
...Selamat Membaca...
Kondisi rumah yang sunyi saat pagi hari, membuat keduanya terhanyut dalam kenikmatan, tidak peduli lagi posisi mereka saat ini sedang di mana. Saling menyalurkan rasa rindu yang belum sampai 2x24 jam mereka tahan. Rasanya sangat manis, debaran jantung keduanya pun berpacu cepat memompa aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh.
Di saat kenikmatan yang tengah mereka rengkuh bersama sedang manis-manisnya, terdengar suara teguran dari seorang pria yang baru saja menapaki teras rumah Abhi.
“Kalian kalau mau berbagi kuman, jangan di sini! Malu-maluin!” Erik sudah berdiri tegap di belakang punggung Abhi. Mengabaikan Nathan yang bersandar di pilar rumah, sedari tadi pria itu menanti, supaya sepasang bibir mereka itu segera terpisah.
“Nggak kasihan apa yang masih jomblo sedang tersiksa dengan statusnya!” barulah Erik menoleh ke arah Nathan. Pria itu sedang diam sambil menunduk, memikirkan di manakah jodohnya saat ini.
“Masuk Nak Nathan!” Ella yang baru saja bergabung, mempersilakan tamunya untuk masuk ke rumah sederhana milik anaknya. Ia tidak tahu-menahu kejadian bungkam-membungkam putri dan menantunya pagi ini.
Wajahnya pasangan muda itu tampak malu saat menyadari kelakuannya. Saling menyalahkan, mengiringi langkah ketiga orang itu, beranjak masuk ke rumahnya.
“Mau mandi dulu, Bhi? Aku siapin baju ganti ya?” tawar Naura. Tapi suaminya menjawab dengan gelengan kepala.
“Aku bisa ambil sendiri,” jawab Abhi, dengan mata yang masih memancarkan rasa rindunya. “Aku takut nggak tahan kalau nanti kamu ikut masuk ke kamar! Kasihan tamu kita. Kamu menggoda sekali, hari ini!” bisiknya, menjelaskan alasan kenapa tidak ingin Naura masuk saat ada tamu di rumah.
Naura tidak membiarkan Abhi pergi, dia justru kembali melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya, mendekapnya dengan erat seakan tidak ingin terlepas lagi, dan pria itu hanya membalas dengan usapan lembut di kepala. “Apa selama aku pergi … kamu baik-baik saja?” tanya Abhi sambil menangkup wajah Naura, supaya mau menghadapnya.
“Now, tidak, Bhi! Hatiku tidak baik, ada cemas dan kerinduan di sini!” Naura kembali menyembunyikan wajahnya di dada Abhi, masih menikmati aroma parfum suaminya. Meski aroma parfum itu berbeda dari biasanya.
“Maaf ya, sudah membuatmu khawatir!” tangan Abhi menepuk punggung Naura.
“Dah, buruan mandi! Aku tunggu di meja makan. Aku sudah selesai memasak sup singkong untukmu! Sebenarnya aku berniat mengantarnya ke kantor, sekalian menjemputmu pulang,” ucap Naura, melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang suaminya. Membiarkan Abhi pergi dan membersihkan diri di kamar.
“Sekarang aku sudah di rumah, mari kita nikmati bersama.”
Ketiga orang dewasa itu sudah menunggunya di meja makan. Erik yang mengetahui mininya meja makan mereka, sengaja menarik kursi yang ada di taman, supaya muat untuk duduk berlima.
Taman yang dibuat Abhi dan Naura kini mulai tumbuh subur, sebagian bunga yang Abhi tanam beberapa bulan yang lalu mulai bermekaran, menyebarkan aroma parfum alami dari bunga melati.
“Mumpung Nana tadi pagi masak sup singkong, cobain yuk, Ma, Pa, Than!” ajak Naura sambil berjalan menuju dapur. Beruntung tadi pagi dia memasak cukup banyak, jadi bisa dimakan bersama-sama dengan mereka.
Selesai menyiapkan lima mangkok di atas meja makan, Naura ikut duduk di samping Ella. Mereka masih menunggu Abhi yang tengah membersihkan diri.
Nathan menatap ragu mangkuk di depannya. Ia sering menjadi korban pembuangan oleh Abhi karena rasa masakan istrinya yang tidak konsisten. Dan dari aroma yang ia cium saat ini, sepertinya masakan Naura kelebihan yodium, dan benar saja belum selesai ia memikirkan hal itu, Erik sudah meletakan sendoknya lebih dulu. Menghentikan acara makannya.
“Jangan dimakan!” kata Erik setelah berhasil menelan potongan singkong.
“Kenapa, Pa?” tanya Naura, saat merasa aneh dengan ekpresi Erik.
“Kamu cicip sendiri, deh!” Erik berniat menyuapi Naura, tapi tangan istrinya lekas mencegahnya.
Naura kemudian mengambil sesendok sup singkong di mangkuk dan memasukan ke dalam mulutnya, menurut pendapat Naura rasa sup yang ia masak sudah pas. “Enak kok,” ujarnya, menyangkal ucapan Erik. “Ayo makan, enak kok, Than! Beneran, deh!”
“Lidah orang hamil memang perlu diobati!” cibir Erik menatap ke arah Ella. Mencoba mencari pembelaan tapi sang istri sepertinya tidak peka sama sekali, dia justru melarang dirinya untuk membuang makanan itu.
“Dah, makan, nggak baik buang-buang makanan!” ucap Ella memaksakan diri untuk menikmati sup singkong buatan Naura.
