
Lima tahun kemudian
Musim kemarau melanda kota Jakarta, tepat saat anak-anak Erik tengah liburan sekolah. Tahun ini mereka tidak liburan ke luar negri, melainkan Erik memboyong seluruh anggota keluarganya ke Lombok untuk menikmati liburannya.
Semua keluarga besarnya ikut, termasuk Damar, Panji, Rendi, Yohan beserta anak dan istri mereka semua Erik bawa ke villa miliknya yang ada di Lombok.
Haikal dan Nindi beserta kedua anaknya juga turut mereka undang, karena mereka sudah menganggap Ella sebagai saudaranya. Setelah kepergian bunda Kenzie satu tahun yang lalu, dia menitipkan Ella pada Haikal, mengingat pesan terakhir Kenzie yang meminta keluarganya turut ikut menjaga Ella.
Jangan lupakan Nadia dan Nugie mereka turut hadir di villa Erik yang ada di Lombok, usia anak mereka tidak jauh dari Nara dan Rara, hanya selisih 2 bulan saja, jadi lumayan ramai jika mereka bertemu.
Sore ini semua orang tengah berada di pinggir pantai, bukan untuk acara minikmati alkohol atau sejenis minuman yang memabukkan, tapi mereka hanya membakar daging -dagingan, menikmati waktu kebersamaannya, meninggalkan semua aktivitas yang setiap hari menyibukkan mereka.
Kalun yang saat itu sudah menginjak remaja, terlihat mulai mencuri-curi pandang pada Kayra putri sahabat Erik. Kalun tumbuh menjadi lelaki yang tampan, tapi dia sangat irit bicara, sehari mungkin tidak lebih dari 100 kata yang dia ucapkan, tapi jika sedang bersama Kayra, dia bisa berjam-jam hanya untuk membicarakan boneka keropi kesukaan Kayra. Riella yang selalu mengikuti keduanya kadang merasa cemburu lantaran Kalun lebih perhatian pada Kayra dari pada dirinya.
Terdengar suara dentingan gelas dari tangan Erik, semua orang langsung menoleh ke arah Erik yang tepat berada di depan bibir pantai.
“Perhatian! Perhatian!” ucap Erik yang sedikit berteriak supaya semua orang yang berada di sana bisa mendengar ucapanya. Setelah semua berhenti dari aktivitasnya Erik mulai mengeluarkan suaranya.
“Hari ini, tepat hari ulang tahun pernikahanku dan Ella,” ucap Erik sambil melihat Ella yang melotot sempurna sambil menutup mulutnya. Ella benar-benar melupakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke-13 tahun ini. Erik mengangkat bibirnya saat melihat respon Ella.
“Aku ingin memperlihatkan, betapa setia dan cintanya aku kepada istriku.” Erik menghentikan ucapannya sambil matanya terus menatap Ella. “Sayang ... mendekatlah!” lanjutnya memerintahkan Ella. Istrinya itu hanya mengernyit belum mau melangkahkan kakinya untuk mendekat.
“Come on! Jangan malu-malu, mumpung anak-anak kita belum tidur,” ucap Erik yang tidak dimegerti Ella. Erik yang tidak mendapat respon dari Ella, langsung mendekat ke arah istrinya. Lalu menarik tangan Ella, dan membawanya ke depan semua orang yang sudah dianggap saudaranya itu.
“Apa lagi sih Pap,” bisik Ella di samping telinga Erik.
“Kalian semua dan Mama, Papa. Dengarkan aku baik-baik, hari ini Erik Ramones akan mengulang janji pernikahan, sebagai kado ulang tahun pernikahan yang ke-13 untuk Ella.”
Semua orang yang berada di sana langsung menyoraki Erik, saat mendengar tujuan lelaki tua itu berbicara.
“Woy ... dengarkan dulu! Aku yakin kalian pasti juga akan mengatakannya pada istri kalian,” ucap Erik saat tidak mendapatkan respon baik dari semua orang yang berada di sana.
“Rik! Nanti ngomongnya di kamar saja! Ingat banyak anak di bawah umur di sini,” cibir Rendi yang sudah menikmati tusukkan sate di tangannya.
“Benar tu, kalau di kamar kan enak bisa langsung buat adik untuk Rara,” sahut Panji yang masih ceplas-ceplos ketika berbicara.
__ADS_1
“Udah ya loe nggak usah nambahin, pasti loe juga akan membulyku, kan!” peringat Erik sambil menunjuk ke arah Damar yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada adik iparnya itu.
“Percuma deh ya, gue kasih tumpangan pada kalian jika ujungnya, nggak mau jadi saksi cinta gue ke Lala, besok gue kirim tagihan ke kantor loe pada!” ucap Erik sambil menunjuk ke arah satu persatu lelaki yang berada di sana.
