
...Selamat Membaca...
“Apa semua orang kaya selalu begitu? Sial, bisa-bisanya dua kali jatuh. Ke lubang yang sama, pula!” Gerutuan Abhi masih berlanjut, menendang apapun yang dilewati termasuk rumput yang ia injak saat ini.
Ella yang baru saja keluar dari mobil menatap heran ke arah pria tersebut.
“Abhi …” panggil Ella, berjalan menghampiri Abhi, “mau ke mana? Nggak nemuin Nana dulu?” tanyanya setelah berhenti tepat di depan Abhi.
“Ugh, enggak, Bu. Saya datang cuma diminta pak Martinus buat mengantar mobil Naura.” Abhi menggaruk kepalanya, mengusir canggung. “Berhubung sudah tidak ada kepentingan lagi, saya pamit pulang,” ujarnya, kemudian.
“Ugh, gitu—ya? Ya sudah, ibu kira ada keperluan sama Nana.” Ella salahpaham atas kedatangan Abhi pagi ini, dia pikir pria itu benar-benar ingin melakukan pendekatan dengan Naura seperti apa yang disampaikan suaminya semalam.
“Papa, bantuin, Nana! Aku nggak bisa jalan!” teriak Naura dari dalam mobil, saat Erik meninggalkannya sendirian.
“Bentar ya, ibu bantuin Nana dulu. Kamu kalau mau pulang, silakan! Maaf sudah menahanmu.” setelah itu Ella meninggalkan Abhi. Yang masih dirundung dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
Abhi masih melihat Ella yang berjalan mendekati mobil, membuka pintu mobil mewah tersebut, lalu memapah tubuh gadis yang mirip dengan Naura.
Abhi masih berpikir keras, sampai akhirnya ia berjalan mendekati keduanya. “Biar Abhi yang bantuin Naura, Bu.” katanya mengambil alih posisi Ella.
“Loh, nggak jadi pulang?” tanya Ella dengan nada menggoda.
“Enggak, teman saya belum datang.” Abhi tersenyum tipis, sambil memapah tubuh Naura. Merasa tidak sabar, ia kembali menggendong tubuh Naura, dan membawanya ke dalam rumah seperti kemarin.
Saat tiba di ruang tamu, kedua orang yang tadi Abhi lihat, masih berada di sana. Tapi kondisinya sudah berbeda, mereka sudah tidak lagi berciuman. Dan itu membuat Abhi merutuki dirinya sendiri. Karena termakan emosi.
“Kenapa, berhenti?” tanya Naura yang kini berada di gendongan Abhi.
“Dia?”
“Dia—kenalan sendiri sana?” ketusnya, “tapi lebih baik kamu bawa aku ke kamar dulu! kakiku sudah ngilu!” perintahnya tegas. Sebenarnya Naura hanya menghindari bullyan dari Maura yang sudah siap melontarkan candaan.
Abhi mengangguk lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, tidak perlu petunjuk arah lagi. Karena dia masih ingat dengan jelas di mana letak kamar Naura.
“Di sofa saja!” ucap Naura menunjuk ke arah sofa dekat jendela. “Aku nggak mau kejadian kemarin terulang lagi.” Imbuhnya lalu disusul tawa geli, yang membuat Abhi juga menahan tawanya.
Abhi meletakan tubuh Naura di sofa, kemudian ikut duduk di samping gadis tersebut. Sedikit memberi jarak, takut khilaf.
“Sudah selesai, pulang sana! Terima kasih.” Naura mengusir pria tersebut, karena tidak ada hal lain yang ingin ia sampaikan.
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu!” ucap Abhi.
__ADS_1
“Kenapa?” Naura menatap tak suka ke arah Abhi. Ia tetap menjaga wajah judesnya. Supaya terlihat berwibawa.
Abhi tampak gelisah, ia sedang menyusun kata-kata supaya tidak membuat Naura terkejut dengan ucapannya. “Ap—apa tulang kakimu ada yang patah? Kalau iya aku akan bertanggungjawab.”
Naura menahan tawa, “Enggak, hanya bengkak besok juga pulih.”
“Gitu, ya?” nada suara Abhi tampak kecewa, padahal ia berharap Naura meminta pertanggungjawaban padanya. Dia siap untuk menikahi gadis itu sekarang, mumpung ibunya belum pulang, dia bisa melakukan ijab dulu.
“Naura,” panggil Abhi tiba-tiba, membuat Naura menoleh ke arahnya.
“Apa?” tanya Naura dengan mata yang sudah membulat sempurna.
Abhi menegakkan posisi duduknya. Tidak tahu aja, betapa gugupnya dia saat ini. “Yang di bawah tadi beneran kembaran kamu?” lagi, lagi Abhi tidak mampu mengutarakan maksud sebenarnya ia memanggil Naura.
Naura mengangguk, “kita memang kembar, tapi kita jelas beda. Kenapa memangnya? Itu tadi suaminya, dia sedang hamil.”
Keadaan kembali hening. Naura juga heran, kenapa dia tidak seperti biasanya, yang selalu mengerjai Abhi. Kali ini dia lebih pendiam seolah sedang menjaga image baiknya.
“Naura.” Abhi kembali menyebut namanya, suaranya lebih lembut. Ia hampir tidak mengenali suara Abhi.
