Kepincut Cinta Dokter

Kepincut Cinta Dokter
S2 Bulan Madu 2


__ADS_3

Ella masih menikmati suara nyanyian di telinganya, matanya terpejam menikmati terpaan angin yang datang saat ini, dia membuka matanya saat seseorang duduk di sampingnya, dia hanya melirik sebentar tanpa mempedulikan orang itu.


Erik yang tidak mendapat respon dari Ella, kembali lagi meninggalkan Ella di sana. Membuat Ella semakin kesal dengannya. Ella hanya melirik sekilas ke arah Erik, perlahan bayangan suaminya itu menghilang darinya.


Sudah stress dia kali ya! Seperti orang pms saja, dikit-dikit ngambek! Ucap Ella dalam hati. Dia lalu melanjutkan acaranya untuk mendengarkan lagu di ponselnya.


Tanpa dia sadari semua orang sudah berkerumun menghampirinya, dia yang merasa kaget hanya terbengong ketika orang-orang itu mengelilingi tempat duduknya. Seorang anak kecil lalu datang menghampirinya menyerahkan coklat ke tangan Ella. Ella menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih pada gadis kecil itu.


“Ini coklat dari Paman, supaya Tante tidak stres,” ucap gadis kecil itu yang menggunakan bahasa perancis yang tidak Ella pahami.


Dia lalu melihat ke arah Erik yang sudah berdiri di sana, entah dari mana dia bisa mendapatkan gitar yang terlihat sangat mahal itu. Erik mulai mengeluarkan suaranya, membuat Ella segera melepaskan earphone yang dia kenakan. Erik menyanyikan lagi dari Bon Jovi ~ Thank You For Loving Me. Membuat semua orang spicless karena suaranya yang teramat mendalami lagu itu.


Petikan gitar dan suara merdu Erik mampu menghipnotis semua orang yang berada di sana. Namun, Erik hanya menatap lurus ke arah istrinya. Membuat penonton yang tadinya ingin menggoda , menjadi sedikit minder saat melihat kecantikan Ella.


Erik dan Ella saling melemparkan senyuman ketika banyak orang memberinya uang, Erik masih belum menghentikan nyanyiannya. Dia justru mengisyaratkan Ella agar mendekat ke arahnya.


“Bagaimana? Dengan begini saja suamimu ini bisa mendapatkan uang dengan mudah, jangan menghemat lagi. Aku sudah bekerja keras untuk kalian!” jelas Erik sambil melemparkan senyuman ke arah Ella. Dia sudah menyelesaikan lagunya tapi semua orang justru masih berdiri di sana, menunggu lagu berikutnya yang akan dinyanyikan oleh Erik.


“Oke, tapi jangan memaksaku jika aku tidak menyukainya, aku bukan wanita yang tergila-gila dengan barang mewah,” ucap Ella membalas tatapan Erik, suaminya terkekeh saat mendengar ucapan Ella.


“Oke kalau begitu, aku akan membawamu ke tempat yang paling kita sukai,” ucap Erik sambil menyerahkan gitar ke orang yang berdiri di sampingnya. Mereka berdua meninggalkan kerumunan orang tersebut, membuat semua orang di sana kecewa karena tidak bisa mendengar suara Erik lagi.


“Naiklah!” perintah Erik yang sudah duduk berjongkok di depan Ella.


“Nggak usah tubuhku berat,” tolak Ella, karena dia malu juga dilihat semua orang yang berdiri di sana.


“Atau mau aku gendong depan saja!” ucap Erik sedikit berteriak. Ella yang mendengar Erik langsung menurut dan naik ke punggung Erik. Erik tersenyum senang ketika Ella mulai menurut dengannya. Dia menggendong Ella, melewati orang yang berjualan di pinggir kota.


“Kalau Mas capek turunkan aku! Aku masih kuat jika hanya berjalan,” ucap Ella yang berada di punggung Erik, bahkan kedua tangannya kini sudah melingkar di leher suaminya.


“Jangankan tubuhmu yang ringan ini, semua beban di hidupmu akan Mas angkat dan lempar jauh darimu,” ucap Erik yang sedikit becanda.


“Lebay ..., Pap ada ice cream. Boleh?” minta Ella sambil melihat Erik dari samping lehernya. Suaranya dibuat semanja mungkin agar suaminya itu mau mengabulkannya.

__ADS_1


“Nggak boleh! Nanti pilek.”


“Apa hubungannya coba?”


“Di sini dingin, daya tahan tubuhmu juga menurun karena semalam kita kurang istirahat, Mas takut kamu pilek dan batal buat adik untuk Riella.” Ella langsung memukul pelan pundak Erik. Membuat Erik semakin terkekeh.


