Nadia.
“Bagus kamu yang paling mengerti aku! Bye.” Pamit Erik meninggalkan apartemen Nadia.
Dia melajukan mobilnya ke arah apartemen yang tidak jauh dari apartemen Nadia. Hanya butuh lima belas manit Erik sudah sampai di dalam apartemennya, di sana selalu bersih karena setiap tiga hari sekali, dia meminta pelayan untuk membersihkannya. Meski apartemen itu terbilang lama tapi Erik masih menyukainya karena banyak tersimpan kenangannya dengan Ella. Dia membuka laci yang berada di samping ranjang kamarnya, meraih cincin yang dulu berpasangan dengan cincin yang dulu Ella kenakan, dia menatap tulisan kecil 'Ella' di dalam cincin yang dia pegang.
“Astaga...” ucap Erik ketika mengingat sesuatu. Dia diam sejenak, lalu berlari ke arah lemari mengacak lemari pakaian milik istrinya, siapa tau Ella melepaskan cincin yang dia kenakan sebelum dia pergi melahirkan. Erik memegang kepalanya karena tidak berhasil menemukan cincin pasangan yang dia pegang.
“Apa mungkin ikut terkubur?” lirihnya sambil menatap cincin yang ada di tangan.
“Tapi itu tidak mungkin! Mereka pasti akan melepaskannya,” lanjutnya bermonolog sendiri. Erik lalu meraih ponselnya, menghubungi Yohan.
“Yoh. Kamu tahu siapa yang memandikan jenazah istriku waktu itu?” tanya Erik saat panggilannya terhubung.
“Tidak Pak! Kenapa? Apa ada yang bisa saya bantu?”
“Cepat cari tahu siapa yang memandikkannya, dan tanyakan di mana dia menyimpan cincin yang istriku kenakan,” perintah Erik pada sekertarisnya lalu mematikan panggilannya, kembali mencoba mencari cincin Ella siapa tau masih tersimpan di lemari pakaian di rumahnya saat ini.
.
.
.
Di mana cincin Ella, ada yang bisa menebaknya?😀😀
.
.
.
.
__ADS_1
Benar... kalian pintar semua!😂😂😂