
Happy reading jangan lupa untuk tekan like dan votes ya.🙏👍
.
.
.
.
“Sudah waktunya Ayah pergi, tolong jaga adikmu, lindungi dia saat ada orang yang menyakitinya, tugas ayah kuserahkan kepadamu,” ucapnya yang sudah mulai terbata, Ella masih diam, mengeluarkan tangisnya yang semakin menjadi itu, dia meletakkan tangan kiri Danu di wajahnya, tangan kasar yang akan selalu dia rindukan, pelukkan menenangkan saat dia dalam kesulitan, kalau boleh dia meminta jangan biarkan ayahnya pergi meninggalkannya.
“Tuntun Ayah mengucapkan kalimat syahadat!” Perintahnya pelan pada kedua anaknya itu. Sejenak Damar terdiam menatap wajah ayahnya, tak beda dengan Ella yang sudah menciumi wajah ayahnya.
Damar dan Ella membimbing ayahnya mengucapakan kalimat syahadat.
“La illaha illallah,” ucap Ella dan Damar perlahan namun terdengar jelas Danu bisa mengikutinya, diikuti suara terbata dari sang ayah. Mereka berdua menuntun Danu dengan suara tangisnya, diikuti hilangnya kesadaran Danu yang semakin menurun, Ella hanya menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika ayahnya akan pergi secepat ini.
Ella menutup telinganya saat terdengar suara ECG yang satu nada itu, tak lama tubuhnya jatuh tersungkur di samping brankar ayahnya.
Setelah mengucapkan kata Innalillahi wainna ilaihi raji’un Damar segera berlari ke arah Ella, mengangkat tubuh adeknya itu ke ruang UGD.
Damar yang melihat Ella sudah ditangani dokter dia langsung berjalan keluar ruangan, mangabari istri dan anak buahnya untuk menyiapkan segala sesuatunya termasuk proses pemakaman, dia lalu menghubungi adik iparnya, Damar tidak tau jika Erik sedang berada di Australia.
“Hallo,” ucap Damar saat ponsel diangkat oleh pemiliknya.
“Kenapa?” Tanya Erik yang masih menjawab dengan nada senang, karena berhasil mengalahkan Axel.
“Datanglah ke rumah sakit Lala pinsan!” Perintah Damar sambil menatap ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
__ADS_1
“Apa! Lala pinsan? Kok bisa? Ada apa dengannya?” Tanya Erik syok mendengar kabar tentang istrinya.
“Cepatlah ke rumah sakit bantu aku menjaga Lala, ayah sudah tiada,” ucap Damar dengan suara tangis lirihnya.
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un, Benarkah Mar?” Tanya Erik memastikan kebenarannya.
“Iya aku tidak akan bercanda untuk hal semacam ini, cepatlah datang! temani istrimu dan aku akan mengurus jenazah Ayahku!,” Perintah Damar.
“Tapi aku di Australia Mar,” ucap Erik menyesali situasinya yang saat ini berada jauh dari Ella.
“Shiitttt.... Ngapain kamu disana. Tinggalkan pekerjaanmu! Ella lebih penting dari uang!” Teriak Damar memaki sahabatnya itu, lalu segera mematikan ponselnya karena merasa kesal dengan Erik.
Damar kembali berjalan ke ruangan adiknya, melihat kondisi Ella yang masih belum sadarkan diri, dia hanya takut kejadian dulu akan terulang kembali, kejadian dimana Kenzie meninggalkannya dan dia depresi hingga berbulan-bulan tidak ingin keluar rumah kecuali ke makam Kenzie, dan itu seperti membuat Ella kehilangan separuh jiwanya.
Perlahan dia membuka matanya, menyadarkan dirinya bahwa dia sedang terbaring lemah di brankar, Ella menatap sekelilingnya menatap tirai hijau khas rumah sakit, lalu menatap Damar yang sudah berdiri disamping brankar menatap wajah sembab kakaknya.
“La please, Kakak minta jangan seperti dulu, Kakak janji! Kakak akan jadi pengganti ayah untukmu,” ucap Damar saat melihat tatapan kosong Ella. Ella yang menyadari apa yang dikatakan Damar tentang ayahnya dia kembali menangis mengeluarkan suara dan air matanya, dadanya bergetar karena suara tangisnya yang pecah.
“Ayah dan Bunda akan melihatnya dari atas La, mereka akan bahagia jika kamu bahagia, jangan seperti ini, ikhlaskan kepergian Syah,” ucap Damar sambil mengusap punggung Ella.
“Kamu lihat tadi Ayah tersenyum saat dia menutup matanya, mungkin dia sudah bahagia karena sudah bertemu Bunda, jadi kamu tidak boleh seperti ini, kamu harus kuat La, kamu juga harus ingat, ada Erik yang akan berada di sampingmu,” lanjutnya. Ella masih betah menangis dipelukkan kakaknya itu.
