
Jangan lupa untuk tinggalkan like ya 👍
Setelah kepergian kedua sahabat dan kakaknya yang kembali lagi ke kantor, beberapa menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari arah luar.
“Ya sebentar,” sahut Danu lalu beranjak membuka pintu.
“Eh ... Nak Panji, ayo masuk! Ella nya baru di kamar mandi.” Danu sedikit terkejut dengan kehadiran sahabat lelaki anaknya.
Panji yang mendengar perintah Danu, segera masuk ke dalam mengikuti Danu yang duduk di sofa ruangan kamar Ella. Mereka berbincang-bincang mengenai sekilas kondisi Ella. Ella yang baru ke luar dari kamar mandi terkejut saat melihat Panji ada di sini.
Kok dia di sini, bukannya sudah berangkat ke Jerman ni anak. Batin Ella sambil menautkan kedua alisnya.
“Bukannya Lo, harusnya sudah di Jerman, Nji?” tanya Ella sambil mendekat ke brankar lalu duduk di sana.
“Iya seharusnya begitu, tapi gue batalin karena nyokap tiba- tiba sakit,” jelas Panji.
“Emang tante Rina sakit apa Nji?” tanya Ella khawatir, karena dia suka lumayan dekat dengan mamanya Panji.
“Biasalah La, penyakit tua, kecapean dan mungkin karena kepikiran gue kemarin, saat mau berangkat ke Jerman,” jelas Panji, “Eh..., Lo sakit apa sih La, kok bisa sampe sini?” lanjut Panji bertanya sambil berjalan mendekat ke arah brankar Ella, dia lalu duduk di sofa dekat brankar.
“Penyakit wanita, gak perlu tau deh, Lo,” jawab Ella. Panji yang mendengar jawaban Ella hanya mencibirkan bibirnya kerena kecewa dengan jawaban wanita pujaannya itu.
“Terus Lo kuliah di mana?” tanya Ella penasaran.
“Sama dengan Lo, tapi gue ambil bisnis manajemen jadi satu kelas sama Anna,” jawab Panji yang sekarang ikut masuk satu kampus dengannya.
“Nak Panji, Om nitip Lala sebentar ya, Om mau nyari makan dulu di kantin!” perintah Danu memotong obrolan mereka berdua.
“Bagaimana kalau Panji aja Om yang nyariin makan buat Om Danu, biar Om istirahat aja,” tawar Panji.
“Tidak usah, Om mau sekalian nyari angin, penat juga di kamar terus dari kemarin,” jelas Danu.
“Baik Om, Ella biar Panji yang jaga, gak usah buru-buru Om, lama juga nggak papa perginya,” canda Panji dengan tawanya, sedangkan Danu tersenyum sambil menatap wajah Ella.
Setelah kepergian Danu dari ruang rawat Ella, Panji dan Ella melanjutkan obrolannya, entah apa yang di ceritakan Panji hingga mampu membuat Ella tertawa bahagia, sampai kemudian Panji menawarkan buah jeruk pada Ella.
“Gue kupas ini ya La,” tawar Panji mengangkat satu buah jeruk di tangannya.
Ella hanya menjawab singkat, “ Ya.”
Setelah selesai mengupas, Panji menyuapkan buah jeruk itu ke mulut Ella.
__ADS_1
“Sini gue bisa sendiri,” pinta Ella yang ingin mengambil jeruk yang sudah selesai di kupas.
“Udah diam saja, buka mulutmu aaaakkk.” Panji menyodorkan jeruk ke mulut Ella dan gadis itu akhirnya hanya pasrah menurut dengan Panji. Sambil Panji menyuapkan ke mulutnya sendiri dan bertanya, “Gimana manis gak?”
“Asem Nji, udah ah..., Lo saja yang makan!” jawab Ella yang merasa nggak nyaman menerima suapan Panji.
“Liat aku aja biar rasanya jadi manis,” canda Panji.
Ella hanya menatap sekilas Panji lalu menjawab, “Malah tambah asem tau nggak.” Lalu keduanya tertawa bersama. Ella merasa bersyukur punya sahabat yang baik hati, yang selalu menghiburnya di saat ia susah. Namun, tawa keduanya terhenti saat mendengar pintu ruangan terbuka, Ella menatap orang yang masuk ke dalam ruangannya.
Erik yang datang bersama Riza, sempat terdiam melihat Ella berduaan dengan lelaki lain, hatinya nyeri melihat Ella tertawa ceria dengan pria di depannya ini.