“Turunkan aku!” perintah Ella, “Aku sungguh ingin memakan ice cream itu Pap,” ucapnya berbisik di samping telinga Erik. Mau tidak mau akhirnya Erik mengalah, dia menuruti keinginan Ella untuk membeli ice cream yang ada di pinggir jalan kota tersebut.


“Tunggulah di sini biar Mas yang beli!” perintahnya sambil mendudukan Ella di kursi.


“Iya aku bukan anak kecil yang perlu kamu khawatirkan, pergilah!” jawab Ella lalu membiarkan Erik pergi membelikan ice cream untuknya.


Tidak butuh waktu lama Erik sudah kembali membawa dua cup ice cream di tangannya. Dia menyerahkan ice cream rasa coklat untuk Ella, dia tidak segera menikmati ice cream di tangannya, dia justru menatap wajah Ella yang tengah menikmati ice cream tersebut.


“Enak?” Ella menganggukan kepalanya sambil menikmati ice cream di tangannya.


“Kamu nggak sedang ngidam kan?” Ella terdiam sejenak saat mendengar ucapan Erik. Dia mengingat-ingat kapan terakhir tanggal mestruasinya datang.


“Yakin?”


“Menurutmu?” jawab Ella yang menjawab Erik dengan pertanyaan.


“Sepertinya, iya,” jawab Erik yang sedikit ragu.


“Nggak Pap, baru dua minggu lalu aku kedatangan tamu bulanannya,” jelas Ella sambil mengusap pipi Erik.


“Oke aku akan berusaha lebih keras lagi,” ucap Erik membalas mengusap bekas ice cream yang tersisa di bibir Ella.


“Ayo! Kita lanjutkan jalan-jalannya, kita beli lingrie yang terbaik di sini,” ucap Erik berbisik di ujung kalimatnya.


“Mau beli yang model gimana lagi? Di rumah masih banyak yang belum aku pakai Pap,” tolak Ella saat Erik akan membawanya ke toko penjualan pakaian dalam.


“Kita cari yang unik dan yang belum kamu punya.”

__ADS_1


Ella hanya mengikuti langkah suaminya yang membawanya ke toko pakaian dalam.


“Kamu diamlah, biarlah Mas yang memilihkan untukmu,” bisik Erik di telinga Ella, saat memasuki toko tersebut.


Cukup lama mereka berada di sana, hingga hari sudah gelap, Erik membawa Ella untuk kembali ke hotel tempatnya menginap. Mereka menaiki taksi yang sudah di pesankan oleh karyawan toko, jika naik Rer kemungkinan kereta bawah tanah itu sudah tidak ada, mengingat jadwal yang dia tahu hanya sampai pukul 4 sore.


Erik tidak langsung membawa Ella kembali ke hotel. Dia singgah sebentar, di menara yang di bilang orang akan hambar jika ke Paris tapi tidak berfoto di sana.


“Aku heran sama kamu, kamu kelihatan lelaki biasa yang tidak punya pekerjaan, ke mana-mana naik angkutan umum.” Erik tersenyum tipis saat mendengar ucapan Ella.


“Jika Damar tidak memesankan tiket di hotel itu, mungkin aku juga akan memesan tiket di hotel yang sederhana saja,” jelas Erik.


“Why?”


“Nggak papa Cuma pengin ngrasain saja gimana rasanya jadi orang biasa,” jelas Erik yang membuat Ella tersenyum ke arahnya.


“Kita foto yuk! Nanti kita kirimkan ke anak-anak,” ajak Erik yang sudah mengambil kamera di dalam tas.


Dia lalu mengajak bicara pada seseorang, meminta orang itu untuk mengambil gambar mereka berdua, berbagai pose mereka berdua tampilkan agar juru kamera dadakan itu bisa dengan baik mengambil fotonya.


Erik tertawa keras saat melihat hasil jepretan orang yang dia minta tadi, ekspresi mereka terlihat lucu.


“Lucu ya seperti Om dan keponakkannya,” ucap Ella saat melihat hasil foto yang tadi dia ambil.


“Enak saja Om ...,” cibir Erik.


“Ayo kita pulang Uncle ...,” goda Ella sambil mengedipkan matanya ke arah Erik.


“Sekali lagi aku tidak akan mengampunimu!” peringat Erik pada Ella. Ella hanya terkekeh saat melihat raut wajah Erik yang mulai berubah.


“Uncle. Uncle Erik, please bawa aku pulang,” goda Ella yang semakin menjadi, membuat Erik menatapnya dengan gemas.


Mereka berdua masih menikmati malam itu, malam di kota Paris dengan pemandangan Menara Eifell di belakangnya, melupakan statusnya yang sudah menjadi orang tua dari dua orang anak.

__ADS_1


__ADS_2