Erik lalu membawa Ella pergi dari kerumunan sahabatnya itu, menitipkan anaknya pada pembantu dan kedua orang tuanya. Mereka berdua berjalan menyusuri bibir pantai, di temani pantulan cahaya dari bulan.
Erik terus berjalan menjauh dari kerumunan hingga hanya terdengar suara ombak yang menderu.
Ella yang melihat Erik terbatuk, reflek menepuk punggung suaminya. Erik tersenyum senang, sambil menatap wajah Ella yang terlihat sedikit panik.
“Aku baik-baik saja, tenanglah!” ucapnya sambil meraih tangan Ella yang menepuk punggungnya. Erik lalu membawa Ella ke dalam dekapannya, mereka berdua masih berjalan mencari tempat yang pas untuk mengulang janji pernikahannya.
“Jangan jauh-jauh Pa, nanti kambuh lagi batuknya!” peringat Ella yang sudah menghentikan langkahnya.
“Sebenarnya kita mau ngapain sih menjauh dari mereka? Tiap hari aku sudah bosan mendengarmu mengucapakan kata-kata cinta,” ucap Ella sambil mendudukkan pantatnya di atas hamparan pasir putih. Erik tersenyum sebentar ke arah Ella, lalu menyusul untuk duduk di samping Ella. Mereka berdua menikmati suara ombak yang terdengar jelas di telinga keduanya.
“Apa kamu kedinginan?” tanya Erik yang hendak melepas jaketnya.
“Nggak! Mas saja yang pakai, aku masih ada selimut ini, lagian aku juga pakai baju panjang,” ucap Ella sambil menahan Erik yang hendak melepas jaketnya.
“Beberapa tahun ini, kita jarang mempunyai waktu untuk berduaan, malam ini aku ingin menikmati waktu berduaan denganmu,” ucap Erik sambil mengenggam tangan Ella. Dia lalu menautkan jarinya di jari Ella, mengeratkan lagi tautannya itu, menyalurkan kehangatan di tangan Ella yang terasa dingin.
“Tidurlah jika mengantuk, kita akan bermalam di sini!” perintah Erik saat Ella mulai memejamkan matanya.
“Aku nggak tidur, aku hanya menikmati udara sejuk malam ini, ditemani orang yang aku cintai,” ucap Ella sambil membuka matanya sebentar menatap wajah Erik.
“Kalau begini, nggak ingat ya kalau kita sudah punya empat orang anak.” Erik menciumi rambut Ella. Dia sudah melepaskan kaca matanya ketika baru duduk tadi.
“hmmm ....” Ella hanya berdehem saat mendengar ucapan Erik.
“13 tahun sudah kita lewati, adakah yang ingin kamu sampaikan padaku?” tanya Erik yang menatap air laut yang terlihat indah malam ini.
“Aku sudah kehabisan kata-kata, semua sudah ada di hidupku, suami, anak, cinta yang melimpah ada di kehidupanku saat ini, jika aku menuntut hal yang lain apa itu tidak terlalu serakah?” ucap Ella, sambil menatap wajah Erik.
“Iya, harusnya kita lebih mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, bukan menuntut apa yang belum kita miliki, seperti contohnya istri kedua mungkin?” ucap Erik, diakhiri kata yang menyakiti hati Ella. Dia langsung mendapatkan hadiah cubitan di pinggang dari Ella.
__ADS_1
“Nggak Sayang ... kamu selamanya dan satu-satunya,” lanjut Erik sambil mencium bibir Ella.
“Ingat ya mas sudah 51 tahun, dan kesehatanmu juga sudah menurun!” peringat Ella yang membuat Erik tersenyum tipis.
“Biarkan saja, aku nggak perlu mengingat berapa banyak usiaku, karena waktu akan terasa lebih cepat saat aku melewatinya bersamamu, andai aku bisa memutarnya, aku akan berada di awal-awal saat kita nikah dan-”
“Pasti karena kamu terlihat lebih kuat,” potong Ella saat Erik belum menyelesaikan ucapannya. Erik terlihat tertawa memperlihatkan barisan gigi putihnya di depan wajah Ella.
“Sekarang pun aku juga masih kuat, apa mau mencobanya di sini?” tawar Erik yang membuat Ella melepaskan pelukkannya lalu beranjak pergi meninggalkan Erik.
“Hey ladies! Where are you going?” teriak Erik yang sok kebulean. Membuat Ella tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menggoda Erik untuk mendekat ke arahnya.