Siapa ini, kenapa Ella begitu senang ketika bersama pria ini, apa jangan- jangan dia pacar Ella, tidak! bukan! Mana mungkin Ella suka sama cowok model kaya gini, lebih gantengan guelah! Ucap Erik dalam hati.
“Kenapa Dok?” tanya Ella yang membuyarkan lamunan Erik.
“Ah tidak, cuma visit pasien saja, gimana masih ada keluhan?” tanya Erik.
“Tidak Dokter, sudah tidak sakit kok perut Ella,” jawa Ella.
“Ok baiklah,” jawab Erik sambil menganggukan kepala, setelah melakukan pemeriksaan ulang.
Panji yang merasa ditatap tajam oleh Erik mulai tidak nyaman ia menjawab, “Baru dua puluh menit Dok, lagian Om Danu tadi nitipin Ella ke saya kok, ya gak La?” Ella hanya menjawab dengan anggukan kepala mendengar Panji yang mencari dukungan padanya.
Erik yang melihat kedekatan mereka hanya tersenyum sinis, tapi dalam hati tidak rela bila Ella pacaran dengan pria ini.
Mungkin harus selangkah lebih maju nih dari pria tengik ini. Batin Erik mencibir. Bibirnya tersenyum kecut ke arah Panji.
“Baiklah kalau begitu saya lanjutkan dulu pekerjaan saya, kalau besok sudah tidak ada keluhan, besok sudah boleh pulang,” ucap Erik menjelaskan pada pasiennya.
“Tapi ingat hari senin harus kontrol ya La, kita cek ulang lagi,” lanjutnya berpesan pada Ella.
“Baik Dok,” jawab Ella singkat sambil tersenyum.
Setelah selesai Erik dan Riza berlalu meninggalkan ruangan Ella, meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Hati kecil Erik tidak rela sebenarnya membiarkan Ella berduaan dengan pria lain. Tapi apa haknya melarang itu. Pacar pun bukan!?
“Siapa sich itu La, kok kayaknya gak suka gitu sama gue,” tanya Panji.
“Dia dokter yang menangani aku, dan dosen di kelasku, serta temannya Kak Damar,” jelas Ella.
“Pantes saja!” cibir Panji, “Ganteng sich tapi tatapannya mematikan,” lanjutnya sambil terkekeh
__ADS_1
Bener kata Panji, tapi kenapa ya? tiap dekat dia, rasanya jantungku mau loncat, sepertinya aku memang jatuh cinta padanya. Batin Ella.
Danu masuk ke ruangan sambil membawa beberapa bingkisan makanan di tangannya, dia menyiapkan makanan di meja dekat sofa, berharap Panji mau menemaninya makan sore bersama.
“Sini Nak Panji, kita makan bersama!” ajak Danu setelah semuanya siap.
“Kok repot- repot sich Om,” ucap Panji yang merasa sungkan.
“Nggak repot kok, Nak.”
Panji lalu berjalan menuju sofa menuruti permintaan ayah dari sahabatnya itu. Dia makan bersama dengan Danu. Ella tidak ikut makan karena ia masih harus makan makanan menu rumah sakit, dia hanya sesekali menanggapi obrolan Panji dan Danu.
“Ayah! kata dokter Erik, besuk Ella sudah boleh pulang,” ucap Ella berniat memberitahu ayahnya.
“Iya tadi Ayah ketemu sama Dokter Erik di depan, dia juga bilang gitu ke Ayah, tapi ingat jaga pola makan dan istirahat dulu di rumah,” ucap Danu.
Setelah menyelesaikan makannya, Panji berpamitan pada Danu dan Ella, kerena hari sudah senja.
“Semoga cepat sembuh ya La, segera di angkat penyakitnya oleh Allah,” ucap Panji mendoakan.
“Amin, makasih ya Nji udah dateng,” jawab Ella. Lalu Panji beranjak pergi dari ruang rawat Ella, berjalan meninggalkan ruangan. Namun, baru akan menarik hendel pintu, Damar masuk dari arah luar.
“Eh ada Panji,” ucap Damar yang baru masuk.
“Iya Kak, nih Panji juga mau pamit kok sudah dari tadi soalnya, mau gantian jagain Mama soalnya Mama juga sakit,” jawab Panji.
“Oh ...Oke, terima kasih ya Nji, sudah menemani Lala,” ucap Damar.
“Iya Kak, sama- sama,” jawab Panji lalu keluar dari ruangan Ella menuju ruangan Mamanya.
.
.
.
Kira-kira langkah apa ya yang akan dilakukan Erik?
Pilih Erik đź’– Ella
atau pilih Panji đź’– Ella ?
__ADS_1