“Ayo kita pulang, kita urus jenazah Ayah bersama, Kakak juga tidak akan sanggup jika mengurusnya sendiri,” ajak Damar yang sedari tadi berusaha tegar di depan Ella, tapi sebenarnya dia dari tadi juga menahan agar tangisnya tidak pecah. Ella yang sudah mulai tenang, mengikuti Damar yang berjalan di depannya, mengurus jenazah ayahnya yang sudah dibersihkan itu.
Ella dan Damar pulang ke rumah, diiringi suara sirine dari mobil jenazah yang membawa almarhum ayahnya pulang, mereka tiba di rumah pukul 11 malam, kerabat dekat sudah berada di sana, kecuali tante Sinta yang akan datang esok hari.
Sashi yang melihat Ella turun dari mobil langsung memeluknya dan menenangkan adik iparnya itu.
“Ikhlaskan Ayah, maafkan aku jika tidak bisa menjaga Ayah dengan baik,” ucap Sashi saat memeluk Ella. Ghea yang melihat papanya datang langsung memeluk Damar, dan menangis dipelukkannya, Ghea sudah paham jika kakeknya pergi, berbeda dengan Gheo yang baru berusia 2,5 tahun itu.
__ADS_1
“Aku sudah ikhlas dan aku akan kuat, tenanglah aku akan baik-baik saja,” ucapnya pada wanita didepannya itu.
Ella masuk ke dalam rumah, ditemani oleh Sashi, karena Damar sudah memberinya kode jangan sampai meninggalkan Ella sendiri, Damar khawatir jika Ella akan melakukan hal nekat karena Ella dari dulu memang dekat dengan ayahnya.
“Shi biarkan aku beristirahat di kamar Ayah, aku capek,” Sashi yang mendengar itu mengantar Ella ke kamar ayah mertuanya, berniat ingin menemani Ella disana.
“Keluarlah biarkan aku disini sendiri!” Perintah Ella pada kakak iparnya itu.
“Nggak La,” tolak Sashi yang menyadari bahwa Ella tidak sedang dalam kondisi baik.
“Jangan khawatirkan aku. Aku pasti akan baik-baik saja, aku hanya butuh waktu sendiri saja Shi,” jelas Ella agar Sashi mau pergi dari kamar ayahnya. Sashi pun akhirnya mengalah, meninggalkan Ella sendiri di kamar mertuanya.
Ella merebahkan tubuhnya di tepi ranjang yang masih terdapat aroma keringat ayahnya itu, dia mengusap bekas bantal yang ayahnya kenakan, mencium bantal yang berbau minyak rambut ayahnya seolah seperti sedang memeluk ayahnya.
“Maaf Yah, maafkan Ella, beberapa minggu ini Ella mengabaikanmu, Ella tidak memelukmu lagi, Ella sibuk dengan dunia Ella, hingga Ella melupakanmu, maafkan aku Yah,” ucapnya lirih sambil menetaskan air matanya.
“Aku tak menyangka kehilanganmu akan seberat ini, jika aku tau ini akan terjadi aku akan tinggal bersamamu disini, menemani hari tuamu, memegang tanganmu saat engkau lemah,” ucapnya yang masih terisak Ella terus mengusap airmata yang menetes di pipinya mencoba sebisa mungkin menghentikannya.
“Maafkan aku Yah, jangan siksa aku dengan rasa penyesalan ini,” ucapnya yang sudah tidak bisa menahan suaranya, membuat Sashi kembali masuk ke kamar mertuanya.
“La ...” ucapnya sambil memeluk Ella, mencoba menenangkan sahabatnya itu.
“Sudah La! Kamu yang ikhlas,” ujarnya menenangkan dan memeluk Ella yang sudah menangis dengan suara keras itu.
“Tinggalkan aku Shi ...” Teriaknya sambil melepaskan pelukkan Sashi.
“Tidak ada yang perlu di sesali La, semua sudah takdir dari Allah, kita sebagai anaknya hanya bisa mendoakannya, semoga Ayah di tempatkan di tempat yang terbaik oleh Allah,” lanjut Sashi.
Ella masih menangis dipelukkan Sashi, dia sudah mencoba menghentikan air matanya, tapi yang ada air matanya semakin deras mengalir, dia tidak kuat lagi sudah 2 kali dia jatuh pinsan malan ini, hingga akhirnya Damarlah yang bisa menenangkannya.
__ADS_1
To Be Continue.
Fellnya kurang kena ya...maaf ya karena aku belum pernah ngerasain bagaimana rasanya ditinggalkan seorang ayah.😰