“Kemarilah Pak Tua, akan aku berikan yang spesial untukmu,” teriak Ella sambil berlari mendekat ke arah bibir pantai. Erik berjalan mendekat ke arah Ella, dia ingin mencoba berlari tapi dia takut, jika tidak kuat untuk menyerang Ella malam ini.
“Jangan mainan air, nanti masuk angin kamu sudah tua Yang!” peringat Erik sambil menarik pinggang Ella. Istrinya itu terkekeh kecil sambil berucap, “Kamu saja yang tua aku mah, Nggak!”
“Iya aku yang tua, lelaki tua berjiwa muda,” ucap Erik lalu mendaratkan ciuman di bibir Ella. Ciuman yang masih terasa manis meski mereka melakukannya berulang kali. Suara deru ombak pun seperti alunan musik merdu yang mengiringi ciuman mereka, cahaya bulan bagaikan lampu kuning yang temaram, menambah suasana romantis malam itu. Ciuman berlangsung lama, tanpa mereka sadari ciuman Erik kini sudah berada di leher Ella.
“Kita balik ke villa!” ucap Ella sambil menahan wajah Erik yang hendak mendaratkan dibelahan dadanya. Erik lalu menghentikan aksinya saat menyadari kalakuannya yang buruk. Dia menatap manik mata Ella, lalu mendaratkan ciumannya di dahi Ella. Dia lalu sedikit menunduk, menempelkan hidungnya di hidung istrinya. Tangan mereka kini saling melingkarkan di pinggang masing-masing pasangan. Ella memejamkan matanya karena merasa jarak suaminya itu sangat dekat, dia malu karena ini termasuk tempat umum, dia takut jika kelakuan Erik ini akan direkam oleh orang lain.
“Sayang ...” panggil Ella. Erik hanya berdehem sebagai jawaban.
“Jangan seperti ini, aku takut ada yang melihat,” lanjut Ella yang hendak melepaskan pelukan Erik.
“Nggak papa, jika ada yang melihat, anggap saja dia jadi saksi kita nantinya di sana!” Ella hanya diam lalu memindahkan tangannya di leher Erik, dia lalu menatap wajah Erik yang tepat berada di depan wajahnya.
“Dulu waktu kecil, aku selalu berpikir jika pangeran itu, selalu membawa kuda putih, dan dia akan memakaikan sepatu kaca ke kaki putri yang dia cintai, tapi rupanya ... pangeranku tidak berkuda putih, tapi pangeranku selalu memakai jas putih, dengan stetoskop di tangannya, aku bertemu lagi denganmu ketika kamu menjadi dokter, dan saat itu cintaku semakin dalam, hingga aku pernah sempat kamu lukai, aku juga yang memintamu untuk berhenti jadi dokter dan kamu pun menurutinya. Terima kasih sudah mengisi kehidupanku, memberikan rasa dalam kisah cintaku, dan sekarang kamu memberikan aku kesibukkan dengan mengurusi anakmu, sekali lagi terima kasih sayang ...” ucap Ella yang membuat Erik tersenyum lalu mengecup singkat bibir Ella.
“Kita tunggu saja, apakah ada anak kita yang akan kepincut lagi dengan dokter? Mungkin Riella, atau Nara, atau bisa jadi juga Rara yang akan mengikuti jejakmu, tapi kalau Kalundra itu tidak akan mungkin, karena dia tidak akan aku izinkan untuk terjun ke dunia medis, karena dia akan mewarisi kekayaan Ramones,” kata Erik sambil mendongakan lagi kepala Ella ke arah wajahnya.
“Aku tidak akan lelah penah untuk mengucapkan jika aku sangat mencintaimu,” ucap Erik sambil memeluk erat tubuh istrinya. Ella memejamkan matanya sambil membalas pelukkan Erik.
“Aku juga begitu, aku juga mencintaimu sampai ujung waktuku,” balas Ella yang juga mengeratkan pelukannya.
Semua makhluk yang berada di sana menjadi saksi ucapan cinta mereka malam itu, malam yang terlihat biasa, seperti malam-malam sebelumnya, tapi bagi mereka berdua, malam itu adalah malam yang paling spesial setelah kelahiran si kembar. Meski di ulang tahun pernikahannya ini tidak ada kado materi apapun yang diberikan oleh Erik, tapi suaminya itu sudah memberikan kado yang berharga dengan mengumpulkan sahabat dan keluarganya di sini.
__ADS_1
Ucapan terima kasih tak hentinya di ucapkan oleh Ella pada Erik, memperingati perjalanan panjang pernikahan mereka, menyambut masalah di depan yang akan mereka hadapi, dengan keyakinan bahwa mereka akan selalu bersama selamanya, hingga maut memisahkan mereka.
THE END