“Kenapa, lagi?” tanya Naura ikut melembutkan nada bicaranya, kini ia memundurkan tubuhnya, demi melihat gelegat Abhi. Jelas wajah Abhi tampak tegang, nafasnya kembang kempis.
Mata bulat itu tepat bertubrukan dengan tatapan Abhi yang sedari tadi memperhatikannya. Cukup lama Naura terdiam, sampai ia melontarkan jawabannya.
“Dekat? Kamu mau kerja di tempatku, begitu?”
“Na, bukan itu—maksudku kita bisa dekat dalam artian hubungan. Kamu jomlo aku juga masih single, kalau kita saling kenal sepertinya akan cocok.”
Naura terkekeh, “Kamu melihat cocok dari mana? Bukannya sejak dulu kita selalu cekcok?”
Abhi mengangguk, “kita cekcok kalau di meja hijau. Tapi kalau di luar kan, enggak!”
“Enggak apanya, dulu siapa yang ngatain aku perawan tua?” suara Naura naik satu oktaf, demi mengingatkan Abhi.
“Kamu juga, ngatain aku perjaka usang?”
“Habisnya kamu ngatain aku ter—
Abhi membungkam mulutnya dengan tangan kanan. “Aku akan memperbaikinya, kamu mau kan buka hatimu untukku?” lirihnya di depan wajah Naura.
“Enggak? Bagaimana bisa aku membuka hati untuk pria yang masih mencintai wanita lain?” Naura tetap menolak.
__ADS_1
Abhi tampak bingung, “Apa maksudmu?”
“Ck, lupa kalau baru kemarin kamu ngungkapin perasaanmu sama anaknya bu Susan?”
“Kapan?” tanya Abhi, sambil mencoba mengingat.
“Nah, kan lupa? Amnesia, tuh?”
“Kemarin pagi? Waktu kamu jatuh itu, jadi gara-gara kamu mendengar obrolanku dengan Olivia?” selidik Abhi.
Dan Naura mengangguk memberi jawaban. “Kamu pasti nggak mendengar semuanya, ya?” tanya Abhi lagi, kini tawanya hampir terlepas saat melihat wajah Naura yang kesal.
“Ogah ngapain juga, bukan urusan pengacara seperti aku!”
“Sepertinya, kamu terserang syndrome cemburu, deh!”
“Apanya, cemburu? Enggaklah? Bukanya kamu yang cemburu tadi saat melihat kembaranku?” jemari Naura menunjuk tepat di hidung Abhi. “Naura putri binti Erik Ramones nggak mungkin kenal namanya cemburu?” lanjutnya.
“Boleh diganti nggak namanya? Naura Putri Damanik?” sahut Abhi.
“Hah, Percaya diri banget kamu ngomong gitu ke aku.” wajah Naura tampak kesal, tapi jujur hatinya seperti mawar tengah bermekaran.
“Jadi, di Cianjur sehari semalam, belum menggetarkan hatimu? Butuh waktu berapa lama lagi?” tanya Abhi.
“Apanya yang bergetar?” Naura membuang muka. Kalau boleh jujur, saat ini ada seseorang yang sedang menabuh genderang di jantungnya, membuat debaran organ vitalnya semakin kuat. Dan sulit untuk ia hentikan. Apalagi, saat tangan Abhi perlahan mulai mengenggam jemarinya, meremasnya lembut menyalurkan kehangatan yang mampu mempercepat suara tabuhan genderang tersebut. Kini bukan hanya jantung, berkat sentuhan tangan Abhi suhu tubuhnya tiba-tiba memanas. Naura sedang berusaha untuk tidak tergoda.
“Aku cuma ingin memastikan, apa saat aku memegang tangan ini, ada sesuatu yang aneh di diriku. Dan ternyata … aku bisa merasakan kalau ini—benar apa yang sedang aku pikirkan sejak kemarin.”
“Mungkin ini terlalu cepat, Naura. Tapi bisakah kamu ..., memberikan aku kesempatan untuk dekat denganmu?” Abhi menarik nafas, “Siapa tahu kamu diciptakan dari tulang rusukku yang hilang.”
Naura membuang nafas kasar melalui bibirnya, mencoba mengontrol lagi irama jantungnya saat mendengar gombalan Abhi, dia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh pria. Dia tidak mengira jika kejadiannya akan secepat ini, Abhi dan dirinya, dua orang yang saling berseberangan, justru saling memendam perasaan. Ya, mungkin ini terlalu cepat. Sangat cepat malahan. Cinta sepertinya sudah mempertemukan mereka hingga membuatnya seperti ini.
Naura memberanikan diri untuk menatap Abhi yang kini berada di dekatnya. Saat ia hendak membuka mulut, ponsel di saku Abhi berdering nyaring.
“Maaf,” ujar Abhi sambil mengambil ponsel di saku celana. “Ya, tunggulah di sana sebentar.” Ucap Abhi saat mendengar suara pria di seberang telepon, lalu mematikannya.
“Mau dimulai dari mana?” tanya Naura, membuat Abhi melebarkan bibirnya yang sensual. “kita sudah dewasa harusnya tidak lagi bermain-main dalam berhubungan. Tapi aku juga takut untuk menjalin komitmen.”
...----------------...
Jangan lupa like, vote dan komentar, biar Ella rajin update. Terima kasih ❤️
__ADS_1