__ADS_1
“Emang beneran nggak Enak ya, Ma?” tanya Naura saat melihat Ella seolah tidak bisa menikmati makanan di depannya. Dia semakin kehilangan rasa percaya diri saat menatap Nathan yang sedari tadi meneguk minuman.
“Lumayan kebanyakan garam! Kamu nggak usah makan, biar mama dan papamu saja yang memakannya. Orang hamil itu nggak boleh terlalu banyak makan garam, nanti darah tinggi!” kata Ella mencoba mengingatkan.
Mendengar penjelasan sang mama, Naura buru-buru mengambil mangkuk yang sudah ia siapkan untuk Abhi, lalu lekas membawanya kembali ke dapur, ia tidak mau suaminya itu menikmati masakannya yang kacau. Ia memilih membuatkan makanan yang baru untuk suaminya.
Saat Abhi ikut bergabung ke meja makan, matanya mencoba mencari jatah makanan untuknya. Tapi yang terjadi pria itu tak menemukan mangkok yang masih utuh, semuanya sisa setengah. Istrinya juga saat ini tengah sibuk di dapur, entah apa yang ia lakukan.
“Punya aku mana, Sayang?” tanya Abhi sambil berjalan ke arah Naura.
“Maaf, ya … itu dihabisin sama tamu kita!” bisik Naura, menampilkan wajah penuh penyesalan, membuat suaminya mengangguk paham.
Sedangkan tiga porang yang saat ini berada di meja makan hanya menertawakan tingkah Naura.
“Aku buatin kamu omelet nih. Duduk dulu ya!”
“Oke aku tunggu!” Abhi kembali berjalan ke meja makan, bergabung dengan mertua dan sahabatnya, yang sedang berbincang.
“Nggak begitu dekat! Dia yang mengenalku lebih dulu! Sedangkan aku sih cuek-cuek saja!” jawab Erik acuh.
“Bohong! Nggak kenal, kok, mau begadang sampai pagi!” cibir Ella, menatap sengit ke arah Erik, saat teringat suaminya itu pulang hingga pagi, tapi tak dapat bisa berbuat apa-apa untuk Naura.
“Kangen-kangenan, Sayang … yang penting kan aku nggak datang ke lokalisasi!” Erik berusaha membela diri.
“Udah-udah dah tua jangan berantem mulu!” Naura datang membawakan omelet di tangannya lalu membErikan pada Abhi. “Papa juga dari kemarin bikin mama emosi! Pakai bawa-bawa satpam pula, buat nangkap kita.”
“Papa cuma khawatir, salah sendiri kamu nggak bilang ke papa kalau mau ngambil rekaman, kalau bilang kan, papa bisa minta orang buat jagain kalian!” ucap Erik, merasa geli juga ketika teringat wajah istrinya yang panik saat satpam menggiringnya ke kantor keamanan.
“Emang kamu kemarin ke mana, Sayang?” tanya Abhi.
“Jalan-jalan sama mama. Aku pengen rujak cingur jadi kita ngemall, niat hati mau lihat film komedi, eee malah keduluan ditangkap satpam.” Naura terkekeh, setelah itu.
__ADS_1
“Bohong! Kamu saja mama ajak nggak mau, kok!” Ella menyahut, menyalahkan ucapan putrinya.
Naura menutup mulutnya, karena wanita kesayangannya itu masih ingat saja dengan ucapannya.
“Dia katanya mau ngajakin bulan madu, Bhi!” adu Ella.
“Iya, kah, Sayang?” Abhi mencoba memastikan.
“Emang kamu mau?” tanya Naura.
“Mau dong, siapa yang nggak mau diajak bulan madu sama istrinya.” Abhi menatap Naura, “Tapi tunggu kasus pak Bahtiar selesai dulu, ya! Habis itu kita ke Bangkok,” sambungnya.
“Mama ikut ya!” Ella menyahut.
“Boleh, Ma.” Abhi menjawab cepat.
Sedangkan Naura sepertinya ingin melayangkan protes. “Apa enaknya bulan madu sama bawa mama?”
“Nggak papa, dong! Kalau mama ikut setidaknya kalau kamu bandel ada yang ngingetin!” Abhi mencubit hidung istrinya.
“Kapan memangnya aku bandel?” protes Naura.
“Lah, Nggak nyadar?”
“Sudah, sudah buruan makan! Keburu omeletnya dingin! Di meja makan nggak boleh buat berantem!” Ella memperingati Menantunya, Abhi tertawa saat merasa menang, ia lekas memotong omelet buatan Naura, dan memasukkannya ke dalam mulut.
Erik seolah paham apa yang dirasakan putra mantunya saat ini, ia berusaha menahan tawa, takut putrinya akan tersinggung, jika ia menertawakan Abhi. Ini salahnya juga sih karena terlalu memanjakan Naura, sampai sudah sebesar ini, wanita itu tidak bisa memasak untuk suaminya.
“Kamu mau, Than sepertinya kamu tersiksa saat aku menikmati enaknya omelette buatan istriku!” Abhi memotong omelette di piringnya lalu membaginya dengan Nathan.
“Na … kamu nggak berniat belajar masak dengan mama mu, gitu? Atau kamu planning sekolah memasak, sepertinya kamu perlu, deh! Masak bikin omelette yang enak saja tidak bisa!” cibir Erik.
Naura langsung menoleh ke arah Abhi, mengamati lekat wajah suaminya. Hatinya bertanya-tanya, benar kah dia tidak bisa memasak yang enak untuk suaminya? Apa karena ini suaminya itu terlihat lebih kurus dari waktu ia bujang?
...----------------...
__ADS_1